HOBBY BARU KELUARGA KAMI


oleh : Nanang Ardhiansyah


Selama ini boleh dibilang kami berkumpul bersama istri dan anak-anak belum dalam artian yang sesungguhnya.  Setiap pulang bekerja kami semua memang berada di rumah, tetapi istilah “berkumpul” tetapi bukanlah berkumpul.  Kedua anak kami sesampai di rumah sibuk dengan urusannya.  Si Kakak biasanya akan sibuk dengan hp dan Si Adik akan main di luar bersama teman-temannya, sedangkan kami terkadang masih juga membawa pekerjaan kantor ke rumah.  Kami memerlukan sesuatu yang dapat mengumpulkan kami dalam satu kegiatan yang kemudian dapat saling memberikan perhatian.

Pada sekitar bulan Juli 2016, kami membeli sebuah busur untuk Si Adik.  Busur yang sederhana dan murah saja, harganya tak sampai Rp. 500.000,00.  Tujuan kami awalnya adalah untuk memperkenalkan olah raga panahan kepada Si Bungsu, sekaligus melatih dia agar dapat lebih fokus.  Katanya, olah raga panahan dapat melatih anak untuk lebih fokus dan berkonsentrasi.

Rupanya, Si Kakak tertarik juga dengan olah raga panahan.  Dia pun ikut juga berlatih memanah bersama Si Adik.  Terus terang mereka berlatih tanpa ada guru atau pelatih yang dapat membimbing dan mengarahkan dengan benar.  Saya bukanlah atlet olah raga apa pun, apalagi olah raga panahan.  Saya mengajari mereka hanya berdasarkan apa yang pelajari di internet (yo*t*be.com).  Beberapa bulan kemudian, kami putuskan untuk membelikan busur standar untuk Si Kakak dengan harapan dia akan lebih serius dengan olah raga ini.

Sebulan kemudian, busur Si Adik yang masih sederhana kami ganti dengan yang lebih baik dengan harapan yang sama dengan Si Kakak, dia juga akan lebih serius pada olah raga ini.

Bulan Oktober 2016, kami bergabung dengan sebuah klub panahan yang bernama “Sanggam Archery Club” yang kebetulan dipimpin oleh seorang pelatih dan sekaligus atlet panahan.  Di dalam klub ini, kedua anak kami mendapat bimbingan dan arahan yang lebih baik, serta tentunya mendapat tempat yang lebih baik pula untuk berlatih.

Bulan November 2016, klub kami mengadakan kompetisi panahan untuk antar anggota klub sekaligus meresmikan dibukanya sekolah panahan, “Sanggam Archery School” di tempat kami.  Kami (saya dan kedua anak saya) memutuskan untuk mengikuti kompetisi tersebut.  Yaa, biar lebih kenal dengan anggota klub yang lain.

Dalam lomba tersebut, Si Kakak memperoleh hasil yang lebih baik daripada Si Adik, sedangkan saya mendapat hasil yang paling buruk dari mereka.  Maklum saya berlomba menggunakan busur Si Adik untuk menembak pada jarak 30 meter, sementara busur tersebut untuk menembak di jarak 20 meter aja ndak sampai.

Ndak lama setelah kompetisi tersebut, kegiatan mingguan saya adalah mengantar anak ke sekolah panahan tersebut.  Kemudian daripada cuma mengantar, kenapa saya ndak juga ikut bergabung bersama mereka.  Saya memutuskan untuk membeli juga sebuah busur tradisional (horse bow) produksi lokal yang harganya ndak sampai Rp. 1.000.000,00.  Saya pun mulai mempelajari panahan dengan gaya traditional bow yang menarik string menggunakan ibu jari (thumb style).

Hasil latihan yang kulakukan cukuplah.  Sebenarnya saya kurang sesuai untuk tangan kanan, karena mata dominan (dominant eye) saya adalah kiri.  Menurut apa yang saya pelajari di internet, saya seharusnya menggunakan tangan kiri.  Masalahnya, busur untuk tangan kiri jarang ada sedang untuk menggunakan horse bow masih belum terbiasa.  Jadi, untuk sementara saya tetap menggunakan tangan kanan untuk traditional bow.

Akhirnya pada tanggal 5 Januari 2017, saya mempunyai standard bow sendiri.  Sebuah busur yang khusus untuk pengguna tangan kiri.  Mulai saat itulah saya berlatih menggunakan standard bow untuk berlatih, awalnya memang rada canggung.  Beberapa kali tangan terkena jepretan string hingga biru-biru, tetapi hasil bidikan memang jauh lebih baik.  Setelah sekitar 2 bulan, saya mulai terbiasa dengan busur tersebut dan mulai jarang terkena jepretan string.

Sejak  memiliki standar bow untuk tangan kiri, saya mulai jarang menggunakan horse bow, bahkan anak panah bambu yang biasa dipakai berpasangan dengan horse bow pun mulai berjamur.  Busur dan anak panah bambu tersebut pernah juga, kami pinjamkan kepada teman yang berminat dengan olah raga ini.  Tetapi tidak terlalu lama dipergunakan, katanya tarikannya masih terlalu berat.  Padahal menurutku, berat tarikannya (draw weight) tak sampai 30 lbs.

Horse bow dan anak panah bambu kembali jarang dipergunakan, hingga kemudian saya mengajak istri untuk ikut juga dalam kegiatan olah raga ini.  Kuperkenalkan kepadanya bagaimana cara memegang busur, menarik string, memegang anak panah, hingga akhirnya melepaskan anak panah.  Seperti halnya diriku, apa yang kualami dan rasakan dialami dan dirasakan pula oleh istriku.  Beberapa kali dia terkenak jepretan string hingga lengannya membiru.  Alhamdulillah akhirnya istriku juga menyukai olah raga panahan.

Akhirnya, kami semua menyukai olah raga yang sama, yaitu panahan.  Setiap hari ahad apabila cuaca bagus, kami berempat pergi ke lapangan panahan untuk bersama-sama berolah raga.  Si Adik memanah dengan busurnya yang berat tarikannya baru ± 18 lbs, Si Kakak memanah dengan standar bow 22 lbs, istri memanah dengan horse bow, dan saya memanah dengan left handed standar bow.  Alhamdulillah akhirnya kami berempat dapat berkumpul dengan hobby yang sama.  Kami saling memperhatikan sehingga komunikasi di antara sesama kami pun menjadi lebih intens daripada sebelumnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: