RESUME KULIAH UMUM Dr. Ir. LA ODE M HARJONI KILOWASID, M.Si. DI STIPER BERAU


dirangkum oleh : Nanang Ardhiansyah


Peningkatan kualitas sumber daya manusia pada suatu perguruan tinggi sebenarnya tidak hanya untuk para mahasiswa, tetapi juga untuk seluruh staf pengajar. Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Berau dalam upaya meningkatkan kualitas dosen dan mahasiswa pada tanggal 10 Oktober 2016 mengadakan kuliah umum. Tujuan kegiatan kuliah umum menurut Drs. H. Ardiansyah L, MM selaku ketua STIPER adalah menambah wawasan dan sekaligus peningkatan pengetahuan pertanian langsung dari ahli.

Kuliah umum yang diselenggarakan di Kampus STIPER Berau disampaikan oleh Dr. Ir. La Ode M Harjoni Kilowasid, M.Si. seorang pakar fauna tanah dari Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, Kendari. Materi kuliah umum yang beliau sampaikan adalah “Pemanfaatan Diversitas Fauna Tanah untuk Pengelolaan Pertanian Berkelanjutan”.

Tugas seorang dosen sebenarnya hanya ada tiga, yaitu : mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian masyarakat. Pelaksanaan ketiga tugas tersebut harus menggunakan ilmu pengetahuan yang didasari oleh suatu keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan flora dan fauna untuk keberlanjutan hidup manusia. Ilmu pengetahuan akan berkembang jika kita selalu belajar.

Tantangan ilmu pertanian untuk keberlanjutan hidup manusia di masa mendatang akan semakin berat dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk. Diperkirakan hingga tahun 2050, jumlah orang miskin dan kelaparan akan semakin meningkat. Hal ini adalah tantangan ilmu pertanian untuk mengembangkan teknologi pengelolaan pertanian berkelanjutan. Pengembangan teknologi tersebut harus memenuhi beberapa syarat, yaitu :
1. sesuai sumber daya petani lokal dan karakteristik ekologi setempat;
2. efisien dalam menggunakan masukan tak-terbarukan;
3. sistem pengelolaan pertanian yang tepat dan terpadu dengan biaya rendah;
4. resiko terhadap lingkungan dan kesehatan manusia rendah.

Pangan menurut Dr. Ir. La Ode M Harjoni Kilowasid, M.Si. adalah sumber energi manusia untuk melaksanakan metabolisme dasar. Tanpa pangan yang memadai, maka manusia tak akan dapat beraktifitas dengan optimal sehingga produktifitas juga akan mengalami penurunan. Ketahanan pangan merupakan hal kunci dalam ketahanan negara.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 sebesar 255.461.700 jiwa dan diperkirakan pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 271.066.400 jiwa. Pemerintah juga menetapkan Angka Kecukupan Energi pada tahun 2019 adalah 2.150 kkal sementara Angka Kecukupan Energi saat ini baru mencapai 1.930 kkal. Pemenuhan kecukupan energi tersebut yang paling mudah adalah dengan melakukan impor. Tetapi hal tersebut akan dilakukan sampai kapan?

Pencapaian ketahanan pangan ditentukan oleh penerapan teknologi dan waktu. Semakin tinggi penerapan teknologi pertanian, maka ketahanan pangan akan semakin cepat dicapai. Begitu pula sebaliknya, jika penerapan teknologi pertanian kecil atau minim, maka ketahanan pangan akan semakin lambat untuk dicapai. Komitmen dunia dalam konsep pengelolaan bumi sangat jelas yaitu mengurangi laju kehilangan keanekaragaman (diversitas) hayati dengan teknologi pengelolaan tanah yang berkelanjutan. Negara Indonesia yang kaya akan keanekaragaman (diversitas) hayati baik yang berada di atas tanah maupun di dalam tanah, dengan berbagai plasma nutfah harus dikembangkan dan dikelola untuk meningkatkan ketahanan tanah menuju tercapainya ketahanan pangan. Keanekaragaman fauna tanah yang terjaga akan membuat tanah menjadi sehat, sehingga pertumbuhan tanaman yang ada di atasnya akan menjadi baik dan memberikan produksi yang optimal untuk mencukupi kebutuhan manusia, terutama kecukupan kalori. Keanekaragaman tidak hanya mencakup jumlah spesies fauna tanah, tetapi juga keanekaragaman morfologi, genetik, ekologi (habitat), fungsional, dan interaksi.

Pengelolaan tanah berkelanjutan akan berkaitan erat dengan keberadaan fauna di dalam tanah yang juga berperan bagi pertanian. Pengelolaan tanah yang kurang tepat akan memberikan dampak negatif pada lingkungan hidup, karena lahan pertanian merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang besar. Lahan gambut di Kalimantan yang tidak dikelola dengan baik akan memberikan sumbangan nitrogen di udara dalam bentuk amonia menurunkan kualitas udara. Pemupukan yang kurang tepat secara tidak langsung juga akan memberikan sumbangan terhadap penurunan kualitas udara. Pupuk yang diberikan ke tanah sebenarnya tidak dapat langsung digunakan oleh tanah yang tumbuh di atas tanah tanpa adanya kerja dari flora dan fauna yang ada di tanah. Pengelolaan tanah yang baik akan dapat menjaga keberagaman hayati di dalam tanah maupun di atas tanah.

Fauna yang hidup di dalam maupun di atas tanah sangat banyak dan beragam. Fauna tanah tidak hanya cacing dengan berbagai macam jenis, tetapi juga semut, laba-laba, luwing, kelompok Scorpio, tungau, dan sebagainya yang hidup saling berinteraksi dalam suatu ekosistem tanah. Keberadaan fauna tanah berkaitan erat dengan kualitas tanah, bahkan mungkin dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan kualitas (bioindikator). Hal tersebut memerlukan penelitian-penelitian yang mendalam untuk menggali informasi dan potensi yang ada untuk pengembangan teknologi pertanian ramah lingkungan.

Salah satu contoh penelitian dengan memanfaatkan fauna tanah adalah penggunaan cacing tanah dan semut untuk memperbaiki kualitas tanah. Tanah dengan perlakuan pemberian cacing tanah dan/atau semut dibandingan tanah yang tidak mendapat cacing tanah dan semut ternyata mempunyai kualitas yang lebih baik sehingga memberikan pertumbuhan tanaman yang lebih baik. Akar tanaman pada tanah dengan cacing tanah dan/atau semut juga tumbuh lebih baik daripada akar tanaman pada tanah tanpa cacing tanah dan semut. Penelitian-penelitian terkait fauna tanah dapat juga dikombinasikan dengan penggunaan flora tanah (gulma) untuk mengetahui interaksi di antara fauna dan flora tanah. Dalam suatu kasus, rumput yang sering dianggap sebagai gulma, ternyata tidak selamanya menjadi gulma pada tanaman. Hal ini tentu memerlukan sebuah kajian menjadi, yang menjadi tugas kita untuk meneliti dan mengkajinya.

Jadi, sebagai insan yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita harus yakin bahwa tidak adanya satu pun makhluk yang diciptakan Allah SWT akan sia-sia, semuanya pasti mempunyai manfaat. Tugas kita sebagai makhluk yang berakal untuk belajar membaca alam untuk mengungkapkan manfaat dari penciptaan makhluk Allah tersebut dan mempergunakan dengan sebaik-baiknya untuk keberlangsungan hidup manusia di bumi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: