POHON KENARI DI WILLEM STRAAT


Cerpen : Ratna Indraswari Ibrahim
Sumber : Jawa Pos, Edisi : 07/13/2003


Pohon kenari di muka rumah ini berumur 88 tahun. Ditanam pada tahun 1914 oleh pemerintah Hindia Belanda. Menjadi pohon peneduh bagi rumah yang akan mereka huni. Pohon kenari tersebut ditanam sepanjang jalan ini. Berbuah keras, kulit luarnya berwarna hitam. Kalau sudah masak, kelelawar suka sekali makan kulit luar yang manis itu. Biji kenari yang putih, rasanya sangat gurih.

Sekitar jam 7 setiap pagi, ketika Mami duduk sambil minum kopi dan membaca koran pagi, Mbah Jum, tetangga yang tinggal di belakang rumah (di sebuah gang yang sempit), akan masuk ke rumah itu. Rumah kuno yang tanpa pagar.

Mbah Jum akan berkata pada pemilik rumah ini, “Kulo nuwun (Permisi)”. Mami akan menjawabnya, “Mangga Bu (Silakan Bu). Saya tadi melihat banyak sekali buah kenari yang jatuh di sudut sana!”
Mbah Jum membungkukkan badannya dan bilang berulang-ulang, “Matur nuwun, matur nuwun, Bu (Terima kasih, terima kasih, Bu)”.

Setelah Mbah Jum pulang, Mami berkata kepada Bulan, “Lihatlah, Tuhan memberi rezeki pada orang lain di halaman rumah kita”. Bulan masih ingat bagaimana Mami mengucapkan kalimat itu, berulang-ulang!

Pada waktu itu Kota Malang tahun 1975, usia Bulan baru 7 tahun. Dan pada waktu itu Bulan baru kena tipus. Dokter menyuruhnya istirahat dari sekolah selama satu minggu.

Ucapan Mami tentang Mbah Jum yang mencari rezeki di halaman rumah mereka membuat Bulan sering mendongak ke langit! Bulan ingin tahu hubungan antara Tuhan dan rezeki di halaman rumah. Oleh karena itu ketika Mami berangkat arisan, Bulan yang seharusnya istirahat di rumah, diam-diam mengikuti Mbah Jum ke rumahnya. Sampai di rumah, Mbah Jum mencuci buah kenari tersebut, menumbuknya di atas batu yang berlubang-lubang, mengupasnya secara teliti dengan pisau khusus.

***

Sampai saat ini Bulan selalu ingat bagaimana tangan yang kokoh itu bekerja dan betapa bahagia sinar mata itu setiap kali bisa mengupas kenari-kenari dengan sempurna.

Hari-hari berikutnya Bulan merasa ingin sekolah. Tapi, tak seorang pun mengizinkannya pergi ke sekolah. Jadi, selama seminggu itu Bulan cuma menemani Mami minum kopi di teras rumah. Dan dengan sedih melihat saudara-saudaranya maupun sahabatnya berangkat ke sekolah. Di saat itu Bulan merasa ada sebuah selingan aneh dan menyenangkan. Kalau Mbah Jum yang bertubuh tinggi besar datang memunguti buah kenari di halamannya, dia mengenakan jarik (kain panjang) dan di balik kebayanya Bulan bisa melihat Mbah Jum tidak memakai BH, tapi kutang dari belacu yang dijahit dengan sangat kasar!

Mami selalu berkata, “Perempuan itu menghidupi anak-anaknya dengan buah kenari. Suaminya yang tukang becak di Pasar Klojen pastilah tidak punya penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Makanya, senang sekali kita bisa membantunya dengan cara membiarkan Mbah Jum memunguti buah kenari di halaman rumah ini. Kau tahu sendiri, Mbah Jum tidak bisa memanjat pohon kenari seperti lelaki yang memanjat pohon itu”.

Bulan mendongakkan kepala dan melihat lelaki itu menaruh banyak buah kenari di karung goninya. “Orang laki-laki itu mendapat banyak kenari, kasihan Mbah Jum, ya Mi?”

Mami menghirup kopi pelan-pelan dan terseyum pada Mbah Jum yang sedang memunguti buah kenari di halaman rumahnya.

***

Peristiwa itu terjadi bertahun-tahun yang lampau (kini Malang di tahun 2003). Bulan sudah memiliki dua orang anak yang usianya sama dengan usia Bulan waktu menjadi pengamat Mbah Jum. Sekarang Bulan begitu sibuk dengan karirnya. Dia seorang dokter yang sedang mengambil spesialis anak. Bulan sudah hampir melupakan kenari, Mbah Jum, berikut kebahagiaan Mami melihat Mbah Jum memunguti buah kenari di halaman rumahnya. Cuma sekali-sekali kalau dia sedang capek menulis tesisnya, Bulan suka sekali menemani Mami duduk di teras ini dan Bulan sering bilang pada Maminya, “Tetangga kita sudah minta PU memotong pohon kenari, katanya sudah keropos dan membahayakan keselamatan mereka. Saya khawatir lama-lama kenari itu tidak ada lagi di sepanjang jalan ini, Mi!”

Mami mengangguk tanda sepakat dengan ucapannya.

***

Suatu kali, ketika Bulan sedang berada di rumah sakit, pembantu di rumah menelepon dan mengatakan, “Bu Haji tadi ketakutan Bu! Ada orang masuk ke halaman rumah. Sekarang Bu Haji berbaring lemas di tempat tidurnya”.

Setengah berlari Bulan pulang ke rumahnya. Mami bercerita, “Saya tadi melarang seorang laki-laki masuk ke rumah. Katanya ia mau mencari barang-barang bekas. Saya tidak suka orang masuk ke rumahku tanpa izin. Dia menjawab kemarahanku dengan mengacung-acungkan parangnya”.

Bulan terdiam dan dia harus merundingkan hal ini dengan suaminya. Suaminya berkata, “Kota ini bukan lagi Malang 30 tahun lampau yang aman dan damai! Kekerasan sudah tersebar di mana-mana. Kita berdua sibuk bekerja. Agar ada rasa aman untuk meninggalkan Mami dan anak-anak selama kita bekerja, kau bisa mengambil uang simpanan kita untuk membuat pintu pagar! Sejak dulu aku sudah mengusulkan membuat pagar di rumah ini. Seperti semua tetangga kita. Kau dan Mami tidak pernah sepakat. Non, ini bukan di Amerika atau Australia di mana rumah tidak perlu dipagari”.
“Mami tidak akan pernah setuju. Beliau selalu bilang pada anak-anaknya kalau rumah itu berpagar kita seperti hidup dalam sangkar burung”.

Suaminya cuma mengangkat bahu dan ketika Mami diminta pendapatnya beliau cuma bilang, “Terserah kamu, kalau saya memberi saran kamu toh tidak akan sepakat. Kamu selalu menganggap pikiran orang tua tidak cocok lagi dengan zaman ini”.

Bulan memagari rumahnya (sekalipun dia tidak memilih pagar yang terlalu tinggi). Tapi ketika pagar itu sudah jadi, entahlah, ada sesuatu yang hilang rasanya. Namun, ada hal-hal yang melegakan. Mami maupun anak-anak tidak pernah lagi menceritakan ada seorang laki-laki yang masuk rumah ini tanpa izin, yang ketika dimarahi mengacung-acungkan parangnya.

Beberapa bulan kemudian, Bulan memasuki gang sempit di belakang rumahnya (seorang tetangga memanggilnya untuk mengobati orang sakit). Tiba-tiba Bulan ingat, rumah ini dekat sekali dengan rumah Mbah Jum, yang ketika masih kecil diikutinya sampai ke rumah dengan perasaan ingin tahu yang pekat.

Bulan terpana, perempuan itu tetap seperti dulu sekalipun kelihatan kerut-kerut ketuaannya. Mbah Jum begitu sehat dan seperti kebiasaannya sejak Bulan kecil, sedang mengelupas kenari-kenari itu. Bulan mendekatinya. “Saya tahu Mbah dulu suka memunguti kenari di halaman rumah ibu saya. Karena merasa tidak aman, kami memagari rumah itu. Tapi, saya mengizinkan Mbah untuk mengambil buah kenari yang jatuh di halaman rumah kami. Kalau mau masuk dibel saja Mbah… Nanti saya akan mengatakan pada pembantu agar membukakan pintu untuk Mbah Jum jika mau mengambil buah kenari di halaman rumah kami. Ibu saya sudah tua. Tapi beliau masih ingat pada penjenegan. Saya akan ceritakan hal ini padanya. Jadi, Mbah masih bisa memunguti kenari di halaman rumah saya!”
“Matur nuwun Jeng, saya sungkan kalau harus ngebel dan masuk rumah penjenengan untuk mengambil buah kenari itu. Saya kok seperti tamu saja. Harus ngebel rumah penjenengan, merepotkan saja”.
“Tidak apa-apa Mbah. Ibu saya pasti senang ketemu teman di masa mudanya”.

Perempuan tua itu hanya menganggukkan kepalanya.

Kemudian Bulan merasa terseret ke pekerjaannya. Di sisi lain Mami yang pada saat itu berusia 80 tahun sudah mulai sakit-sakitan. (Dan ini menambah pikiran Bulan sebagai satu-satunya anak yang masih serumah dengan Maminya).

Suatu pagi Mami berkata padanya, “Aku sudah lama tidak melihat Mbah yang memungut kenari itu. Makanya aku benci sekali ada pagar di rumah ini, perempuan tua itu pasti tidak bisa mengambil rezekinya di halaman rumah kita. Kau mulai sekarang harus mengatakan pada pembantu kalau pagi-pagi pagar itu tidak perlu dikunci. Bukan hanya Mbah Jum, tamu-tamuku yang lain pun jadi malas ke rumah kita”.
“Mi, bukan hanya karena pagar Mbah Jum tidak datang ke rumah kita. Saya sudah menawarinya untuk mengambil kenari di halaman rumah kita seperti dulu. Mungkin sekarang yang mengambil kenari-kenari itu cucunya. O ya, kalau sekarang Mami tidak punya tamu kan Mami sendiri bilang, teman-teman arisan dan pensiunan sudah banyak yang meninggal”.

Perempuan tua itu menghapus air matanya.

Tiba-tiba Bulan ingin kembali melihat Mami menghirup kopi di teras sambil mengamati Mbah Jum memunguti buah kenari, pertanda rezekinya ada di halaman rumah ini.

Dia menyempatkan diri ke rumah Mbah Jum yang waktu itu sedang asyik mengupas buah kenarinya. “Mbah, penjenengan ditunggu ibu untuk mengambil kenari di halaman rumah”.

“Matur nuwun Jeng, Mbah sudah semakin jarang memunguti kenari, sudah tua. Kenari ini dipungut oleh cucu saya sepulang sekolah. O ya, salam saya kepada ibu. Ibu penjenengan piantun sepuh (Ibu Anda orang tua) yang kaya dan baik hati”.
“Mbah bisa mengambil kenari di halaman rumah”, kata Bulan ngotot.
Mbah Jum mengangguk-anggukkan kepalanya. “Matur nuwun sanget Jeng (Terima kasih banyak)”.

Akhirnya Bulan berkata kepada yang merawat Maminya, “Kalau Ibu Haji sedang minum teh di teras dan kebetulan ada anak-anak yang mengambil buah kenari, suruh saja mereka masuk untuk mengambil di halaman rumah”. Sorenya dia mendapat laporan dari perawat Maminya, “Bu Haji tadi marah-marah pada saya Bu, ketika saya bukakan pintu untuk anak-anak yang memunguti buah kenari. Anak-anak itu berebut masuk dan menginjak-injak pohon sedap malam kesayangannya. Beliau marah dan berkata begini, “Sekalipun Bulan menyuruhmu, aku tidak pernah mengizinkan orang masuk ke halaman rumah untuk menginjak-injak tanaman yang ditanam oleh almarhum suamiku. Mulai besok jangan izinkan lagi mereka masuk!”

Beberapa bulan kemudian hal itu sudah terlupakan lagi. Suatu kali Mami berkata kepada Bulan, “Kau tahu perempuan tua yang suka memunguti kenari, Mbah Jum?! Dia masih hidup dan sehat. Aku tadi membukakan pintu untuknya agar dia masuk untuk mengambil buah kenarinya. Hidup ini memang aneh. Tiba-tiba kami berdua sudah tua. Aku tadi sempat menanyakan sudah berapa cucunya? Dia bilang, kemarin merayakan ulang tahun buyutnya yang pertama. Bul, dia betul-betul sehat sekalipun tidak minum obat seperti yang kau anjurkan setiap hari kepada Mamimu ini”.
Bulan tersenyum. Dia tahu Maminya hari ini sangat bahagia. Kemudian dia bilang pada perawat Maminya, “Kalau Mbah yang suka memunguti kenari itu kemari lagi, cepat bukakan pintu pagar. Aku senang jika kamu mau memberinya secangkir teh atau kopi”.

Menurut perawatnya, baik dia maupun Mami setiap jam 07.00 pagi duduk di teras ini tidak pernah lagi bertemu dengan Mbah Jum. Lagi-lagi karena kesibukan kerja, selain Bulan harus menyelesaikan spesialisnya secepat mungkin, dia melupakan hal itu.

Pada hari itu Mami meninggal. Seminggu setelah Mami meninggal, di siang yang sangat membosankan itu, Bulan keluar dari rumah sakit dan berjalan ke sembarang arah. Tiba-tiba dia sudah berdiri di muka rumah Mbah Jum. Di tempat Mbah Jum yang biasa mengelupas buah kenari itu dia melihat beberapa anak kecil sedang bergurau, tertawa-tawa, sambil memukuli buah kenari.

Bulan menangis.

Suatu hari ketika Bulan baru saja menyelesaikan tesisnya dia duduk sendirian di teras sambil menghirup kopinya. Waktu itu dini hari. Bulan melihat pohon kenari itu dibasahi embun malam. Sinar bulan menyinari daun-daun basah. Di sela-sela dedaunan itu, Bulan merasa melihat Mami dan Mbah Jum! Mereka berjalan di antara sela-sela daun kenari yang berkilau keperak-perakan. Wajah kedua orang tua itu “sangat bahagia”.

***

Malang 29 Juni 2003

*) Didedikasikan untuk Mami Siti Bidahsari Ibrahim Binti Arifin (alm.).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: