PERJALANAN DI AKHIR TAHUN


Tak seperti biasa sebelum subuh aku telah beraktifitas.  Aku menyiapkan dan mengepak barang-barang yang akan aku dibawa.  Hari ini saya mendapat tugas untuk ke Jakarta.  Sebuah tugas yang ingin sekali kutolak, konsultasi kegiatan agribisnis peternakan ke Kementerian Pertanian.

Paradigma birokrasi di negara ini agaknya masih belum banyak berubah.  Di jaman segala sesuatu telah menggunakan internet dan komunikasi serba online, kok masih saja ada yang melakukan konsultasi dengan pertemuan secara fisik.  Saya bisa saja menolak tugas ini, tetapi jika saya tak ikut rasanya akan lebih memalukan.  Masalahnya, tugasku sebenarnya adalah mendampingi seorang kepala seksi yang kurang menguasai tugas yang dibebankan kepadanya.  Sementara di ruangan staf yang tersisa dan dirasa dapat mendampingi hanya diriku.  Jadi, menurut pertimbanganku daripada menugaskan seseorang yang tak mengerti tugas, sehingga malah mempermalukan dinas kami, maka kuterima tugas ini. Ini bukan berarti saya hebat, tapi karena saya dianggap lebih mengerti tugas tersebut oleh atasan.

Hal lain yang membuat saya enggan menerima tugas ini adalah waktu pelaksanaan yang berada di akhir tahun.  Bukankah kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan di waktu yang lebih awal, misalnya di pertengahan tahun.  Hasil dari kegiatan konsultasi ini khan dapat dipergunakan untuk menyusun rencana kegiatan di tahun berikutnya.  Jadinya kesan yang tampak, bahwa kegiatan ini hanyalah untuk menghabiskan sisa anggaran.  “Sayang jika dikembalikan”, ujar beberapa orang.

Kesan menghabiskan sisa anggaran ini akan semakin tampak nyata saat kita berada di bandara. Di akhir tahun seperti ini, kursi pesawat akan lebih banyak diisi oleh pegawai.  Pagi ini, saat di ruang check dan ruang tunggu, saya perhatikan setidaknya ada lebih dari 5 instansi pemerintah daerah yang stafnya berangkat ke luar daerah.  Hal seperti ini adalah sebuah fenomena yang lumrah di akhir tahun anggaran.

Tak bisakah fenomena yang selalu terulang dari tahun ke tahun ini diubah, atau setidaknya diperbaiki.  Tujuan kita keluar daerah jika untuk menghadiri sebuah undangan mungkin tak mengapa.  Bagaimana jika mereka yang keluar daerah sekedar untuk melakukan konsultasi.  Tak bisakan porsi perjalanan konsultasi tersebut dikurangi, konsultasi pun dapat dilakukan lewat telpon atau internet.  Atau salahkah jika suatu instansi mengembalikan dana sisa anggarsn yang berupa kegiatan konsultasi.

Saya walaupun mempunyai pendidik sedikit lebih baik, tapi saya tetaplah seorang staf.  Apalah daya seorang staf, kami hanya dapat berkeluh kesah.  Tidaklah kami dapat mengubah suatu kebijakan.  Semoga keluh kesah ini dapat menyentuh hati mereka yang mempunyai kuasa untuk membuat kebijakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: