MAKAM PARA PEMBANGKANG


Cerpen : Indra Tranggono
Sumber : Jawa Pos, Edisi : 05/15/2005


TEMUILAH aku di bukti itu.

Jika engkau menyukai pendakian, engkau akan menjumpai aku. Bukit itu sangat dekat dengan nadimu. Tanpa engkau tahu, aku telah menunggumu sejak berabad-abad lalu. Datanglah, sebelum rindu cemasku membatu.

Engkau tak perlu menakar keberanianmu untuk menempuh pendakianmu. Engkau pun tak perlu memeras banyak keringatmu. Mungkin kau temui jalan sedikit berliku, tapi percayalah engkau akan disambut ramah bebatuan dan tanah. Di balik belukar, memang ada beberapa ular, namun engkau tak perlu khawatir. Mereka akan segera menyingkir sebelum engkau hadir.

Abad demi abad telah berpacu-berlari, namun bukit itu tetap ada di sana, hanya selapis tipis dari impianmu. Jika selapis impianmu bisa kau terobos, maka engkau akan sampai di sana : Bukit Bayang. Tak lebih dari 1.000 meter engkau mendaki. Tak akan ada rasa nyeri merajam kaki. Engkau tak perlu khawatir untuk tergelincir. Para petani yang membajak tanah dengan hati atau para peladang yang berdada lapang, telah menyediakan jalan setapak itu kepadamu. Juga pohon-pohon akasia dan kemboja telah menyediakan rindang pendakian.

Temuilah aku di bukit itu, sebelum rindu cemasku membatu, sebelum aliran darahmu membeku. Bukankah angin telah menyebarkan kabar itu kepadamu, hingga kerinduanku pun luluh dalam detak nadimu.

Hatiku pun terlonjak, saat angin dari utara mengabarkan kedatanganmu. Kau bawa jiwamu yang sepi dan menggigil. Kau bawa sumpah serapahmu kepada kota yang bengis, kikir dan rakus. Kau bawa seluruh lukamu. Masuklah engkau kepadaku, masuklah. Kujabat jari-jemarimu, kudekap gigil jiwamu. Kuhapus keringat jiwa lelahmu. Kupadamkan api amarahmu dalam kubangan kesunyianku yang menggenang berabad-abad.

Kurasakan getar jiwamu, saat engkau memasuki gerbang pemakaman bisu. Kurasakan pula degub jantungmu yang terpompa kecemasanmu.

Namun, engkau gagal menarik kakimu surut ke belakang. Engkau terus melangkah. Perlahan. Daun-daun kering akasia dan kemboja yang kau injak menjelma suara risik, hingga seluruh ruangan itu tergetar.

Engkau menatapku, menatap kami : tumpukan kaum batu putih terbalut lumut abadi : batu-batu nisan dan batu-batu yang menjelma benteng tanpa perekat, hingga begitu rapuh dan patah. Engkau mendekatiku, mendekati kami. Meraba. Menebak-nebak, entah untuk apa. Tapi aku suka.

Kau baca urat-uratku, urat-urat kami bangsa batu, hingga keningmu berkerut-kerut. Engkau penasaran, ingin tahu berapa usiaku. Dari lipatan ingatanmu, engkau mencoba membuka rumus-rumus penghitung waktu untuk membaca setiap tanda dalam tubuhku. Wajahmu mendadak sedikit murung, ketika ingatanmu gagal menjadi mesin penghitung. Namun, aku tahu, engkau tak akan menyerah untuk menerka-nerka tentang siapakah aku, siapa kami, kenapa dan untuk apa harus berada di sini. Ah, selidik yang mengusik dan membidik. Tapi aku suka.

Baiklah. Sebagai tuan rumah yang baik, aku ingin bercerita kepadamu tentang sebuah zaman yang gelap dan pengap. Orang menyebut situ sini makam para pembangkang. Lihatlah, ada puluhan nisan yang terserak. Di pojok itu, di bawah nisan yang diapit dua pohon beringin, bersemayam Ki Dalang Panjang Mas. Jika engkau memutar pandanganmu sedikit ke kanan, engkau akan menjumpai lima nisan di atas tanah yang agak tinggi. Tepat di tengahnya, bersemayam Nyai Panjang Mas, isteri ki dalang. Dia juga biasa dipanggil Ratu Malang. Sedangkan di samping bawah nisan Ratu Malang itu, terserak belasan nisan-nisan tanpa nama, nisan-nisan para penabuh gamelan, sinden dan entah siapa lagi. Bagaimana mungkin dalang, isteri dalang, sinden dan para penabuh gamelan serta sekotak wayang bisa binasa bersama? Apakah maut begitu kompak bekerja?

***

MATARAM telah menjelma kerajaan Jawa yang perkasa dan megah. Sunan Amangkurat Pertama, salah satu rajanya yang erat melekat pada pita ingatanku. Sosok raja itu tidak terlalu istimewa, bahkan biasa. Namun jika engkau menatap matanya, engkau akan menjumpai lorong panjang, begitu dalam dan gelap serupa sumur tanpa dasar. Tatapan matanya menjelma kekuatan kelam yang menghisap siapa saja, hingga mereka terpaksa menyediakan diri sebagai taklukan.

Memasuki rongga matanya yang hitam pekat,engkau akan menjumpai ratusan bahkan ribuan mayat yang terserak, dengan kepala terpenggal atau leher membiru terjerat tali gantungan. Mereka terkubur dalam lipatan waktu, tanpa nisan untuk menjadi penyangga tahta gemerlapnya.

Telah berbulan-bulan raja itu tak bisa tidur didera kecemasan. Bantal, guling, dan selimut daging tak mampu meredam kegaulannya, setiap ia mendengar suara Ki Dalang Panjang Mas, suara gamelan dan kecrek wayang. Berulang kali ia mengutuk angin yang sangat kurang ajar menerobos peraduannya, menerobos gendang telinganya mengabarkan cerita wayang, kisah-kisah perlawanan, dan gema gamelan. Ia bahkan telah memerintahkan beribu prajurit untuk menjebak angin ke dalam penjara. Namun, setiap upaya itu dicoba, dia hanya menangkap ketololan ratusan prajuritnya.

“Giring mereka menjauhi istana! Penjarakan mereka!” Amangkurat meradang.

Ribuan prajurit kekar itu hanya saling memandang. Dan, esoknya, sinar matahari menangkap tubuh-tubuh mereka tanpa kepala. Namun, perintah raja itu tidak berhenti karenanya. Ia terus memerintahkan ribuan prajurit untuk menggiring angin.

“Angin tak bisa digiring, Kanjeng Sunan…” bisik salah seorang penasihat raja.
“Mereka berani membangkang?! Katakan kepada pasukan angin, akulah yang menyuruh menangkap mereka!”
“Kanjeng Sunan bergurau?”
“Kamu pikir aku ini badut?”

Penasihat itu sontak diam. Dan esoknya, ia ditemukan tewas tanpa kepala.

Setiap malam, Ki Dalang Panjang Mas menggelar cerita ke berbagai ceruk Mataram. Dalam ribuan malam, terhampar berbagai kisah perlawanan yang basah keharuan. Para kawula Mataram pun merasa menemukan rongga udara dalam dada sesak mereka. Seperti menghisap berkilo-kilo oksigen, mereka menyerap seluruh kisah, dari suluk, jejeran, perang kembang, gara-gara hingga tancep gunungan. Namun, gelaran kisah-kisah itu telah menjelma tombak tajam bagi Kanjeng Sunan. Meskipun belum dirasakan mampu menggoyahkan tahtanya, kisah-kisah itu dirasakan menguliti jiwanya. Puluhan prajurit pun disebar, serupa melempar jala. Ki dalang teringkus, tanpa daya.

Di balairung istana, Ki dalang Panjang Mas menjadi pesakitan sekaligus keranjang sampah untuk sumpah serapah Kanjeng Sunan Amangkurat. Tatapan raja serupa dua bola api itu memanggangnya. Jantungnya berdetak cepat. Tubuhnya dingin dan basah. Di sampingnya, duduk isterinya, Nyai Panjang Mas. Perempuan itu menggenggam erat tangan suaminya, agar keberaniannya terpompa.

“Kamu tahu, hukuman apa untuk seorang pembangkang?” ujar Amangkurat dengan suara berat, penuh tenaga.

Ki Dalang Panjang Mas terdiam. Tatapan mata Amangkurat dirasakan makin menghanguskan jiwanya. Ia merasa kulitnya terkelupas hingga telanjang. Rasa nyeri dan perih bergerak menuju puncak.

“Kenapa diam? Kamu kan dalang pintar? Punya jutaan kata untuk berkilah?”

Mata Kanjeng Sunan Amangkurat terus menghujam ke wajah pesakitan. Ia sangat senang menikmati gelepar jiwa musuhnya. Puluhan detik, ratusan detik, ia merajam jiwa tawanan itu dengan belati tatapan mata yang tajam. Ia tertawa terpingkal-pingkal melihat jiwa dalang itu meronta-ronta, mengerjat-ngerjat. Ia teruskan tikam-tikaman belati itu hingga ke dasar sukma musuhnya.

“Ternyata kamu tak lebih dari macan berdarah tikus!”

Kepala ki dalang menunduk, makin dalam. Ruangan senyap. Suara serangga malam yang semula riuh, mendadak lenyap.

“Lawan aku, Ki Dalang! Tunjukkan kesaktianmu!! Aku sangat rindu untuk bertarung. Dan kerisku kini sudah lama ingin mencicipi darah segar seorang dalang. Lawan aku, pecundang!”

Dalang itu makin gemetar. Ia sama sekali tak menduga akan menemui penguasa serupa raksasa, seperti dalam wayang yang selalu ia jungkir balikkan. Dan, raksasa itu kini menelannya.

Melihat musuhnya tak bernyali untuk melawan, raja itu mengalihkan pandangan kepada Nyai Panjang Mas. Ia lepaskan beribu tikaman belati dari bola matanya. Matanya terbimbing menyisir setiap lekuk tubuh kuning langsat dengan leher jenjang dan dada penuh perempuan itu. Darah lelakinya membuncah, terpompa jantung hingga wajahnya terpahat gurat-gurat gairah. Pesona kecantikan perempuan itu menjelma cahaya yang mendadak menghisapnya. Kuat. Sangat kuat.

Ia mendekati perempuan itu. Ia tatap lekat-lekat wajah bulan purnama. Ia menjumpai yang indah dan nyaris sempurna antara bentuk mata, hidung, bibir, pipi, dagu. Juga leher itu. Juga dada itu. Pelan-pelan ia jongkok, persis di depan Nyai Panjang Mas. Kepalanya hampir menyentuh pipi perempuan itu. Gairahnya makin membuncah, seiring dengan tarikan nafas perempuan itu yang begitu jelas didengarnya. Tarikan nafas yang cemas itu dirasakannya menjadi desah. Terhamparlah bayangan percumbuan dan keriut ranjang.

Tangan sang raja menyentuh dagu perempuan itu. Wajah bulan purnama itu terangkat, dengan mata tetap terpejam. Raja itu tersengat. Sengatan itu begitu dalam, begitu kuat menjebol lipatan-lipatan ingatannya. Ia tergeragap. Ia menjumpai wajah ibunda tercintanya pada wajah isteri musuhnya itu. Hatinya sontak bergetar. Jutaan pori-porinya mengembang.

Amangkurat menghela nafas. Tangan Amangkurat mendadak berkelebat seperti kilat. Ia tarik tangan perempuan itu, ia peluk dan ia cium. Perempuan itu meronta. Keras. Sangat keras.

Jeritan isterinya itu memompa api keberanian Ki Dalang Panjang Mas. Sontak ia berdiri, menghunus keris dan langsung menikam dada sang raja. Namun, kelebatan tangannya itu terhadang tangan perkasa sang raja. Lalu tangan sang raja begitu cepat berkelebat. Dalam hitungan detik, dalang itu merasakan dadanya dihujam benda tajam, hingga menembus jantungnya. Ia merasakan keperihan yang tak terukur. Ia meraba. Dadanya basah. Darah muncrat dari jantungnya. Sekejap kemudian ruang sekitar terasa berputar. Pandangannya terasa padam. Gelap. Ia pun tumbang berderak, diiringi derai tawa sang raja dan jeritan panjang istri tercintanya. Bulan di angkasa, terpejam.

Senyum masam Amangkurat menggurat di bibirnya. Ia merasa telah menjadi laki-laki jantan untuk merubuhkan musuhnya sekaligus merebut isterinya. Ia gelandang Nyai Panjang Mas ke dalam peraduan. Selebihnya adalah isyarat perintah lewat tangan dan mata. Selebihnya puluhan prajurit bergerak. Selebihnya keris-keris terhunus. Selebihnya dada-dada belasan penabuh gamelan tertancap. Selebihnya, puluhan nyawa mengambang di atas genangan darah. Lalu, sunyi pun mengunci.

Pagi masih terang tanah. Puluhan laki-laki mengangkut mayat Ki Dalang Panjang Mas dan mayat para penabuh gamelan ke puncak Bukit Bayang, di sebelah tenggara istana Mataram. Kurasakan langit muram, ketika belasan atau puluhan lubang itu menerima dengan setia mayat-mayat itu. Tanah itu memeluk mayat-mayat dengan isak tangis. Juga batu-batu semacam kami yang menjadi nisan penanda bagi para pembangkang atau menjadi benteng makam. Pohon-pohon akasia dan kemboja raksasa meneteskan guguran daun.

Kami, bangsa batu, tak pernah lepas memeluk mayat mereka. Kami berikan kehangatan ala kadarnya agar mereka lebih tenteram di alam baka. Setiap malam, kami selalu mendengar tangis dan jerit mereka. Sumpah serapah mereka. Tangan-tangan mereka terkepal. Wajah-wajah mereka memerah. Namun, itu tak berlangsung terlalu lama. Hampir setiap malam, dalam rongga kesunyian yang luas dan dalam, kami mendegar suara dalang menggelar ribuan cerita yang dianyam talu gamelan. Perlawanan tak bisa dipadamkan, bahkan oleh kematian.

***

JIKA mau bermalam di pemakaman ini, engkau akan mendegar suara kaki kuda menebah tanah. Suara berdebam itu mengelilingi benteng ini. Berkali-kali. Aku mendengar kabar, suara itu adalah derap kaki kuda Amangkurat. Ia selalu datang selepas senja untuk menemui Nyai Panjang Mas. Ia memang sangat mencintainya. Namun, aku juga mendengar kabar lain, suara itu sebenarnya derap kaki kuda Ki Dalang Panjang Mas. Ia tetap setia datang untuk membangunkan teman-teman sejawat buat berjaga di setiap zaman yang gelap dan pengap. Entah mana yang benar.

Ah, mungkin engkau mulai bosan mendengarkan ceritaku. Barangkali juga, engkau mulai menimbang-nimbang kebenaran kisahku. Tapi, bagiku itu tidak terlalu penting. Aku lega telah menceritakan kisah purba dan lapuk yang mengendap berabad-abad ini kepadamu, sebelum tubuhku hancur dirajam keperkasaan waktu.

***

Bantul-Jogja, Juli 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: