ORASI ILMIAH Prof. Ir. RATNA SHANTI, M.Sc.


PENGELOLAAN LAHAN UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN

oleh : Prof. Ir. RATNA SHANTI, M.Sc.

(Guru Besar pada Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman, Samarinda)

Disampaikan pada Wisuda III Sarjana Pertanian

Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Berau, 16 Oktober 2014

Yang terhormat :

–    Bupati Berau dan Wakil Bupati, Kabupaten Berau

–    Bapak Direktur Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER)

–    Komanda Kodim 0902 Berau

–    Kepala Kejaksaan Negeri Tanjung Redeb

–    Ketua Pengadilan Negeri Tanjung Redeb

–    Komanda Batalyon Armed Buritkang

–    Ketua, Wakil Ketua, serta Ketua Fraksi-fraksi DPRD Kabupaten Berau

–    Ketua Kopertis XI Wilayah Kalimantan

–    Bapak Ibu Dosen Pembimbing dari Universitas Mulawarman, Samarida

–    Pimpinan SKPD se-Kabupaten Berau

–    Bapak Ketua beserta unsur Pembina Yayasan Kharisma Mandiri Berau

–    Bapak Ketua, Pembantu Ketua, serta Pengurus STIPER Berau

–    Bapak dan Ibu pada Dosen dan Civitas Akademika Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER)

–    Ketua STIEM dan STIT Kabupaten Berau

–    Kepala Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Berau

–    Pimpinan Ormas dan tokoh masyarakat di Kabupaten Berau

–    Para Wisudawan dan Wisudawati STIPER

–    dan para undangan serta hadirin sekalian yang berbahagia
.

Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua

Pertama-tama marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal afiat menghadiri acara Wisuda III Sarjana Pertanian 2014 dari Sekolah Tinggi Pertanian, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau.  Saya juga menyampaikan terima kasih kepada Direktur STIPER/Panitia Wisuda yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul : “Pengelolaan Lahan untuk Pertanian Berkelanjutan”.  Semoga apa yang saya sampaikan ini memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka pembangunan pertanian di Kabupaten Berau khususnya dan Indonesia umumnya.

Hadirin yang saya hormati,

Lahan merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak terbarukan (unrenewable).  Hampir semua sektor pembangunan fisik,khususnya bagi pembangunan pertanian membutuhkan lahan.  Oleh karena itu lahan yang kita warisi ini wajib dikelola agar lahan tetap lestari sehingga mampu berfungsi sebagai faktor produksi khususnya pangan, yang sangat kita butuhkan.  Berdasarkan penggunaan untuk pertanian maka lahan dibedakan menjadi lahan sawah(lowland) dan lahan kering (upland).  Lahan sawah adalah lahan yang berpengairan, baik teknis maupun non teknis dan penghasil utama pangan berupa beras.  Sedangkan lahan kering merupakan lahan yang dimanfaatkan untuk usaha pertanian dengan menggunakan air secara terbatas dan umumnya bergantung pada air hujan.

Lahan kering sebagai salah satu agroekosistem yang mempunyai potensi besar untuk usaha pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura (sayuran dan buah-buahan) maupun tanaman perkebunan/tahunan dan peternakan.  Lahan kering ini akan menjadi pokok pembahasan lebih khusus karena luasnya sangat dominan di Indonesia khususya Kalimantan Timur dan rentan terhadap kerusakan.

Berdasarkan Atlas Arahan Tata Ruang Pertanian Indonesia skala 1 : 1.000.000 (Puslitbangtanak, 2001), Indonesia memiliki daratan sekitar 188,20 juta ha, terdiri atas 148 juga ha lahan kering (78%) dan 40,20 juta ha lahan sawah (22%).  Namun, pemanfaatan lahan kering untuk pertanian sering diabaikan oleh para pengambil kebijakan.  Mereka lebih tertarik pada peningkatan produktifitas lahan sawah, padahal lahan kering tersedia cukup luas dan berpotensi untuk dikembangkan.

Kebutuhan akan lahan terus meningkat sejalan dengan waktu dan pertambahan jumlah penduduk.  Tekanan kebutuhan penduduk terhada lahan semakin meningkat menyebabkan pemanfaatan lahan melampaui daya dukung dan kemampuannya sehingga terjadi kelelahan tanah (soil fatigue) dan degradasi lahan yang sering kita sebut sebagai lahan kritis.  Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkurangnya lahan produktif akan mendorong petani untuk membuka lahan hutan baru, atau mengusahakan lahan kering berlereng terjal sekalipun.  Penebangan hutan tersebut untuk pengembangan pertanian berarti mengubah ekosistem alamiah (natural ecosystem) menjadi ekosistem pertanian (agroecosystem).  Ekosistem pertanian cepat atau lambat akan berdampak negatif terhadap perubahan lingkungan hidup dan kualitas tanah jika tidak dikelola dengan benar karena :

1.    Pengambilan (ekstraksi) unsur hara di dalam tanah tidak seimbang dengan pengembalian ke dalam tanah.  Banyak unsur hara diangkut dalam bentuk produksi generatif (buah) dan atau vegetatif untuk memenuhi kebutuhan manusia.  Siklus unsur hara menjadi lebih terbuka dan menguras unsur hara tersedia di dalam tanah dan ini akan mengubah jumlah dan keseimbangan unsur hara di dalam tanah.  Hal ini bisa berakibat terjadi keracunan (toksisitas) dan mengakibatkan pertumbuhan dan produksi tanaman tidak optimal lagi.

2.    Mengubah struktur tanah sehingga memperkecil pori-pori, menurunkan daya pegang air, meningkatkan berat jenis/isi/tanah (tanah makin padat), menghambat penetrasi dan pertumbuhan akar tanaman.

3.    Mengganggu keseimbangan organisme di dalam tanah serta menurunnya kandungan bahan organik tanah.  Mikro, mezo, dan makrobiota yang bermanfaat akan berkurang, seperti : rhizobium, mikorhiza, cacing tanah, arthropoda, rayap, dll. yang bermanfaat dalam proses pelapukan dan menyuburkan tanah.

4.    Mengganggu keseimbangan fauna, terdesaknya habitat binatang liar, hingga punahnya spesies binatang tertentu, dll.

5.    Meningkatkan emisi karbon (CO2) ke atmosfer akibat meningkatnya oksidasi bahan organik di dalam tanah.  Hal ini berdampak pada pemanasan global yaitu meningkatnya suhu atmosfer bumi kita.  Hasil penelitian para ahli menemukan bahwa CO2 atmosfer telah meningkat sekitar 15%.

Kenyataan yang terjadi di lapangan bahwa setelah lahan dibuka untuk pertanian hanya dikelola begitu saja, sehingga dalam jangka waktu beberapa tahun saja produktifitas merosot sehingga tidak ekonomis lagi.  Lahan itu diterlantarkan, ditumbuhi alang-alang, semak belukar karena lahan tidak produktif lagi.  Lahan inilah dikatakan sudah mengalami degradasi menjadi lahan “tidur”.  Lahan terlantar ini pada musim kemarau seperti sekarang ini sangat rawan kebakaran.  Untuk mencegah timbulnya dampak negatif tersebut diperlukan teknik pengelolaan tanah dan lahan yang tepat guna dan rasional.  Saya menduga banyak para pemangku kepentingan belum sepenuhnya menyadari akan hal ini.  Terlebih lagi bagi petani yang terbiasa membuka lahan secara tradisional yaitu tebas bakar tanpa menerapkan kaidah-kaidah konservasi tanah.  Akibatnya produktifitas dan kualitas
lahannya cepat menurun atau mengalami degradasi.

Bapak-bapak, ibu-ibu, dan hadirin sekalian

Kita sepakat bahwa pengembangan sektor pertanian merupakan salah satu strategi kunci dalam memacu pertumbuhan ekonomi.  Pembangunan sektor pertanian sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pangan, dan bahan baku industri yang semakin hari semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan kemajuan IPTEK Indonesia.  Peningkatan jumlah penduduk akan selalu diikuti peningkatan kebutuhan pangan, terutama beras yang merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia.  Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat ini menjadikan penerapan berbagai teknologi dan bagian dari pengelolaan lahan serta inovasi pertanian menjadi suatu keharusan agar hasil produksi dapat menunjang ketersediaan pangan.  Ketersediaan pangan perlu ditingkatkan sebagai upaya untuk mendukung terjadinya keamanan pangan nasional.

Namun, peningkatan ketersediaan pangan menghadapi banyak kendala, hal ini disebabkan antara lain : (1) Terjadinya degradasi lahan sehingga produktivitas lahan semakin menurun. (2) Konversi lahan pertanian ke non pertanian makin meningkat. (3) Laju perluasan lahan pertanian atau pencetakan sawah baru, masih kurang. (4) Sumber daya air atau pembuatan irigasi masih kurang mencukupi. (5) Kemandegan produktivitas lahan akibat kurang memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan tanah dan lahan yang benar untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan.

Ciri-ciri Lahan Terdegradasi

Lahan yang mengalami degradasi dicirikan oleh beberapa sifat tanah antara lain : (1) Tanah bereaksi masam (pH rendah) sekitar 3,0 – 5,5 sehingga membutuhkan upaya untuk menetralisir kemasaman tanah tersebut; (2) Kandungan unsur hara sangat kurang dan sering tidak seimbang; (3) Mengandung unsur kimia bersifat toksik; (4) Lapisan atas tanah hilang, atau berbatu akibat erosi sehingga sulit diolah secara mekanis; (5) Berat jenis tanah relatif tinggi (> 2,0 g/cm3); dan (6) Kandungan bahan organik rendah.

Di Indonesia, lahan sup-optimal (marginal) karena dampak agroekosistem meliputi (1) lahan kering masam, dengan kendala utama miskin hara, masam, dan kurang air; (2) lahan kering pada wilayah iklim kering, dengan kesulitan utamanya adalah menyediakan air yang cukup untuk budidaya tanaman, selain itu sering juga tanahnya berbatu dengan lapisan topsoil yang tipis; (3) lahan rawa pasang surut, dengan masalah utama kesulitan dalam mengatur tata airnya, keberadaan lapisan pirit, lapisan gambut tebal, dan intrusi air laut; (4) lahan rawa lebak, dengan kendala kesulitan dalam memprediksi dan mengatur tinggi genangan.

Umumnya di Indonesia dan khususnya di Kalimantan Timur, degradasi tanah paling dominan disebabkan oleh erosi, yaitu hilangnya lapisan atas tanah (top soil) akibat gerusan air hujan (run-off).  Sebagai indikator terjadinya erosi berat yaitu : (1) Keruhnya warna air sungai akibat kandungan partikel liat terlarut, (2) Besarnya perbedaan debit air sungai di musim hujan dan di musim kemarau.  Musim hujan banjir. warna air keruh, dan sangat surut di musim kemarau.  Proses degradasi tanah dan lahan ini jika dibiarkan terus menerus, akan mengancam keberhasilan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan, dan petani di sekitar hutan, serta untuk menjaga kelestarian sumber daya alam umumnya dan hutan khususnya.

Pengelolaan Lahan

Pengelolaan lahan pertanian adalah segala tindakan atau perlakuan yang diberikan pada suatu lahan untuk menjaga dan mempertinggi produktivitas lahan tersebut dengan mempertahankan kelestariannya.  Tingkat produktivitas lahan sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah, curah hujan, suhu, kelembaban, sistem pengolahan tanah, serta pemilihan tanaman penutup tanah (cover crop).  Pengelolaan lahan sebagai salah satu komponen pengelolaan lahan diperlukan dalam sistem pertanian berkelanjutan karena sistem pertanaman intensif bisa mengarah pada trade-off antara manfaat ekonomi dalam jangka pendek dan kerusakan lingkungan seperti degradasi kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Dalam sistem pengelolaan lahan juga meliputi pola tanam, sistem tanam, pengolahan tanah, pengairan atau irigasi, pemupukan, pemberantasan hama penyakit tanaman, konservasi tanah dan air yang diterapkan pada lahan tersebut.  Di samping itu untuk membantu terwujudnya pertanian yang berkelanjutan perlu dilakukan usaha-usaha antara lain : (1) Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan lahan. (2) Penguatan kelembagaan penyuluhan pertanian, termasuk pengadaan tenaga yang mempunyai kompetensi di bidang pengelolaan lahan khususnya konservasi tanah dan air. (3) Penegakan hukum yang berkaitan dengan perlindungan lahan pertanian, seperti kasus pembakaran lahan. (4) Melakukan penyuluhan dan memberikan penjelasan secara intensif kepada masyarakat luas bahwa pengelolaan lahan sebagai bagian dari penyelamatan sumber daya lahan dan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

Hadirin yang saya hormati

Sistem pertanaman dan pengolahan lahan yang tidak sesuai dengan teknik konservasi tanah dan air yang diterapkan pada suatu lahan, terutama pada sistem monokultur tanaman semusim pada lahan berlereng tanpa pembuatan terasering, dapat menyebabkan tanah mudah tererosi.  Selain itu pada teras-teras yang dibua seringkali tidak diimbangi dengan bangunan penguat teras ataupun tanaman penguat teras akan menyebabkan longsor tebing teras.  Pada musim hujan terjadi erosi oleh air, pada musim kemarau erosi oleh angin.  Jika lapisan atas tanah yang banyak mengandung unsur hara, tererosi karena adanya run-off, secara otomatis tanah pada lahan tersebut menjadi kurang subur.  Banyaknya run-off juga mengurangi peluang air masuk ke dalam tanah (infiltrasi) sehingga ketersediaan air baik di musim penghujan maupun musim kemarau sangat kecil.  Hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas tanah dan berdampak pada menurunnya produktivitas lahan.

Model Pertanian Berkelanjutan

Seperti telah saya sampaikan di atas bahwa pertanian berkelanjutan adalah usaha budidaya tanaman yang mampu berproduksi optimal, secara ekonomi menguntungkan, ramah lingkungan, dan secara sosial diterima masyarakat, sehingga terwujud keseimbangan antara komponen organisme dan lingkungannya.  Pada prakteknya adalah mengintegrasikan antara produk tanaman, ternak, perikanan di sebuah lokasi atau areal lahan sehingga terwujud pertanian berwawasan lingkungan.  Ada pun manfaat pertanian berkelanjutan adalah (1) Memenuhi kebutuhan pangan (karbohidrat, protein, lemak, vitamin), serta papan bagi manusia. (2) Meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup sekaligus kesejahteraan petani. (3) Meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya alam berdasarkan kebutuhan ekonomi. (4) Menggunakan sumber daya alam tidak terbarukan (lahan) secara efisien.

Jadi pertanian berkelanjutan juga harus berwawasan lingkungan yang memperhatikan kelestarian tanah, air, tanaman, hewan/ternak, bahan makanan, pendapatan, dan manusia.  Juga mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah, produksi optimal, keanekaragaman hayati, dan keseimbangan ekosistem serta mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi (anak cucu) di masa depan.  Untuk mengetahui efektifitas sistem pertanian berkelanjutan harus dievaluasi berdasarkan beberapa kriteria, antara lain : (1) Aman menurut wawasan lingkungan, berarti kualitas sumber daya alam dan vitalitas keseluruhan agroekosistem dipertahankan/mulai dari kehidupan manusia, tanaman dan hewan sampai organisme tanah.  Hal ini dapat dicapai apabila tanah terkelola dengan baik, kesehatan tanah dan tanaman ditingkatkan.  Demikian juga kehidupan manusia maupun hewan ditingkatkan melalui proses biologi.  Sumber daya lokal dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga dapat menekan kemungkinan terjadinya kehilangan hara, biomassa dan energi, serta menghindarkan terjadinya polusi. (2) Menguntungkan secara ekonomi, berarti petani dapat menghasilkan sesuatu yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan cukup memperoleh pendapatan untuk membayar upah tenaga kerja dan biaya produksi lainnya.  Keuntungan menurut ukuran ekonomi tidak hanya diukur langsung berdasarkan hasil usaha taninya, tetapi juga berdasarkan fungsi kelestarian sumber daya dan menekan kemungkinan resiko yang terjadi terhadap lingkungan. (3) Adil menurut pertimbangan sosial, berarti sumber daya dan tenaga tersebar sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi, demikian juga setiap petani mempunyai kesempatan yang sama dalam memanfaatkan lahan, memperoleh modal cukup, bantuan teknik dan memasarkan hasil pertaniannya. (4) Manusiawi terhadap semua bentuk kehidupan, berarti tanggap terhadap semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan, dan manusia). (5) Dapat dengan mudah diadaptasi, berarti masyarakat pedesaan atau petani mampu menyesuaikan dengan perubahan kondisi usaha tani, seperti pertambahan penduduk, kebijakan dan permintaan pasar.  Hal ini tidak hanya berhubungan dengan masalah perkembangan teknologi yang sepadan, tetapi termasuk juga enovasi sosial.

Bapak Bupati dan Wakil Bupati dan para Hadirin sekalian yang saya hormati

Sebagai bagian akhir dari paparan saya ini perkenankan saya menyampaikan saran-saran sebagai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan pembangunan pertanian yang berkelanjutan, antara lain sebagai berikut :

1.    Evaluasi Kesesuaian Lahan

Dalam evaluasi lahan dilakukan penyesuaian antara karakteristik dan kualitas lahan, kondisi sosial ekonomi, dan jenis tanaman.  Kesesuaian ini sangat penting untuk menentukan kelas kesesuaian lahan yang nantinya akan disesuaikan dengan syarat tumbuh tanaman dan vegetasi yang digolongkan ke dalam kelas : Sesuai (S1), Agak Sesuai (S2), atau Sesuai Marginal (S3) pada lahan tersebut.  Kemudian menentukan macam pengelolaannya sehingga dapat berproduksi optimal dan secara ekonomi menguntungkan dengan menggunakan beberapa metode yang relevan.

2.    Penerapan Teknik Konservasi Tanah dan Air

Dalam hal ini penerapan teknik konservasi tanah dan air lebih mengarah pada cara pencegahan dan penanggulangan erosi.  Erosi mengangkut puluhan ton/hektar/tahun lapisan tanah  atas yang subur yang mengakibatkan kesuburan tanah merosot.  Erosi ini adalah penyebab utama degradasi lahan.  Teknik konservasi tanah dan air yang diterapkan dapat melalui dua cara yaitu secara vegetatif dan mekanik.

Secara vegetatif, yaitu dengan penanaman penutup tanah (cover crop), dimana tanaman dapat menurunkan energi kinetik air hujan yang sampai permukaan tanah melalui intersepsi mahkota daun.  Pada saat yang sama dengan meningkatnya kekasaran permukaan oleh sisa tanaman yang menutup tanah atau rumput penutup tanah maka limpasan permukaan akan berkurang.  Terciptanya ruang pori oleh akar tanaman dapat meningkatkan kapasitas infiltrasi dan perkolasi tanah.  Sehingga jumlah air yang masuk ke dalam tanah lebih besar daripada run-off.  Berkurangnya kecepatan dan volume limpasan permukaan akan menurunkan tingkat erosi suatu lahan.

Secara mekanik yaitu dengan : (1) Membuat saluran pemisah, berfungsi sebagai penahan limpasan permukaan dari lahan atasnya. (2) Terasering, berfungsi untuk mengurangi panjang dan kemiringan lereng sehingga memperkecil limpasan permukaan.  Teras dibagi menjadi 4 bentuk, yaitu : teras gulud, teras saluran, teras bangku, dan teras irigasi. (3) Pengolahan tanah minimum yaitu pengolahan tanah dengan mengolah seperlunya pada saat kandungan air yang tepat, dilakukan sejajar dengan garis kontur dan pembuatan guludan sejajar dengan garus kontur. (4) Pemberian mulsa, menutup permukaan tanah dengan sisa-sisa tanaman, mengurangi pukulan air hujan, sehingga tidak terjadi dispersi dan merusak agregat tanah. (5) Membuat embung, berupa kolam penampungan air hujan dan limpasan air di permukaan tanah. (6) Membuat sumur resapan atau biopori, berfungsi meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam profil tanah.

3.    Pemupukan

Pemupukan berarti pemberian unsur hara tanaman ke dalam tanah.  Dapat berupa pupuk anorganik (pupuk buatan pabrik) dan atau bahan organik .  Pupuk anorganik, yaitu bahan yang mengandung unsur hara makro N, P, K, dan Ca serta unsur mikro, Cu, Zn, Mo, dsb.  Pupuk ini hendaknya diberikan sesuai dengan unsur hara yang diperlukan dengan dosis yang tepat.  Jika tidak malah akan mengganggu pertumbuhan tanaman.

Pupuk organik diberikan dengan mengembalikan sisa-sisa tanaman, gulma, kotoran ternak, kompos ke dalam tanah.  Diberikan dalam jumlah besar 10 – 20 ton/hektar.  Pengembalian bahan organik dari residu tanaman akhir-akhir ini telah menjadi suatu keharusan dalam suatu praktek usaha tani.  Alternatif teknik produksi dengan memasukan bahan organik atau pupuk organik, yang sering disebut pertanian organik, mengandalkan hara tanaman sepenuhnya dari bahan organik.  Teknik produksi yang menganjurkan penggunaan pupuk organik dan pupuk anorganik secara komplementer dalam agroekoteknologi juga menempatkan pentingnya pengembalian sisa tanaman sebagai sumber hara dan pemeliharaan kesuburan tanah.

Dari uraian dan penjelasan yang saya paparkan di atas, maka saya dapat simpulkan bahwa pengelolaan lahan yang benar dan tepat, sesuai dengan teknologi dan kaidah-kaidah ilmu tanah akan sangat membantu mengurangi degradasi lahan untuk pertanian berkelanjutan.  Sistem pertanian berkelanjutan akan mampu meningkatkan produksi pertanian, meningkatkan ketahanan pangan, meningkatkan keuntungan usaha tani, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani atau sebagian besar rakyat Indonesia.

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan pada kesempatan berbahagia dan istimewa ini semoga bermanfaat kita terutama pemerhati pertanian.

Selamat pagi dan terima kasih.

 download file

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: