SETAN


Cerpen : Djajus Pete
Sumber : Jawa Pos, Edisi 09/14/2003

.

Tiga setan meronta, menendang-nendang kesal terkurung di ruang sempit sudut surau. Tumpahlah sumpah serapahnya menjumpai Kiai Zuber Alam yang tengah mengajar para santri.

“Kau tak berhak mengurungku semenit pun. Ini pelanggaran, melawan takdir”, ucapnya masih menendang-nendang.

Kiai Zuber tak mengacuhkan selain masih mempercakapkan manusia yang makin rapuh menghadapi godaan. Manusia yang senang membanggakan diri sebagai makhluk paling sempurna ternyata banyak yang munafik, dan selalu terlambat memperbanyak ibadah. Kekuasaan, kemewahan, dan segala macam kenikmatan dunia digenggamnya dengan cara-cara kotor, keji, bahkan juga dengan membunuh sesama untuk kepentingannya.

Barulah disesali kejahatan-kejahatannya setelah renta, tinggal selangkah dari liang lahat. Satu pertanyaan mendalam, menjelang ajalnya, terngiang mengusiknya. Lalu untuk apa semua itu jika pada akhirnya manusia akan berpisah dengan kesenangan dunia yang memperdayakan?

“Itulah manusia, makhluk paling sempurna hanya dalam kata-kata. Kelengkapan pikir dan perasaannya yang membedakan dengan binatang, kurang digunakan untuk tujuan mulia”, lanjut kiai sambil membetulkan letak kopiahnya.

Kiai terdiam sejenak. Tak satu pun santri bersuara, kecuali ocehan setan.

“Lepaskan kami sekarang juga. Atau Tuhan yang akan mengutukmu karena kau melampaui batas. Tentulah kau sudah amat paham, bahwa Tuhan telah mengizinkan permintaan bangsa kami untuk senantiasa menggoda anak cucu Adam sampai akhir zaman. Kau melawan kehendak-Nya jika mengurungku dari kehidupan manusia”.

“Mengurungmu? Menurutmu aku yang mengurungmu?” desis kiai menepis tudingan.

“Waktu yang berharga telah terbuang sia-sia”.

“Kau sajalah yang ceroboh. Salah masuk surau hingga membuatmu terperosok”, sambung kiai membuat para santri makin terlongong.

Bengong terlongong tak mengerti juga siapa lawan bicara gurunya. Terlebih kaget lagi setelah gurunya mengutarakan apa yang dilihat dan didengarnya. Kaget ternganga, saling pandang, dan nyalang menatap ke sudut surau yang ditunjuk gurunya.

“Seperti apa setan itu, Kiai?”

“Seperti yang kau bayangkan”.

“Oh..”, gumamnya terangguk-angguk. “Tentulah amat buruk”.

“Waspadalah terhadap tipu muslihatnya”.

“Apakah kelak Kiai menurunkan ilmu itu kepada kami?” tanya Abdul Rozi yang baru mengetahui gurunya menggenggam ilmu untuk menerobos masuk ke alam ghaib. Juga para santri lainnya, tak pernah tahu sebelumnya. “Ilmu itu sangat menarik”.

“Menarik untuk kepentingan apa?” tanya kiai.

“Untuk memenjarakan setan-setan biang segala kebobrokan, Kiai. Seluruh setan yang berkeliaran di sekitar sini akan kami tangkap agar orang-orang sini terbebas dari bujuk rayunya yang menyesatkan”, jawabnya bersemangat.

“Itu ngawur! Omongan ngawur! Mulut besar asal membual!” sahut setan gusar mendengarnya. “Seperti yang telah dikehendaki takdir, bahwa kami pun hidup di dalam pembuluh darah manusia sebagai penguji. Mana yang iman dan mana yang kufur, mana yang baik dan mana yang buruk bisa dibedakan jika tak ada peranku?”

Kiai umur 70 tahun itu sepatah pun tak menanggapi selain masih mengelap kaca mata dengan kain sarungnya. Sementara Abdul Rozi masih terus bercakap dengan kawan-kawannya bahwa nantinya akan lebih banyak setan yang dipenjarakan jika gurunya telah menurunkan ilmu ghaib yang dikaguminya itu.

Dan, sepekan setelah itu, setelah kawan-kawannya pulang mengaji dari surau, Abdul Rozi mengeluh kepada gurunya. Dia menceritakan bahwa Abdul Ghofar, kakak kandungnya celaka, menjadi korban balas dendam setan.

“Setan-setan laknat itu, sebagaimana ruh jahat, tentulah marah, terperosok. Jika setan menganggap Kiai terlalu kuat, bisa saja dendamnya ditimpakan kepada santri-santri atau anggota keluarganya. Kak Ghofar yang terkena, terjerat bujuk rayu balas dendamnya”, kata Abdul Rozi dengan muka kusut, serasa tercabik-cabik perasaannya, tercoreng nama keluarganya, ikut menanggung aib atas peristiwa kakaknya. “Maafkan, Kiai, dua hari ini saya tak datang mengaji karena malu keluar rumah”.

“Sabarlah. Kuatkan imanmu menghadapi cobaan, seberapa pun pedihnya”, kata gurunya yang telah pula mendengar kejadian atas diri Abdul Ghofar.

Namun nasihat itu tak cukup menghiburnya. Bahkan wajahnya mendadak tegang, terlontar ujarnya penuh kebencian. Seandainya ia mampu menerobos ke alam ghaib seperti gurunya, setan yang menjerat kakaknya, yang meruntuhkan martabat keluarganya, akan dihajarnya.

“Oh… baiklah. Ayo kita cari dia”, ajak kiai yang tak ingin kejadian pekan lalu di suraunya disesalkan Abdul Rozi sebagai penyebab timbulnya petaka yang menimpa keluarganya. “Ambillah air wudhu”, perintahnya mengajak sholat malam terlebih dulu dan melakukan wiridan setelahnya.

Larut malam, dalam keremangan surau yang sunyi, Kiai Zuber membawa serta muridnya menembus alam ghaib, menangkap sejumlah setan yang berkeliaran di dekatnya. Abdul Rozi tak dapat menghitungnya karena tampak begitu kabur dalam pandangannya. Meronta malang-melintang berputar-putar tak menemukan jalan keluar. Gaduh, ribut menendang-nendang dalam kebingungan.

“Kaliankah yang pekan lalu terperosok di surau ini?”

“Tidak satu pun di antara kami. Tapi kami mendengar akan hal itu”, terdengar jawaban sesaat setelah kegaduhan terhenti. “Adakah yang dapat kubantu?” lanjutnya menawarkan jasa.

“Kulepas satu di antara kalian. Cari tahu siapa mereka. Bawa mereka kemari”.

Satu setan melesat bagai percikan bunga api yang lenyap dalam kegelapan. Dan sangat cepat pula berbalik dengan tiga setan yang dicari Kiai Zuber.

“Pasti kalian yang menjerumuskan Abdul Ghofar ke jurang kenikmatan yang hina itu”, tuduhnya tak sabar seperti mewakili ketidaksabaran Abdul Rozi.

“Ha ha ha ha ha ha… hu hu hu hu hu hu…”, tawa setan meledak terkakak-kakak serasa geli teringat sesuatu.

Tapi tawa itu dirasakan Abdul Rozi sebagai ejekan yang menusuk perasaan sehingga bibirnya gemetar menahan emosi.

“Jangan buru-buru menuduh kami. Tapi kami memang senang melihatnya saat bergumul cekikikan, saat panik ditangkap massa, dan digiring ke balai desa malam itu juga dengan diterangi lampu petromaks. Sekalian diiringi tetabuhan dari kaleng-kaleng bekas, membuat kami berjoget ria oleh bunyi-bunyian itu”.

Meski luapan emosinya makin memuncak, mulut Abdul Rozi seolah terkunci. Tak dapat terlibat dalam percakapan karena keberadaannya hanya menumpang gurunya. Tak lebih hanya sebatas mendengar dan melihat sosok ghaib yang demikian kabur.

“Seharusnya perempuan gelapnya ditelanjanginya pula. Tak hanya si hidung belang itu yang dilucuti tinggal celana dalamnya”, lanjut setan kemudian. “Tapi kau salah jika setiap kebobrokan selalu ditimpakan kepada kami sebagai penyebabnya”.

“Tak salah lagi, kaulah memang biang segala kerusakan dan kebejatan. Kau pendusta besar. Penipu ulung”,balas kiai.

“Sebagaimana anjing atau binatang lain, bertindak sesuai tabiat masing-masing. Anjing, sekalipun tinggal di rumah mewah, minum susu dan makanan berlimpah, tak akan dapat meninggalkan tabiat busuknya. Masih ke kubangan sampah mengais sisa makanan kotor”, seru setan beralasan.

“Manusia bukanlah anjing”.

“Apa bedanya soal tabiat?”

“Katakan yang lebih jelas”.

“Sudah jelas bagimu, Zuber, meski kami diam sekalipun”.

“Belumlah jelas bagi yang di belakangku”.

“Oh… itu? Muridmu yang pernah ngomong ngawur itu?” ujar setan, lalu diam sesaat seperti masih menatap Abdul Rozi. “Kakak kandungnya pezina. Itulah tabiatnya, biang yang bercokol kuat pada dirinya. Terhadap pezina, tanpa kami bujuk pun pastilah akan terjadi, tak lama setelah kencan dengan lawan jenisnya”.

Abdul Rozi serasa terbanting mendengar itu, serasa baru terbuka matanya bahwa kakak kandungnya memang suka main perempuan. Barulah setelah ditangkap massa membuatnya begitu terguncang. Malu luar biasa seperti hilang akalnya.

“Juga terhadap anak cucu Adam yang lain, yang telah kami kenal rapuh, yang lebih dikuasai oleh tabiat busuknya, yang mudah tersesat oleh dorongan hawa nafsunya, kami tak perlu repot mendekatinya. Cukuplah kami awasi dari kejauhan saja. Untuk apa. Untuk apa buang-buang waktu yang berharga jika telah dapat kupastikan akan tergelincir dengan sendirinya. Kecuali terhadap orang-orang beriman,kami benar-benar harus kerja keras membujuknya”.

Tak terdengar lagi celotehnya setelah itu, sampai Kiai Zuber bangkit, kembali ke dunianya. Abdul Rozi menjabat tangan gurunya erat-erat dan menciumnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: