PEMBAGIAN ZAKAT HARUSNYA BISA LEBIH MANUSIAWI


Pemandangan yang biasa kita lihat di Bulan Ramadhan selain kondisi lalu lintas di jalan yang penuh oleh para pemudik adalah kerumunan warga masyarakat kurang mampu untuk mendapatkan pembagian sembako dari perusahaan atau dermawan.  Para janda dan fakir miskin berkerumun dan berdesak-desakan di tengah panas matahari  untuk mengantre sembako yang harganya tak seberapa.  Tak sedikit orang tua renta dan anak-anak yang berdesakan dengan ibu-ibu yang juga sambil mengendong anak bayi atau batita.  Belum lagi jika mereka tidak mau bersabar, saling berebut untuk mendapat sembako lebih dulu dari yang lain.  Kondisi yang lebih parah bahkan tak jarang jatuh korban.  Orang-orang tua renta yang lemah pun menjadi pingsan karena panasnya terik matahari di antara dorongan dan desakan orang-orang yang tak sabar menunggu giliran.  Sebuah pemandangan yang memilukan dan memprihatinkan.  Apakah rakyat Indonesia telah sedemikian miskin?

Sebenarnya tak ada yang salah dengan kegiatan pembagian zakat berupa sembako.  Semua itu adalah hal yang baik dan positif, tetapi tidak adakah cara yang lebih baik dan manusiawi.  Apakah pembagian zakat harus dengan mengumpulkan para calon penerima zakat pada waktu dan tempat yang telah ditentukan.  Benarkah mereka yang ikut mengantri itu benar-benar layak untuk mendapatkan bantuan.  Calon penerima bantuan biasanya ditentukan dengan menunjukkan kupon yang telah dibagikan beberapa hari sebelumnya.  Kupon biasanya dititipkan kepada Ketua RT atau Ketua RW untuk dibagikan kepada warganya yang dirasa layak untuk menerima bantuan.  Tetapi terkadang ditemukan Ketua RT/RW yang kurang amanah sehingga warga yang tak layak menerima bantuan mendapat kupon, sedangkan warga yang kurang mampu justru tidak mendapatkan kupon tersebut, sehingga sasaran pembagian sembako (zakat) pun tidak sesuai.  Cara yang mudah dan praktis, tetapi kurang tepat sasaran dan terkadang kurang manusiawi dalam pelaksanaannya.

Cara itu tentunya bukanlah satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk menyalurkan zat kepada mereka yang berhak dan benar-benar membutuhkan.  Sebuah cara yang (mungkin) lebih baik harusnya dapat dicoba.  Persiapan penyaluran zakat dimulai dengan pembentukan panitia atau kelompok kerja.  Tugas mereka adalah mendata dan menyalurkan zakat kepada mereka yang benar-benar berhak menerimanya.  Tugas tersebut dimulai dengan mendata atau menginventarisir warga masyarakat yang benar-benar kurang mampu dan berhak menerima bantuan tersebut.  Dari mereka diperoleh informasi berapa jumlah warga yang berhak menerima zakat dan tinggal dimana.  Langkah selanjutnya mengemas sembako dalam paket-paket yang telah ditentukan.  Tugas mereka yang berikutnya adalah membagikan atau lebih tepatnya mengantar paket sembako tersebut langsung ke alamat warga masyarakat yang berhak dari hasil pendataan yang telah dilakukan sebelumnya.

Cara ini memang kurang praktis dan sedikit merepotkan, tetapi lebih tepat sasaran.  Penerima bantuan adalah benar-benar mereka yang berhak untuk menerima bantuan tersebut.  Tidak mungkin orang yang cukup berkemampuan akan menerima bantuan tersebut.  Satu hal yang pasti, kegiatan tersebut akan lebih manusiawi bagi penerima bantuan.  Tidak akan ada kerumunan warga yang berdesak-desakan di tengah terik panas matahari untuk sekedar mengantri sembako yang nilainya mungkin tidak sampai Rp. 50.000,-  Repot, ya memang repot. Tetapi yakinlah bahwa Allah swt. akan memberikan balasan yang setimpal atas jerih payah kita untuk menolong sesama umat manusia.  Pilihan ada pada diri kita.  Cara yang lebih mudah dan praktis tetapi tidak manusiawi, ataukah cara yang lebih manusiawi walaupun sedikit merepotkan dengan jaminan balasan setimpat dari Allah swt.

Semarang, 26 Juli 2014

Satu Tanggapan to “PEMBAGIAN ZAKAT HARUSNYA BISA LEBIH MANUSIAWI”

  1. destian Says:

    iy ya…. mau di buat kupon tetep aja desak desakan, di buat no antri… desak desakan juga ambil antrianya. sebenernya yang salah itu panitianya atau orang nya? menurut anda untuk pembagian zakat di masjid kota sebaiknya bagaimana?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: