SALAHKAH KITA JIKA GOLPUT?


Oleh : Nanang Ardhiansyah
.

“Golput” atau golongan putih. Istilah tersebut kembali hangat dibahas akhir-akhir ini dan mungkin akan tetap hangat dibicarakan hingga 3 bulan ke depan. Puncak dari pembicaraan tentang topik itu adalah pada tanggal 9 April 2014 lalu. Saat diadakan Pemilihan Calon Legislatif untuk DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Propinsi, DPR RI, dan DPD.

Berbagai media baik media cetak maupun media elektronik selama beberapa hari terakhir menjelang Pemilihan Legislatif, begitu gencar menayangkan iklan untuk mencegah adanya ‘golput’. Terus, apa itu sebenarnya ‘golput’? Kenapa kita tidak boleh ‘golput’? sampai-sampai ada yang menyatakan ‘golput’ itu haram!

‘Golput’ atau Golongan Putih dapat diartikan sebagai kelompok atau orang-orang yang telah mempunyai atau diberikan hak untuk memilih wakil rakyat, tetapi tidak menggunakan hak pilih tersebut untuk memilih wakil-wakil rakyat di waktu Pemilihan Umum. Pemilihan Umum adalah ajang bagi warga negara untuk ikut menentukan nasib dari negeri ini selama 5 tahun ke depan. Warga negara harusnya ikut berperan aktif dalam memilih wakil-wakil dari rakyat yang nantinya akan duduk di kursi legislatif. Mereka nanti yang akan berperan besar dalam mengatur negeri ini. Karena itulah, sikap golput sangat tidak dianjurkan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah kenapa ada warga negara yang mengambil sikap golput? Kita sebagai warga negara diberi hak untuk memilih wakil-wakil rakyat. Di dalam memilih tentunya, kita ingin memilih wakil yang terbaik untuk dapat mengelola negeri ini dengan lebih baik. Bagaimana jika kita tidak menemukan wakil-wakil yang kita anggap baik atau setidaknya kita cukup mengenalnya dengan baik? Salahkah kita memutuskan untuk tidak menggunakan hak yang telah diberikan kepada kita?

Bagaimana dengan mereka yang mendapat tugas sehingga berada jauh dari tempat tinggalnya, sementara mereka tidak terdapat sebagai warga dari daerah tersebut. Contohnya adalah para mahasiswa yang kuliah keluar pulau sehingga tidak mungkin untuk pulang pada saat Pemilihan Legislatif (Pileg). Mereka memang diberikan kemudahan untuk memilih di luar daerah asalnya. Ingat, mereka bukanlah warga yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK), jadi dapat dikatakan mereka orang asing di kampung orang. Praktis mereka tidak akan mengenal caleg-caleg yang terdaftar di daerah tersebut. Jika tidak mengenal bagaimana mereka akan dapat yakin untuk menentukan pilihan.

Ada pula yang berpendapat, jika kita tidak mengenal caleg-caleg yang ada maka pilihlah partainya. Pilihlah partai yang mempunyai program terbaik. Kita semua sangat yakin bahwa tidak ada satu pun partai dengan program dan tujuan yang jelek. Sebagus apapun program dari suatu partai, keberhasilannya tetap ditentukan oleh manusia-manusia yang akan menjalankan program tersebut. Jika para caleg yang merupakan wakil partai tidak cukup layak dan berkualitas, bagaimana program partai dari dijalankan dengan benar. Belum lagi prestasi kinerja dari para wakil rakyat yang saat ini duduk di lembaga legislatif masih jauh dari harapan. Mereka kini kembali mencoba peruntungan mereka untuk dapat kembali duduk di ‘kursi empuk’ tersebut.

Salahkah kita jika kemudian memutuskan untuk tidak menggunakan hak kita? Salahkah kita jika memutuskan untuk golput? Kita tidak mengenal calon-calon yang akan duduk di lembaga legislatif yang harus dipilih. Seandainya kenal, kita tidak yakin apakah calon tersebut mempunyai kualitas dan kemampuan untuk menyuarakan aspirasi kita masyarakat. Atau kita mengenal mereka karena mereka adalah para ‘petahana’ yang kembali mencoba peruntungan. Jika kondisinya seperti ini, salahkah kita jika memutuskan untuk golput?

Rakyat sudah bosan dengan janji-janji. Rakyat hanya ingin bukti. Jangan hanya pada saat membutuhkan suara rakyat, para wakil rakyat baru berusaha mendekati rakyat. Partai dalam menentukan Bakal Calon Legislatif seharusnya tidak hanya sekedar memper-timbangkan popularitas sehingga diharapkan akan dapat menghimpun banyak suara. Partai harus betul-betul memilih Bakal Calon yang memang layak dan berkualitas, sehingga rakyat menjadi yakin bahwa mereka dapat dapat membawa aspirasi masyarakat yang memilih mereka.

Golput tidak lagi memerlukan janji-janji. Mereka sudah bosan dengan janji-janji. Mereka sudah bosan melihat tingkah para wakil rakyat yang sama sekali tidak patut ditiru. Mereka sudah jenuh dengan pertunjukkan hanya mementingkan kepentingan golongan-golongan tertentu. Wakil rakyat adalah orang-orang yang mewakili rakyat. Bukan orang-orang yang mewakili golongan. Karena itu, berjuanglah untuk rakyat. Janganlah berjuang untuk kepentingan golongan apalagi pribadi. Jika kalian dapat membuktikan hal itu, maka golongan putih tidak akan menjadi golongan putih lagi.
.

Semarang, 10 April 2014

Iklan
Ditulis dalam ESSAI. Tag: , , . Komentar Dinonaktifkan pada SALAHKAH KITA JIKA GOLPUT?
%d blogger menyukai ini: