LEGUMINOSA PAKAN DI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA


oleh : Nanang Ardhiansyah

Kegiatan pertambangan selain sebagai sumber kemakmuran masyarakat, tetapi juga sebagai perusak lingkungan yang sangat potensial.  Penambangan batubara dengan sistem penambangan terbuka (open pit mining) akan meninggalkan lahan yang telah mengalami penurunan kualitas tanah.  Kegiatan reklamasi lahan bekas pertambangan batubara dengan penanaman tanaman leguminosa penutup tanah (cover crop) merupakan salah satu cara untuk memperbaiki kualitas tanah di lahan bekas tambang tersebut.

Kerusakan iklim mikro dan kerusakan tanah di lahan bekas penambangan batubara terjadi akibat pengupasan lapisan atas tanah hingga lapisan deposit batubara.  Hutan (vegetasi) yang berperan dalam pengaturan iklim mikro pun ikut menjadi hilang karena proses tersebut.  Lapisan atas tanah yang hilang menyebabkan tanah mengalami kerusakan secara fisik, kimia, dan biologi.

Hilangnya lapisan atas tanah pada lahan bekas penambangan batubara menyebabkan kandungan unsur hara makro (N, P, K, Na, dan Ca) dan bahan organik tanah menjadi sangat rendah.  Tingkat kemasaman tanah (pH tanah) dan kapasitas tukar kation (KTK) juga menjadi rendah.  Mikroorganisme tanah yang sangat membantu dalam stabilisasi struktur tanah, sumbangan mineral inorganik, dan sumbangan zat pengaturan pertumbuhan juga menjadi sangat rendah.  Kondisi tanah yang seperti tersebut akan membuat tanaman sangat sulit atau bahkan tidak dapat untuk tumbuh dengan baik di lahan bekas tambang tersebut.

Tanaman leguminosa penutup tanah (cover crop) sebagai tanaman yang ditanam pada reklamasi tanah/lahan bekas penambangan batubara berguna untuk melindungan tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi.  Leguminosa selain sebagai penutup tanah lebih mampu tumbuh dan memproduksi bahan organik dalam jumlah besar.  Akar tanaman leguminosa akan dapat memperbaiki sifat fisik tanah serta meningkatkan kesuburan tanah.  Hal ini karena kelebihan leguminosa yang memiliki kemampuan untuk dapat mengikat N2 bebas di udara sebagai hasil simbiosis dengan bakteri Rhizobium di akar tanaman.

Beberapa mikroba mempunyai kemampuan unik untuk menambat N2 bebas dari udara.  Bakteri simbiotik menambat N2 dalam bintil yang terdapat pada perakaran tanaman leguminosa untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan tanaman akan unsur N.  Jumlah N2 yang dapat ditambat dari udara melalui simbiosis Rhizobium dengan tanaman leguminosa sangat ditentukan oleh jenis bakteri bintil akar, tanaman inang, dan faktor lingkungan rhizosfir yang mempengaruhi interaksi tersebut.

Leguminosa dengan segala kelebihannya ternyata tidak semua jenis tanaman leguminosa dapat dipergunakan sebagai tanaman penutup tanah terutama di lahan bekas penambangan batubara.  Kondisi tanah pada lahan bekas tambang batubara yang miskin akan unsur hara (terutama hara makro) dan nilai pH yang rendah menyebabkan tidak semua jenis leguminosa dapat tumbuh.  Tanaman leguminosa yang tepat adalah tanaman yang secara secara agronomis toleran terhadap unsur hara yang rendah dan kondisi tanah yang asam, memberikan produksi yang tinggi, dapat membangun bahan organik, dan mempercepat pemulihan kondisi tanah.

Beberapa jenis leguminosa pakan yang biasa dipergunakan untuk reklamasi lahan bekas tambang batubara antara lain, yaitu : Arachis pintoi, Calopogonium mucunoides, Centrocema pubescens, Mucuna bracteata, Mucuna pruriens, Pueraria javanica, dan sebagainya.  Jenis-jenis leguminosa pakan tersebut mempunyai karakteristik yang dianggap mampu untuk tumbuh baik pada kondisi lahan yang miskin unsur hara dan pH tanah yang rendah.

Keberadaan leguminosa pakan di lahan bekas penambangan batubara akan memberikan peluang bagi perusahaan maupun masyarakat di sekitar lokasi penambangan untuk mengembangkan usaha peternakan, terutama ternak ruminansia seperti sapi dan kambing atau domba.  Leguminosa akan menjadi sumber hijauan pakan yang baik untuk memenuhi kebutuhan hidup ternak.  Sementara itu, keberadaan ternak ruminansia juga akan ikut memberikan tambahan sumbangan bahan organik yang berguna untuk memperbaiki kondisi tanah bekas penambangan, selain sumbangan bahan organik yang diberikan oleh tanaman leguminosa.

Usaha peternakan ruminansia di lahan bekas tambang dengan tanaman leguminosa sebagai salah satu sumber hijauan pakan akan mempercepat proses pemulihan lahan bekas penambangan batubara.  Hal ini akan menyebabkan lahan yang semula hanya dapat ditanami dengan sedikit jenis tanaman akan mengalami peningkatan kualitas sehingga akan dapat ditanami oleh beberapa jenis tanaman.  Komoditas tanaman yang lain pun (tanaman pangan, perkebunan, ataupun kehutanan) akan dapat dikembangkan di lahan tersebut.  Kondisi iklim mikro di lokasi bekas penambangan pun akan dapat diperbaiki dengan penerapan sistem agroforestri dengan mengembangan usaha peternakan, pertanian, dan kehutanan di lokasi tersebut.

Jadi, tanaman leguminosa dengan kelebihannya akan dapat memperbaiki kualitas tanah dengan memberikan sumbangan unsur hara (N2 bebas dari udara) dan bahan organik tanah.  Kualitas tanah yang lebih baik akan membuat tanah lebih sesuai untuk dapat ditanami oleh beberapa jenis tanaman sehingga memberikan peluang yang lebih baik pula untuk memperbaiki kondisi iklim mikro di sekitar lahan bekas penambangan batubara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: