KUDA BETINA


Cerpen : Nelden Djakababa
Sumber : Suara Pembaruan, Edisi 04/20/2003

 

Tania melihat seekor kuda betina warna hitam legam pada malam gerhana bulan. Hitam yang paling gelap. Betapa kuda itu indah karena liar. Rambutnya menyapu-nyapu angin. Ia bergerak ke arah bukit di tepi sabana, terus, terus menuju bukit. Ketika ia sampai di puncak bukit, diangkatnyalah dua kaki depannya, menyepak-nyepak udara sambil meringkik sumringah memanggil bulan. Tiap helai surainya bagai pecut menghentak-hentak udara.

Listrik. Kuda hitam itu terus meringkik nyaring, dan gesekan antara helaian surainya membangkitkan listrik dalam rupa petir-petir kecil. Hanya itu yang terlihat dari jauh. Sementara itu, suara petir-petir kecil di antara ringkikan kuda betina liar terbawa angin menuju kampung di lembah.

Tania terhentak. Ia membuka matanya. Peluh tipis melapisi kulitnya. Akhir-akhir ini, gambaran yang ia lihat selama meditasi makin membingungkannya. Ia mengenal kampung di lembah itu. Itu adalah kampung neneknya. Ia juga kenal bukit di atas kampung itu. Tapi Tania tidak mengenal kuda betina hitam itu.

Tania menyeka wajahnya dengan handuk kecil. Waktu kecil, ia memang pernah mendengar orang-orang di kampung neneknya melarang anak-anak bermain di luar lingkaran kampung setelah matahari terbenam. Yang paling diulang-ulang adalah larangan bermain di bukit itu. Kata teman-teman neneknya, di situ berdiam seorang marapu perempuan. Tangisannya kadang terdengar di angin sore-sore. Kata orang kampung, marapu perempuan itu gemar memikat anak-anak kecil untuk bermain sampai ke puncak bukit. Lalu anak-anak itu tidak akan pernah kembali lagi. Kata orang, penunggu bukit itu dulunya adalah seorang perempuan yang anaknya mati tenggelam di sungai. Perempuan itu kemudian mati merana, dan arwah yang berduka itu menjadi penunggu yang menghantui bukit tempat sungai nahas itu bermata air.

Tania menyeka dada dan ketiaknya. Itu cerita yang ia dengar waktu kecil, saat mengunjungi nenek di kampung. Orang tuanya telah pindah ke Jakarta sebelum dirinya lahir. Kini Tania tinggal di Yogyakarta untuk kuliah. Sejak neneknya meninggal enam tahun yang lalu, ia tidak pernah lagi berkunjung ke kampung. Tania menyeka kedua lengan, paha, dan betisnya. Ah. Ada-ada saja hal yang bisa muncul kembali dalam ingatan oleh meditasi. Padahal, yang ia harapkan dari bermeditasi hanyalah ketenangan menghadapi ujian tengah semester.

Tania mandi sebelum berangkat ke kampus. Ia berharap guyuran air dingin dapat mengusir gambaran-gambaran yang mengganggu itu dari pikirannya. Bayangan kuda betina itu tentu tak akan banyak membantu menyelesaikan soal statistik, pikirnya.

Ujian tengah semester Statistik Non parametrik berjalan dengan tidak begitu lancar bagi Tania. Ia sulit menangkap logika dari lima soal tersebut. Sialan. Brengsek. Anjir. Tania membawa umpatan-umpatan itu ke warnet di sebelah kampus. Ia ingin mengecek apakah Tantyo sudah membalas e-mail yang dikirimnya kemarin sore. Di e-mail kemarin itu pun, Tania telah mengeluh kepada Tantyo, kekasihnya di Jakarta, betapa akhir-akhir ini dirinya sulit berkonsentrasi belajar. Sudah beberapa kali ia enggan pergi kuliah.

Sejujurnya Tania tengah gelisah, namun ia sendiri tidak tahu kenapa. Sejujurnya pula, Tania tidak begitu berharap Tantyo akan berusaha membuatnya tenang. Paling-paling Tantyo akan menyalahkan Tania, menuduhnya malas. Begitu biasanya. Tapi setidaknya, Tania pasti akan memperoleh respons. Meski Tantyo cuma akan menyalahkan, setidaknya itu juga satu bentuk perhatian. Begitu pikir Tania.

Tania langsung mengklik nama Tantyo diinbox. Muncullah e-mail terbaru dari Tantyo.

 

Taniacayang,

Ayo dong. Teruslah semangat belajar. Jangan putus asa. ‘kan sedikit lagi kamu lulus. Ayolah cayang. Ingatlah, kamu adalah harapan hidupku satu-satunya. Setelah kamu lulus, kita akan menikah. Cayangku, kamulah masa depanku. Karenanya, semangatlah belajar!

Nah tuh, kamu sudah kuberi semangat. Coba, kurang baik bagaimana lagi kekasihmu ini?;)

Cayangmu,

Tantyo.

 

Tania melongo di depan layar komputer. Tantyo sama sekali tidak menyalahkan dirinya. Belum pernah ia begini. Kepala Tania seperti berputar-putar. Mulutnya komat-kamit tanpa suara membaca e-mail Tantyo berulang-ulang. Komat-kamit itu membuat mulut Tania kering. Ia berusaha menelan ludah. Sulit sekali. Yang muncul malah rasa enek di tenggorokannya. Ia tidak mengerti mengapa Tantyo tidak mengomelinya. Ia merasa seperti tercekik. Tania hanya dapat mengalami rasa jijik yang terbit dari perutnya, melingkar-lingkar seperti belut berlendir yang naik menohok kerongkongan. Tania tidak tahan lagi. Ia melompat keluar lalu muntah sejadi-jadinya di got depan warnet. Muncratlah serpih-serpih kecil bercampur lendir yang tadinya merupakan satu porsi indomi telur campur kopi tubruk. Hueiiiikk… hueiiiiiikkk….

Seluruh makan paginya tumpah tak tersisa. Setelah semua sudah keluar dari lambungnya, dengan lemas Tania kembali masuk, melog-off komputer, meraih tasnya, membayar ongkos warnet, lalu pulang. Orang-orang lain di warnet itu memandang dengan iba. Mereka tidak sempat menolong karena segalanya berlangsung begitu cepat. Setelah Tania pergi, mereka berbisik-bisik di antara mereka.

“Duh, kasihanya”.

“Iya”.

“Masuk angin kali ya”.

“Iya, mungkin gara-gara belajar semalaman untuk mid tes”.

“Alaa, paling juga dia hamil”.

“Hush! Sembarangan!”

“Ya bisa saja, kan?!”

“Huh!”

Setelah bosan berdebat, mereka kembali sibuk menekuni dunia virtual masing-masing.

Di kost, Tania mandi lagi. Bau muntah hilang. Perutnya terasa lebih enak berkat teh manis hangat. Bajunya yang tadi kena muntah direndamnya di kamar mandi. Kini Tania berbaring telanjang di atas ranjang. Jejak-jejak sejuk di sekujur kulitnya bertemu dengan kasur yang hangat. Mata Tania memberat. Otot-otot tubuhnya mulai mengendur satu per satu. Namun pikirannya terus bekerja.

Mengapa tadi dirinya muntah? Ia tak habis pikir. Biasanya, dirinya selalu salah di mata Tantyo. Biasanya, apa saja yang ia lakukan tidak pernah dianggap benar. Tapi kali ini, Tantyo sama sekali tidak mengomeli dirinya. Ia malah berusaha memberinya semangat. Seharusnya aku berbahagia, pikir Tania. Tapi mengapa tadi ia malah muak waktu membaca kata-kata Tantyo?

Kamulah masa depanku, Tania
kamu
adalah….
harapan….
hidupku….
satu-satunya….
kamu….
adalah….
masa….
depan….
aku….

Rasa tenggorokan tercekik itu muncul lagi.

Kamu – lulus – untuk – masa – depan – aku – kurang – baik – bagaimana – lagi – aku – ? -:) Bahkan simbol senyum itu terasa seperti makin mencekik.

Tania hendak berontak, tapi tubuhnya sudah terlalu letih. Otot-ototnya rileks. Kelopak matanya makin berat. Lalu terkatup. Tania melihat bukit itu lagi. Malam. Ia mendengar suara kuda betina itu lagi. Tapi ada sesuatu yang lain. Dengkingan kuda itu tidak kuat dan garang seperti sebelumnya. Kali ini lebih mirip rintihan.

Lalu Tania melihat kuda itu. Namun binatang indah itu tidak sedang berdiri di atas dua kaki belakang seraya menggaruk-garuk pekat malam dengan kedua kuku tunggal depannya. Tidak. Kali ini kuda yang merintih itu terbaring di puncak bukit. Kaki-kakinya terikat jadi satu oleh kawat yang mengiris pergelangannya. Sakit sekali. Seorang lelaki tanpa wajah menindih tubuh kuda betina hitam itu. Lelaki itu mendesis.

“Susu kuda liarku….” Lelaki itu berusaha memerahnya.

“Ayo manis, berikan susumu kepadaku….” Kuda malang itu berontak menggeliat berusaha menjatuhkan lelaki itu. Kakinya menendang-nendang, membuat kawat pengikat kaki makin dalam mengiris dagingnya. Perih.

Lelaki itu kesal. Ia terus membekap tubuh kuda itu dengan tubuhnya. Lalu dengan satu gerakan cepat, lelaki tanpa wajah itu menjambak segenggam surai sampai lepas. Si kuda melolong kesakitan. Lelaki itu memecut pantat si kuda dengan segenggam surai berlistrik di tangannya. Jeritan kuda betina itu menyayat malam. Liur berbusa putih muncrat dari moncongnya.

Iiiiiiii…!

“Cayang-ku!” teriak lelaki itu.

Iiiiiiiiiii…!

Tania terperanjat sampai duduk. Ia membuka mata lebar-lebar. Bayangan kuda sengsara itu lenyap. Tapi napas Tania begitu sesak. Ia cepat-cepat menarik udara masuk dari hidungnya. Terlalu cepat. Ia batuk-batuk. Kulitnya mengkilat oleh banjiran keringat. Detak jantungnya begitu kuat dan cepat. Tania dapat merasakan seluruh wajahnya berdenyut. Lalu ia mulai menyadarinya. Ia mulai menyadari betapa perih leher di belakang kepala, tempat anak-anak rambut tumbuh. Betapa pegal, betapa berat punggung dan pundaknya, seperti tertimpa berjuta ton batu karang. Rasa berat di punggung dan pundak itu seperti menyatu dengan perih di belakang kepala dan enek di tenggorokan.

Sementara itu pantatnya ngilu seperti habis terpecut sengatan listrik. Tania rubuh lagi oleh tekanan sensasi pada tubuhnya. Ini tidak baik, pikirnya. Ini tidak baik sama sekali. Ia sangat letih. Tania meraih handuk di dekat tempat tidur. Pelan-pelan ia menyeka tubuhnya. Handuk kecil itu menyerap peluh dari wajah. Leher. Pundak. Ketiak. Lengan. Jari-jari tangan. Kembali ke ketiak. Punggung. Melingkari payudara. Mengitari pusar. Pinggang. Pantat. Selangkangan. Paha. Belakang lutut. Betis. Jari-jari kaki. Tarikan napas Tania kembali dalam dan lambat. Setiap embus dari hidung membawa pergi sedikit penat tubuhnya. Terus, Tania, terus, gumamnya.

Tarik napas, tahan, hembus. Pelan-pelan.

Tarik napaaas. Tahaaan. Embusss. Pelan-pelaaannn….

Begitu terus, sampai akhirnya seluruh rasa berat itu meninggalkan tubuh Tania.

***

Malam kembali turun di Yogyakarta. Tania berada di warnet itu lagi. Wajahnya agak pucat, tapi sangat tenang. Bibirnya seperti hampir tersenyum. Ia tahu betul apa yang akan ia lakukan. Ia mulai mengetik.

Tantyo,

Aku akan berterus terang padamu.

Aku tahu bahwa di e-mailmu yang terakhir itu kamu bermaksud menyemangati aku. Tapi Tania berhenti sebentar, mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya. Biasanya, ia akan berusaha mencari kata-kata yang sekiranya akan menyenangkan Tantyo semata. Tidak lagi. Ia lanjut mengetik.

Tapi terus terang saja, aku mengalami kata-katamu itu sebagai beban yang sangat berat buatku. Membacanya, aku langsung merasa tercekik. Karenanya aku pikir ada baiknya kita meninjau kembali hubungan kita. Rupanya masih banyak pertanyaan dalam kepalaku, seperti misalnya : apa aku benar-benar ingin menikah dengan kamu? Hal ini belum pernah sekalipun kamu tanyakan padaku. Kamu langsung saja berasumsi bahwa aku pasti mau. Ini mungkin karena kita sudah lama bersama. Pada akhirnya, akulah yang perlu mempertanyakan hal itu pada diriku sendiri.

Tantyo, maafkan aku kalau ini membuat kamu bingung. Aku sendiri juga masih sedang berusaha memahami ini semua, jadi mungkin aku juga belum dapat membuat kamu betul-betul mengerti. Tapi tolonglah, aku harap kamu setidaknya menerima bahwa ini adalah proses yang sedang aku jalani.

Salam untuk oom dan tante.

Tania.

Tania mengklik tombol send.

Di Jakarta, Tantyo terbelalak membaca e-mail dari Tania. Ia tak habis pikir. Ia tak kunjung bisa mengerti. Apa yang sedang terjadi? Pada akhirnya, ia menduga secara sangat kuat bahwa Tania telah bertemu seorang lelaki lain. Habis, apalagi alasan untuk menolak dirinya?

“Akan kupergoki mereka, lalu akan kuhajar laki-laki bajingan itu”, umpat Tantyo dalam hati sambil melempar beberapa potong pakaian ke dalam ransel. Tantyo memutuskan untuk berangkat ke Yogyakarta dengan kereta jam delapan besok pagi.

Malam itu juga, sang kuda betina hitam pulih kekuatannya. Ia telah bebas. Sekali lagi ia dapat menunjukkan keliarannya dengan indah. Ringkik lantangnya terdengar di seluruh penjuru lembah. Ringkikannya memanggil bulan.

Akhirnya bulan mendengarkan panggilan si kuda liar. Bulan menjawab dengan muncul dari balik gerhana. Cahaya putih mutiara lembut memandikan seluruh lembah, permukaan air laut di selatan, bukit, serta kuda indah di atasnya. Petir-petir kecil merembet dari surai yang berkibar. Sekujur tubuh legamnya mengkilat oleh cahaya bulan. Setiap kelompok otot di bawah kulitnya tertera dengan jelas ketika ia kembali melempar dua kaki depannya ke udara, menyambut munculnya bulan. Makin sumringahlah ia meringkik, seperti mendapat energi baru dari sang purnama. Kini matanya menangkap sinar bulan yang terpantul-pantul dari gelombang laut di selatan lembah. Laut. Itulah tujuannya.

Kuda betina hitam legam itu segera berderap meninggalkan puncak bukit. Turuni bukit, seberangi lembah, susuri tepi sungai yang meliuk-liuk genit itu, sampai ke tempat sungai yang melebar membelah bentangan pasir. Sampai ke laut. Bukan main girang hati kuda itu ketika empat kuku tunggalnya ia derapkan di atas pasir, berlari menuju badan air maha luas maha dalam itu. Laut! Kuda hitam itu segera mendaki tebing karang di sebelah barat muara sungai. Sempurna betul tebing ini, lonjak hatinya. Ia tidak sedikitpun mengurangi kecepatan derapnya, begitu tiba di ujung tebing. Ia malah melambungkan tubuhnya ke udara, menyambut ruang kosong selepas tebing. Kaki-kakinya berlari di udara tanpa pijakan. Di bawah sana, ombak berbuih. Suara ringkiknya berpadu dengan debur ombak yang menghantam kaki tebing. Dengan bahagia kuda itu jatuh. Dengan bahagia ombak ganas berbuih menelannya. Dengan bahagia kuda itu lenyap di bawah air. Lalu, secepat lenyapnya kuda hitam itu, air memusar di tempatnya jatuh. Searah jarum jam pusingannya. Mula-mula sebesar wajan. Kemudian ia tumbuh jadi sebesar sumur. Saat lubang pusaran itu sudah sebesar pintu gerbang rumah manusia, blesh! Melesatlah si kuda hitam dari tengah pusaran, menuju angkasa. Laut telah memberinya sepasang sayap yang ditanamkan pada punggungnya. Maka kini, dapatlah ia terbang menuju bulan.

Tania pulas sekali.

Tania tersenyum dalam tidurnya.

Pagi.

Tantyo duduk di dalam kereta api tujuan Yogyakarta dengan seluruh otot yang tegang.

Tantyo tidak tidur semalaman.

Tantyo menggumam berulang-ulang, “Awas lelaki bajingan itu. Awas. Awas….”

 

Senayan, 27-29 Januari 2003

Catatan :
1. Marapu : Kepercayaan asli Sumba yang berdasar pada penghormatan arwah leluhur. Istilah marapu juga dipakai untuk merujuk kepada roh secara umum.
2. Bagian ini merupakan adaptasi yang sangat bebas dari La Llorona, sebuah kisah tradisi lisan dari Meksiko yang diceritakan kembali oleh Clarissa Pinkola Estes dalam buku Woman Who Run With Wolves : Myth and Stories of the Wild Woman Archetype (New York Ballantine Books, 1992:301-302)
3. Warnet : kependekan dari warung internet.
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: