TUETUEA


Cerpen : Zoya Herawati
Sumber : Jawa Pos, Edisi 08/10/2003

 

“Nisa, Abang berangkat sebentar lagi. Apa kau titip sesuatu buat dia?”

“Tidak! Katakan saja bahwa Nisa menunggunya di tuetuea (jembatan) Jantang sebelum praeng (perang) benar-benar pecah”. Cut Nisa menjawab sambil tetap mengelap piring-piring dan gelas usai mencucinya.

“Tapi, apa Abang benar-benar yakin bisa menemuinya? Nisa dengar mereka sudah siap siaga menabuh genderang praeng”. Gadis itu melanjutkan kata-katanya.

“Abang tak yakin benar, tapi akan tetap berupaya. Sudah tutup pintunya! Abang akan singgah sejenak, pamit ayah ibu di kedai”.

“Ya, Bang”.

Cut Nisa menakar beras hendak menanak nasi. Dilihatnya beras hanya tinggal kurang dari separuh. Ditutupnya belanga penyimpan beras dengan sepotong kayu dan di atasnya diganjal dengan sepotong besi. “Mudah-mudahan praeng tidak segera pecah”, harap Nisa seraya menyalakan api di tungku. Sudah beberapa hari kompor di dapur kehabisan minyak. Dua toko besar di kampungnya hanya buka sampai tengah hari. Kata yang empunya, barang-barang keperluan sudah hampir habis, tak ada lagi yang bisa dijual. Pemasok enggan masuk desa mereka.

“Rusuh dimana-mana. Tak ada jaminan keamanan bagi siapapun”, kata ayahnya ketika ia mempermasalahkan langkanya barang-barang keperluan sehari-hari. “Laik hidup di penjara ranyeuk (besar)”, sambung ibunya.

Waktu itu perempuan paro baya itu tengah menisik kerudungnya yang robek kena kawat berduri di mulut kampung. Sudah berhari-hari para tetua kampung memutuskan memasang pagar kawat berduri sejak beberapa laki-laki dari kampung lain mengatakan akan ada malapetaka besar yang menimpa mereka. Dengan dada membusung mereka menantang siapa saja yang mencoba mengangkangi tanah rencong.

“Ah, kalian. Hanaget (Tidak baik) bertingkah seperti itu”, kata Pohoni, kepala desa”. Sebagai agam (laki-laki) gagah kalian telah merobohkan kegagahan itu sendiri. Bebuleun-buleun (berbulan-bulan), bahkan bethoen-thoen (bertahun-tahun) perjuangan bukannya tanpa hasil. Buat apa budee (senjata) bicara, aneuk budee (peluru) meletus kalau harus mengorbankan sesama. Ada otak yang harus digunakan. Itu baru agam sejati. Perjuangan yang sebenar-benarnya perjuangan adalah menaklukkan amarah. Kekuasaan di tangan siapapun pasti akan berakhir kalau tak pintar-pintar menjaga kepentingan lawan”.

Ketika itu beberapa di antaranya hanya mendengus marah. Mata mereka melotot ke arah sang kepala desa. Tetapi perseteruan tidak berlanjut. Seperti sikapnya semula, Pohoni meredam amarah dalam diri-sendiri dengan tidak menghiraukan tingkah laku orang-orang di hadapannya. Mereka meninggalkan tempat itu setelah merasa tak seorang pun menghiraukan mereka.

Cut Nisa mengambil sepotong kayu dan memasukkannya ke dalam tungku. Kejadian itu terus menghantui orang-orang desa. Siapapun penghuni Kampung Jantang, tak terkecuali Nisa, merasa was-was menyaksikan perseteruan antara kepala desa dan para lelaki yang menyebut diri agam gagah. Selama ini orang kampung tak punya pilihan lain kecuali hanya pasrah menyaksikan kekeruhan yang terus-menerus melanda kampung halaman mereka. Peluru berhamburan tanpa arah yang jelas, sama kaburnya dengan asap mesiu yang menghalangi pandangan mereka. Tak ada peluru yang lebih baik dari kedua belah pihak yang dapat membedakan nyawa orang. Di Serambi Mekah ini Tuhan seolah malah dilupakan.

Nisa mengaduk-aduk nasi setengah matang dengan sendok kayu besar. Pikirannya buntu menyaksikan perseteruan yang tak kunjung berakhir dengan sebab yang tak pernah jelas. Pintu diketuk pelan. Bersijingkat Nisa mengampiri pintu dan menyingkap sedikit tirainya. “Ah, kau rupanya. Pe aba (Apa kabar), Hotma?” Nisa membuka pintu. “Aba get (Kabar baik)”. Hotma melangkah masuk.

“Oh ya, bagaimana aba dia? Baru saja Abang Nayan mencari tahu tentang dia. Kau tahu dimana dia sekarang?”

“Ah, hana get goet (tidak baik). Payah dia. Sudah aku katakan beguni-guni (berkarung-karung) daun keparat yang ia simpan, yang ia jual secara sembunyi-sembunyi bukannya tanpa soal. Tak pantas buat modal berjuang. Lagi pula orang sudah tak hormat lagi. Terlalu banyak korban mati sia-sia”.

“Terus, apa kata dia?”

“Nisa, lebih baik kau buang saja bungoen (bunga) kenangan yang pernah dia berikan. Tampaknya hutan menjadi pilihan dia!”

“Hotma yakin?!” Perempuan yang dipanggil Hotma mengangguk berkali-kali, hingga burqah yang dikenakannya selang sebentar menggelembung dan menciptakan gelombang lembut pada permukaannya. Nisa menerawang. Dalam dua kesempatan berbeda ia mendapat luka serupa.

“Sudahlah Nisa. Tampaknya ia sudah berbulat tekad. Ia tinggalkan Beureunun menuju Bireuen, bentangan puluhan kilometer hanya sekedar membunuhi saudara-saudaranya dengan alasan yang tak jelas. Benar-benar tak masuk di akal!” Hotma melanjutkan kalimatnya.

“Tidak tepat benar! Yang jelas mereka saling bunuh!” Nisa menyahut. “Hmmm”, Hotma mendengus.

Kini Nisa membisu. Dua agam tempat kepada siapa ia menggantungkan harapan, tampaknya tak lagi peduli dengan keberadaannya. Sekuntum bunga telah mati di dadanya, sebelum benar-benar mekar sepenuhnya”. Ieu jeun (Air hujan) sekalipun tak mampu membuatnya kembali segar”, desah Nisa. “Sudahlah Nisa, buang bungoen itu ke kraeng (sungai), pasti semua beres!” Tak ada sahutan.

Kedua gadis itu beriringan ke dapur. Nisa mengangkat nasi dan memindahkannya ke dalam bakul. Hotma menjerang air di atas tungku, meniup-niup api yang mulai mengecil.

“Ainun menangis sedih. Mulai kemarin sekolah ditutup entah sampai kapan. Kasihan gadis kecil itu. Ia sudah mulai senang mengeja huruf dan mengingat angka-angka”, Hotma membicarakan keponakannya.

“Sementara belajar di rumoeh (rumah) dululah”, sahut Nisa. Kini ia mengambil guleg piek (makanan khas Aceh Tengah) dari piring dan menikmatinya.

“Suruh si Ainun hatie-hatie, ie ujeun, asap mesen (hati-hati, air hujan, asap mesiu) yang jeuh sangat berbahaya”.

“Oh iya, aku sudah katakan aneuk beremak untuk hatie-hatie”.

“Silakan pajoeh kueh (makan kue) dan jeb ie (minum air). Sekedar ie, Hotma. Semalam loen han jeteh. Loen sabee (Aku selalu) ingat Abang”, kata Nisa.

“Hm melempou (mimpi) indah memang indah untuk diingat”, goda Hotma.

“Ya, shoeh halueh melague lague sedeh (bisik lembut menyanyi lagu sedih)”, jawab Nisa cepat.

Gaduh di luar. Ayah dan ibu Nisa bersungut-sungut menerobos pintu pagar halaman. “Ada apa, Mak?” Nisa menyongsong kedatangan mereka. Diraihnya buntalan dari tangan ibunya. Sekejap ia melihat wajah perempuan itu pucat pasi kelelahan. “Praeng segera mulai tampaknya. Emak hanya memikirkan engkau Nisa. Bagaimana dengan perkawinan engkau kelak. Agam engkau pasti memilih tinggal di hutan. Sementara abang engkau, Nayan, tetap pada pendiriannya, melawan agam engkau”.

Perempuan paro baya itu mengurut-urut dahinya. Diusapnya keringat dingin di sekitar dahi dan lehernya. “Beberapa hari ini makin tak enak badan rasanya”, ibu Nisa menyambung kalimatnya.

Suaminya melirik sekilas. Seperti biasa laki-laki itu mencoba menanggapi kata-kata istrinya. Namun sejenak kemudian, “Emak, Abi sudah katakan. Tak perlu risaukan persoalan Nisa. Biar dia yang memutuskan apa yang baik buat dirinya”.

Ayah Nisa yang selama ini tak banyak cakap, angkat bicara. Nisa hanya menunduk. Ia berharap pembicaraan itu tak berlanjut. Kepalanya pening membayangkan bakal pecah perang. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Tetapi kali ini entah mengapa ia benar-benar tertekan.

Hotma memandang tegang ketiganya. Ia tahu tak ada pilihan yang lebih baik selain harus keluar dari keadaan yang membuat semua orang gundah dan cemas. Ia bisikkan sesuatu di telinga Nisa, dan gadis itu kini tercengang mendengarnya. Tapi sebentar raut mukanya berubah-ubah, antara merah padam dan pucat pasi berganti-ganti.

“Aduh, engkau tidak apa-apa bukan?!” Ibu Nisa tergopoh-gopoh menghampiri. Dipijit-pijitnya dahi anak gadisnya.

“Engkau tidak boleh menyerah. Sekian lama sudah mempersiapkan diri menghadapi ketakpastian. Seharusnya tidak ada yang boleh terguncang, Nisa!”

“Sudahlah Mak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pening. Tinggalkan kami berdua, ada yang hendak kami perbincangkan”.

Sejenak keduanya memandang gadis itu dengan raut muka penuh tanya. Namun tanpa banyak kata keduanya meninggalkan dua gadis itu di serambi tengah.

“Nisa, kita tak boleh terus-menerus begini. Kehidupan ini milik Allah, tak seorang manusia pun boleh menentukan nasib sesamanya. Nanti malam kita tentukan nasib kita!”

“Ssst, jangan gaduh! Biarkan emak dan bapak tidak tahu rencana kita”.

Kedua gadis itu terdiam. Usai maghrib mereka mengunjungi beberapa perempuan di kampung itu. “Apa sudah kalian pikir matang-matang?” Bu Pohoni menegur lembut.

“Sebab loen tak mau semua merugi”.

“Apakah selama ini kita tak merugi?! Praeng akan berkecamuk, sementara tidak ada satu pihak pun yang mempedulikan kita, kaum perempuan di sini. Apalagi yang hendak dipikirkan?!”

“Baik. Kalau kalian bisa meyakinkan perempuan-perempuan Jantang untuk melawan kezaliman, silakan!”

“Terima kasih. Jawaban Ibu merupakan amanat yang harus kami laksanakan. Trouk mempok (Sampai jumpa)”.

Keduanya berpamitan. “Ya, hatie-hatie”.

Tepat tengah malam, beberapa perempuan berduyun-duyun menuju jembatan desa, satu-satunya jembatan yang menghubungkan desa itu dengan desa-desa lain. Mereka mengendap-endap di kegelapan, menembus pekatnya malam dengan menggotong peralatan berat yang dipungut dari rumah masing-masing. Mereka melangkah tanpa menimbulkan berisik meski dada mereka dipenuhi berbagai macam perasaan, marah, dendam, benci, berbaur menjadi semangat dan segunung harapan.

“Berhenti!”

Nisa yang berjalan paling depan menghentikan langkah sekian meter dari jembatan. Ia berbalik badan dan berkata dengan menahan suara. Meski ia kelelahan mengangkat potongan besi yang lumayan panjang, tetapi ia berusaha untuk tetap tegar.

“Sebelum kita mulai pekerjaan ini, mari semua berdoa. Demi perdamaian, hancurkan sekalian tuetuea ini, biar kedua belah pihak tak bisa masuk desa! Para agam dan semua yang beranuek budee, semua bikin kita susah!”

Saat semua orang masih terperangah oleh kata-katanya, Nisa berlari dengan sepotong besi di tangan ke arah jembatan. Di belakangnya, terengah-engah Hotma mengikuti langkah-langkah panjang Nisa. Ia pun memanggul besi panjang dengan sepenuh tenaga meski tampaknya besi itu telah memperberat gerak kakinya. Dengan sekuat tenaga keduanya menghancurkan besi-besi penyangga jembatan di kedua sisinya. Menyaksikan keduanya bertandang seperti kesetanan, serentak perempuan-perempuan lain berlari-lari ke arah jembatan dengan suara gaduh.

“Ayo! Ayo! Hancurkan tuetuea! Hancurkan tuetuea!” Mereka menyerbu jembatan dan mulai merusak bagian-bagian lain jembatan. Gemuruh batu-batu dan bongkah-bongkah aspal serta potongan-potongan besi yang jatuh ke air berbaur dengan suara berderak-derak dari badan jembatan yang sedikit demi sedikit mulai runtuh, membangunkan para lelaki di desa itu. Berbondong-bondong mereka menuju sumber suara dan dengan takjub mereka menyaksikan pemandangan yang ada di hadapan mereka.

Jembatan itu sudah tak berbentuk, gemuruh air di dasar sungai berbaur dengan bunyi potongan-potongan jembatan yang terlempar ke dalamnya, menimbulkan kengerian yang sangat. Pohoni maju ke arah perempuan-perempuan yang sekarang sebagian besar berdiri kelelahan dengan potongan-potongan besi terserak di kaki mereka. “Berani mengambil sikap adalah pahlawan, dan kalian telah melakukannya”.

“Terima kasih”, serentak para perempuan itu menjawab. Nisa memandang nanar. Di ujung lain jembatan samar-samar ia melihat dua laki-laki bersenapan, berseragam doreng berbeda corak melambai-lambaikan tangan.

***

Sabarangah, Aceh, Mei 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: