PEMILIK DUA CAHAYA


Dikutip dari : 30 Dongeng Sebelum Tidur untuk Anak Muslim
.

Abu Bakar dan ‘Utsman bin Affan adalah dua pemuda yang bersahabat sejak kecil, lebih-lebih dalam berniaga. Dan ketika Abu Bakar mengajak ‘Utsman menyatakan kesetiaan kepada Muhammad bin Abdillah, ‘Utsman menyambutnya dengan baik, meskipun kalangan keluarganya antipati terhadap ajaran yang dibawa Nabi itu.

Bagi ‘Utsman, keluarganya yang tidak menyetujui pilihannya bukanlah suatu penghalang. Menurut pendapatnya, agama yang dibawa Muhammad pasti akan mampu memberantas kejahiliyahan di tengah-tengah masyarakat Arab saat itu.

Di kala permulaan menerima ajaran syari’at Islam, ‘Utsman bin Affan merasa khawatir terhadap tindakan keluarganya. Oleh karena kebencian keluarganya terhadap Muhammad, ‘Utsman mendapat cacian yang luar biasa, juga sangat membencinya. Padahal sebelumnya mereka sangat sayang dan mencintai ‘Utsman.

Hakam, paman ‘Utsman, sangat marah melihat sikap ‘Utsman memeluk Islam. Sebagai puncak kemarahannya, ‘Utsman dikurung dalam suatu kamar yang gelap, diikat tangan dan kakinya. ‘Utsman dikucilkan, dijauhkan dari pergaulan keluarga.

Bagi ‘Utsman hal itu tidak mengendorkan semangat dan pendiriannya, justru lebih membakar semangat yang ada untuk lebih berani berbuat demi menegakkan kebenaran. ‘Utsman berpendapat, suatu kebathilan pasti disertai kekerasan, sedang sesuatu yang haq disertai kelemah-lembutan.

Siksaan dari sanak keluarganya diterima ‘Utsman dengan penuh ketabahan dan kesabaran hati. Biarpun sehari dipaksa seribu kali untuk kembali ke agama nenek moyang, tetap ditolaknya mentah-mentah.

Ujian berat itu telah membuat keimanan ‘Utsman bin Affan semakin membaja dan berbesar hati, bukannya malah berkecil hati. Biarpun keluarga yang dulu menyayangi dan kini membenci dan menindasnya, ia yakin suatu saat nanti mereka akan sadar, bahwa agama yang selama ini dipeluknya adalah agama bathil.

Karena sudah tak tahan dengan siksaan keluarga, akhirnya ‘Utsman usul kepada Rasulullah untuk mengungsi (hijrah) ke Ethiopia (Habsyah). Rasanya tak ingin lagi melihat wajah keluarganya yang telah mengucilkan dan menghinanya, bahkan telah tega menyiksanya.

Melihat keadaan ‘Utsman yang memprihatinkan, Rasulullah memberi ijin kepadanya untuk mengungsi. Dengan hati yang pasrag, ‘Utsman meninggalkan sanak keluargany. Meskipun sebenarnya dia merasa tak tega, mengingat mereka telah membesarkan dirinya. Namun apa boleh buat, i’tikad lebih besar nilai harganya daripada keluarga yang mengajak ke arah jurang kesengsaraan.

‘Utsman rela mengorbankan segala apa yang dimiliki demi kepercayaan yang dianut, percaya kepada ajaran Islam yang telah memancarkan sinar kebesaran, menunjukkan umat manusia ke jalan yang benar.

Ketika itu, ‘Utsman bin Affan telah menikah dengan Ruqayyah, putri Rasulullah. Laut Merah diseberangi bersama istrinya, demi mendapatkan perlindungan. Semua harta kekayaan dikorbankan demi kepentingan Islam. Namun demikian, ‘Utsman tetap dalam naungan Tuhan. Hidup di perantauan dengan penuh kebahagiaan dan ketentraman.

Penderitaan-penderitaan yang dialami ‘Utsman bin Affan mengantar dirinya lebih dekat dengan Rasulullah, sehingga setiap kali beliau ke medan lagi tentu ‘Utsman bertugas mendampinginya. Hanya dalam Perang Badar, ‘Utsman tak dapat mendampingi Rasulullah.

Pada saat terjadi Perang Badar, ‘Utsman tak dapat mengikutinya, meskipun hati kecilnya ingin sekali mengambil bagian dalam peristiwa itu. Ketika itu, Ruqayyah binti Rasulullah sedang dalam keadaan sakit keras, maka Rasulullah tidak mengijinkannya. Diperintahkan ‘Utsman untuk tetap tinggal di rumah, merawat istrinya.

‘Utsman melaksanakan perintah Rasulullah, dirawat istrinya dengan baik dan penuh kasih sayang. Namun, Allah menghendaki lain, takdir menentukan bahwa Ruqayyah dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kematian istrinya membuat hati ‘Utsman sangat bersedih dan berduka. Terbayang dalam hatinya, dengan kematian Ruqayyah berarti tali kekeluargaan dengan Rasulullah menjadi terputus. Seakan jurang menganga telah memisahkan dirinya dengan Rasulullah dalam talian kekeluargaan. Tidak ada lagi keluarga tempatnya mengadu, sebab mereka telah membenci dirinya karena mengikuti ajaran Muhammad.

Bayangan itu sering mengganggu hati kecil ‘Utsman bin Affan, padahal kekeluargaan dengan Rasulullah merupakan satu-satunya tumpuan pengharapan. Namun, ternyata telah berakhir dengan meninggalnya Ruqayyah. Ibarat bunga yang baru mekar, hadiah dari Rasulullah, kini harus gugur dalam pemeliharaannya. Ia sangat menderita dan sedih hatinya.

Rasulullah mengerti apa yang menjadi beban penderitaan hati ‘Utsman, dan beliau mencarikan jalan keluarnya. Maka Rasulullah mengambil ‘Utsman sebagai menantu untuk kedua kalinya, ia dinikahkan dengan Ummi Kultsum yang masih gadis.

Atas kebijaksanaan Rasulullah itu ‘Utsman merasa sangat bersyukur, sehingga kekhawatiran dan kesedihan yang melanda dirinya sirna. Luka dalam hatinya terasa terobati, kebahagiaan kembali menghampiri dirinya. Karena itu ‘Utsman bin Affan mendapat gelar kehormatan “Dzun-Nurain”, pemilik dua cahaya. Sebab dua kali menjadi menantu Rasulullah saw.
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: