J.P. Coen Bantai Habis Rakyat Banda, Tapi Bukan Genosida


Dikutip dari : http://news.detik.com/read/2012/03/15/235324/1868737/10/jp-coen-bantai-habis-rakyat-banda-tapi-bukan-genosida
.

Den Haag Setelah setahun menjadi perdebatan sengit, Dewan Kotapraja Hoorn, Negeri Belanda, akhirnya mengambil keputusan tidak menyebutkan genosida mendiang Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen di Kepualuan Banda.Keputusan tersebut diambil oleh Dewan Kotapraja Hoorn, kota kelahiran Jan Pieterszoon Coen, dalam sidangnya pada Selasa malam atau Rabu (14/3/2012) pagi WIB.Sebagian masyarakat Belanda di kota Hoorn menggugat teks pada patung Gubernur Jenderal VOC itu. Teks dinilai tidak menggambarkan siapa sebenarnya Coen, orang yang bertanggung jawab membantai habis ribuan rakyat Banda dan hal itu dinilai sebagai hal yang memalukan.

Teks versi perubahan yang akan dipasang oleh pemerintah Kotapraja Hoorn pada patung Coen selengkapnya sebagai berikut:

Jan Pieterszoon Coen (Hoorn 1587-Batavia 1629)

Saudagar, Direktur Jenderal dan Gubernur Jenderal Verenigde Oostindische Compagnie/VOC (Serikat Dagang Hindia-Timur). Perancang kesuksesan imperium dagang VOC di Asia. Pendiri kota Batavia, sekarang Jakarta.

Dikagumi sebagai penata yang efektif dan visioner. Namun juga dikritisi atas tindakan kekerasannya untuk mendapatkan monopoli dagang di Nusantara. Melaksanakan ekspedisi hukuman pada 1621 terhadap satu dari Kepulauan Banda, sebab penduduknya melanggar larangan VOC menjual pala kepada pedagang Inggris. Ribuan warga Banda tewas dalam ekspedisi ini, sisa yang hidup dideportasi ke Batavia.

Teks versi revisi tersebut, walaupun telah menyebut jejak tangan berdarah J.P. Coen, tetap ditentang oleh masyarakat yang menamakan diri Burgerinitiatief ‘Ja voor Hoorn, Nee tegen Coen’ (Inisiatif Warga, ‘Ya untuk Hoorn, Tidak terhadap Coen, red).

“Fakta bahwa rakyat Banda dibantai habis itu telah dibenarkan oleh 9 sejarawan Belanda terkemuka yang telah kami mintai konsultasi. Tak seorang pun pejabat kotapraja meminta maaf pada masyarakat Banda. Suatu masyarakat yang kini tiada, karena telah dibantai habis dari muka bumi oleh Coen,” ujar Eric van de Beek dari Burgerinitiatief kepada detikcom.

Menurut Van de Beek, sebelumnya Dewan Kotapraja Hoorn pada tahun lalu telah memutuskan untuk memasang ‘catatan kritis’ pada patung Gubernur Jenderal Coen. Hal itu terjadi menyusul permintaan Burgerinitiatief kepada Dewan untuk memilih: menyingkirkan patung Coen atau memasang teks versi revisi.

“Para anggota Burgerinitiatief berpendapat bahwa catatan kritis yang dijanjikan itu tidak direalisasikan,” imbuh Van de Beek.

Lanjut Van de Beek, dalam teks yang telah disetujui Dewan tidak ada keterangan bahwa Gubernur Jenderal Coen telah membasmi habis rakyat Kepulauan Banda.

Pejabat Kotapraja Peter Westenberg dalam sidang komisi di Dewan menyatakan sadar menghindari terminologi ‘pembantaian etnik’ dan ‘genosida’, karena dia tidak mau menghukumi secara moral sepak terjang Coen. Semua parpol mendukung usulan ini, kecuali Partai Sosialis (SP).

“Hoorn dengan itu mengingkari genosida. Satu-satunya harapan kami pada pemerintah Kotapraja Hoorn adalah agar menyebutkan apa adanya sesuai fakta. Bahwa hal itu tidak dilakukan sungguh memalukan untuk Hoorn dan seluruh Negeri Belanda. Hoorn melakukan apa yang dituduhkan pada Turki tentang genosida di Armenia,” kecam Van de Beek.

Tidak Layak

Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mendapat status sebagai pahlawan nasional Belanda pada akhir abad ke-19, lengkap dengan dibuatkan patung yang berdiri tegak di kota kelahirannya, Hoorn, sekitar 51km sebelah utara Amsterdam.

Untuk keperluan pembuatan patung tersebut sebuah panitia nasional di bawah pimpinan Walikota Hoorn Van Dedem menggalang aksi pengumpulan dana. Patung dari bahan perunggu karya Ferdinand Leenhoff (1841-1914), dosen pada Academie voor Beeldende Kunst (Akademi Seni Rupa, red) Amsterdam, diresmikan dengan pesta meriah pada 1893.

Pembuatan patung untuk Coen tersebut bukan tanpa kontroversi. Menurut para penentangnya, Coen dengan politik dagangnya yang penuh kekerasan di Kepulauan Nusantara tidak layak mendapat penghormatan.
(es/es)
Eddi Santosa – detikNews
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: