DARI RAGA YANG INGIN MENJADI PENERANG


Dikutip dari : http://wordsondesert.wordpress.com/2012/02/18/dari-raga-yang-ingin-menjadi-penerang/
.

Untuk jiwa tanpa raga di masa lalu,

Rangkaian kata kali ini semoga dapat membuatmu mengerti tentang berbagai hal yang menyeruak dari relung hati paling dalam sebuah masa yang bernama Sekarang.

Lilin yang kau bawa masih terlalu redup, Sayang, untuk sekedar membuka sejenak lorong-lorong sempit yang menjadi batas antara kamu dan aku.  Tapi aku bisa pahami itu. Aku belum pernah memberimu pengertian tentang berbagai peristiwa yang nantinya akan mengiris perlahan ruang waktu yang remang-remang. Ruang yang kini dapat menjadi kian gelap atau terang, tergantung aku dan kamu.

Sayangku, di usiamu yang ke-12, dapatkah kau menghentikan sejenak langkahmu kala paku yang terinjak oleh kakimu bukan berasal dari paku yang terserak di jalan? Ia adalah paku yang mencuat karena sepatu yang kau kenakan sudah memestinya diganti. Tidak apa. Tak ada yang perlu dirisaukan dari sebuah sepatu lama. Ia adalah penanda waktu yang sanggup mengajarkanmu arti sebuah kesetiaan. Begitu juga yang ingin aku bisikkan kali ini. Tentang benda-benda tua, tentang kenangan, dan tentang cita-cita.

Kau tahu hingga kini rumah itu masih berdiri tegak. Rumah kita dulu, dimana timbunan masa lalu kala kau masih mempunyai raga terus saja terserak disana. Aku ingin kau bertanya pada mereka. Tapi sebelumnya buatlah semacam daftar yang berisi ukuran, tingkah laku, dan cita-cita mereka. Jangan tertawa dulu! Jangan mencemooh benda-benda yang seolah tidak membutuhkan oksigen untuk menopang sistem pembakaran di tubuhnya. Aku tahu itu semua salahku! Dan aku ingin kau mengerti bahwa tidak ada penyesalan yang dapat membuatku berhenti berusaha.

Mulailah terlebih dahulu dari ruangan tempat kau biasa mengisi penuh perutmu dengan beragam penganan khas kota kecil di Jawa Tengah itu. Disana semuanya bermula. Perbanyakan sel di tubuhmu dulu tidak dapat terjadi tanpa bantuannya. Jam dinding tua peninggalan Belanda yang berdentang nyaring tiap pukul 12 siang, pastikan kunci pengatur ketepatan kerja mesinnya masih ada di tempatnya. Tanyakan padanya sejak kapan ia menemani rumah itu untuk membantu penghuninya memenuhi janji pada alam semesta. Apakah ia dibeli Opa pada waktu beliau menempati rumah itu, ataukah sebelumnya. Benarkah ia datang bersama kapal layar berbendera Belanda, ataukah ia dibuat oleh disini. Di tanah air ini. Oma hanya bilang usianya sudah lebih dari 20 tahun waktu aku berumur 11 tahun. Ia makhluk antik yang terbiasa memandang seluruh kegiatan yang dilakukan semua penghuni rumah. Ia adalah saksi dimana Oma tiap pagi menyeduh teh hangat untuk diminum oleh ibu, bapak, kakak dan kita. Tidak hanya pagi, tapi juga sore. Saat jarum pendeknya menunjukkan angka 5 yang terkadang menyebabkan dirinya mengeluarkan bunyi dentang sebanyak 5 kali. Aku harus bilang terkadang, karena ada kalanya ia tampak terlalu lelah melaksanakan tugasnya.

Tetangganya adalah sebuah komunitas yang beranggotakan 5 buah kursi dan sebuah meja. Mereka adalah makhluk yang kuat. Seringkali kali diinjak, diduduki, bahkan terkadang dijungkirbalikkan untuk tujuan-tujuan yang sulit dimengerti olehnya. Duduklah sekali lagi di salah satu dari mereka. Rasakan kebahagiaan mereka kala mendengar celoteh kita tentang masakan Eropa yang dimakan dengan pisau dan garpu. Celoteh tanpa arti. Menggelikan sekali mengingatnya. Kita sedang berusaha menirukan cara teman-teman Oma membunyikan mulutnya kala mengasah kemampuan berbahasa Inggris bersama teman-teman seusianya waktu itu. Waktu kita belum tahu tentang tenses serta vocabulary. Semua terdengar seperti desisan yang diselingi kumur-kumur kecil. Oleh karenanya, itu pula yang kita lakukan disela-sela mengiris semur daging layaknya mengiris sepotong sirloin beef steak di waktu makan siang.

Kemudian lemari makan. Aku yakin beberapa stoples kerupuk tua masih tersimpan rapi disana. Stoples seperti mereka kini hanya ada di toko yang menjual alat makan berkelas. Lebih baik tidak berkeinginan untuk membeli stoples semacam itu sekarang. Banyak hal bisa dilakukan dengan uang seharga satu stoples itu saja. Stoples kaca sederhana dengan tutup terbuat dari kaleng yang kuat. Kesederhanaan rupanya memang menjadi barang langka sekarang. Merekalah buktinya.

Ruang keluarga, tempat dimana televisi, satu set kursi dan meja rotan serta lemari berisi album foto kenangan dari seluruh cucu Oma tertata rapi. Kursi dan meja rotan…tempat kita berpura-pura menjadi pramugari dan kadang sebagai penumpang. Tempat selimut-selimut tersandar sebagai atap tenda. Bonek-boneka bertaburan di ruangan itu karena kita menganggap kamar tidur kita tidak lagi asyik dipakai sebagai tempat bermain. Apa saja yang dapat kau ingat tentang mereka. Tulislah menjadi sebuah cerita.

Seperti yang aku bilang di awal tadi, kita dapat menjadikannya makin gelap atau terang, semua tergantung berapa banyak kita mau meluangkan waktu untuk menulis semua kisahnya. Benda-benda yang pernah kuanggap tidak dapat bertutur. Dibalik penolakanku dulu atas kemampuan mereka bercerita, terdapat sekian banyak keinginan dan cita-cita untuk selamanya melihat mereka seperti kali pertama aku melihatnya. Ternyata mereka menginginkan yang berbeda. Barulah aku tahu mereka punya kehendak. Kehendak mereka memintaku untuk menjadi penerang jalan yang akan mereka lalui. Atau, melupakannya saja dalam kegelapan.

Dari titik-titik yang aku sebutkan tadi, bergeraklah kemana kau mau. Catatlah semua yang kau anggap penting diluar yang telah aku sebutkan tadi, yaitu ukuran, tingkah laku dan cita-cita.

Semuanya segera berlalu hanya dalam waktu kurang lebih 5 bulan sejak Sekarang. Aku sudah memutuskan untuk menjadi penerang jalan mereka. Memudahkan segalanya untuk kepentingan bersama.

Mengiringi kepergian mereka…

Melepas jiwa yang pernah mengisiku dan kuabaikan…

Berhati-hatilah mengukir semua kenangan indah di rumah itu. Supaya tidak ada yang terluka bila saatnya tiba.

Waktumu tidak banyak!

Selesaikan tugasmu sebelum pemilik baru rumah itu memintamu dengan hormat untuk melangkahkan kakimu terakhir kalinya disana. Di rumah kenangan kita.

Dari raga yang ingin menjadi penerang…
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: