DAG DIG DUG


Suara desau angin malam itu terdengar jelas di telinganya.  Hanya ia yang mendengar.  Orang-orang yang berada di ruang depan dan sekeliling rumahnya disibukkan oleh orkes dangdut yang digelar tepat di depan rumah orang tuanya.  Ia menghuni sebagian kecil dari rumah tersebut.  Tepatnya di sebuah kamar berukuran 3×4 meter.  Kamarnya sendiri yang kini harum semerbak oleh beragam kembang yang ditabur di tempat tidur dan lantainya.

Tiba-tiba jendela kamar yang ditempatinya berderak.  Derak halus yang menyentuh hatinya.

“Hendra, kaukah itu?” Surti berkata setengah berbisik.

Yang ditanya tidak menjawab.  Tiba-tiba, sebuah telapak tangan mencoba meraih bagian dalam jendelanya yang sudah sedikit terbuka.  Sebuah wajah yang dinanti Surti akhirnya nampak dalam keremangan malam.  Surti segera mematikan lampu kamarnya.

“Sur!”

“Iya, aku disini”

“Sudah siap semuanya?”

“Sudah, Hendra.  Kenapa kamu nggak jawab tadi?  Aku sudah dag dig dug menunggumu”

“Bahasamu itu lho, Sur!”

“Lho iya, beneran kok”

“Kita tidak punya waktu banyak.  Segeralah berkemas”

“Sudah.  Tinggal lompat aja kesitu”

“Ya udah, buruan!”

“Aduh, maaf kelupaan ngelepas jarik”

“Ya ampuuuunnn…” Hendra meremas kepalan tangannya.

“Udah nih.  Terima tas ku dulu ya”

Hendra menerima tas berisi seluruh pakaian Surti yang dilemparkan dari jendela ke wajahnya.  Hampir saja Hendra terjatuh.  Entah apa saja yang ada di dalamnya.  Yang jelas, maling juga bisa pingsan kalau dilempar dengan tas seberat ini.

“Kamu ngapain Sur, lama-lama nyangkut di jendela gitu”

“Bukan.  Ini lho…ada yang nyangkut di kepalaku”

“Alamaaaakkk…” Hendra mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.  Tanpa mental baja, mengajak Surti kabur adalah melatih jantung bekerja melebihi kapasitasnya untuk disebut sehat.

Hendra menghampiri Surti untuk melihat lebih dekat apa gerangan yang menghambat gerak Surti kali ini.

“Sur, kamu niat nggak sih pergi sama aku?” ujar Hendra sambil perlahan melepas hiasan kepala Surti yang tersangkut di bagian atas jendela kamar.

“Kalo nggak niat, masak aku sampai mau keluar kamar dari jendela begini?”

“Terserah kamu aja deh” Hendra pasrah.

Biduan dangdut yang sibuk menggoyang-goyangkan pinggangnya itu tidak menyadari dua orang mengendap-endap di belakang panggung.  Ia terlalu sibuk menghibur penonton yang menanti goyangan pemicu syahwatnya yang terkenal di seantero desa.

Tak lama kemudian, kegemparan terjadi.  Seluruh penonton goyang dangdut tiba-tiba disibukkan oleh kegiatan mencari sesuatu.  Pertunjukan dihentikan.  Kabar terakhir yang didengar oleh sang biduan adalah, nyonya rumah pingsan, tuan rumah sibuk memanggil polisi.  Sebagian tamu yang hadir ada yang kebingungan, ada yang sok sibuk menolong nyonya rumah yang pingsan, namun ada juga yang tetap melenggak-lenggok di depan panggung seolah irama dangdut masih mengiringinya.  Mereka adalah golongan anak muda yang sudah terpengaruh oleh minuman beralkohol murah yang entah dicampur dengan larutan apa.

Surti memandang wajah Hendra yang kelelahan di sebelahnya.  Bis yang mereka tumpangi akan membawa Surti dan Hendra ke Jakarta.  Tanah harapan mereka berdua.  Makin dipandang, wajah Hendra kian tampan di mata Surti.  Surti menyukai Hendra sejak pertama kali mereka bertemu.  Sebagai kembang desa, tidaklah sulit baginya untuk mendapatkan cinta Hendra, perjaka tampan dari Jakarta, yang ditugaskan untuk mengawasi pembangunan beberapa proyek pemerintah di desa Surti.  Meskipun Surti juga tidak dapat menampik kenyataan bahwa dirinya harus bersaing dengan banyak orang untuk mendapatkan cinta Hendra.  Tidak terkecuali dengan ibunya sendiri.  Wanita yang melahirkannya ini ingin segera menikahkan dirinya dengan Hendra agar tiap hari dapat berdekatan dengan Hendra di rumahnya.

 

(Ditulis untuk hari kedua #15HariNgeblogFF)
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: