JOKO TEMPE


Badannya tidaklah terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus. Warna kulitnya sedikit gelap, tapi bisa dikatakan hitam. Itulah Si Anto, bocah berumur 10 tahun dengan penampilannya yang khas anak kampung. Anto tak ada bedanya dengan teman-temannya lain. Kesehariannya dihabiskan untuk bermain dengan teman-temannya. Mulai dari main bola, petak umpet, dan mandi di sungai tak jauh dari rumahnya. Satu hal yang membedakan dirinya teman-temannya yang lain, yaitu dalam hal makan.

Sore hari dengan wajah mengkilat karena terik matahari serta baju kotor dan bau tak karuan, dia pulang ke rumah. Melihat kondisinya yang seperti itu, ibunya paling hanya bisa geleng-geleng kepala. Pernah suatu ketika Anto kena marah ibunya, karena pulang dengan baju yang teramat kotor. Kalau sudah begitu, Anto pun akan tunduk tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Bahkan kalau bisa bernafas pun akan dia tahan, agar sang ibu tidak semakin marah. Menyesalkah Anto atas apa yang telah dia lakukan? Ternyata tidak. Dia menyesal hanya untuk 2 – 3 hari saja. Kembali diulangi lagi perbuatan itu. Berulang-ulang hal tersebut Anto lakukan, hingga akhirnya Sang Ibu pun bosan untuk selalu memarahi.

Sore itu, kembali Anto pulang ke rumah dengan pakaian kotor penuh lumpur. Sepulang sekolah dia bermain sepak bola dengan teman-temannya di lapangan dekat Balai Desa. Hujan deras semalam membuat lapangan menjadi penuh genangan air dan berlumpur. Sengaja Anto lewat pintu belakang dan langsung ke kamar mandi. Pikirnya daripada kena marah lagi, maka sambil mandi dia pun mencuci pakaian kotor yang dipakai tadi.

Selepas maghrib, seperti biasa bapaknya beserta 2 orang kakaknya dan seorang adiknya telah duduk berkumpul di ruang makan. Kebiasaan keluarga Anto adalah makan bersama, khususnya untuk makan malam. Makan malam telah siap dimulai saat Anto duduk di ruang malam. Dia tebarkan pandangannya ke seluruh meja makan. Dan raut mukanya pun berubah. Rupanya apa yang dicarinya tidak tampak di meja makan.

“Ndak ada tempe kah?” kata Si Anto dengan nada kecewa.
“Itu khan ada ayam goreng dan perkedel. Mana cocok sayur sop kalau lauknya tempe”, sahut Nurhay, kakak sulungnya.
“Siapa juga yang mau makan pake sayur sop. Anto khan mau makan pake tempe!” bantahnya tak mau kalah.
“Memang kau makan tak pake sayur?” tanya Nova, kakak keduanya. Sebuah pertanyaan yang seluruh penghuni rumah sudah tahu jawabnya.
“Asyiiiik… Ayam goreng jatah Mas Anto buat Widya aja yaa….” adik bungsu Anto tak mau kalah.
“Anto … coba kau cicipi dulu perkedel atau ayam goreng masakan ibumu”, ujar bapak menengahi keributan di antara 4 orang anaknya.
“Pokoknya Anto minta tempe goreng, kalo ndak ada yaa… udah Anto ndak makan”, ucap Anto.
“Anto… makan jangan hanya tempe. Tubuh kita akan lebih sehat jika kita tidak hanya makan tempe. Otak kita pun akan lebih cerdas karenanya”, jelas bapaknya.
“Memang Anto bodoh kah?” kembali Anto berusaha membela diri.
“Nah … ini ibu udah gorengkan tempe kegemaranmu”, kata ibu mengakhiri keributan kecil di ruang makan tersebut dengan membawa beberapa potong tempe goreng yang masih panas.

Cerita tentang kebiasaan Anto yang hanya mau makan dengan lauk tempe sudah bukan lagi menjadi rahasia. Semua orang di kampung maupun di sekolah sudah mengetahui hal tersebut. Itulah sebabnya di rumah maupun di sekolah dia mendapat gelar “Si Joko Tempe”. Anto sebenarnya malu dengan gelar itu, tapi mau apa lagi. Hanya tempe yang bisa dia makan. Pokoknya asal ada tempe, dunia menjadi aman baginya.

Meskipun begitu, bukan berarti Anto anak yang loyo dan bodoh. Di sekolah Anto termasuk anak yang cukup cerdas. Tidak pernah nilai raportnya selalu berada pada peringkat 5 besar. Anto pun beberapa kali tergabung dalam ‘tim cerdas cermat’ mewakili sekolahnya dalam beberapa lomba cerdas cermat. Lomba-lomba yang sebenarnya justru menyiksa Anto. Gimana tidak menyiksa, kalau konsumsi peserta lomba adalah nasi kotak dengan lauk ayam goreng, telur, atau daging. Mana ada konsumsi kegiatan nasi kotak dengan lauk tempe goreng. Pastilah panitia akan banyak menerima komplain dari peserta.

***

Tak terasa 25 tahun berlalu. Sejak lulus SLTP, Anto sudah semakin jarang kelihatan di kampungnya. Banyak temannya waktu SD maupun SLTP yang tidak tahu kemana perginya Si Anto. Kini dia pulang, Si Joko Tempe pulang. Pulang untuk mengunjungi teman-teman lamanya. Si Joko Tempe telah menjadi Sarjana dan sukses bekerja di negeri seberang. Si Joko Tempe tidak lagi hanya makan tempe. Dia sudah mau dan bisa untuk makan telur, ayam goreng atau bakar, ikan goreng atau bakar, dan jenis-jenis makanan lainnya. Dia memang sudah dapat makan dengan berbagai jenis lauk. Tetapi Joko Tempe tetaplah Joko Tempe, dia tetap akan memilih tempe menjadi lauk jika dilihatnya ada tempe di meja. Kalau dulu dia kadang mau kalau dioloki dengan panggilan Joko Tempe, maka sekarang dia akan sangat bangga jika dipanggil Joko Tempe. Ucapnya, “Biarpun Joko Tempe, tetapi khan jadi Sarjana. Tempe itu makanan bergizi walau kelihatan tidak bonafide!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: