KISAH DI PENGHUJUNG 2010


Karya : Wishnu Hardynatta
Sumber :Kaltim Post, Edisi 12/18/2011

.

Waktu menunjukkan pukul 16.00.  Aku bergegas keluar dari rumah.  Tadi pagi aku janji dengan ibu untuk mampir ke toko.  Setelah berjalan sekitar 3 menit menyusuri gang tempat rumahku berada, dengan napas yang masih turun-naik, sampailah aku di pinggir jalan di depan kantor Dolog Balikpapan.  Sore itu jalanan tampak cukup padat.  Butug waktu lama untuk menyeberang.  Kalau tidak hati-hati tubuhku bisa jadi santapan kendaraan yang sedang melaju.  Angkutan kota nomor 5 sudah menunggu di seberang jalan sambil membunyikan klakson sesekali.  Perlahan tapi pasti akhirnya aku sampai di seberang jalan.  Angkot pun meluncur setelah aku duduk tenang di dalamnya, tepat di samping sopir.

Sayangnya belum apa-apa kami sudah mulai terjebak dalam kemacetan.  Sebenarnya ini bukan pemandangan baru.  Hanya, kali ini lebih padat dari biasanya.  Maklum menjelang malam tahun baru.  Banyaknya pedagang ikan dan jagung dadakan turut menyumbang kemacetan, karena banyak kendaraan yang berhenti sembarangan untuk membeli ikan segar dan jagung, demi dijadikan santapan di malam tahun baru.  Sopir angkot yang kutaksir berusia 65 tahunan mulai berkomentar seakan mulai kesal dengan kemacetan jalan ini.

“Balikpapan sekarang padat, Pak.  Kendaraan tambah banyak tapi jalannya enggak nambah-nambah”, katanya dengan sedikit kesal.  “Kalau angkot sih enggak pernah nambah, hanya peremajaan saja”, sambungnya seakan menunjukkan protes atas banyaknya kendaraan pribadi yang lalu lalang di jalan raya.

Iya, Pak”, aku membalas ucapannya, dan bagiku cukuplah dengan mengiyakan saja karena saat itu aku sedang tidak tertarik untuk ngobrol.

“Lama-kelamaan bisa seperti Jakarta”, keluh pak sopir itu lagi sambil menginjak pedal gas pelan-pelan, karena kendaraan hanya bisa berjalan perlahan.

Kemudian pak sopir mulai bercerita mengenai perjalanan hidupnya sebagai pengemudi.  Tahun 2002, ia mengaku pernah mengadu nasih di Jakarta sebagai sopir antar jemput anak sekolah.  Dia mengisahkan betapa ruwetnya lalu lintas di Jakarta.  Untuk mencapai sebuah daerah yang jaraknya tidak begitu jauh, kita membutuhkan waktu yang cukup lama.  Kalaupun ingin cepat, kita bisa mencari jalan tikus.  Itu pun kalau jalan tikusnya tidak macet.  Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya.  Dia kembali mengisahkan bahwa setiap hari waktunya habis di jalan, terjebak kemacetan, untuk urusan kaki pegal tampaknya menjadi makanan sehari-hari.  Belum lagi menemui pengguna jalan yang tidak tertib, berhenti sembarangan, memotong jalan tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu.  Jelasnya, selama mengadu nasib di Jakarta yang dia peroleh hanya stress.

Angkot yang kunaiki pun sekarang sudah berada di depan Pasar Baru, tampak di sepanjang jalan di depan ruko sampai Mal Balcony dipasangi traffic cone berwarna oranye, dan dijaga beberapa petugas.

“Coba lihat, Mas, kalau dipasangi itu (sambil menunjuk traffic cone berwarna oranye, Red) berarti enggak boleh berhenti di sepanjang jalan ini.  Kasihan kan orang-orang yang bawa banyak belanjaan mau naik angkot.  Harus jalan jauh dulu”, kata sopir tua itu.

“Iya sih, Pak” kembali aku hanya mengiyakan saja.  Tapi menurutku tentunya pemasangan traffic cone itu ada maksudnya, karena biasanya sepanjang jalan itu dipadati kendaraan yang parkir atau sekedar berhenti hingga akhirnya menimbulkan kemacetan.  Namun, aku hanya menyimpan opiniku dalam hati.

Angkot terus bergerak menyusuri jalan, kami terdiam sesaat.  Tiba-tiba bapak sopir tua itu kembali membuka percakapan.

Sebenarnya kalau polisi mau gampang ngatur lalu lintas, pasang saja kamera di titik-titik tertentu, dan tinggal dimonitor dari kantor atau pos polisi.  Nah, kalau ada yang melanggar kan terlihat dan bisa dicatat nomor polisinya atau didata ciri-cirinya.  Selanjutnya tinggal ditindak.  Jadi, kan lebih hemat waktu dan tenaga”.

“Apa iya bisa begitu, Pak?” tanyaku, ingin tahu.

Iya, Mas”, balas sopir tua itu seolah paham dengan apa yang telah dia katakan tadi.

Ia juga menambahkan kalau sistem dendanya pakai sistem pemotongan lewat rekening si pemilik kendaraan.  Intinya semua pemilik kendaraan dan orang yang hendak membeli kendaraan harus punya rekening dengan nilai saldo tertentu.  Jadi, nantinya bila dia banyak melakukan pelanggaran, ya, uangnya akan terdebit.  Dan, bila uang di tabungannya sudah mencapai saldo minimal, maka dia wajib mengisi lagi.

Kalau ‘gitu kan benar-benar hemat waktu dan tenaga, dan tepat sasaran juga kan, Mas?” tegas bapak itu.

“Betul, Pak”, jawabku dengan terheran-heran atas penjelasannya.

“Dan, juga menambah kas daerah.  Iya, enggak Mas?” tambahnya lagi.

Iya, Pak, tepat sasaran”, jawabku lagi.

Hebat juga pemikiran sopir tua ini.  Bisa melontarkan ide semacam itu, bathinku.  Aku saja tidak sampai berpikir sejauh itu untuk masalah seperti ini.  Memang sepintas masuk akal dan efektif juga ide sopir tua ini.  Tapi, bagaimana untuk orang-orang yang membawa kendaraan dinas atau kendaraan pinjaman, tanyaku dalam hati.

Tak terasa kami sudah mendekati pertigaan Gunung Malang.  Bapak itu kembali membuka pembicaraan.

Dengar-dengar, bekas Puskib mau dibangun mal?” tanyanya kepadaku.

“Katanya sih ‘gitu, Pak”, jawabku, asal, karena aku jarang mengikuti perkembangan beritanya.

“Sayang kalau dijadikan mal.  Yang ada malah perang diskon, lebih baik dijadikan taman kota”, ucapnya.  Pak sopir ini sepertinya akan memaparkan ide-ide yang ada dalam pikirannya.

“Seandainya di situ dijadikan taman kota, wah, betapa asrinya Balikpapan”, tambahnya.

“Bahkan untuk sementara ini, mumpung masih jadi lahan kosong, bisa dijadikan lahan parkir.  Jadi, sepanjang jalan ini enggak boleh parkir sembarangan.  Kalau mau parkir, ya, harus di situ, daripada cuma dipagari seng ‘gitu”, tambahnya.

Aku menarik napas.  Rasanya seperti berhadapan dengan mesin pemikiran yang tak henti-hentinya mengeluarkan ide-ide konstruktif untuk membangun kota ini.  Padahal selama ini pikiranku tak sampai sejauh itu.  Selama ini aku hanya bisa menggerutu, mencela sana-sini bila menghadapi suatu masalah.

Menurut dia, dengan begitu maka kemacetan dapat dikurangi, karena jalan dapat termanfaatkan secara maksimal.  “Pak sopir ini sebenarnya siapa sih?” tanyaku dalam hati.  Semua ide-ide yang dilontarkannya menurutku sangat membangun sekali, sayang kalau hanya disimpan tanpa direalisasikan.

Tanpa terasa angkot pun tiba di seberang bekas bioskop Nusantara.  “Stop depan, Pak”, pintaku.

Angkot pun menepi.  Aku turun sambil memberi tiga lembar pecahan uang seribu rupiah kepada sopir tua itu.  Perlahan aku berjalan menjauhi angkot, pun demikian dengan angkot itu.  Sambil menyeberang jalan, seribu tanya mengumpul di otakku : siapa sebenarnya sopir dengan segudang ide itu.

***

.

Iklan

Satu Tanggapan to “KISAH DI PENGHUJUNG 2010”

  1. siluetsangpejuang Says:

    “Pak Supir dengan ide briliant”, baiknya duduk di kursi strategis agar bisa merealisasikan ide2, paling tidak menyuarakan ide2 beliau. nice post 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: