PESTA KEPIK


.

Ia menatap kagum benda di hadapannya. Berwarna hijau, tinggi menjulang. Sejauh mata memandang tak tampak ujung benda itu. Ia merasa sangat kecil dihadapannya. Tak lama kemudian, sinar matahari masuk melalui celah-celah benda raksasa tersebut. Tubuhnya mulai menghangat. Ingatannya pulih perlahan. Tempat baru dimana ia berada kini mengajaknya untuk menyadari bahwa ia sedang tersesat.

Ia tak berani melangkah. Meskipun dahan yang menjulang tinggi dihadapannya sesungguhnya dapat dengan mudah ia panjat. Perlahan, tidak perlu terburu-buru, pusatkan pandangan ke depan, dan mulailah melangkah. Itu pesan ibunya selalu. Tidak hanya untuknya, tapi untuk kakak-kakaknya juga. Ia ingat suatu kali pernah mencoba mempraktekkan nasihat ibunya itu. Lima langkah pertama membuatnya terlalu bahagia, ia kehilangan konsentrasi lalu jatuh di sebuah genangan air. Sejak saat itu ia belum lagi berani mengulang kegiatan memanjat dahan tinggi.

Di rumah tempatnya tinggal, hampir semua anggota keluarga termasuk sanak saudaranya diberi nama sesuai dengan warna yang mendominasi punggungnya. Ya, kami, keluarga kepik, bangga dengan anugerah Tuhan yang berupa paduan warna indah yang melekat di punggung kami. Pernah sekali waktu ayah bercerita kepada aku dan kakak-kakakku tentang indahnya warna di punggung kami yang rupanya banyak ditiru oleh tanaman dan manusia. Daun dengan permukaan berbulu yang sempat dipindahkan oleh tangan manusia ke dekat tempat tinggal kami memiliki corak bulat-bulat putih diatas warna dasarnya yang hijau kehitaman. Belum lagi beberapa kali ayah melihat dari kejauhan seorang anak manusia dengan pakaian bercorak warna mirip punggung kami. Sayangnya, kebanggaan yang membalut nama masing-masing kepik belum dapat aku rasakan. Sampai saat ini, mereka masih saja memanggilku dengan sebutan Si Kecil. Belum cukup matang untuk mendapat nama berdasar warna punggung, begitu alasan ayah ibuku. Tidak mengapa, asalkan mereka tidak mengaitkan nama panggilanku saat ini dengan keengganan mereka memberiku izin untuk bermain sendiri.

Ia mendengar suara lembut. Bukan, itu bukan suara ibunya memanggil. Itu hanyalah suara daun yang bergeser karena  terinjak. Sebuah benda menginjaknya. Ia mulai cemas. Terbayang kaki-kaki raksasa manusia yang tanpa memperhatikan kelangsungan hidup makhluk kecil seperti dirinya melangkah dan menghabisi dahan-dahan tempatnya bernaung. Ia memasang pendengarannya lebih tajam. Sambil berusaha berdoa sebisanya.

“Du..du..du..dam-di-dam-di-dam…” Kiki bersenandung sambil menikmati rumput basah yang diinjaknya. Musim hujan telah tiba. Dahan yang semula kering mulai menghijau. Dedaunan yang semula enggan menyapa paginya kini berhasil membuat hidupnya jauh lebih bersemangat. Warna hijau nan segar dedaunan itu membangkitkan selera makannya. Pasti lezat sekali. Tapi kini Kiki sedang membersihkan bagian tubuhnya dengan embun pagi yang membasahi tumpukan rumput yang dilewatinya.

Kiki, ulat kecil yang tengah menanti masa berkepompongnya, paling gemar membasahi tubuhnya dengan tetes embun pagi hari. Kalau saja ia dapat memenuhi keinginannya sendiri, pastilah ia sudah menceburkan diri ke dalam kubangan air yang banyak terdapat sehabis hujan. Tapi Kiki memilih tidak. Ia teringat nasihat ibunya untuk hanya membasahi tubuhnya dengan embun pagi saja. Ulat bukan makhluk yang dapat hidup di air, demikian penjelasan ibunya.

Kiki terus merayap sambil bersenandung di atas rumput basah tanpa mengetahui sesosok mungil dengan tubuh gemetar memperhatikannya dari kejauhan.  Sosok itu memicingkan mata kemudian lama kelamaan bersamaan dengan tubuh Kiki yang makin mendekat, mata yang semula mengecil itu perlahan membesar dan kemudian terbelalak. Kiki tidak menyadari dirinya diperhatikan. Bila saja bukan karena secercah cahaya matahari menimpa tubuh mengkilat makhluk kecil itu.

Kiki memiringkankan kepalanya ke kanan, kiri, kanan, lalu kiri lagi. Mengamati benda mengkilat di depannya. Indah sekali, gumamnya. Benda kecil yang berkilau. Pasti benda ini milik manusia yang tidak sengaja terjatuh disini. Manusia gemar benda berkilau. Itu yang Kiki tahu. ‘Tentunya tidak berbahaya’ gumamnya dalam hati. Kiki mendekati benda itu. Benda itu seperti bergerak perlahan. Bukan, ia gemetar. Kini Kiki ada di jarak yang memungkinkannya untuk mengetahui bahwa benda kecil itu memiliki mata. Sepasang mata mungil yang ketakutan. Kiki iba dibuatnya. Sepertinya benda ini hidup, pikirnya. Kiki mengamati bentuk makhluk di hadapannya. Ia teringat sesuatu. Rasanya tidak asing. Namun makhluk yang mulai tergambar diingatannya itu memiliki warna yang berbeda. Seingat Kiki ia berwarna merah dengan hiasan bulat hitam diatasnya.

“Halo, Teman!” Kiki mencoba menyapa.

“Hhh-ha-ha-ha..lo juga,” ujarnya gemetar.

“Mengapa kau sendirian disini?”

“A-a-a-ku…a-a-a-ku…”

Kiki tahu ia tidak bisa memaksa. Makhluk kecil ini masih ketakutan. Atau mungkin gaya bicaranya memang seperti itu? Atau ia tersesat?

“Namaku Kiki. Tidak perlu takut, aku tidak akan memangsamu,”Kiki berusaha memajang senyum di wajahnya. Semoga ia menganggap senyumku sebagai sebuah tanda pertemanan, harapnya dalam hati.

“Namaku…Si Kecil,”jawabnya.

“Sedang apa kau disini?”

“Aku kehilangan ayah, ibu dan kakak-kakakku”

“Kehilangan? Maksudmu? Mereka meninggalkanmu sendiri disini?”ujar Kiki penuh selidik.

“Emm…tidak,”jawab Si Kecil ragu.

“Lalu?”

“Aku meninggalkan mereka. Aku ingin bermain sendiri”

“Mengapa sekarang kau takut?”

“Aku belum pernah bermain sendiri sebelumnya. Ayah ibuku selalu menemani. Kakak-kakakku juga…tapi…tidak bolehkah aku punya keinginan sendiri…,” Si Kecil mencoba menahan tangisnya.

“Ow..ow..oww…temanku.. Jangan menangis…ada aku disini. Aku pernah punya keinginan sepertimu. Yuk, kita jalan-jalan melihat pemandangan sekitar sambil bercerita. Naiklah ke punggungku. Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu lebih tersesat,” Kiki tersenyum memberi semangat Si Kecil yang sedang bersedih. Si Kecil menangkap ketulusan hati Kiki dan mulai melangkah menaiki tubuh Kiki. Belum juga sampai ke bagian atas punggung Kiki, ia berhenti lalu bertanya,”Bagaimana dengan orang tuaku nanti? Mereka pasti mencariku. Bagaimana kalau mereka mencariku disini?”

Kiki menjawab dengan sabar,”Kita hanya sebentar berkeliling… setelahnya aku akan membawamu kembali ke sini.”

“Baiklah,”ujarnya tepat disaat tubuhnya yang mungil telah mendapatkan tempat yang nyaman di punggung Kiki. Kepik mungil yang malang, gumam Kiki. Tentunya ia hanya ingin bermain, Kiki mencoba memahami.

Kiki dengan Si Kecil di punggungnya merayap perlahan keatas dahan tinggi yang menjulang di hadapan Si Kecil kala ia berdiam diri tadi. Dahan yang membuat Si Kecil sadar bahwa dirinya berada di tempat yang asing. Dahan yang melindunginya dari terpaan sinar matahari langsung. Tanpa terasa, tubuh panjang Kiki telah membawanya ke ujung paling tinggi dahan tersebut. Daun yang menjuntai bagian ujungnya sedikit ke bawah menjadi tempatnya dan Kiki melihat-lihat pemandangan sekitar.

“Woww..,”ujar Si Kecil kagum. Ia melempar pandangannya ke kanan dan kirinya, mencoba memandang ke bawah meski awalnya ragu.

Kiki dapat merasakan kebahagiaan Si Kecil memberinya energi tersendiri bagi tubuhnya.  Kenangan akan kenakalannya kala pertama kali pergi meninggalkan orang tua tanpa meminta izin hadir dihadapannya.

Si Kecil belum pernah berada di tempat setinggi ini. Pernah ia melihat ayah dan ibunya mengajak paman dan bibinya memanjat dahan setinggi ini. Tapi ia belum pernah diajak. Bukankah mereka bisa mengajakku di punggungnya seperti ini? Ah, sudahlah, yang penting sekarang ia sudah tahu seperti apa rasanya.

*

Sebentar lagi pesta kepik digelar. Pesta yang sedianya dihadiri lebih dari 30 kepik itu akan berlangsung lebih meriah dari biasanya. Pesta yang diadakan sekali dalam sebulan ini biasanya hanya diramaikan dengan acara makan bersama. Kali ini lain. Komunitas kepik kali ini ingin merayakan pesta dengan tidak biasa. Musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya menyisakan banyak tanaman kering, embun tidak lagi sesegar biasanya, dan tanah yang keras dan pecah-pecah. Kurang lebih seminggu yang lalu, musim penghujan tiba. Komunitas kepik ingin merasakan kebahagiaan ini bersama. Merayakannya dengan sebuah pesta yang meriah.

Pembagian tugas telah dirumuskan 3 hari yang lalu sebagai berikut. Seluruh kepik dewasa bertanggung jawab atas segala persiapan acara mulai dari perlengkapan hingga jumlah dan macam makanan yang tersedia. Kepik remaja bertugas mempersiapkan acara hiburan. Kepik anak dilatih oleh kepik remaja untuk menjadi bagian dari pertunjukan menari dan menyanyi yang akan ditampilkan di penghujung acara.

Kegiatan ini diketuai oleh kepik remaja yang lincah dan terampil bernama Kepik Coklat. Sejak dua hari yang lalu, Kepik Coklat hampir selalu terlihat mondar-mandir di sekeliling tempat dimana pesta akan diadakan. Memeriksa segala persiapan dan bertanya apakah bantuan tambahan diperlukan. Kepik Coklat tidak segan-segan berkonsultasi dengan Kepik Merah-Kuning, sesepuh komunitas kepik, bila diperlukan. Tanggung jawab sebesar ini tidak membuat Kepik Coklat menjadi sombong. Ia mengerti bahwa bagaimanapun juga, kebijaksanaan sang sesepuh komunitas akan selalu diperlukan sebagai bahan pertimbangan.

Tiba saatnya Kepik Coklat memeriksa persiapan pertunjukan menari dan menyanyi yang latihannya diadakan di sebuah lapangan terbuka.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,…,”Kepik Coklat menghitung jumlah peserta latihan.

“Mengapa cuma enam? Mana Si Kecil?”

Enam kepik anak dan satu kepik pelatih diam demi mendengar pertanyaan Kepik Coklat. Mereka saling memandang. Beberapa terlihat benar-benar tidak mengerti, sementara sebagian menundukkan kepala. Sang pelatih, Kepik Kuning, menjadi bagian dari yang menundukkan kepala.

“Ada apa ini?” Kepik Coklat gusar.

“Begini Ketua…,”Kepik Kuning merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan,”Sejak kemarin, kami tidak melihat Si Kecil…mmm maksudnya…Si Kecil entah ada dimana…”

Kepik Coklat mengalihkan pandangannya kemudian berkata,”Kepik Merah Muda, dimana adikmu?”

Yang ditanya menunduk lebih dalam, sebelum akhirnya berkata,”Saya, Kepik Biru, dan ayah ibu tidak tahu ada dimana Si Kecil sekarang. Kami sudah berusaha mencari ke mana-mana. Ia memisahkan diri dari rombongan sewaktu kami ajak berjalan-jalan di sebuah padang ilalang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Hari ini, sejak pagi ayah dan ibu berkeliling mencari Si Kecil.”

“Kepik Merah Muda, dapatkah kau mengantarku ke tempat dimana Si Kecil masih ada dalam rombongan kalian terakhir kali? Bisa jadi ia kini dalam bahaya…,”ujar Kepik Coklat tegas.

*

Suara tawa kecil membahana di sebuah padang ilalang yang luas. Kiki telah membuat Si Kecil merasa bahagia berkelana tanpa ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Hingga akhirnya mereka berdua kelelahan dan beristirahat di atas sebuah batu.

“Ki, tahukah kamu kalau perjalanan seperti yang kita lakukan hari ini adalah apa yang aku inginkan selama ini?”pertanyaan Si Kecil memecah keheningan.

Kiki hanya menjawab dengan senyum manis tanda mengerti.

“Aku ingin berkelana seperti ini setiap hari. Tidak ada yang melarang, tidak ada yang menyuruhku tidur siang, juga memintaku tinggal di rumah dan berlatih menari dan bernyanyi.”

“Apa kau bilang? Berlatih menyanyi dan menari? Tidakkah itu menyenangkan?”Kiki bersemangat mendengarnya.

“Apanya yang menyenangkan? Aku lebih suka bebas begini.”

“Kecil, aku menginginkan apa yang tidak kau inginkan. Tapi kita tidak mungkin bertukar tempat. Tubuhku terlalu besar untuk bergabung dengan teman-teman kepikmu…”

Mereka berdua tertawa membayangkan pernyataan Kiki barusan.

Tanpa terasa, matahari mulai meninggi. Meskipun musim penghujan sudah datang, tidak setiap hari padang ilalang itu diguyur hujan. Tak terkecuali hari ini.

“Ki, aku haus, embun-embun sudah habis menguap siang hari begini…aku juga merasa lapar,”keluh Si Kecil.

“Naiklah ke punggungku,”ujar Kiki,”kita berkeliling sambil mencari makan.”

“Dapatkah kau mencarikannya untukku? Aku lelah sekali…dan lagi sinar matahari begitu menyengat.”

Kiki tertawa mendengar keluhan Si Kecil yang tak berkesudahan.

“Katanya mau jadi pengelana…baru panas sedikit saja sudah mengeluh,”Kiki mengingatkan Si Kecil akan keinginannya.

Si Kecil menyandarkan tubuhnya ke tubuh Kiki yang lembut, mencoba mendapatkan kehangatan yang berbeda dengan yang biasa didapatnya di lingkungan kepik.

“Ki, sebenarnya, aku mulai rindu pada ibu,”ujar Si Kecil sedih.

Kiki menatap Si Kecil penuh pengertian.

“Aku ingin bersama ibu, Ki, tapi aku tak ingin dilarang bermain sendiri, tak ingin selalu disuruh tidur siang, tak ingin….”

“Kecil, tahukah kau, mengapa saat ini engkau rindu pada ibumu? Jawabannya adalah karena engkau membutuhkan ibumu. Tidak hanya ibumu, Kecil, aku yakin kau juga merindukan ayah dan saudara-saudaramu.”

“Tapi, Ki,” Si Kecil berusaha menyanggah.

“Maukah kau mendengar ceritaku?”ujar Kiki.

Si Kecil mengangguk lemas.

“Dulu waktu kecil, aku tak ubahnya seperti dirimu. Punya keinginan dan harapan yang sama. Betapa aku merasa bosan dengan tempat tinggalku, ingin bebas bermain tanpa diingatkan bahwa waktu istirahat tiba, dan lain-lain yang menurutku aku berhak mendapatkannya.”

Kiki memberi jeda pada ceritanya, menarik nafas panjang kemudian melanjutkan.

“Hingga suatu hari aku mendapati tempat tinggalku kosong dan berdebu setelah kurang lebih 3 hari aku tidak pulang ke rumah. Tidak ada siapa-siapa disana. Hanya seekor laba-laba kecil terlihat mempersiapkan diri untuk membangun sarang disana, di tempat tinggalku. Aku sedih bukan kepalang, Kecil. Aku pulang karena rindu yang tak terkira pada ayah, ibu dan saudara-saudaraku.”

Si Kecil mendengarkan dengan seksama sambil berusaha menahan tangis.

“Seluruh keluarga ternyata tengah mencariku… tak satupun saudara dan kerabatku tinggal diam demi mengetahui kalau aku sudah tiga hari tidak pulang.”

“Dapatkah kau bertemu dengan mereka akhirnya?”tanya Si Kecil penasaran.

“Aku bertemu dengan mereka…akhirnya.”

Si Kecil menarik nafas lega.

“Tapi sebagian dari mereka sudah tiada…termasuk ayahku. Ibuku luka parah…dan kakakku adalah satu-satunya yang masih hidup dalam keadaan sehat. Ia menjaga dan merawat ibu…”

Si Kecil kembali lunglai mendengarnya.

“Tahukah kau apa yang terjadi waktu aku menemukan mereka dan meminta maaf pada ibu? Tak satupun kalimat menyalahkan keluar dari mulutnya. Ia berucap syukur kepada Tuhan atas kembalinya diriku. Apa yang telah terjadi biarlah terjadi, yang penting sekarang ia dapat melihatku lagi… Tak lama setelah pertemuanku dengan ibu dan kakakku, ibu meninggal dunia.”

Andai Si Kecil memiliki ukuran tubuh yang cukup besar untuk memeluk Kiki, pastilah ia sudah melakukannya saat ini.

Siang yang tak berangin hari itu tiba-tiba dikejutkan oleh gerakan udara yang rupanya berasal dari kepakan sayap kupu-kupu. Kiki dan Si Kecil terkejut dibuatnya. Kupu-kupu itu terbang mendekat ke arah mereka. Kepanikan merajai dua makhluk yang tengah berbagi kisah itu. Mereka pasrah pada takdir. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Mereka sadar tidak dapat mengimbangi kecepatan terbang kupu-kupu yang melesat ke arah mereka.

Sang kupu-kupu berhenti pada sebuah dahan dan muncullah dua kepik. Yang satu berwarna coklat dan yang lain berwarna merah muda.

“Kakak! Paman!” pekik Si Kecil keheranan bercampur bahagia.

“Kecil, diam disana! Kami akan menjemputmu pulang…,”ujar kepik yang berwarna coklat dengan tegas sambil membisikkan instruksi kepada sang kupu-kupu yang ditungganginya untuk menyelamatkan keponakannya yang tampak putus asa dalam cengkeraman seekor ulat kecil.

“Paman, tunggu! Ini Kiki, Paman! Ia baik hati!,”Si Kecil berusaha berteriak sekuat tenaga agar suaranya dapat mengalahkan suara kepak sayap kupu-kupu yang bersiap-siap melakukan perlawanan pada Kiki.

Terlambat. Suara Si Kecil tak dapat terdengar oleh sang paman yang tengah memegang kendali serangan kupu-kupu yang ditungganginya atas ulat kecil di depannya.

Dan…

“Kepik Coklat, tunggu!!”sebuah suara menggelegar di suasana penuh ketegangan itu.

“Ayah! Awas, ayah jangan disana!”Si Kecil mencoba memperingatkan ayahnya yang berteriak dari atas punggung Kiki mencoba menghentikan laju kupu-kupu yang siap menerkam Kiki.

“Ayaaaahhhh….,”Si Kecil berteriak sebelum akhirnya seluruh pandangannya gelap.

*

Baru kali ini pesta kepik tidak hanya dihadiri oleh komunitas kepik, tapi juga beberapa kupu-kupu dan calon kupu-kupu atau biasa disebut ulat. Kupu-kupu, dengan paduan warna dan sayap indahnya tidak memerlukan banyak asesori tambahan untuk hadir di pesta nan meriah itu. Begitu pula para kepik. Cukup beberapa kepik yang karena kedudukannya dalam komunitas kepik layak mengenakan kalung kehormatan yang terbuat dari kelopak bunga mungil nan indah.

Tak jauh dari keramaian di sekitar meja makan yang ditata rapi dengan beragam sajian, sebuah keluarga kepik tengah berpelukan penuh haru.

“Benarkah ayah dan ibu mendengarkan pembicaraanku dengan Kiki?”

“Benar, Kecil,”jawab ibu sambil membelai anak bungsunya.

“Maafkan Kecil ya… Kecil merasa sangat bersalah.”

Ayah yang masih berbaring di tempat tidur setelah terjatuh dari punggung Kiki tersenyum bahagia kemudian berkata,”Kecil, ayah dan ibu sesungguhnya tidak ingin melarang Kecil bepergian sendiri. Kami hanya mengkhawatirkanmu yang mungkin belum dapat menjaga diri sendiri. Ayah dan ibu bersyukur kau dapat bertemu Kiki yang mampu menjagamu dari mara bahaya.”

“Tetapi, diluar itu semua, kini ayah dan ibu mengerti bahwa sudah saatnya Kecil tidak lagi dipanggil Kecil…”

Si Kecil tertegun mendengarnya.

“Ya. Kami sepakat mulai hari ini kau tidak lagi kami panggil Si Kecil seperti kemarin-kemarin. Kepik Hijau akan menjadi nama panggilan untukmu. Sesuai dengan warna punggungmu yang hijau. Hal ini akan diumumkan di penghujung acara pesta hari ini.”

Ibu menimpali,”Kecil…ups, Kepik Hijau… kami mengerti bahwa ada saatnya seekor kepik kecil akan tumbuh menjadi kepik yang memiliki keinginan sendiri. Saat itu datang, ia akan meminta pengukuhan dari lingkungannya bahwa dirinya memang telah siap melangkah menuju kehidupan yang lebih menantang untuk dihadapi. Semua kepik membutuhkan petualangan, Kepik Hijau. Penggantian namamu kali ini akan membantu menumbuhkan rasa percaya diri yang mungkin saat ini telah bersarang dan ingin berkembang biak di jiwamu. Kami semua berbahagia melihatmu tumbuh seperti saat ini. Tentang bahaya yang ada di luar sana, ibu percaya engkau dapat memberikan penilaianmu sendiri atas kejadian kemarin.”

Air mata tak henti menetes dari mata Si Kecil yang telah berganti nama menjadi Kepik Hijau. Nama baru segera disandangnya. Kini ia tak lagi seekor kepik labil yang menginginkan kebebasan tanpa tahu untuk apa dirinya mendapatkan itu semua.

Suara riuh terdengar dari pusat kegiatan pesta kepik. Makin meriah saja suasana pesta diluar sana, gumam Kepik Hijau dalam hati. Ia menghampiri kerumunan yang ada di tengah pesta dan mendapati Kiki, temannya disana. Di tengah kerumunan kepik anak-anak yang riang gembira membubuhkan warna di punggungnya.

“Hai, Kecil! Masih ingin menaiki punggungku?” sapa Kiki penuh semangat,”Setelah aku selesai diwarnai, mereka akan mengajakku menari dan bernyanyi.”

Tak ada yang lebih membahagiakan dirinya saat ini kecuali melihat Kiki dengan keceriaannya dan ayah yang tak lama kemudian dapat kembali mengikuti pesta.

Kepik Hijau memandang langit yang mulai berubah warna. Biru langit dengan semburat jingga yang indah seolah dilukis Yang Maha Kuasa untuknya hari itu. Menemaninya melangkah ke cakrawala senja.

Tamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: