TEST IQ ITU APA SIH ?


oleh : Sarah Handayani
Sumber : UMMI, No. 9/XVI Januari – Februari 2005 / 1425 H.
.

Skor tes IQ sering dilihat sebagai ukuran kecerdasan seorang anak.  Pada skor tersebut tidak berdiri sendiri.  Ia berhubungan dengan pola asuh, hubungan anak dan orang tua, kebiasaan belajar, dan faktor lingkungan lainnya.

 

Intelegensia adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan secara efektif.  Dalam arti yang lebih luas, para ahli mengartikan intelegensia sebagai suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.

Menurut Indri Savitri, S.Psi., Kepala Divisi Klinik dan Layanan Masyarakat LPT UI, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan wujud dari proses berpikir rasional itu.  Tes IQ adalah alat ukur kecerdasan yang hasilnya berupa skor.  Tetapi skor tersebut hanya memberi sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan secara keseluruhan.

Skor Bukan Harga Mati

Howard Gadner, psikolog pendidikan anak Amerika yang terkenal dengan teori kecerdasan gandanya menyatakan, kecerdasan intelektual hanyalah salah satu dari 8 kecerdasan yang dimiliki seseorang.  Kecerdasan ganda yang dimaksud Gadner adalah kecerdasan di bidang bahasa, berpikir logis atau matematis, musik, visual, dan gerak.  “Sayangnya alat ukur untuk kecerdasan ganda itu masih dikembangkan Gadner.  Perlu waktu lama untuk bisa menerapkannya di negara yang berbeda kultus seperti Indonesia”, tutur Indri.

Awalnya, tes IQ diterapkan di masyarakat Barat karena adanya kebutuhan untuk seleksi.  Anak-anak dengan kemampuan rata-rata, di bawah, dan di atas rata-rata memerlukan penanganan yang berbeda.  Tapi sekarang di sana skor IQ sudah tidak lagi dipakai karena mulai dikembangkan pendekatan-pendekatan lain yang melihat faktor kecerdasan secara menyeluruh.

Sayangnya, di Indonesia banyak lembaga pendidikan yang  mewajibkan calon siswanya untuk tes IQ terlebih dahulu sebagai salah satu syarat penerimaan siswa baru.  Ada sekolah yang menetapkan syarat penerimaan tes IQ minimal 120 skala Weschler.  “Bahkan, ada anak yang disarankan untuk sekolah di SLB karena skornya di bawah rata-rata, tanpa ada tahapan melihat latar belakang anak terlebih dahulu”, kata ibu satu anak ini menyayangkan.

Situasi Saat Tes

Menurut Indri, setidaknya tiga faktor yang berhubungan dengan tes IQ.  Pertama, reliabilitas atau sejauh mana hasil tes itu dapat dipercaya.  Skor IQ yang diperoleh akan sama walaupun seorang anak melakukannya pada kondisi yang berbeda.  Kedua, validitas atau sejauh mana alat ini mampu mengukur apa yang hendak diukur.  Jika tes itu mengukur kemampuan berbahasa, maka yang diukur adalah kemampuan anak dalam mengeluarkan pendapat, mengukur kepercayaan diri.  Ketiga, standarisasi, yaitu apakah alat yang dipakai sesuai dengan norma masyarakat setempat.  Tiap masyarakat tentu mempunyai norma berbeda satu sama lain.

Menurut Indri, saat ini banyak dilakukan tes psikologi secara massal, misalnya dalam satu ruang kelas.  Padahal, tes yang dilakukan secara massal itu bisa menimbulkan banyak kemungkinan.  Sehingga, seorang anak yang skor IQ-nya 140 belum tentu memiliki prestasi yang baik di sekolah.  Sebaliknya, anak dengan skor IQ 85 tidak berarti harus masuk SLB.  Orang tua perlu kritis melihat skor tersebut.

Beda Alat, Beda yang diukur

Tes IQ yang sering dipakai di Indonesia adalah tes Binet dan Weschler.  Kedua tes ini sebenarnya merupakan alat yang sudah dikembangkan sejak lama.  Psikolog asal Perancis, Alfred Binet dan Theodor Simon, mulai merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (kemampuan di bawah rata-rata).  Alat ini dinamakan tes Binet-Simon yang kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika membuat banyak perbaikan dari tes Binet-Simon.  Ia menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara usia mental (mental age) dengan usia kronologis (chronological age).  Hasil perbaikan ini disebut tes Stanford-Binet.  Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur  kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet dinilai masih terlalu umum.  Para ilmuwan kemudian mengetahui bahwa intelegensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum, namun juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik.  Berdasarkan teori tersebut, dikembangkanlah teori yang disebut teori faktor.  Alat yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Weschler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa dan WISC (Weschler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.  Skala ini lebih dikenal dengan skala Weschler, yang melihat intelegensi sebagai kapasitas seseorang untuk mengatasi masalah sehari-hari menggunakan pengetahuan yang dia miliki.

Faktor Genetik dan Keturunan

Keturunan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi hasil tes IQ.  Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari salah satu keluarga adalah sekitar 0,5.  Pada anak kembar, korelasinya sangat tinggi, yaitu 0,9.  Sedangkan pada anak adopsi, sekitar 0,4 – 0,5 dengan orang tua kandung, dan 0,1 – 0,2 dengan orang tua angkatnya.  IQ anak kembar yang dibesarkan secara terpisah tetap berkorelasi sangat tinggi.

Intelegensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak.  Perkembangan otak ini sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi.  Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.  Karenanya, faktor lingkungan dapat menimbulkan perubahan yang berarti.

Oleh karena itu, Indri menegaskan tentang pentingnya kejelasan dilakukannya tes IQ.  Hendaknya tes IQ dilakukan untuk melihat kelebihan dan kekurangan yang ada pada anak.  Hal ini penting agar orang tua dan guru dapat memberi stimulasi sesuai dengan kebutuhan anak.

Berdasarkan pengalaman di klinik, Indri banyak menemukan kasus anak yang memiliki skor IQ bagus, tapi prestasi akademisnya rendah.  Atau anak dengan skor IQ biasa saja, tapi cukup populer di sekolah karena memiliki memiliki rasa percaya diri untuk mengembangkan potensinya.

Sebagai sebuah alat ukur kecerdasanm tes IQ memang satu-satunya alat yang dapat dipakai sampai saat ini.  Namun, untuk kepentingan pengoptimalan potensi anak, Indri lebih suka dengan istilah “evaluasi psikologis”.  Karena dengan evaluasi psikologis, orang tua atau guru dapat membantu anak sesuai dengan permasalahannya.  Misalnya, anak yang kurang pemahaman bahasanya perlu dibantu agar meningkat pemahaman bahasanya.

Untuk evaluasi psikologis, tidak hanya tes IQ yang dibutuhkan.  Tes IQ tanpa wawancara sebenarnya tidak bisa berbicara.  Karena skor tersebut berhubungan dengan masa lalu, pola asuh, hubungan orang tua dengan anak, kebiasaan belajar, karakter anak, dan lingkungannya.

.

Satu Tanggapan to “TEST IQ ITU APA SIH ?”

  1. family vacation ideas Says:

    One more thing. I believe that there are numerous travel insurance internet sites of reliable companies that allow you to enter holiday details to get you the quotations. You can also purchase the actual international travel cover policy online by using your own credit card. Everything you need to do is usually to enter your current travel particulars and you can see the plans side-by-side. Simply find the program that suits your financial allowance and needs after which it use your credit card to buy them. Travel insurance on the internet is a good way to begin looking for a dependable company with regard to international travel cover. Thanks for expressing your ideas.
    my blog is family vacation spots.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: