DANI


Karya : Raisa
Sumber : Suara Pembaruan, Edisi 01/19/2003


Lama aku menatap lukisan itu.  Bukan terpukau oleh kehebatannya.  Pada pandangan sekilas saja orang yang sedikit mengerti tentang lukisan tentu akan dapat melihat, lukisan itu tidak ada apa-apanya.  Namun mataku masih saja terpaut pada lukisan itu.

Jelas bukan untuk menikmatinya.  Aku hanya perlu waktu untuk berdialog dengan diri sendiri; karena aku sedang bimbang.  Maklumlah, sejak suamiku Aria gugur dalam operasi militer menumpas pemberontakan Permesta di Minahasa empat tahun lalu, aku jarang bergaul.  Apalagi mengunjungi pesta.  Tapi seminggu yang lalu dalam keadaan lemah hati, aku menyerah juga pada Indi – teman karibku – yang diperkuat oleh suaminya.  “Sudah terlalu sering mengajak keluar dari tempurung”, katanya.

Dan sekarang aku di sini, di tempat pesta kawan-kawan Indi : keluarga diplomat Kanada.  Akhirnya aku memutuskan malam ini akan mencoba beriang hati.  Aku akan membiarkan diriku hanyut dalam arus suasana pesta.  Apa salahnya.  Kalau tidak berhasil paling sedikit aku dapat berpura-pura demi Indi dan suaminya, Ismar, yang baik hati.

Tiba-tiba aku mendengar suara laki-laki : “What will be : a lemonade or just Coca Cola? (Sari jeruk atau Coca Cola saja?)  Suaranya ramah tidak dibuat-buat.

Aku menoleh perlahan-lahan ke arah datangnya suara itu.  Hanya beberapa langkah dari tempatku berdiri, di belakang bar, ada seorang laki-laki asing.  Ia berperawakan tinggi tegap, tapi ramping.  Umurnya aku taksir sekitar tiga puluhan.  Rambutnya agak keemasan.  Di jari-jari tangan kanannya ada beberapa botol minuman : Cinzano, Gin, Campari, dan Whisky.

Dalam remang cahaya lampu di bar, aku lihat seraut wajah yang menyenangkan.  Seulas senyum tersungging pada bibirnya dan ia menunggu.  Dengan agak ragu aku melangkah mendekati bar.  Namun aku teringat lagi pada keputusanku untuk beriang hati malam ini.

“What makes you think I only take soft drink?  (Mengapa Anda pikir saya hanya minum-minuman tanpa alkohol saja?)”, balasku dengan nada kelakar.  Ia tersenyum agak heran …

“Oh, I am sorry.  I didn’t see the sprakle in your eyes then.  (Oh, sorry, saya tadi tidak melihat sorot mata Anda).  But now I do … well.  A martini perhaps or Cinzano on the rocks?”  Ia menyambut kelakarku.

Mataku menyusuri garis mukanya sampai ke matanya yang terpercik cahaya lampu.

“Hm, now I see your eyes.  How About a bloody Mary?”, sahutku.  Kata-kata itu terloncat begitu saja, aku pun kaget sendiri, karena aku belum pernah minum bloody Mary sebelumnya…  “As you wish, Lady”, sahutnya.

“Lalu ia membungkuk mengambil gelas dalam galar bar.

“You make me uneasy.  You ask for Bloody Mary, after seeing my eyes!  Do I have blood shoot eyes, perhaps? (Anda membuat saya tak enak hati.  Anda minta Bloody Mary sesudah melihat mataku.  Apa saya punya mata merah berang, barangkali?)”, katanya lagi sambil menyodorkan segelas Bloody Mary.

Merahnya dalam gelas kristal seperti menyala.  Baru tenang lagi hati, setelah merasakan kesejukan gelas dalam genggaman.  Sebentar kami terdiam.  Lalu…

“No, no at all.  Your eyes are fascinating … like a cat’s.  (Tidak, tidak sama sekali.  Mata Anda sangat memukau seperti … mata kucing)”, kataku kemudian.  Apa boleh buat, sudah terlanjur terucapkan.

“I beg your pardon.  Cat’s eyes?  How shall I take it.  Is it a complimentor … (Maaf, mata kucing?  Bagaimana saya harus menyikapinya; pujian atau…)”, tanyanya lagi.

Kenanganku menyeruak ke masa lampau.  Dimana, dimana aku pernah menatap sepasang mata ini?


Hari bukan main panasnya.  Jam tanganku menunjukkan pukul 11.00 WIB.  Rumahku masih jauh.  Setiap kali melangkah, aku harus menahan nafas karena sepatuku menepukkan debu yang jadi lebih ringan karena suhu yang tinggi.  Kakiku sudah penat, hari begitu panas dan jalan begitu kotor dan bau pesing.  Aku melirik ke kiri, ke kanan lalu ke depan.  Palang pintu kereta api di Lempuyangan pelan-pelan diturunkan.  Penjaganya bercaping dan bagian tubuhnya dari pinggang ke atas telanjang.  Keringat mengucur di punggungnya yang cokelat dan berpanu.  Tapi tubuhnya kekar : masih muda.  Aku berdiri tidak jauh dari dia, menunggu kereta langsir.

“Sialan”, desisku.

Tidak lama kemudian sebuah pedati yang ditarik dua ekor sapi kurus sempoyongan berhenti kira-kira jarak satu meter dari tempatku berdiri.  Nah, aku dapat ikut berteduh di bawah atapnya sebentar!  Tapi baru saja aku pindah berdiri, seekor sapinya kencing tanpa permisi.  Pancuran kekuning-kuningan memancar dengan derasnya.  Kakiku terkena percikannya.  Aku meloncat menjauh, sambil melontarkan pandangan geram kepada si sapi yang tak tahu tata krama itu.

Dan tepat saat itu pula kedua mata sapi yang lembab menatapku dengan dungu.  Lalu ia mendengus.  Barangkali ia merasa lega karena sudah bebas dari beban yang menghimpitnya.

Tapi bagiku ia seperti mencemoohkan, “Rasain, lho!”  Cepat-cepat aku memalingkan muka ke arah lain.  Aku melihat dua orang mbok bakul, juga sedang berdiri menunggu kereta api langsir.

Di atas punggungnya ada priuk tanah yang sudah hitam pekat dan diikatkan pada tubuhnya dengan secarik kain lurik yang sudah kumal.  Beban yang berat, terik matahari dan menunggu kereta api merayap langsir, tampaknya tidak membuat mereka kesal.

Mereka mengobrol.  Aku bertambah jengkel melihat ada orang yang masih bisa santai dalam keadaan serupa itu.  Beda dengan diriku, mereka tampaknya sabar.

Kuulurkan kepalaku di atas palang pintu kereta api.  Aku menengok ke kiri, lalu ke kanan.  Serentetan gerbong kereta api dari sebelah kiri merayap lewat di muka hidungku.  Dengan hati yang berharap-harap aku lirik penjaga pintu palang.  “Nah ini dia, sekarang ia akan menaikkan palang pintu dan kamu boleh jalani!”

Tapi … oh, tidak!  Si penjaga palang pintu kereta api malahan bernyanyi-nyanyi kecil : tembang Jawa.  Aku tidak mengerti kata-katanya, tapi aku kok bisa menikmatinya.  Suaranya cukup merdu!  Aku pikir barangkali ia pernah menjadi anggota kelompok ketroprak keliling.  Penampilannya tidak jelek, walaupun tidak begitu bersih.  Ia muda dan bisa menyanyi.

Tiba-tiba dari sebelah kanan “ular raksasa” abu-abu datang menjalar dengan lamban.  Dan tepat di depanku ia melengking tajam.  Aku tersentak mundur.  “Tidak tahu aturan itu masinis!”, desisku.

Belum reda kejengkelanku, palang pintu kereta api begitu saja naik.  Dan sebelum aku melangkah lega, mataku tertumbuk ke aliran air yang mendekati dari seberang jalan.  Rupanya Mbok Bakul gudeg yang paling tegap sempat juga melangsungkan hajat kecilnya sambil berdiri.  Kedua kakinya agak direnggangkan.

Itulah Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia pada hari di bulan Maret 1949 semasa pendudukan Tentara Belanda.

Aku baru berumur 15 tahun.  Rumahku di Kota Baru sedangkan sekolahku di Bintaran Lor.  Jadi setiap hari kalau aku pulang sekolah mesti jalan kaki lewat Lempuyangan Wangi atau tepatnya pintu palang kereta api.  Tidak setiap hari sekolahku buka.

Biasanya kalau suasana di dalam kota terasa agak genting karena malamnya ada kontak senjata antara pejuang/Tentara RI dan tentara Kolonial Belanda yang menduduki Yogyakarta, kami – maksudnya para pelajar dan guru-guru SMA Katolik tahu sama tahu – sekolah diliburkan.  Hari itu kami sekolah seperti biasa dan pulang sekolah seperti biasa pula.  Kalau mau masuk Kota Baru aku ambil jalan pintas lewat komplek kolam renang umum Umbang Tirto.  Dan bukan main kaget sewaktu aku melihat Dani sedang duduk termangu di panggung penonton.

“Hai, Dani!”, seruku.
“Hai!”, jawabnya terkejut.
Ia turun menghampiriku.

“Hari ini bukan main panasnya, yah!  Sendirian pulang?  Tidak ada teman yang sejalan?” tanyanya.

“Ah, teman yang biasanya sejalan, kan ada di depanku sekarang!” kataku genit.  “Mengapa bolos hari ini?” tanyaku.

“Ah, malas.  Lagi pula kelas tiga kan praktis mandek pelajarannya karena tidak ada guru dan … teman-temanku sudah banyak bergabung dengan Tentara Pelajar di pedalaman.  Cuma aku sajalah yang masih di kota.  Mungkin Amir dan Benny masih di Yogya, tapi kabarnya mereka pun sudah bersiap-siap akan pergi menemui pemerintah Belanda di sana.

“Ada waktu untuk mengobrol?  Ayo, duduklah dulu!” ajaknya.

Aku memang selalu senang bertemu dan mengobrol dengan Dani.  Malahan akhir-akhir ini aku selalu berharap, bahkan cari-cari kesempatan berjumpa dengannya.  Aku merasa semakin dekat dengannya.  Dan begitu juga Dani tampaknya menyenangiku.  Inikah yang disebut cinta remaja?  “Hei”, katanya ketika kami sudah duduk berdampingan di panggung penonton kolam renang.  “Kamu dan Ibumu kemarin dulu dijemput Letnan Bakker menghadap Kapten Vosveld, yah?  Ceritakan dong!”, pintanya.

Aku tidak segera menjawab.  Tapi lalu, “Kok tahu?  Dari mana, sih?”
“Dari ibuku, dan ibuku dari Letnan Bakker”.

Memang aku pernah dengar “gosip” tentang persahabatan ibunya Dani yang punya darah Indo itu dengan Letnan Bakker.  Konon ibunya Dani suka menerima Bakker, bahkan suka jalan bersama, kalau menurut orang usil numpang hidup ‘kali!”  Maklumlah ayah Dani seorang perwira TNI AD yang karena jabatannya di Sektor Selatan amat penting, ia kabarnya termasuk dalam daftar incaran tentara Pendudukan Belanda.

Ada dugaan santer, lantaran kedudukannya itu ditambah lagi dengan gunjingan tentang istrinya dan Letnan Bakker maka ia tak pernah menyelundupkan kabar berita apapun tentang dirinya kepada keluarganya.  Tidak adanya kontak dengan ayahnya ditambah lagi oleh pergaulan ibunya dengan Bakker inilah lalu membuat Dani acap kali gelisah dan murung.

“Orang melihat Ibumu dan kamu dijemput Letnan Bakker dengan mobil Chevroletnya yang “open kap” itu!”, Dani mengingatkan dengan kurang sabar.

“Oh,ya!  Letnan Bakker pagi itu datang ke rumah dan minta Ibu dan aku ikut, karena katanya dipanggil oleh Bosnya : Kapten Vosveld yang komandan “Kenpeitai”nya Belanda itu.

“Kami dibawa ke kantornya Vosveld di Treban Taman.

Mula-mula Ibu diminta masuk ke ruangan Vosveld.  Selama Ibu diinterogasi aku menunggu di ruangan depan … Kira-kira empat puluh menit berlalu baru Ibu keluar.  Aku ketakutan sewaktu Ibu di dalam ruangan Vosveld.  Aku pernah mendengar, tahanan Vosveld suka disiksa dengan kejam.  Dan Ibu istri seorang perwira TNI yang sedang diuber di Sumatera.

Kamu juga tahu bahwa sebelum pendudukan Yogya, ayahku bersama beberapa rekannya diutus Pemerintah Pusat untuk menyiapkan komando perlawanan gerilya terhadap Belanda di Sumatera seandainya Jawa dilumpuhkan.  Lalu Ibu suka mengadakan rapat-rapat pengurus Persatuan Istri Tentara di rumah yang terus terang suka dihadiri kurir TNI yang menyamar dari pedalaman, yang ditugaskan memberi arahan kegiatan bantuan moril dan materiil antara keluarga anggota TNI yang ditinggalkan suaminya di dalam kota.

Dan waktu itu aku lebih ketakutan lagi karena aku tahu Ibu juga akhir-akhir ini mengirimkan amunisi kepada tentara di pedalaman yang diseludupkan oleh beberapa pemudi pejuang kita yang suka mampir di rumah.  Selama itu amunisi dan beberapa senjata “tertinggal” di kamar Mayor Prawira yang sampai Yogya jatuh tertinggal di rumah kami” tuturku.

“Aduh, untung amunisi itu tidak ditemukan patroli Belanda.  Katanya kalau ketahuan, main tembak di tempat langsung!” seru Dani.

Aku tertegun sejenak; serasa merinding bulu kuduk oleh kata-kata Dani itu.  Lalu aku melanjutkan : “Setelah itu giliranku dipanggil Kapten Vosveld ke ruangannya.  Ibu bertanya pada Bakker untuk apa anaknya mesti diinterogasi.  Bakker bilang Vosveld hanya ingin berkenalan saja”.

“Terus, terus, setelah “berkenalan”, kamu ditanyai apa?”, tanya Dani lagi ingin lekas tahu.

“Vosveld bertanya tentang sekolahku, lalu tentang hobiku dan tentang siapa-siapa saja yang tinggal dengan kami serumah.  Ia tahu, Mayor Prawira pernah mondok di rumah kami!”

“Lalu Vosveld bertanya tentang istri perwira yang tinggal di rumah kami sekarang.  Apakah ia masih rajin menjenguk suaminya yang ditahan Belanda di Wirogunan.  Kemudian dengan senyum yang menyebalkan ia bertanya juga, apakah dua orang bintara tentara Belanda yang ditugaskan di Wiragunan masih suka bertamu di rumah perempuan itu”.

Lalu ia juga bertanya berapa kali kurir Sri Sultan membawa bantuan untuk hidup kami.  Heran, kok, tahu semua!  Dan akhirnya sambil menatap mataku Vosveld bertanya : “Kamu pasti merindukan ayahmu, yah.  Begini saja, tulis segera surat kepada ayahmu dan suruh ia pulang keluar secepatnya dari belantara Sumatera!”

“Dan semua akan normal kembali.  Kamu bisa sekolah lagi.  Bisa bermain tenis lagi, bisa belajar main piano lagi.  Nah, bagaimana?”

Mendengar kata-kata Vosveld, mukaku rasanya kena tampar.  Lalu dengan penuh emosi dan air mata mengucur tak tertahan, aku setengah berteriak : “Tidak, tidak akan aku lakukan itu!”

Dani dan aku terdiam …  Kemudian Dani bertanya dengan hati-hati : “Ketika kamu menolak Vosveld untuk menulis surat pada ayahmu dengan penuh emosi itu, apakah karena desakan rasa patriotisme?”

Aku tak langsung menjawabnya.  Harus menanyakan kepada diriku dengan jujur ..

“Tidak tahu.  Tapi mungkin saat itu ada sedikit rasa apa yang disebut orang patriotisme mulai bersemi dalam jiwaku!  Kesimpulan itu mungkin karena sejak Proklamasi aku boleh dikatakan dibesarkan dalam kancah Revolusi, mengikuti orang tuaku – ayahku yang langsung bergabung dengan BKR/TKR dan ibuku, pendampingnya yang setia dan yang memang sudah sejak muda merupakan pengagum Bung Karno.  Jadi boleh dikatakan turut terlibat pasang surutnya perjuangan fisik ini.  First hand, langsung, tidak dari kata orang”, kataku dengan yakin.

“Memang sudah kuduga itu!  Kamu berbahagia memiliki pangalaman yang menyulut rasa keberanian itu!  Aku tak tahu apakah aku punya rasa itu.  Ayahku memang perwira TNI yang kini sedang bergerilya di pedalaman.  Ibuku seorang wanita Indo yang sekarang dekat bergaul dengan Letnan Baker.  Kata Ibu, itu demi untuk melindungi keluarganya.

Tapi Ibu adalah seorang wanita cantik dan belum lagi berusia 40 tahun.  Orang bergunjing tentang ibuku dan Letnan Bakker,  itu kamu pasti sudah dengar.  Dan mungkin sekali karena itulah aku ditolak bergabung dengan Pasukan Tentara Pelajar di Gunung Kidul.  Tidak seperti teman-teman sekelasku yang lain.

Alasan resmi penolakan itu hanyalah karena kau belum 18 tahun.  Tapi bulan ini aku genap 18 tahun.  So what?  Mereka meragukan itu yang disebut rasa patriotismeku!  Tetapi aku merasa sangat ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia yang juga bangsa dan tanah airku.  Ah, memang dramatis kedengarannya!  Tapi aku kacau.  Aku merasa seperti seekor binatang yang terbuang dari kumpulannya”.

Itu lagi-lagi ungkapan klise, aku tahu!  Biar pun begitu, Dani merasa nyaman dan aman, dan tidak kacau lagi.  Karena minggu depan dia akan berangkat ke Bandung atas panggilan pamannya yang punya kedudukan tinggi dalam pemerintahan Belanda di sana.  Ah aku jadinya teringat lagi pada Dani yang bermata kucing, yang membuatku jatuh hati padanya pada pandangan pertama.

Kami lalu berjalan bersama-sama keluar dari komplek Umbang Tirto.  Kami mampir di cafe kecil di Jalan Widoro.

“Hari ini aku traktir kamu.  Hari ini ulang tahunku, jangan nolak!  Cendol, ya?”, kataku sambil menuju meja di sudut.

Begitu duduk ia berkata setengah berbisik : “Aku tahu hari ini kau berulang tahun.  Selamat panjang umur dan semoga bahagia selalu!” kata Dani sambil mengusap tanganku disertai senyumannya.

Selang tiga hari kemudian, ketika aku duduk sendirian di teras depan rumahku, lewat sebuah lori pengangkut barang yang ditarik oleh dua anggota PMI.  Aku lari ke pintu pekarangan.  Di atas lori itu ada seonggok barang yang dibungkus sehelai tikar.  Dari muatan lori itu tetesan-tetesan darah jatuh ke jalan yang lantas mengering seketika di atas aspal yang memuai oleh teriknya matahari.

“Pemuda nekat.  Memberondong regu pengawal Belanda!  Orangnya bagus!” kata salah seorang anggota PMI tanpa ditanya, saat melihatku lari ke pinggir jalan.  Tiba-tiba aku sangat merindukan Dani.

Menjelang senja Ella, adik perempuan Dani datang ke rumah mengantarkan sepucuk surat singkat dari Dani.

“Meskipun mataku lok-lak (istilahmu!)aku pergi juga bergabung dengan beberapa temanku yang menjadi Tentara Pelajar di pedalaman.  Apa yang harus kuucapkan : Sampai jumpa atau … Selamat tinggal, gadis manis!”  Demikian isi surat itu.

Seusai Perjanjian Roem – van Royen ditandatangani aku mendengar dari seorang teman seregu Dani di Batalyon Tentara Pelajar, Dani gugur di Gombong.


“A penny for your thought… (sedang melamun apa?)  Well, I will repeat my question : would you like to come with me to a piano recital at the Embassy next Saturday?  Beberapa teman anda yang hadir di pesta ini juga akan hadir!”, kata Daniel.

Ia menunggu jawaban dengan penuh harap.  Jawaban yang tidak mengecewakan.  Aku bisa membaca itu dari sorot matanya yang menatap lembut.  Sepasang mata yang ternyata tidak mudah kulupakan – kelabu kehijau-hijauan – seperti mata kucing kesayangan.

“Oh, sorry”  Tersentak aku dari renungan.  “A piano recital?  Yes, of course!  Tentu saja.  Dengan segala senang hati.  Terima kasih” kataku tanpa ragu-ragu seraya tersenyum  “Dan terima kasih karena kau telah membuka pintu hatiku” bisik nuraniku …

***

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: