MENYIKAPI PERUBAHAN


Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 39, 30 September 2011 M / 03 Dzulqodah 1432 H


“…… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri……”. (QS. Ar Rad : 11)


Berubah, sebuah kata yang sangat mudah diucapkan namun sangat sulit dilaksanakan.  Banyak orang mengatakan ingin berubah, namun tidak banyak orang yang benar-benar berubah.  Perubahan adalah pertanda kehidupan yang harus dilalui setiap insan demi kelangsungan hidup dan kehidupannya.  Menyikapi perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Manusia hidup akan selalu berubah.  Hari ini ia seorang bayi yang hidupnya tergantung pada orang lain.  Esok ia makhluk kecil yang sesekali jatuh, lalu berlari dengan kedua tangan dan kakinya.  Setelah itu ia menjadi makhluk dewasa yang menghadapi berbagai persoalan.  Begitu juga dengan dunia ini, baik kita sadari ataupun tidak.  Tidak banyak orang yang berani untuk berubah.  Bahkan tidak suka dengan perubahan itu sendiri.  Kenapa?  Karena pada dasarnya ia telah merasa nyaman pada kemapanan.  Hal itulah yang membuat sebagian besar di antara kita sulit untuk merubah diri.

Keharusan Beradaptasi

Kalau boleh jujur, seringkali kita tidak mengizinkan diri kita untuk berubah.  Sehingga kita seringkali menjauhkan diri dari fitrah Allah SWT untuk selalu memuliakan dan mensejahterakan kita.  Lantas jika sudah begitu, kita pun selalu menyesali diri, menganggap semuanya serba salah merasa tidak punya masa depan, sementara sikap dan pikiran negatif saat melihat kesuksesan orang lain selalu menyelimuti pikir, jiwa kita.

Padahal, sikap dan pola pikir itu akan mematikan kemampuan adaptasi kita dalam menghadapi perubahan.  Kita tidak lagi mampu menyesuaikan diri dengan  berbagai kondisi yang kita hadapi secara cepat dan “up to date”.  Akibatnya, kita akan tertinggal dengan perubahan itu sendiri.  Kita akan  berada sangat jauh dari orang-orang yang berada lebih dulu dari kita karena mereka telah berhasil melewati rintangan hidup saat itu dengan pola pikir yang baru.  Hal ini sangatlah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Peter Drucker, pakar Ekonomi dan Manajemen, bahwa  bahaya terbesar dalam perubahan adalah bukan perubahan itu sendiri tetapi cara berpikir kemarin yang masih dipakai untuk memecahkan masalah sekarang.

Berubah, juga merupakan salah satu bentuk syukur kita kepada Allah SWT.  Sangatlah naif dan keliru jika ada sebagian di antara kita yang beranggapan, bahwa bersyukur adalah menerima apa adanya tanpa ada upaya untuk membuat nikmat itu menjadi lebih bermanfaat bagi semua pihak.

Karakteristik Perubahan

Namun sayangnya tidak semua orang paham tentang perubahan itu sendiri.  Setidaknya ada beberapa karakteristik perubahan yang perlu kita pahami :

Pertama, perubahan itu sangat misterius.  Tidak asa seorang pun yang dapat menduga kapan, dimana, dan bagaimana perubahan itu datang dan pergi.  Yang jelas kita harus selalu siap menghadapinya.  Tidak pernah ada seorang pun mengira bahwa  bahwa rezim Orde Baru yang kuat dapat jatuh dalam waktu singkat, begitu juga dengan tokoh-tokoh dunia yang kelihatannya mustahil untuk jatuh, ternyata hancur sekejap mata oleh perubahan.

Kedua, perubahan itu ibarat gelombang, bahkan seperti sebuah kurva yang naik dan turun.  Ada kalanya hidup kita berada di titik puncak kurva kesuksesan hidup, namun tidak sedikit dari kita yang saat ini terpuruk di bawah titik kurva tersebut.  Satu hal yang perlu diwaspadai adalah jika dalam hidup anda merasakan kenyamanan, ketenangan, kemapanan, dan stabil dalam hidup, hati-hatilah, mungkin sebenarnya anda sedang menuruni kurva kehidupan.  Tetapi jika anda merasakan keletihan, kesusahan dalam setiap upaya yang anda lakukan sehingga hampir saja itu membuat anda putus asa, maka jangan bersedih, karena sebenarnya anda sedang menanjak menuju titik puncak kurva anda.

Ketiga, perubahan butuh “change maker”.  Orang yang menjadi pemimpin dalam perubahan itu, yang mampu meyakinkan setiap orang dan memberikan harapan hidup kepada setiap insan, yang memiliki visi ke depan dan berani menghadapi segala resiko dari melakukan perubahan tersebut.  Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, mati ditembak.  Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah.  Namun mereka telah berhasil menorehkan perubahan kepada umat manusia.

Keempat, tidak semua orang dapat diajak melihat perubahan.  Sebagian besar orang malah hanya melihat dengan persepsi.  Hanya mampu melihat realitas, tanpa mampu memiliki kemampuan dan kemauan melihat masa depan, sehingga dibutuhkan orang-orang yang visioner untuk itu.

Kelima, perubahan terjadi setiap waktu.  Seringkali perubahan tidak memberikan harapan yang baik.  Perubahan dapat memberikan pembaharuan atau bahkan kehancuran.  Sehingga dengan begitu, perubahan selalu tidak mengenakkan bagi setiap insan (pada umumnya), menakutkan, dan menimbulkan kepanikan.  Tidak ada orang yang mampu melihat hasil apa yang terjadi di masa depan, namun banyak orang yang mampu memprediksi dan merencanakan perubahan di masa depan.

Orang-orang yang survive dalam gelombang perubahan adalah mereka yang tidak pernah puas terhadap “comfort zone” mereka.  Mereka selalu mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih baik dan rela meninggalkan arena nyaman mereka demi posisi baru tersebut.  Berbeda denga orang-orang yang berstatus quo, mereka lebih puas dengan mereka peroleh kemarin.

Hidup adalah perubahan, perubahan adalah kehidupan.  Seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.  Bahkan kematian sendiri pun bukanlah akhir dari kehidupan dan bukan akhir dari perubahan.  Melainkan kelanjutan dari kehidupan sebelumnya.  Artinya, hanya orang-orang yang mau dan mampu berubahlah yang memiliki segalanya.  Yang berhasil dalam hidup mereka.  Lantas bagaimana anda sekarang?  Apakah anda sebagai orang yang mau berubah atau yang diubah?


Wallahu a’alam bish shawab
.

2 Tanggapan to “MENYIKAPI PERUBAHAN”

  1. Andi Aryatno Says:

    Pertamax. . . ,
    follow blog’ku ya!🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: