TAMBULI, PEREMPUAN YANG BERDIRI DI MUKA JENDELA


Karya : Denny Prabowo
Sumber : Jawa Pos, Edis
04/30/2006


Perempuan itu berdiri di muka jendela kamarnya.  Menatap kegelapan di luar sana.  Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi.  Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya malam ini.

Suara-suara.  Bergerimit.  Di ruang utama. Para tetua adat yang terdiri dari Patih, Mangku, dan Manti berembuk membentuk nanam pancang yang bertugas mengawasi keamanan prosesi sabung ayam dan judi esok hari, yang merupakan kelanjutan pesta begawai hari ini.  Di ruangan lain, para wanita dusun Ulu Ekok, Desa Durian Cacar tak kalah sibuk.  Asap kretek mengepul dari mulut-mulut mereka, menemani percakapan di sela kesibukan membenahi sisa pesta hari pertama.

Tambuli, begitu perempuan itu biasa disapa.  Dia jatuh cinta untuk pertama kali pada seorang lelaki dari seberang.  Seorang mahasiswa jurnalistik yang sedang melakukan KKL di daerahnya.  Lelaki itu tidak terlalu tampan.  Tapi Tambuli suka setiap kali mendengar suara merdunya melantunkan kalam-kalam yang biasa Tambuli dengar dari corong-corong rumah ibadah suku Melayu, selepas matahari membenamkan seluruh tubuhnya dibalik tebing cakrawala.

Lelaki itu tinggal bersama teman-temannya di sebuah rumah tak berpenghuni milik Patih Gading — tetua adat tertinggi — yang berada tak berapa jauh dari kediaman keluarga Tambuli.  Berawal dari permohonan menyediakan makanan bagi mahasiswa-mahasiswa KKL yang tengah membuat film dokumenter adat istiadat Suku Talang Mamak pada keluarga Tambuli, mereka jadi sering bersua.  Tapi lelaki itu terlalu acuh pada perempuan, terlalu dingin pada Tambuli.  Tidak seperti Andre, salah seorang temannya yang selalu membawa kamera mini divi, yang selalu mencuri-curi waktu berdua dengannya pada setiap pagi, siang dan petang, saat Tambuli mengantarkan makanan kepada mahasiswa-mahasiswa itu.  Wajah Andre seperti turis-turis asing yang sesekali berkunjung ke dusun mereka.

Suara tawa di ruang utama.  Seolah jadi penanda.  Pembentukan nanam pancang telah disepakati.  Orang-orang terpilih.  Pemuda-pemuda dusun yang cukup disegani.  Siap mengawal prosesi sabung ayam dan judi esok hari.

Malam merayap cepat.  Waktu tak mau menunggu.  Lelaki itu tak juga tiba.  Dua hari lagi dia resmi jadi istri Soleh, lelaki usia tujuh puluh yang lebih pantas jadi kakeknya, dan telah pula memiliki keluarga.  Tatapan cemas Tambuli menerobos pekat malam.  Setidaknya masih ada waktu dua hari, begitu hati Tambuli berkata menenangkan dirinya sendiri.

***

“Aku akan menemui kedua orang tuamu!”

Tambuli menenggelamkan pandangannya ke lantai kayu.  Mereka duduk dipisahkan jarak dua langkah kaki, di rumah yang ditinggali lelaki itu bersama teman-teman mahasiswanya.

“Kau ragu dengan kesungguhanku?”

Tambuli menelengkan kepala.  Masih dengan wajah tertunduk.  Kedua jemarinya saling tertaut.  Meremas cemas.

Perlahan perempuan dua puluh itu mengangkat dagunya.  Mencoba mencari masa depannya di mata lelaki itu.  Lelaki dari seberang.  Yang menawarkan sebuah pernikahan.  Tambuli semakin merasa mencintainya.  Tapi?!

“Aku akan menikahimu!”

Tambuli tidak terkejut dengan pernyataan itu.  Semestinya bahagia.  Tapi dia malah merasa hina.  Kembali perempuan dua puluh tahun itu menenggelamkan wajahnya.  Kabut memendar di bola matanya.  Meretas.  Meninggalkan jejak-jejak kristal di kedua belah pipinya.  Sungguh.  Tambuli ingin sekali mengangguk saat itu.  Tapi pantaskah lelaki itu menanggung semuanya?

Tambuli masih kehilangan kata.  Dia berada di sebuah persimpangan jalan.  Bimbang menentukan pilihan.  Tawaran lelaki dari seberang itu sulit untuk ia abaikan.  Wajahnya yang biasa saja tak menenggelamkan cahaya yang membuat Tambuli jatuh hati pada pemilik wajah itu.  Biar mati anak asal jangan mati adat!  Ungkapan itu berputar-putar di ruang pendengarannya.  Adat orang Langkah Lama tak membuatnya berhak menentukan pilihan, lelaki mana yang boleh dia pilih menjadi ayah bagi janin yang tengah dikandungnya.

***

Perempuan itu berdiri di muka jendela kamarnya.  Menatap kegelapan di luar sana.  Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi.  Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya.  Tapi hingga hari kedua begawai, belum juga ada tanda-tanda lelaki itu akan menjemputnya.  Waktu telah pula melintasi ambang hari.

Prosesi sabung ayam dan judi siang tadi berjalan dengan lancar, hampir seluruh warga dusun berkumpul menjadi bagian dari salah satu prosesi begawai itu.  Tak ada halang yang merintang selama acara berlangsung.  Sang Kemantan telah memohonkan kelancaran serta dijauhkan dari roh jahat pada Datuk Patih Si Putih Lintang Awan yang menguasai alam gaib dusun Ulu Ekok.  Ayam-ayam milik warga dusun yang mati dan kalah dalam ritual sabung ayam dikumpulkan, dan diberikan pada keluarga pengantin, untuk dimasak sebagai hidangan.  Begitulah cara mereka bergotong royong meringankan beban keluarga mempelai.

Sebuah guci dari tanah liat berukuran sedang diletakkan di dekat pintu rumah pengantin, melanjutkan prosesi sabung ayam dan judi.  Guci lantas diisi air yang sebelumnya telah dicampur gula putih dan gula merah.  Lalu ditutupi daun pohon nangka.  Tiga tangkai batang kecil yang memiliki lubang di tengahnya disusupkan di sela-sela daun.  Satu per satu warga dusun mencicip air dari dalam guci itu.

***

Riak air Sungai Tunu, meredam leguh birahi dua anak manusia.  Rerimbun pohon Rimba Puakamenuli berucap pada lelaki dari seberang, yang sedang berkemas meninggalkan Dusun Ulu Ekok, setelah kepergian diam-diam temannya yang telah menanam aib dalam rahim suci Tambuli.  “Namanya Soleh.  Dia dari Suku Melayu yang telah lama mendiami Dusun Ulu Ekok.  Lelaki tujuh puluh tahun pilihan para tetua adat”.

“Kau setuju?”

“Aku tidak bisa apa-apa.  Keputusan tetua adat adalah titah yang tak terbantahkan, begitu adat orang Langkah Lama.  Tapi?!”

“Kau tak setuju?”

“Aku hanya tak mau menikah dengan lelaki itu””Kau masih berharap pada bapak dari janin itu?”.

Tambuli menenggelamkan wajahnya.  Karam dalam samudera penyesalan.  Air matanya jatuh ke lantai.  Tambuli tak tahu apa yang dia inginkan.  Semua kemungkinan mendamparkannya pada ruang tak berpintu, yang tak memungkinkannya memilih jalan keluar, selain kepasrahan.

“Aku akan menjemputmu seusai mempersiapkan kepulangan ke Jakarta.  Teman-temanku akan menunggu di tepi
Sungai Tunu”.

Tambuli menemukan cahaya.  Mungkin ini pintu yang ditawarkan baginya dari Yang Maha kuasa.

***

Perempuan itu masih berdiri di muka jendela kamarnya.  Menatap kegelapan di luar sana.  Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi.  Cakrawala masih menyisakan warna senja yang begitu tua.  Sesaat lagi kelambu malam siap dibentangkan.  Dia pasti datang!  Begitu hati Tambuli menengahi keresahannya.  Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya.  Dia tak mungkin dua kali menuangkan muntah ke dalam guci berisi air yang telah dicampur gula putih dan gula merah itu, untuk menunda prosesi pengesahan pernikahannya dengan lelaki tujuh puluh yang telah pula memiliki keluarga.

Dia pasti datang!  Sekali lagi hati Tambuli berucap.  Lalu sebuah ketukan di pintu.  Tambuli ragu membuka.  Sesosok bayang menerobos pekat malam baru saja tertangkap ujung matanya, bergerak mendekat ke arah jendela kamarnya.

***


Rumah Cahaya, 22 Januari 2006

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: