SEONGGOK DAGING


Karya : Teguh Winarsho AS
Sumber : Jawa Pos, Edis
i 05/21/2006

 

SEPASANG mata Marjan mengerjap.  Ember di tangannya terlepas begitu saja.  Laki-laki itu nyaris berteriak sebelum sadar, cepat-cepat membekap mulutnya.  Marjan melangkah lebih dekat, hati-hati, masih belum percaya seratus persen.  Tapi ia yakin tidak sedang mimpi.  Mimpi tak akan membuat kakinya dingin, basah, terkena tumpahan air.  Tampak perempuan itu telentang di sudut ruang kerja Pak Lurah, serupa tidur.  Ragu-ragu Marjan mengulurkan tangan menyentuh hidung perempuan itu.  Dingin.  Beku.  Napas perempuan itu telah menguap beberapa jam yang lalu.

Pagi yang cerah berubah kelam di mata Marjan.  Perlahan-lahan Marjan mundur ke pintu.  Tubuhnya bergetar.  Baru dua hari lalu ia melihat perempuan itu masih segar bugar.  Kini sudah menjadi mayat.  Seseorang telah membunuh perempuan itu.  Pasti.  Tak mungkin perempuan itu bunuh diri.  Perempuan itu terlalu cantik untuk memperpendek hidupnya dengan alasan apapun.  Tapi, ah, alasan apa pula yang membuat orang begitu tega membunuh perempuan itu lalu meletakkan mayatnya di ruang kerja Pak Lurah?  Apakah ada orang yang tak suka dengan Pak Lurah?  Ingin meneror Pak Lurah?  Hanya segelintir orang yang tahu kalau perempuan itu mempunyai hubungan khusus dengan Pak Lurah.  Atau jangan-jangan perempuan itu sengaja bunuh diri?  Menenggak racun serangga?  Tapi kenapa mulutnya tak berbusa?

Sesaat lamanya Marjan bingung tak tahu harus berbuat apa.  Dua puluh tahun menjadi pesuruh sekaligus tukang bersih-bersih di balai desa, baru kali ini ia menemui peristiwa mengejutkan.  Benar-benar hari yang sial.  Ia menyesal berangkat terlalu pagi sehingga menjadi orang pertama yang melihat mayat itu.  Marjan tahu risikonya, semua tuduhan pasti mengarah pada dirinya.  Ya, ia akan menjadi tersangka utama pembunuh perempuan itu.  Ujung-ujungnya ia akan dijebloskan ke dalam penjara.

Marjan tak mau berlama-lama di tempat itu.  Ia harus segera pergi meninggalkan balai desa sebelum para pegawai lain datang.  Sebelum orang-orang mendakwa dirinya pembunuh perempuan itu.  Ia akan pura-pura tak tahu-menahu peristiwa itu.  Tapi…. kembali sepasang mata Marjan kembali mengerjap seperti ada kilat.  Marjan memiringkan kepala.  Rok perempuan itu tersingkap dan dari sudut pandang tertentu tampak pahanya putih mulus.  Marjan terus memiringkan kepala untuk lebih fokus.  Pemandangan di depannya terlihat semakin indah.  Menantang.

Berkali-kali Marjan menelan ludah.  Ada hasrat yang mulai merambat di batok kepalanya.  Menatap perempuan itu,  Marjan ingat dirinya.  Hingga kini, menginjak umur lima puluh tahun, ia belum laku kawin.  Perempuan-perempuan desa tak ada yang mau bersuamikan laki-laki ceking, hitam dan pincang.  Bertahun-tahun Marjan tersiksa oleh situasi ini dan hanya bisa membayangkan kenikmatan bercinta dengan perempuan seperti yang sering diobrolkan para pegawai kelurahan.  Seandainya pun ia pergi ke tempat pelacuran, para pelacur pasti bergidik ngeri melihat bopeng-bopeng bekas koreng di tubuhnya dan kakinya yang pincang, kecil sebelah.  Betapa ia sering terbakar amarah setiap kali melihat anak-anak sekolah pacaran.  Sedang ia belum pernah sekalipun menjamah perempuan.  Tapi kini…

Jantung Marjan mendadak berdesir aneh.  Lututnya bergetar gemetar.  Paha perempuan itu membuat matanya berkali-kali mengerjap.  Mengilat.  Napasnya terdengar keras menahan sahwat yang perlahan-lahan bergerak, rekah, menggeliat.  Meski terlahir cacat tapi ia tetap seorang laki-laki normal.  Marjan menengok jam dinding di ruangan itu.  Ada senyum tipis di sudut bibirnya yang hitam dan pecah-pecah.  Masih lumayan pagi.  Paling cepat satu setengah jam lagi pegawai balai desa baru berdatangan.  Ia masih punya waktu.  Ia akan melakukannya dengan cepat.

Marjan menatap wajah perempuan itu dengan senyum mengembang.  Meski sudah menjadi mayat perempuan itu tetap kelihatan cantik.  Biar sampai kiamat ia tak bakalan bisa dapat perempuan secantik itu.  Tuhan seperti tak pernah adil pada dirinya.  Di saat-saat ia sudah melupakan kawin dan juga nikmat bercinta dengan perempuan, kini ia seperti ditantang.  Ataukah ini bentuk lain dari keadilan Tuhan?  Menyuguhkan perempuan cantik meski sudah menjadi mayat?  Hmm…

Sejenak Marjan menarik napas dalam-dalam menenangkan pikirannya.  Ada sudut hatinya yang diam-diam berontak.  Hei, Marjan, perempuan itu sudah jadi bangkai.  Jangan kotori jiwamu dengan menyentuh dia!  Cepat pergi tinggalkan tempat ini!  Marjan termangu.  Bingung.  Tapi pemandangan paha mulus di depannya kian menantang.  Ia tak mau jadi laki-laki celaka sepanjang hidup hanya karena belum pernah merasakan nikmatnya bercinta.  Ia tak mau gigit jari dan hanya menjadi pendengar setia setiap kali para pegawai balai desa menceritakan pengalaman mereka dalam berhubungan intim.  Jangan lakukan Marjan!  Jangan!

Marjan masih menatap paha putih itu.  Tiba-tiba ada keraguan di hatinya.  Seiring itu hasratnya perlahan-lahan melemah.  Redup.  Lalu, kepalanya menggeleng keras.  O, tidak!  Tidak!  Marjan berteriak dalam hati.  Aku tidak bisa melakukannya.  Aku belum gila!  Perempuan itu sudah mati.  Tapi…  Dasar laki-laki tolol!  Marjan, kamu jangan pernah mimpi bisa bercinta dengan makhluk hidup, hewan sekalipun!  Lihat dirimu.  Jatahmu memang hanya dengan mayat!

Mayat?  Untuk ke sekian kali Marjan bergetar.  Adakah orang yang pernah bercinta dengan mayat?  Seperti apakah rasanya?

Tubuh perempuan itu telah dingin dan kaku.  Tentu sudah beberapa jam yang lalu dia mati.  Adakah kehangatan dalam tubuh orang yang sudah mati?  Bukankah inti dari kenikmatan bercinta adalah kehangatan?  Merasakan tubuh yang perlahan-lahan menggeliat dan napas yang menderu?  Persis!  Kamu pintar, Marjan!  Perempuan itu sudah jadi bangkai.  Tubuhnya dingin dan kaku.  Alih-alih mau cari kenikmatan, justru penismu tak bisa kamu cabut keluar.  Hahaha…

Marjan berdiri gamang.  Wajahnya bimbang.  Tapi sejurus kemudian ia mulai bisa memutuskan, ia harus meninggalkan tempat itu.  Ya, ia harus pergi sebelum para pegawai balai desa datang.  Perlahan-lahan Marjan membalik tubuhnya.  Ia mau pulang.  Tapi baru dua langkah ia berhenti.  Tunggu!  Tunggu dulu Marjan!  Lihat perempuan itu.  Dia butuh sentuhanmu.  Ayo, sentuh dia!  Sekali ini saja.  Atau kamu mau sampai mati nanti tak tahu bagaimana nikmat bercinta dengan perempuan?  Ayo, tunggu apalagi?  Huh!  Tolol sekali kamu Marjan.  Memang dia sudah jadi mayat.  Tapi lihatlah, dia cantik sekali.  Sudah jadi mayat saja tetap kelihatan cantik, bagaimana kalau masih hidup.  Hai, Marjan apakah kamu lupa?  Dulu ketika masih hidup perempuan itu berkali-kali mengejekmu.  Dia bilang kamu laki-laki paling sial karena tak laku kawin.  Mulut perempuan itu memang cerewet.  Kini saatnya kamu  balas dendam!  Ayo, tampar pipinya!

Urat tangan Marjan mendadak bergetar.  Matanya menyipit.  Napasnya terdengar lebih keras dari sebelumnya.  Marjan kembali ke tempat semula.  Ia tatap perempuan itu dengan penuh kebencian.  Ia ingat dulu tak cuma sekali perempuan itu mengejeknya.  Seperti dituntun kekuatan gaib Marjan mulai melangkah menghampiri mayat perempuan itu.  Langkahnya goyah karena kakinya panjang sebelah.  Plakk!  Marjan menampar pipi mayat perempuan itu.  Keras.  Bagus, bagus!  Tamparanmu cukup bertenaga.  Sekarang kamu sudah puaskan?  Sekarang juga kamu harus cepat-cepat pulang sebelum orang-orang berdatangan dan kamu dituduh sebagai pembunuh perempuan itu.  Kamu pasti tak mau dipenjara, kan?  Ayo, cepat! Cepat!

Marjan hampir melangkah pergi ketika matanya kembali terkesiap melihat sela payudara perempuan itu.  Seperti sebuah sungai yang licin.  Napas Marjan sesaat terhenti.  Kakinya terpaku di lantai.  Pulang?  Hei, Marjan, untuk apa kamu pulang?  Apakah ada yang menunggumu di rumah?  Apakah kamu punya istri yang akan membuatkanmu kopi?  Memberimu kehangatan?  Ayolah, coba dulu daging perempuan itu.  Sekali ini saja.  Hitung-hitung kamu punya pengalaman baru.  Lihat payudaranya.  Baguskan?  Hanya Pak Lurah yang pernah merasai payudara itu.  Tapi nanti kamu pun akan merasakannya.  Itu kalau kamu laki-laki sejati!

Cahaya matahari mulai menerobos gorden jendela.  Dari jalan depan suara anak-anak berangkat sekolah terdengar riuh rendah.  Marjan mulai merasa tidak nyaman.  Tapi payudara perempuan itu seperti bukit hijau yang menggairahkan.  Napas Marjan mulai memburu berkejaran dengan waktu.  Lakukan, Marjan!  Cepat!  Cepat!  Keburu siang!  Tangan Marjan gemetar.  Dahinya berkeringat.  Dengan gerak cepat Marjan menyingkap rok perempuan itu ke atas dan menarik celana dalamnya ke bawah.  Tapi… Cukup!  Cukup sampai di situ Marjan.  Jangan kamu teruskan.  Perempuan itu sudah mati.  Arwahnya akan gentayangan dan menghantuimu!  Ayo, pulang saja!

Gentayangan?  Marjan sesaat tersentak.  Ia urung membuka risliting celananya.  Tapi rok perempuan itu terlanjur tersingkap memperlihatkan paha putih.  Baru pertama kali ini ia melihat bagian paling inti milik seorang perempuan.  Ia seperti berada di tengah hutan lebat dan jurang dalam.  Fantasi Marjan mengembara.  Berlesatan.  Tapi….  Arwah gentayangan?  Hmm… Mendadak Marjan bergidik ngeri.  Hei, laki-laki tolol, kamu jangan percaya dengan cerita takhayul itu!  Dimana-mana orang yang sudah mati tak mungkin bisa bangkit lagi.  Jangan percaya dengan cerita-cerita sinetron di televisi.  Cepat setubuhi perempuan itu.  Waktumu sangat sedikit!  Hei, jangan bengong!  Ini akan menjadi pengalaman pertama yang mengesankan!  Cepat!  Cepaaatt!!

Tubuh Marjan kian bergetar hebat.  Ia melirik jam dinding.  Tersenyum.  Ia masih punya waktu lumayan lama.  Tapi ia akan melakukannya dengan cepat.  Sangat cepat.  Sekadar ingin merasakan bagaimana bersetubuh dengan perempuan.  Sebentar saja.  Ya, sebentar saja.  Toh tak akan ada yang dirugikan.  Perempuan itu sudah menjadi mayat.  Tak mungkin bisa hamil.  Esok hari perempuan itu sudah busuk ditimbun dalam tanah.  Cepat-cepat Marjan membuka risliting celananya.  Matanya merah.  Wajahnya merah.  Napasnya memburu lebih cepat.

Tapi tiba-tiba terdengar suara langkah kaki puluhan orang.  Marjan kaget segera membuka matanya dari kesenangan yang baru saja diperolehnya.  Menoleh.  Seketika darah di wajahnya seperti tersirap.  Tampak Pak Lurah dan beberapa warga desa berdiri di depan pintu.  Wajah Marjan kian pucat.  Tubuhnya menggigil gemetar.  Dadanya sesak.  Tapi semuanya seperti sudah dirancang.  Pak Lurah datang pada saat yang tepat mengajak warga desa.  Marjan segera melepaskan pelukannya dari mayat perempuan itu.  Ia melihat mata Pak Lurah menatap sinis ke arahnya.  Urat-urat di sekitar matanya bergetar.  “Apa yang sedang kamu lakukan, Marjan?”  Suara Pak Lurah berat, besar, seperti menahan kemarahan.  “Kamu membunuh perempuan itu?”

Marjan gugup.  “Tidak!  Tidak!  Aku tidak membunuhnya!  Dia kutemukan sudah mati dan aku hanya…..”  Suara Marjan melemah.  Orang-orang menatap tajam.  Tak ada seorangpun yang percaya omongannya.

Pak Lurah tersenyum sinis lalu memberi isyarat pada beberapa orang untuk menangkap Marjan.  Laki-laki pincang itu hanya menunduk tak memberi perlawanan sedikitpun.  Termasuk ketika ia diarak keliling kampung dengan masih telanjang dan berjalan terpincang-pincang.  Ia hanya berkata pada beberapa orang yang menonton di pinggir jalan.  “Perempuan itu bunting.  Dia kutemukan sudah mati.  Aku belum melakukannya.  Sumpah, demi Tuhan!”

***

 

 

Depok, Mei 2006

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: