3 NYANYIAN LAUT


Karya : Yanusa Nugroho
Sumber : Jawa Pos, Edisi 05/28/2006


Sebaiknya aku tidak pulang saja.  Biar saja begitu.  Aku sendiri tak percaya mereka akan mencariku.  Jangan-jangan, mereka bahkan bergembira karena piring  nasi yang seharusnya disediakan, berkurang satu.

Aku tidak mungkin pulang dengan nilai ulangan “5” seperti ini.  Apalagi, ini pelajaran wajib dan sebetulnya sangat mudah.  Aku tidak mungkin pulang dan menyerahkan diri ditempelengi bapak atau dicubiti ibu.  Tidak.  Kali ini lebih baik aku tidur di pantai.  Mungkin lebih baik berendam di gua pasir.  Tapi, makan apa?  Ah, kepiting saja bisa makan, mengapa aku tidak bisa…

Sebetulnya, aku benci pelajaran Bahasa Indonesia.  Aku tidak suka, karena menurutku aneh.  Coba simak, “Anto dan Anti selalu memberi salam kepada orang tua mereka, setiap pagi dan sore.  Anto dan Anti adalah anak titik-titik.  Lalu disediakan jawaban : a. Baik. b. Nakal. c. Tidak Sopan.

Terus terang semuanya tidak pernah kualami.  Mungkin buat Anto dan Anti — anak mana sebetulnya mereka — apa yang mereka lakukan adalah baik.  Tetapi bagiku, bagaimana mungkin?  Sebelum ayam-ayam tetangga bangun, ayah-ibuku sudah tidak di rumah.  Lalu, setelah lewat Isya, ketika perutku sudah terlalu lapar, sehingga sebaiknya tidur, mereka baru datang.  Kalau mereka baik hati, ada sebungkus nasi dan telur asin di meja kami satu-satunya dan itu artinya untuk aku.  Tetapi kalau tidak, aku hanya akan mengalah dan tidur dimana pun kepalaku tersandar.  Aku tidak bisa mengucapkan salam, tidak mungkin itu.  Rumahku hanya berisi kesunyian.  Dan aku hanya sering bicara pada sepatu karet bututku sendiri, yang sudah setahun ini tak pernah kucuci (untuk apa pula, kan selalu kotor?)

Pernah aku mengucapkan salam, dan kuucapkan dengan segala keraguanku, kepada mereka.  Dan tahukah kau jawaban mereka : “habis makan apa, dia?”

***

Karena aku tidak suka, maka aku tidak memilih jawaban yang disediakan.  Untuk apa?  Aku tidak tahu apakah aku akan dianggap anak baik atau anak jahat, ketika aku harus mengucapkan salam kepada orang tuaku.  Aku benci Anto dan Anti.  Mereka seenaknya saja memberi contoh kepadaku, seolah mereka lebih pintar dariku.  Dan percayalah masih banyak lagi yang seperti itu.  Jadinya, aku memilih tidak menjawab jika ada soal-soal semacam itu.  Akibatnya, nilaiku tak pernah lebih dari “5”.

Karena nilaiku banyak yang “merah” maka bapak selalu memberiku tempelengan dan makian.  Ibu dengan jarinya yang kuat itu menjewer telingaku, terkadang rambut di depan telingaku.  Aku bahkan tak berani menangis.  Aku tidak tahu mengapa mereka marah karena raporku selalu banyak merahnya.  Aku tak mengerti mengapa mereka jengkel dengan nilai-nilai ulanganku yang kebanyakan “4 dan 5” ini?

***

“Utaaaa…”
Aku menoleh.  Itu teriakan Nini, kawan sekelasku.  Mau apa anak itu.  Ah, bintang kelas yang cantik, tapi tak punya otak.

“Utaaa… tunggu”.
“Mau apa, sih?” jawabku dengan pertanyaan jengkel.

“Bareng kamu, pulang”.
“Aku tidak pulang, kok..”

“Kenapa?”
“Ya, nggak pulang, aja”.

“Nanti dimarahi orang tuamu…”
“Mereka nggak di rumah, mana mungkin bisa marah?”

Nini terdiam, dia pasti tak punya jawaban apa-apa, karena dia memang tak tahu apa-apa.  Mungkin dia kuberi nama “Anti” saja; anak “baik” itu.

“Ulanganmu tadi dapat berapa?”
“Bagus”.

“Berapa?”
“Pokoknya bagus”.

“Aku dapat sembilan.  Cuma salah satu.  Aku kurang teliti, sih..  Uta, kalau dapat bagus, kamu dapat hadiah nggak dari ayah-ibumu?”

“Dapat”.
“Apa?”

“Apa saja”.
“Waw, asyik sekali.  Aku — kalau nilaiku bagus dapat hadiah player MP3…”

Aku diam saja.  Aku tidak mengerti ucapannya dan mengapa dia begitu bangganya dengan sesuatu yang diucapkannya itu.

“Nanti, kalau sudah dibelikan, kamu boleh, kok, pinjam.  Kita bisa mendengarkan lagu-lagu asyik”, ujarnya tanpa kuminta.

Cuma mendengarkan lagu saja dia sudah bangga.  Lagi pula siapa yang mau pinjam?
“Kamu mau kemana, sih?” tanyanya mengulangi pertanyaannya semula.

“Pokoknya nggak ke rumahku”.
“Lho, nanti nggak dapat hadiah”.
“Masa bodo”.  Lalu, aku pun setengah berlari meninggalkan Nini yang aku yakin betul kepalanya makin kosong itu.  Apa pedulinya aku dapat hadiah atau tidak.  Aku cuma tak ingin mendapat tempelengan dan jeweran.  Aku cuma ingin sendirian di pantai.  Aku cuma ingin mendengar camar, debur ombak, angin, mungkin awan, mungkin hujan, apa pun, kecuali omelan dan makian mereka.

***

Kulalui rumah-rumah orang kampung.  Kudengar bunyi-bunyi aneh dari permainan anak-anak yang tentunya asyik bermain di depan televisi mereka.  Antena-antena televisi bersembulan, seakan galah-galah untuk mengusirku dari lingkungan mereka.

Satu dua kali aku sempat mendengar panggilan, sepertinya memanggil namaku, tapi aku tak peduli.  Aku tahu, tentunya mereka temanku, tapi apa peduliku.  Mereka hanya peduli pada permainan mereka sendiri.  Mereka adalah anak-anak baik yang selalu memberi salam pada orang tua mereka dan karenanya mendapatkan hadiah.

***

Udara panas naik.  Kurasakan kulitku terbakar matahari.  Angin asin menjambak rambutku dengan kasar.  Deru angin seakan menulikan telingaku.  Mataku cuma memandang biru dan buih putih menggulung-gulung.  Sesekali kulihat elang melayang di langit.  Juga ada gumpalan awan di sana.  Tak ada orang.  Hanya aku dan laut.  Itu yang aku suka.

Aku suka suasana ini.  Aku bisa bermain dengan kepiting atau siput-siput laut.  Kadang aku menemukan cangkang kerang yang aneh bentuknya.  Sering pula aku menemukan cangkang penyu, tertutupi pasir.  Ah, lihatlah, kau harus melihatnya — mereka tak pernah memaksaku menyukainya, tetapi aku sudah langsung mencintainya.  Mereka tak pernah menuntutku.  Mereka hanya tersenyum dan aku mengerti apa yang mereka maksudkan.

Dan menjelang senja nanti kau akan menyaksikan walet-walet berkelebat gesit, berkejaran di langit lautan.  Di sana, di dekat karang yang menjorok ada ceruk, dan biasanya ikan-ikan berkumpul di sana.  Dan di sana, setiap sore, ketika matahari sudah berada di balik karang itu, camar-camar akan berteriak girang, mencoba menangkap ikan di ceruk itu.  Gema suara camar itu begitu merdu di telingaku.  Mereka mempersembahkan lagu terindah bagiku.  Mereka mendongengkan sesuatu yang tak mungkin bisa kuceritakan padamu.  Aku pernah mencoba menceritakan ini semua, ketika disuruh mengarang oleh guruku.

Kutuliskan apa yang kualami di pantai ini.  Kulukiskan bagaimana kerang-kerang itu mengisahkan cerita seorang gadis kecil yang selalu menyanyi di pantai itu.  Seorang gadis kecil menggendong adiknya yang masih bayi, menyanyi menunggui ibu mereka yang telah menjelma ikan di lautan.  Ibu mereka, tutur cangkang kerang itu padaku, terpaksa pergi karena digebuki suaminya yang hanya bisa mabok dan memaki-maki istrinya.  Ibu mereka saat itu nyaris mati dipukul dengan dayung.  Dayung itu hingga patah tiga, menghantam wajah si ibu yang sudah berlumuran darah.  Semuanya gara-gara sang ayah ingin makan ikan goreng, yang saat itu dimakan si anak kecil itu.

Kisah itu membuatku terharu, sehingga aku menuliskannya di lembaran kertas karanganku.  Dan dengan bayangan aku akan mendapat pujian dari guruku, kuserahkan lembar karanganku itu kepadanya.

Hasilnya : “4”.
Guruku berkata bahwa karanganku mengada-ada dan tidak sesuai perintahnya.  “Uta”, katanya, “Pak Guru meminta kamu menulis tentang rumahmu, kebiasaanmu, mulai bangun pagi sampai pulang sekolah.  Pak Guru meminta kamu membuat gambaran apa saja yang kamu temui di rumah, di jalan, dan sebagainya, bukan ngarang-ngarang begini..  Ini apa?  Inikan, bohong.  Pak Guru tidak mengajarkan kamu agar berbohong, kan?”

“Tidak Pak…”, jawab kusaat itu.  Sebetulnya aku enggan menjawab, tetapi…
“Besok, Pak Guru ingin bertemu dengan ayah ibumu lagi…” dan kata-kata itu mengunciku dalam ketakutan.  Bayangan caci-maki bahkan tempelengan sudah muncul, begitu ucapan itu selesai.

***

Aku tak berani menyampaikan ucapan Pak Guru pada orang tuaku.  Mana mungkin?  Setelah kedua kalinya mereka datang ke sekolah dan mendapatkan bahwa anaknya tak bisa apa-apa di kelas, dan untuk itu hanya tempelengan yang kuterima, mana mungkin untuk ketiga kalinya mereka mau datang?  Tidak.  Mereka tak akan mau datang.  Mereka hanya akan marah dan menempelengiku sekeras kemarahan mereka.

Tapi, Pak Guru suatu malam datang ke rumahku.  Aku sudah tidur.  Aku terbangun karena ada suara orang bercakap-cakap.  Semuanya kupahami dengan baik dan akupun bersiap menghadapi tempelengan lagi.  Dan itu memang terjadi.  Oleh karenanya, semua keindahan yang kualami di pantai ini, tak akan pernah kuceritakan kepada siapapun.

***

Malam ini, sebaiknya aku memilih gua pasir itu.  Sebuah ceruk karang dengan lantai pasir hangat, yang tentunya sangat nyaman sebagai tempat tidur.  Di sana, di dekat tempat camar-camar itu menyanyi riang menangkapi ikan.

Aku akan menikmati semuanya, sendirian.  Tak ada orang lain yang kuizinkan mengambilnya.  Di sini, tak ada lagi pertanyaan bodoh dengan pilihan jawaban yang tolol seperti di kertas ulangan itu.  Di sini tak ada lagi “Ayah pergi ke kantor dan ibu memasak di dapur”.  Ah, orang tua siapa pula di sini yang ayahnya pergi ke kantor?  Semua ayah di sini adalah nelayan.  Semua ibu di kampung ini adalah penjemur ikan asin milik Koh Ang.  Yang sering ke dapur sebetulnya aku — kalau memang ada yang dimasak.

Mungkin ayah dan ibu Nini memang begitu, dan karenanya bisa membelikan hadiah.  Tetapi, bagiku, semua yang tertulis di buku sekolahku tak ada yang bisa kutemukan di hidupku setiap hari.  Mungkin satu atau dua… selebihnya, bohong.  Dan aku benci bohong.  Dan laut tidak bohong.  Karenanya aku suka laut.

Malam ini aku akan mendengarkan kisah-kisah kerang, yang sudah berkelana ke tujuh samudera.  Kisah-kisah anak-anak lain yang membagi kesedihan, keriangan, kebebasan, dengan caranya yang jujur.  Aku bisa tertawa, menangis dan terdiam oleh keindahan kisah-kisah kerang.  Mungkin sebaiknya aku menjelma ikan saja atau kerang.  Ah, sebaiknya aku mencair saja, menjadi bagian dari butiran laut.

Aku akan berkelana kemana aku suka.  Atau kalau aku marah, aku akan menghantam sekolahku, guruku, buku-buku dan semua yang membohongiku.  Mereka tidak membuatku berpikir lain, kecuali pilihan yang sudah disediakan.  Aku tidak suka.  Dan aku tidak boleh tidak suka, karena kalau memang boleh, mengapa nilaiku selalu “5”?

Aku sungguh tidak mengerti.
Hanya laut dan isinya yang mengerti mengapa malam ini aku ingin meringkuk di ceruk gua pasir.  Apalagi malam ini rasanya bulan akan bersinar bulat di atas lautan, yang tak enak kalau disaksikan dari jendela rumahku.  Di sini lebih terang, kurasa.

***

Aku tak akan pulang.  Aku yakin akan membuat kedua orang tuaku gembira, karena satu perut yang seharusnya diisi makanan telah hilang.
Sebentar, aku harus membuat istana pasir di sini…


Pinang, 982
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: