PERSIAPAN MENGHADAPI RAMADHAN


Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 30, 29 Juli 2011 M / 28 Sya’ban 1432 H

.

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan”.  (HR. Baihaqi)

Pertengahan Sya’ban sudah berlalu.  Ramadhan 1432 H tinggal 2 hari lagi.  Tamu istimewa itu akan datang dan membersamai kamu muslimin.  Mereka yang siap dengan kedatangannya insya Allah akan lebih optimal dalam mengisi Ramadhan 1432 H ini.  Persiapan adalah keniscayaan.  Waktu terus berjalan, tanpa pernah berhenti.  Hari yang berganti hari, bulan yang berganti bulan, dan tahun yang berganti tahun, dalam semua perputaran waktu itu Allah senantiasa memberikan kenikmatan kepada kita.  Setelah kenikmatan-kenikmatan lainnya dianugerahkan kepada kita tanpa bisa kita hitung jumlahnya, bahkan seringkali tidak kita sadari kehadirannya.  Maka, marilah kita berusaha mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.  Marilah kita bersama-sama berupaya menjadi hamba-Nya yang bersyukur.  Dengan bersyukur kita akan lebih mudah menjadi hamba-Nya yang bertakwa.  Lihatlah bagaimana ketika Rasulullah saw. berdiri begitu lama dalam shalat malamnya hingga kaki beliau bengkak.  Saat Aisyah bertanya dengan menyebutkan keutamaan beliau yang telah dijamin ampunan atas segala dosanya, beliau justru menjawab dengan sabdanya yang mulia : Tidak bolehkah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?  Jadi, syukur sangat erat kaitannya dengan takwa.  Bahkan keduanya identik.  Tidak ada orang yang mampu mencapai derajat takwa tanpa bersyukur.  Sebaliknya, syukur akan mengantarkan seorang hamba mencapai ketakwaan.  Di antara kenikmatan itu adalah sampainya usia kita di akhir bulan Sya’ban ini.  Sebentar lagi kita akan memasuki bulan istimewa.  Bulan yang penuh dengan keutamaan.  Yakni bulan Ramadhan yang mulia.  Pertanyaannya adalah, sudahkah kita siap dalam menyambutnya?  Jika para sahabat dan salafusshalih telah mempersiapkan diri dua bulan sebelum Ramadhan tiba, sebagaimana doa yang masyhur, yang mengisyaratkan persiapan ini : “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan” (HR. Baihaqi).  “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta berkahilah kami di bulan Ramadhan” (HR. Ahmad).  Maka kita yang tinggal 2 – 3 hari lagi mengakhiri Sya’ban ini pantaslah jika mengevaluasi persiapan kita menghadapi Ramadhan.  Bagi yang telah siap, alhamdulillah.  Bagi yang belum, kita segera bangkit untuk memenuhi persiapan-persiapan ini.  Setidaknya ada empat persiapan bagi kaum muslimin untuk menghadapi bulan Ramadhan.

Persiapan Pertama adalah Persiapan Ruhiyah.

Persiapan ruhiyah yang kita perlukan adalah dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas.  Pengokohan aqidah adalah pondasi utama dalam persiapan ruhiyah ini.  Tanpa aqidah yang benar, bisa jadi seseorang justru terjatuh dalam syirik.  Dan kesyirikan selamanya takkan berbuah keikhlasan.  Aqidah yang benar adalah kuncinya.  Karenanya surat di dalam Al Qur’an yang kesemuanya membahas aqidah dinamakan surat Al-Ikhlas.  Membersihkan hati atau tazkiyatun nafs juga hal yang urgen dilakukan dalam menyambut tamu Allah yang istimewa ini.  Allah SWT menegaskan pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dalam firman-Nya : “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syam : 9).  Maka dalam waktu 2 hari ke depan kita perlu melakukan evaluasi diri (muhasabah) apakah penyakit-penyakit aqidah masih menjangkiti diri kita.  Selanjutnya kita bermujahadah untuk menghilangkan penyakit-penyakit itu.  Alangkah indahnya saat Ramadhan tiba dan kita benar-benar dalam kondisi ikhlas menapaki hari-hari istimewa yang dibawa oleh tamu mulia itu.  Saat-saat keikhlasan bersenyawa dalam diri kita sepanjang Ramadhan merupakan saat-saat terbaik yang akan menjamin kita memperoleh ampunan Allah SWT.  “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.  (Muttafaq ‘Alaih)

Persiapan Kedua adalah Persiapan Fikriyah

Agar Ramadhan kita benar-benarefektif, kita perlu membekali diri dengan persiapan fikriyah.  Sebelum Ramadhan tiba sebaiknya kita telah membekali diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah di bulan Ramadhan.  Tentang kewajiban puasa, keutamaan puasa, hikmah puasa, syarat dan hukum puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, serta sunnah-sunnah puasa.  Juga tarawih, i’tikaf, zakat, dan sebagainya.  Untuk itu kita bisa mengkaji Fiqih Sunnah-nya Sayyid Sabiqq, Fiqih Puasa-nya Dr. Yusuf Qardhawi, dan lain-lain.  Kita pun bisa mengikuti taklim di lingkungan kita, baik majelis taklim yang diadakan di masjid, di pondok pesantren, maupun tempat-tempat lain.  Inilah rahasia mengapa Imam Bukhari membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul Al-Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-Amal (Ilmu sebelum Ucapan dan Amal).  Tanpa ilmu bagaimana kita bisa beramal selama bulan Ramadhan dengan benar?

Pemahaman ilmu syar’i ini juga merupakan tanda kebaikan yang dikehendaki Allah terhadap seseorang.  Karena Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan maka ia difahamkan tentang (ilmu) agama” (Muttafaq ‘Alaih)

Persiapan Ketiga adalah Persiapan Jasadiyah

Ramadhan membutuhkan persiapan jasadiyah yang baik.  Tanpa persiapan memadai kita bisa terkaget-kaget bahkan ibadah kita tidak bisa berjalan normal.  Ini karena Ramadhan menciptakan siklus keseharian yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.  Kita diharapkan tetap produktif dengan pekerjaan kita masing-masing meskipun dalam kondisi berpuasa.  Rasulullah saw. bersabda : “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dll.)

Persiapan Keempat adalah Persiapan Maliyah

Persiapan maliyah yang diperlukan dalam menyambut bulan Ramadhan bukanlah untuk membeli baju baru, menyediakan kue-kue lezat untuk Idul Fitri, dan lain-lain.  Kita justru memerlukan sejumlah dana untuk memperbanyak infak, memberi ifthar (buka puasa) orang lain, dan membantu orang yang membutuhkan.  Tentu saja bagi yang memiliki harta yang mencapai nishab dan haul wajib mempersiapkan zakat maal-nya.  Bahkan, jika kita mampu berumrah di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang bernilai luar biasa; seperti nilai haji Rasulullah saw.  Rasulullah mencontohkan bahwa beliau yang begitu dermawan di hari-hari biasa, bertambah sangat dermawan di bulan Ramadhan mengalahkan angin yang berhembus.  “Rasulullah saw. adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan.  Beliau bertemu Jibril pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al Qur’an.  Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin” (HR. Bukhari)

Kedermawanan Rasulullah saw. bertambah hebat ketika bulan Ramadhan.  Ini mengajarkan kepada umat beliau bahwa Ramadhan sebagai bulan yang paling utama dengan pelipatgandaan pahala amal kebajikan hendaklah dioptimalkan dengan memperbanyak infaq dan meningkatkan kualitasnya.

Wallahu a’alam bish shawab

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: