KEKASIH SEORANG LELAKI


Karya : Maya Wulan
Sumber : Jawa Pos, Edisi 11/28/2004


Ini ke sekian kalinya aku ingin pergi.  Dari rumah yang lima tahun lalu kubangun sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi tempat berteduh bagiku dan Maya, istriku.  Tapi kemudian aku tidak lagi merasa nyaman, ketika peristiwa itu terjadi di suatu malam, setelah aku kelelahan menulis.  Aku berjumpa dengan kekasihku, dan kami saling jatuh cinta.  Ia bilang telah menungguku begitu lama.  Hingga tergurat luka rindu yang merentang panjang di antara aku dan dia.  Waktu itu aku menatapnya tajam dan ia tertunduk malu.  Kukatakan padanya aku akan datang menujunya.  Ia bertanya, “Kapan?”, seolah tak percaya pada perkataan dan janjiku.  Kujawab, “Segera”.

Tetapi setelah itu aku selalu gagal.  Sepuluh kali aku mencoba pergi, tak pernah ada yang berhasil.  Aku masih di sini, di rumahku bersama Maya, istriku.  Saat itu Maya tidak tahu tentang rencanaku untuk pergi.  Ia hanya sesekali bertanya dan merasa curiga padaku.  Katanya sikapku semakin aneh di matanya.  Biasanya aku meredam kecurigaan istriku itu dengan memeluk tubuhnya erat-erat.  Mencium keningnya dan berkata, “Tidak ada yang aneh.  Semua biasa saja”.  Setelah itu Maya diam.  Dan aku tidak merasa bersalah sama sekali karena ketidakjujuranku.

Beberapa kali kekasihku datang menemuiku.  Terutama ketika Maya tidak sedang berada di sampingku.  Kulihat wajah kekasihku kian mengkerut dan tampak kelelahan.

“Kau kenapa?” tanyaku ragu-ragu karena cemas.  Aku laki-laki pencemas.  Terutama terhadap seorang yang kucintai.
“Terlalu lama aku menunggumu.  Terlalu lama aku memetiki penanggalan hanya untuk menghitung waktu kedatanganmu yang palsu.  Kau lihat, jari-jariku telah kaku dan membiru.  Tubuhku beku tak terjamah pelukanmu.  Kepulan asap putih yang menerbangkan rindumu padaku semakin mengabur.  Melemah.  Dan aku mulai tak sadarkan diri di kesendirianku yang panjang.  Tapi kau tak datang juga padaku.  Bahkan semakin jarang mengintip dan mengetuk pintu rumahku.  Kau mengurung diri dalam kematian singkatmu yang menyedihkan.  Bersama jiwa-jiwa yang tak benar-benar hidup.  Kau menduakanku dengan kesementaraan.  Sedang penantian dan cintaku adalah abadi bagimu.  Aku menunggumu dalam kehidupan, tapi kau mengubur diri di makam yang kau lihat subur itu.  Kita terlampau lama terpisah”.

Aku melihat jelas mata kekasihku meredup.  Kuulurkan tangan dan kukatakan padanya aku merasakan hal sama.  Rindu yang menuntut penuntasan yang segera.

“Aku akan pulang.  Untuk bersamamu”, kataku.
Tetapi tubuh kekasihku berguncang.  Seperti tertiup angin malam, ia berangsur menghilang dari hadapanku.  Aku makin mencemaskannya yang pergi tanpa sempat berkata apa-apa lagi padaku.

Tanpa pikir panjang, esoknya aku memutuskan pergi.  Sengaja aku tak membawa apapun dari rumahku, karena aku tahu Maya akan membutuhkannya jika aku tak ada di sisinya lagi.  Namun baru sampai teras rumah, Maya melihatku.  Nafasnya naik turun menangkapku yang berniat pergi.  Ia marah padaku.

“Kau mau pergi?  Meninggalkanku?” tanyanya dengan ketus.
Aku menjawab dalam hati.  Ya, istriku.  Aku akan pergi.  Dan kau tahu itu, pergi berarti meninggalkan.  Tapi aku bukan mau meninggalkanmu.  Aku akan meninggalkan kesementaraan ini.  Kekasihku menungguku dalam kehidupan abadi.  Maka aku akan pergi, jauh dari kematian ini.

Maya, istriku, memasang wajah kecewa.  Dilipatnya gurat-gurat kebahagiaan yang selama ini menghiasi tulang pipinya yang merona.  Sinar matanya meremang.  Seperti mata kekasihku yang lelah menungguku.  Aku mendadak cemas.  Bukan pada Maya, tapi kekasihku.  Rasanya aku akan gagal lagi, untuk pergi dari sini.  Maya, istriku, menahanku.  “Jangan pergi”, katanya.  Langkahku terhenti.  Bayangan kekasihku hilang dibenakku.

Maya memenjarakanku dalam peluknya yang berbau kematian.  Nafasku sesak mengingat kekasihku yang jauh.  Jangan kemari, kekasihku.  Batinku.  Kalau tidak, kau akan terbakar cemburu dan menangisiku yang bercengkerama bersama jiwa yang tak abadi ini.  Kubiarkan Maya terus memelukku erat.  Peluklah aku sekuat yang kau mampu perempuanku.  Tapi kau tak akan pernah memeluk jiwaku.  Karena jiwaku telah pergi terbawa rindu kekasihku.  Dan kau tak pernah tahu itu.

“Katakan.  Kenapa kauingin meninggalkanku?” tanya Maya di antara pelukan panjangnya.
Aku harus pulang, Maya.  Menemui kekasihku yang abadi.  Kau hanya jiwa yang terkurung dalam makam kesementaraan.  Kematian singkat yang menyedihkanku.  Dan kekasihku sudah terlampau lama menungguku.  Seperti aku juga merindukannya sejak dulu.  Kini kami telah bertemu dan saling jatuh cinta.  Menyatukan cinta yang terpisah lama dalam rentangan dua kejadian.  Kau dan aku, di sini hanya sebuah kematian.  Seperti pelukan ini yang kau tawarkan padaku.  Membuatku mual oleh aroma kehinaan.  Aku harus pulang, Maya.  Dan aku tak perlu meminta maaf karena semua ini.  Jangan menahanku dalam kedukaan ini, istriku.  Mengapa tak kau temui saja kekasihmu seperti aku menjumpai kekasihku?  Tidakkah kalian juga saling merindu?  Dan kita tinggalkan pemakaman ini.  Terbang menuju rumah cinta kekasih-kekasih kita.

“Mengapa kau diam?  Sudahkah tidak ada yang berharga lagi di sini bagimu?” Maya makin erat memelukku.
Ayolah, Maya.  Aku bukan siapa-siapa di sini.  Aku hanya menjadi rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu yang kau injak.  Bahkan aku tak dapat tumbuh membesar.  Aku mati dalam kekerdilanku.  Kelemahanku.  Kesementaraanku yang sangat singkat.  Melindungimu pun aku tak dapat.  Lepaskan genggamanmu yang melukaiku, istriku.  Atau lemparkan saja aku ke arus sungai yang beriak dan menampar wajahku dengan kasar.  Agar aku tersadar, dan tak lagi menyurutkan diri ke dalam lubang kematian yang memanggilku berulang-ulang.  Melarangku untuk pergi, dan memelukku dengan aroma kematian yang mencekat.  Maya, aku akan pergi.  Pulang menuju kekasihku.  Dan aku tak perlu minta maaf padamu.

“Kau tidak mencintaiku lagi?”
Maya, istriku, membentengiku dengan pagar-pagar ketakutan dan kesedihan miliknya.  Ia menyalahkan dirinya atas kepergianku.  Sungguh, perempuan yang mengajakku pada kematian, aku tak berani mencintai yang lain selain kekasihku.  Tidakkah kau tahu aku begitu bahagia bisa bertemu dengannya lagi dan merajut percintaan abadi?  Lalu kenapa kau ingin menarik kedua tanganku untuk kembali jatuh terguling-guling di dasar kesedihan?  Mengapa kau minta dadaku hanya untuk menangisi kesementaraan?  Maya, kau buat dadaku hancur tertusuki duri-duri bening yang mengesalkanku.  Aku mulai tak tahan.

“Jangan katakan kau punya seorang yang lain”, Maya mengisak.
Aku bertemu dengannya di suatu malam yang terang.  Ya, aku mempunyai seorang yang lain.  Kekasihku dari kehidupan yang abadi.

“Aku takkan melepaskanmu”.
Maya, istriku, ini ancaman darimu?  Apakah kesementaraan dapat mengancam sebuah penujuan keabadian?  Aku akan pulang bersatu dengan kekasihku.  Maya, sudahlah.  Biarkan aku pergi.

Dan Maya tetap memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian.  Semalaman aku dikuburnya dalam-dalam.  Kekasihku datang menemuiku dalam satu kesunyian.  Maya tengah terlelap dalam mimpi malamnya.  Lagi-lagi kekasihku mengajakku untuk bersatu dengannya.  “Apa yang kautunggu?  Sampai kematian itu memanggil dan merebutmu lagi untuk tenggelam dalam kesedihan ini?”  Kekasihku mengulurkan tangannya kepadaku.

“Maya adalah kematian yang ingin selalu mengurungku di sini.  Ia adalah kematian yang memiliki warna kesedihannya sendiri.  Yang dapat membuatku selalu jatuh dan kembali padanya”.

“Pulanglah.  Jangan menyiksa dirimu sendiri.  Kematian itu sudah terlalu lama melakukannya padamu dan jiwa-jiwa lainnya.  Mengapa kau masih ingin memelihara tangisan yang merugikan?”

Kutatap kekasihku yang begitu lama kurindu.  “Aku pulang bersamamu”, kataku.  Dan aku bangkit meninggalkan rumahku, menuju rumah cinta bersama kekasihku.

Dan ini adalah yang kesekian kalinya Maya mencoba menahan kepergianku.  Tubuhnya hanya terbalut pakaian tidur tipis ketika mengejarku.  Tidak, jangan lagi.  Pikirku.

“Baiklah.  Kau boleh pergi.  Bukankah kau selalu ingin pergi?  Seperti dulu, saat kau berkeras ingin menjadi seorang penulis.  Kau juga mengatakan itu sebagai kepergian atas sebuah panggilan.  Kau bilang aku tak sampai untuk mendengar panggilan itu.  Seperti itukah kali ini yang kaulakukan?  Dan kau menyuruhku untuk melepasmu lagi, seperti dulu kubiarkan kau pergi di jalan ke penulisanmu yang nyata-nyata nyaris membunuhku?  Betapa egoisnya kau”.

Suara Maya menjadi petir di malam itu.  Benarkah?  Batinku.  Mungkinkah kematian ini menemui mati yang kedua kali karena sebuah kepergian?  Peninggalan?  Maya, istriku, kali ini kau memanggilku dengan cara yang berbeda.  Kesedihan yang lain.  Tapi mengapa aku harus menoleh dan mendengarkan?  Mengapa aku harus melupakan kekasihku dan menemuimu kembali?  Mengapa aku harus menemanimu dalam kematian ini untuk terus bersedih dan tenggelam dalam kesementaraan?  Bagaimana dengan kekasihku yang menungguku begitu lama?  Aku demikian cemas.  Terhadap kekasihku yang mulai melenyapkan dirinya di benakku.

Maya mendekat.  Menghampiriku yang mencari bayang kekasihku yang hilang.  Setengah sadar, aku sudah berada dalam pelukan yang sangat kukenal.  Pelukan beraroma kematian.  Maya mendekapku erat.  Jiwaku terus memikirkan kekasihku yang entah kemana.  Tunggu aku, kekasihku.  Aku akan datang.  Segera.

Aku berduka.  Karena penyatuan yang sekali lagi harus tertunda.  Tapi pikiranku memberiku jalan lain.  Mungkin kelak aku mesti mengajak Maya, istriku.  Untuk meninggalkan kematian ini.  Berkenalan dengan kekasihku yang abadi.  Tetapi Maya memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian.  Malam itu, dan malam-malam yang lain.


 ***


Sidoarjo, 2004

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: