JANGAN PERNAH LENGAH


Sumber : http://www.ikadi.co.id

Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 21, 3 Juni 2011 M / 2 Rajab 1432 H

.
“Hendaklah, seorang mukmin akan selalu memandang dosanya seperti halnya orang yang duduk di bawah kaki gunung dan ia takut gunung itu akan runtuh menimpanya.  Sedangkan, orang yang fajir (yang maknanya berlawanan dengan kata mukmin) akan memandang dosanya seperti lalat yang terbang dan hinggap di batang hidungnya”.  
(HR. Bukhari)

.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, seorang mukmin akan selalu memandang dosanya seperti halnya orang yang duduk di bawah kaki gunung dan ia takut gunung itu akan runtuh menimpanya.  Sedangkan, orang yang fajir (yang maknanya berlawanan dengan kata mukmin) akan memandang dosanya seperti lalat yang terbang dan hinggap di batang hidungnya”.  (HR. Bukhari).  Lebih lanjut, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat hamba-hamba-Nya dibandingkan dengan seseorang yang turun pada satu tempat yang sudah hancur, sambil membawaa air dan makanan di hewan tunggangannya.  Tak lama kemudian, ia menyandarkan kepalanya, lalu tertidur pulas.  Ketika bangun, ia tidak menembukan hewan tunggangannya tersebut hingga ia diserang hawa panas sampai kehausan dan kelaparan.  Ia lantas memasrahkan semuanya kepada Allah SWT.  Setelah mencari ke sana kemari dan tidak menemukan yang dicarinya, ia lantas berkata, ‘Aku akan kembali saja ke tempatku semula’.  Setelah sampai, ia kembali tidur pulas.  Ketika bangun, hewan tunggangannya telah kembali berada di sisinya”. (HR. Bukhari)

Manusia bisa juga disebut insan, karena mereka dalam hal-hal tertentu sering lupa dan lalai untuk berbuat kebaikan.  Kelalaian ini akhirnya berujung dosa dan kesalahan akibat pelanggaran yang dilakukan terhadap rambu-rambu yang Allah SWT sudah tentukan.  Padahal dosa adalah nilai buruk di sisi Allah SWT yang akan membuat seorang hamba menderita di hari akhirat kelak.  Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah dan dosa.  Ini yang Nabi saw. singgung dalam hadits lain, bahwa iman manusia itu sifatnya fluktuatif (kadang tinggi, sedang, dan rendah).  Berbeda dengan iman para Malaikat yang stabil dan tidak pernah berubah.  Atau berbeda pula dengan iblis yang selalu berada di tingkat rendahnya.

Pada saat manusia berada pada puncak keimanan, ia akan bisa melampaui iman para malaikat.  Namun, ketika imannya rendah, ia bisa lebih rendah dari iblis.  Dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami akan isi api neraka jahanam dengan kebanyakan jin dan manusia, karena mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah).  Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al A’raf [7] : 179)

Ketika iman berada pada titik nadirnya yang paling mengkhawatirkan, di sinilah dosa-dosa itu bermunculan bak jamur yang tumbuh di musim hujan.  Pada saat seperti ini, Allah SWT menegur hamba-hamba-Nya untuk segera bertaubat.  Karena, dengan taubat itulah, seorang yang telah berdosa dijamin pasti akan diampuni, sehingga kembali lagi ke level iman tertingginya.  “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian semuanya jika bertaubat.  Sesunggunya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar [39] : 53)

Lengah menjaga dan memperkuat iman berarti memudahkan syetan menguasai diri kita.  Lengah mengingat Allah berarti melemahkan pertahanan diri dari serangan syetan.  Lengah memadati waktu demi waktu dengan amal shaleh berarti memudahkan diri terjerumus dalam tindakan salah atau sia-sia.  Lengah mengendalikan diri dari penguasaan malas berbuat kebaikan berarti kemungkinan besar menyeret diri pada situasi yang berbuah penyesalan.  Lengah membiarkan iman menurun drastis tanpa kesadaran dan perlawanan, adalah ancaman serius akan terjerumus pada su’ul khatimah.

Wallahu a’alam bish shawab
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: