LUASKAN PANDANGAN, LUASKAN HATI


Disalin dari : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun V/17 September 1431 H / 2010 M
.
.

Sungguh menakjubkan alam ini diciptakan.   Terdapat miliaran planet yang masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri.  Di bumi tempat kita hidup terhampar luas daratan, lautan, hutan, gunung-gunung, dan sebagainya.   Di dalamnya terdapat berbagai unsur yang dibutuhkan bagi kehidupan, seperti hewan, tanaman, air, mineral, protein, dan karbondioksida.

Di bumi ini pula manusia ditempatkan pada wilayah dengan keadaan alam yang berbeda, sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam bentuk fisik, makanan, dan bahasanya, berbeda pula adat istiadat, kebiasaan, dan budayanya.

Allah Ta’ala maha luas kekuasaan serta ilmu-Nya, maha luas rahmat-Nya, maha luas ampunan-Nya.

“Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu.  Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)?” (QS. Al An’am [6] : 80).

“Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah [2] : 115).

“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas Ampunan-Nya” (QS An Najm [53] : 32)

Dari keluasan lahirlah perbedaan, sebuah sunnatullah yang tidak bisa dielakkan.   Lantas, apakah perbedaan itu diciptakan oleh Allah tanpa maksud dan tujuan?

Apakah perbedaan mesti menjadi sumber perselisihan?  Tentu saja tidak!  Allah telah menegaskan :

Jikalau Tuhan menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu (yaitu para rasul), dan untuk (perbedaan pendapat) itulah Allah menciptakan mereka, kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, “Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya” (QS. Hud [11] : 118 – 119).

Justru di sinilah peran Islam dalam mengikat semua perbedaan itu menjadi indah dalam persatuan dan persaudaraan.  Persaudaraan yang diikat oleh iman dan taqwa kepada Allah Ta’ala.

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal.  Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS. Al Hujurat [49] : 13)

Perbedaan itu merupakan rahmat dari Allah, menjadi indah untuk terjadinya ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), dan ta’awun (saling membantu) di antara satu dengan yang lainnya.

Demikian pula dengan ajaran Islam.  Kita tidak bisa membayangkan andaikata Allah mendirikan syariat agama ini sama dan tidak ada yang boleh berubah.

Bayangkan jika si sakit diperlakukan sama dengan si sehat, si lemah sama dengan si kuat, si muallaf sama dengan faqih, tentunya orang akan mendapatkan banyak kesulitan dalam beragama ini.

Sungguh Maha Bijaksana Allah yang menjadikan dari syariat ini hal-hal yang jelas, tetap, dan tidak boleh berubah, yaitu masalah-masalah prinsip (ushul).  Sedangkan masalah-masalah yang bersifat cabang (furu‘) seperti budaya (‘urf) atau masalah kemaslahatan umum (mashalihul mursalah), maka Allah akan memberikan kelonggaran untuk terjadinya perbedaan.  Dalam wilayah inilah terbuka kesempatan terjadinya perbedaan pandangan pada ulama dan mujtahid.

Keluasan pandang Rasulullah merupakan teladan dalam kehidupan kita.  Beliau telah mengajarkan bagaimana menghadapi masyarakat yang berbeda.  Suatu saat beliau ditanya oleh seorang sahabat, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, “Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?”  Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”.  Sahabat bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?”  Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”.  Sahabat bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?”  Beliau menjawab, “Haji mabrur”.

Tetapi pada kesempatan yang lain, ketika pertanyaan yang sama disampaikan kepada beliau oleh sahabat yang lain, jawaban beliau ternyata berbeda dengan apa yang telah disampaikan sebelumnya.  “Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling baik?”  Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya, kemudian berbhakti kepada kedua orang tua, kemudian jihad di jalan Allah”. (Riwayat Bukhari).

Dalam kasus tersebut kita mendapatkan pelajaran bagaimana seharusnya memberikan jawaban kepada seseorang sesuai dengan kualitas pemahaman  ke-Islaman mereka.   Tampaklah bagaimana keluasan cakrawala pandang serta kebijaksanaan Rasulullah.

Salafush Shaleh Imam Syafi’i berkata, “Menurutku boleh jadi pendapatku benar tetapi ada kemungkinan salah, dan pendapat orang lain yang menurutku salah, tetapi ada kemungkinan benar”.

Wallah a’lam bi ash shawab
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: