KEAGUNGAN BISMILLAH


Sumber : Buletin Jumat AL IHSAN; Edisi : Th V/24 Desember 2010 M / 1432 H


Dalam Hadits Rasulullah saw., bersabda, “Setiap pekerjaan yang baik, jika tidak dimulai dengan ‘Bismillah’ (menyebut nama Allah) maka (pekerjaan tersebut) akan terputus (dari keberkahan Allah)”

Dalam keseharian kita tentunya selalu melakukan kegiatan dan aktifitas, tanpa kegiatan dan aktifitas kehidupan kita akan hampa, hambar, dan tidak produktif.  Kegiatan tersebut bisa dilakukan dimana saja, di rumah, di kantor, di jalan, di warung, di pasar, di sekolah, dan di tempat-tempat lainnya.  Dan bagi orang beriman – kegiatan atau aktifitas adalah sarana menebar kebajikan, baik kata maupun perbuatan selalu memberikan kebaikan pada dirinya dan orang lain.  Bukankah Rasulullah saw. mengumpamakan jati diri seorang muslim seperti seekor lebah.  Makanan yang dimakan adalah baik dan yang dikeluarkan pun baik, lebah hinggap atau tinggal tidak pernah merusak yang lainnya.

Namun kadang kala kebanyakan dari kita tidak sadar memulai segala aktifitas atau kegiatan tanpa mengucapkan membaca kalimat bismillah, padahal diterima atau tidak amal perbuatan seseorang tergantung pada kalimat tersebut.

Ketika bangun tidur sudahkah kita mengucapkan alhamdulillah dan memulai aktifitas hari itu dengan bismillah?

Ketika akan mandi, berpakaian, sarapan pagi, sudahkah kita memulainya dengan bismillah?

Ketika akan berangkat ke kantor, keluar dari rumah, naik kendaraan, sudahkah kita memulainya dengan bismillah?

Ketika di kantor, sudahkah kita masuk ruangan kantor, menyalakan komputer, membuka berkas atau file, membuka rapat, menulis, membaca memulainya dengan bismillah?

Begitu banyak lagi aktifitas yang kita lakukan dalam keseharian kita, namun sudahkah kita memulainya dengan bismillah?

Kadang kita menganggap hal tersebut adalah sepele, padahal di sisi Allah merupakan kebaikan yang bernilai besar, diberkahi atau tidaknya perbuatan dan aktifitas seseorang tergantung pada saat memulainya.

Sebenarnya apa sih keistimewaan dari bismillah sehingga Allah dan Rasul-Nya mensyariatkan kepada kita untuk memulai segala aktifitas dengan membaca bismillah?

Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa “bismillah merupakan inti kandungan ajaran Islam” karena di situ ada unsur keyakinan terhadap Allah yang telah memberikan kekuatan sehingga seseorang dapat melakukan aktiftas yang diinginkan, pengakuan akan ketidakberdayaan seseorang di hadapan Allah Taala.  “La haula wala quwwata illa billah” (Tiada daya dan upaya kecuali atas ijin Allah).  Apalagi kalau bacaannya disempurnakan dengan bismillahirrahmanirrahim maka kita telah meyakini akan kebesaran Allah yang telah memberikan nikmat dan karunia, kasih sayang, dan rahimnya kepada seluruh makhluk-Nya.

Jika kita runut secara bahasa, maka akan kita dapatkan keagungan kalimat bismillahirrahmanirrahim.  Kata bismillah misalnya merupakan tiga rangkaian kata yang mengandung arti yang agung, yaitu  Ba (bis), Ism, dan Allah.

  1. Huruf ba yang dibaca bi di sini mengandung dua arti : Pertama : huruf bi yang diterjemahkan dengan kata “dengan” menyimpan satu kata yang tidak terucapkan tetapi harus terlintas dalam benak ketika mengucapkan basmallah, yaitu memulai.  Sehingga bismillah berarti “saya atau kami memulai dengan nama Allah”.  Dengan demikian kalimat tersebut menjadi semacam doa atau pernyataan dari pengucap.  Atau dapat juga diartikan sebagai perintah dari Allah (walaupun kalimat tersebut tidak berbentuk perintah), “Mulailah dengan nama Allah!”
    Kedua : huruf bi yang diterjemahkan dengan kata “dengan” itu, dikaitkan dalam benak dengan kata “kekuasaan dan pertolongan”.  Pengucap basmallah seakan-akan berkata, “dengan kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlaksana”.  Pengucapnya seharusnya sadar bahwa tanpa kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, apa yang sedang dikerjakannya itu tidak akan berhasil.  Ia menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya tetapi pada saat yang sama setelah menghayati arti basmallah ini ia memiliki kekuatan dan rasa percaya diri karena ketika itu dia telah menyandarkan dirinya dan bermohon bantuan Allah Maha Kuasa itu.
  2. Kata Ism setelah hurug bi terambil dari kata as-sumuw yang berarti tinggi dan mulia atau dari kata as-simah yang berarti tanda.  Kata ini biasa diterjemahkan dengan nama.  Nama disebut ism, karena ia seharusnya dijunjung tinggi atau karena ia menjadi tanda bagi sesuatu. Syaikh Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan dengan penyebutan nama di sini berarti dirinya memulai pekerjaan dengan nama Allah dan atas perintah-Nya bukan atas dorongan hawa nafsu belaka.
  3. Kata Allah, berakar dari kata walaha yang berarti mengherankan atau menakjubkan dan mengherankan.  Karena itu terdapat petunjuk yang menyatakan, “Berpikirlah tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir tentang Dzat-Nya”.

Sementara itu, sebagian ulama mengungkapkan bahwa kata aliha ya’allahu yang berarti menuju dan bermohon.  Tuhan dinamai Allah karena seluruh makhluk menuju serta memohon kepada-Nya dalam memenuhi kebutuhan mereka, atau juga berarti menyembah dan mengabdi, sehingga lafazh Allah, berarti “Zat yang berhak disembah dan kepada-Nya tertuju segala pengabdian”

Wallah a’lam bi ash shawab

.

 

Satu Tanggapan to “KEAGUNGAN BISMILLAH”

  1. wpolscemamymocneseo Says:

    Nice post! This really helps me to find the answers to my question. Hoping that you will continue posting an article having a useful information. Thanks a lot!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: