PENIPU


Karya : Maria Magdalena Bhoernomo

Sumber : Suara Pembaruan, Edisi 07/13/2003

 

Wanita muda itu berpenampilan dekil, seperti umumnya pengemis yang meminta-minta belas kasihan dari rumah ke rumah.  Ia menenteng tas plastik kresek hitam yang menggelembung, berisi entah apa.  Ia muncul di depan rumahku, ketika sore hampir gelap.

Karena menganggapnya sebagai seorang pengemis, aku segera memberinya tiga keping uang logam pecahan seratus rupiah.

Tetapi ia ternyata menolak pemberianku.  “Saya bukan pengemis, Bu”, protesnya pelan.  Wajahnya tampak lesu.

Seketika aku tercengang.  Kutatap wajahnya tajam-tajam.  Sekilas aku berprasangka buruk terhadapnya.  Mungkinkah ia ingin berbuat jahat, atau setidaknya ingin mencari gara-gara?

“Saya bukan pengemis, Bu.  Saya datang kemari ingin menumpang hidup.  Saya bersedia bekerja sebagai pembantu, meskipun tidak mendapat gaji.  Saya sudah cukup senang kalau bisa makan setiap hari”, tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Rasa iba segera mendera dinding hatiku.  Sebagai sesama perempuan, rasanya aku layak kasihan melihat nasib wanita muda yang mungkin sedang didera penderitaan hidup yang berat itu.  Lalu prasangka buruk terhadapnya segera kutepis.

Kemudian dengan sikap iba kuajak ia masuk ke ruang tamu.  Aku ingin mengizinkannya menginap di rumahku, setidaknya untuk semalam saja.

Aku menduga, jika aku tidak menolongnya dengan mengizinkannya menginap di rumahku, mungkin ia akan kemalaman di jalan yang tentu saja akan sangat riskan baginya.

Aku juga terbayang kasus-kasus kejahatan terhadap perempuan.  Sekarang, semua jalan bisa dianggap tidak aman bagi setiap perempuan, kecuali bagi perempuan-perempuan malam yang memang sudah menjadi bagian dari kehidupan jalanan.

“Saya tidak berani pulang ke kampung, Bu”, ujarnya dengan menangis.

“Cobalah kamu bercerita dengan jujur dan terbuka.  Kenalkan siapa dirimu, dari mana asalmu, apa tujuanmu?”  Aku merasa perlu untuk bersikap seperti penyidik.

Sambil terisak-isak, ia kemudian memperkenalkan dirinya.  “Nama saya Ginah.  Saya berasal dari Sampit.  Saya melarikan diri sampai kemudian terdampar di kota ini, setelah kerusuhan menghanguskan rumah dan membantai suami dan kedua anak saya.  Suami saya tewas dengan sangat mengenaskan, lehernya dipenggal.  Kedua anak saya lebih mengenaskan, mayat mereka dicincang-cincang menjadi beberapa bagian”.

Merinding bulu kudukku.  Berita tentang kerusuhan di Sampit itu, dulu sudah sering kutemukan di koran dan majalah, juga di layar terlevisi.  Dan kini, aku mendengar berita mengenaskan itu langsung dari mulut wanita yang tampaknya sangat menderita.  Terlintas aku ingin mengizinkannya untuk selamanya tinggal di rumahku, menjadi pembantu rumah tangga, dan kuanggap sebagai anggota keluargaku.

“Sebelum sampai di sini, saya sudah terlunta-lunta di beberapa kota, Bu.  Bahkan saya pernah beberapa kali nyaris diperkosa oleh lelaki-lelaki yang berpura-pura hendak menolong saya.  Saya sudah putus asa.  Mungkin kalau saya tidak mendapat tempat untuk tinggal dan tidak mendapat pekerjaan yang baik, saya akan terpaksa menjual diri”, tuturnya lagi dengan sekali-sekali menyeka air matanya.

Nuraniku sebagai perempuan seolah-olah mendesakku bersiteguh untuk menolongnya.  Mungkin, kalau aku tidak memberinya tumpangan untuk hidup, ia benar-benar akan putus asa kemudian menjadi pelacur.

Ah, kalau ia kemudian menjadi pelacur, gara-gara aku tidak bersedia menolongnya, bukankah aku akan merasa ikut berdosa?  Selintas aku teringat ceramah kyai di surau, bahwa siapa saja yang turut serta, langsung maupun tidak langsung, memberi peluang kepada seseorang untuk terpaksa berbuat dosa maka akan ikut menanggung dosa.

“Sampai kapanpun, tak mungkin saya berani pulang ke daerah saya, Bu.  Saya tidak akan tahan mengenang kekejaman yang menimpa suami dan anak-anak saya”, tuturnya lagi.

“Baiklah.  Untuk sementara, kamu boleh tinggal di sini.  Kamu bisa tidur di kamar belakang.  Dan kebetulan aku belum punya pembantu.  Kalau kamu memang bersedia bekerja di sini, aku akan memberimu gaji ala kadarnya”, tegasku mantap.

Ia menyeka air matanya sambil mengucapkan kata terima kasih.  “Saya tidak mengharap mendapatkan gaji, Bu.  Saya sudah sangat senang kalau bisa makan sehari-hari”.

Sejak Ginah tinggal di rumahku, aku bisa agak santai.  Pekerjaan mengepel, menyapu, memasak, dan mencuci yang dulu setiap hariku kerjakan sendiri, kini sudah diambil alih oleh Ginah.  Meski anggaran belanja harian membengkak, rasanya aku tidak keberatan.  Naiknya anggaran belanja harian itu, kuanggap bukan merupakan kerugian, tetapi justru kuanggap sebagai keuntungan, karena aku bisa bernapas lega dan juga punya teman bicara di rumah.  Selama ini, sebagai istri, aku selalu kesepian di rumah, karena aku belum juga mendapat momongan, sedangkan suamiku sepanjang hari berada di kantor dan baru pulang pada jam delapan malam.  Bahkan, suamiku sering tidak pulang karena harus kerja lembur.

Yang lebih membuatku lega adalah sikap suamiku terhadap keberadaan Ginah di rumah kami.  Setelah kuceritakan alasanku menolong Ginah, serta kujelaskan asal-usulnya dan penderitaan yang menimpanya, suamiku justru memuji-muji aku.

“Ternyata kamu seorang perempuan yang masih punya hati nurani.  Biasanya, perempuan tidak peduli terhadap penderitaan perempuan lain, bukan?” ujar suamiku.

Begitulah.  Tanpa terasa, sudah tiga bulan Ginah tinggal di rumahku.  Dan di mata tetangga-tetanggaku, Ginah dianggap sebagai pembantuku.  Dan karena sikapnya sopan dan jujur, aku semakin mempercayainya.

Pernah aku menguji kejujuran Ginah dengan sengaja menjatuhkan dompetku berisi uang seratus ribu rupiah di halaman rumah.  Ternyata, setelah menemukan dompetku itu, Ginah segera menyerahkannya kepadaku.

Aku juga pernah menguji kejujuran Ginah dengan menyuruhnya membeli tiga kilogram gula pasir di pasar dengan memberinya uang pecahan seratus ribu rupiah.  Ternyata ia pulang kembali ke rumahku.

Suatu saat, perbuatanku menguji kejujuran Ginah itu kuceritakan kepada suamiku.  Dan suamiku langsung berkomentar sinis.  “Ternyata teori tentang perempuan yang selalu cenderung mencurigai perempuan lain bukan cuma omong kosong”.

Malu aku jadinya.  Tapi suamiku kemudian memaklumi kecurigaanku terhadap Ginah, karena Ginah adalah orang asing yang datang tanpa membawa KTP atau identitas lainnya.  “Sekarang kamu tidak perlu meragukan lagi kejujuran Ginah!  Tapi kamu harus tetap waspada dan berhati-hati!  Siapa saja bisa berubah sikap, bukan?” tutur suamiku.

Tetapi meskipun aku sudah mempercayai kejujuran Ginah, ada perasaan gundah yang lama-lama menekan dadaku.  Setiap kali memperhatikan wajah Ginah, aku selalu merasa rendah diri.  Wajah Ginah cukup manis.  Tubuh Ginah juga lebih segar dibanding tubuhku, karena usianya memang lebih muda dibanding umurku.  Sering aku berkhayal yang bukan-bukan.  Suatu saat, Ginah bisa menjadi sainganku, bahkan bisa merebut suamiku.  Mungkin Ginah yang akan menggoda suamiku, atau justru suamiku yang akan menggodanya.

Perasaan galau itu semakin menekan dadaku, setiap kali suamiku pulang siang atau sedang libur dan santai di rumah.  Tetapi aku tetap mencoba untuk tenang-tenang saja.

Suatu siang, aku dan suamiku harus pergi menghadiri pesta pernikahan kerabat di desa lain.  Ginah berada di rumah sendirian.  Kami sudah mengunci lemari dan kamar tidur kami, sedangkan kuncinya kubawa pergi.  Memang, meski sudah mempercayai kejujuran Ginah, kami merasa tetap perlu berhati-hati.

Dan ketika kami pulang, Ginah ternyata tidak ada di rumah.  Sedangkan kamar tidur kami serta lemari tampak terbuka lebar-lebar.  Pesawat TV, kulkas, mesin cuci, seterika, dan semua perhiasanku yang kusimpan di lemari, lenyap.

Aku hanya bisa menangis.  Suamiku tampak sangat marah hingga napasnya mendengus-dengus.

“Kita harus segera melaporkannya ke polisi, Mas!”

Suamiku setuju.  Lalu kami bergegas ke kantor polisi.

Setelah kami menjelaskan kasus yang terjadi di rumah kami, serta menjelaskan ciri-ciri identitas Ginah, seorang polisi tertawa geli.

“Sekarang memang banyak kasus penipuan dengan modus operandi yang aneh-aneh.  Dan percayalah, kami tidak akan berhenti memburu wanita itu sampai berhasil menangkapnya!” tegas polisi itu.

Dan dua hari berikutnya, aku menerima surat Ginah yang diantar oleh pak pos.  Dengan kesalku baca surat itu :
“Maafkan saya, Bu.  Saya terpaksa pergi tanpa pamit.  Saya juga terpaksa membawa barang-barang milik Ibu untuk bekal hidup saya selanjutnya.  Dan lewat surat ini terpaksa saya jelaskan bahwa saya sudah hamil tiga bulan.  Suami Ibu yang menghamili saya!  Harap maklum dan terima kasih”.

 

 

Kudus, Senin 12 May 2003
.

2 Tanggapan to “PENIPU”

  1. wpolscemamymocneseo Says:

    thanks for the great post!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: