LUWENG


Karya : Jajak MD

Sumber : Suara Pembaruan, Edisi 08/03/2003

 

Pak Tua itu baru beberapa hari berada di rumah anaknya yang menjadi ahli geologi di kota Y.  Ia berusaha mengenang kembali masa mudanya di kota ini, karena dulu, lebih dari 20 tahun lamanya ia tinggal di sini.  Yakni, jauh sebelum ia menikah dan tentu saja si ahli geologi itu juga belum ada.

Akan tetapi malam hari keempat ia berada di sana, sang anak mengajaknya pergi ke daerah W keesokan harinya, bila mana sang ayah mau.  Mendengar ajakan ini, sang ayah sesaat merenung.  Ia tiba-tiba saja teringat pada suatu kejadian yang sangat mengerikan yang pernah disaksikannya di sana.  Tetapi ia bukannya menolak.  Justru karena pengalamannya itulah ia menerima dengan penuh gairah.

Pagi-pagi sekali ia sudah bangun.  Setelah minum kopi dan makan roti bersama anaknya, mereka berangkat bertiga dengan seorang sopir.  Perjalanan menuju ke kota W memang tidak lebih dari dua jam.  Di tengah perjalanan yang menanjak terus itu, mereka hanya berhenti sejenak di tempat yang paling tinggi untuk buang air kecil.

Tiba di tujuan, anaknya minta ditinggal di sebuah kantor yang ditujunya.  Lalu kepada sopir dan bapaknya ia mempersilakan boleh kemana saja sesuai dengan keinginan bapaknya.  Ia memang tahu betul, bahwa bapaknya akrab dengan daerah itu.  Terutama mengenai apa yang terjadi di kala mudanya.  Baik saat ia mengikuti orang-orang film dari Jakarta membuat film, maupun saat terjadi pemberontakan politik yang banyak sekali memakan korban.

Sang bapak menerima dengan senang hati tawaran itu.  Lalu mereka berdua segera kabur ke arah pantai di selatan.  Di sinilah dulu untuk pertama kalinya ia melihat pantai yang berombak cukup seram.  Di sinilah pula ia pernah menikmati love affair dengan orang film, kendati pun hanya untuk beberapa hari saja lamanya.

Dari sana mereka berdua pergi ke lain jurusan.  Yang ini, memasuki daerah pedusunan dengan jalan yang berkelok-kelok dan di kiri kanannya tebing yang curam.  Akhirnya, tibalah mereka di sebuah desa.  Desa ini sepi.  Hanya bunyi kokok ayam jantan dan burung-burung di pohon saja yang terdengar.  Barangkali saja karena siang hari.  Semua lelaki pergi ke sawah atau ladang.  Juga mungkin perempuan-perempuannya.  Jip diberhentikan di dekat sebuah cakruk ronda di pinggir desa.  Lelaki tua itu turun.  Tetapi sopirnya tidak ikut karena ia ingin tidur barang sebentar.

Dengan mata menerawang jauh ke depan, lelaki tua itu berusaha mengingat-ingat jalan yang pernah dilewatinya.  Ia berusaha menebak-nebak jalan mana yang pernah dilaluinya waktu itu, karena ditempuhnya pada malam hari yang gelap dan sepi.  Ia pun terus berjalan menuju ke suatu tempat yang tinggi, namun tak jauh dari situ kelihatan sebatang sungai mengalir.  Nah, di sinilah ia mulai ingat dan mengenalinya.  Tidak jauh dari situ memang terdapat cadas menjorok ke atas sungai, yang oleh orang dusun di situ disebut sebagai wot lemah.  Dari situlah biasanya para pendatang melihat aliran sungai di bawahnya itu mengalir ke selatan, tetapi yang kemudian berakhir dengan memasuki sebuah lubang yang disebut luweng.  Inilah yang lebih dikenal sebagai Luweng S, karena letaknya yang dekat dengan Desa S.

Ia pun lalu menuju ke sana.  Kini matahari sudah berada di atas kepalanya.  Namun sama sekali tidak mempengaruhi dirinya.  Apalagi saat itu angin terus bertiup kencang dari arah gunung yang tinggi menuju ke lembah.

Sayup-sayup kini ingatannya mulai kembali.  Ia berusaha menghitung berapa tahun sudah daerah itu pernah didatanginya.  Tak kurang dari 34 tahun lalu, kata batinnya.  Ya, malam itu memang masih sore. Mungkin sekali baru pukul delapan.  Tetapi apa yang ditatapnya, ternyata bagaikan sebuah mimpi.

Pukul enam sore sebelumnya, ia ikut seorang letnan tentara yang sudah lama menjadi sahabat kentalnya.  Letnan itu pagi hari sebelumnya menyampaikan kabar kepadanya bahwa sore hari nanti ia mendapat giliran tugas mengawal para tahanan untuk dibawa ke Luweng.  Kalau dirinya ingin ikut, akan disamper dan sekaligus agar tahu seperti apa sesungguhnya eksekusi itu dilakukan.

Betul, sejam sebelumnya ia sudah disamper oleh letnan itu.  Dengan mengendarai sebuah jip mereka berdua memasuki benteng V, yang terletak di pusat kota. Benteng ini dijaga kelewat ketat, dan tertutup rapat-rapat.  Tetapi semua orang di situ sudah sangat mengenali letnan tersebut.  Karenanya, dibiarkannya saja langsung masuk ke dalam.

Tiga buah truk tertutup rapat dengan kain terpal hijau sudah berjajar dan sudah mulai dimasuki oleh sejumlah tahanan kuyu-kuyu yang semuanya laki-laki.  Mereka akan segera diberangkatkan menuju ke atas.  Tugas itu dilakukan oleh sejumlah tentara yang bersenjata lengkap.  Setiap truknya, memuat sekitar 50 tahanan.

Mereka memang tidak diikat.  Tetapi diharuskan segera duduk bersila di lantai truk menghadap ke depan.  Mereka berhimpitan.  Sepintas tampaknya mereka sudah tahu bahwa umur mereka tinggal beberapa jam saja.  Buktinya, di antara mereka ada yang menangis tersedu-sedu, sementara yang lainnya berdoa.  Sisanya, berdiam diri saja sepertinya sudah tahu benar bahwa semuanya itu sudah tak ada gunanya lagi.

Semuanya sudah siap.  Tiga truk sudah mulai dihidupkan mesin-mesinnya.  Tetapi tidak segera berangkat.  Beberapa orang tentara pun sudah duduk di bibir truk bagian belakang.  Ternyata, semuanya ini menunggu bunyinya sirene tanda jam malam dimulai.  Betul, tidak lebih dari sepuluh menit berikutnya, sirene kota itu berbunyi nyaring.  Maka mulailah truk-truk itu bergerak secara pelan-pelan keluar meninggalkan pintu gerbang benteng.

Dalam jip yang membawanya, ada seorang pembantu letnan, dua orang sersan dan seorang sopir.  Jadi mereka berlima.  Tetapi bersenjata lengkap.  Sampai dengan di tempat tujuan nantipun, jip tetap saja berada di belakang mereka.

Oleh karena jam malam sudah mulai berlaku di seantero wilayah, maka sepanjang jalanan yang dilaluinya pun
tak terlihat adanya manusia.  Bahkan semua desa-desa yang dilaluinya, hanya terlihat seperti cungkup-cungkup kuburan yang menakutkan.  Sinar lampu pun nyaris tak kelihatan.  Hanya lewat lubang-lubang dinding sajalah cahayanya terlihat menyorot menembus keluar.

Tiba di tempat yang tidak jauh dari Luweng, semua truk berhenti.  Lalu sebuah truk yang paling depan menurunkan para “penumpangnya”.  Mereka diperintahkan berjalan berbaris satu-satu, di bawah ancaman senjata.  Mereka berjalan menuju ke Luweng yang hitam kelam itu, yang hanya menyuarakan gerojoknya air tidak begitu gemuruh.  Mereka melek semuanya.  Tak ada satu pun yang ditutupi matanya.  Tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mencoba melarikan diri.  Memang tak ada artinya kalau saja hal ini dilakukan.

Tidak lama antaranya, mereka sudah habis.  Lalu giliran truk kedua.  Sama juga kejadiannya.  Dalam beberapa
saat saja mereka sudah lenyap ditelan bumi.  Kini di langit terlihat adanya sepotong bulan, sehingga bayang-bayang tentara yang baru saja mengeksekusi tahanan itu terlihat seperti segerombolan serigala yang kekenyangan.

Kini giliran truk ketiga.  Tak ada bedanya.  Mereka turun satu per satu dan berbaris ke arah lubang neraka yang sudah tersedia itu.  Tak usah dijelaskan lagi.  Tamatlah riwayatnya.  Dan usailah sudah tugas mereka malam itu, tanpa letupan senapan dan peluru.

Malam itu mereka kembali turun, dengan jip masih dalam posisi di belakang.  Setibanya di kota, ketiga buah truk itu langsung masuk ke dalam benteng.  Tetapi jip tidak ikut.  Mereka menuju ke Markas Besar Tentara yang ada dibagian utara kota.  Di sana letnan sahabatnya itu melapor.  Lalu pulang mengantarkan dirinya.

Setengah malam sisanya, ia tak bisa memejamkan mata.  Pikirannya masih tertinggal di daerah yang mengerikan itu.  Ia sama sekali tidak menduga bahwa bangsanya telah melakukan pembantaian yang demikian kejinya, demikian rapinya.  Pembantaian tanpa bukti.  Pembantaian yang barangkali paling sempurna di dunia, karena sampai kapanpun belum tentu bisa diungkapkan rahasianya.

Peristiwa yang baru disaksikannya itu, ternyata telah membuat dirinya menjadi traumatis.  Namun ia masih penasaran juga, karena belum tahu misterinya.  Bagaimana mungkin 150 orang dimasukkan ke lubang dalam sesaat saja, sementara lubang itu tetap menganga seperti mengharapkan yang lainnya.

Oleh karena rasa penasarannya itu terus mengusik dirinya, maka ia pun berusaha menemui letnan sahabatnya itu.  Ia dengan keras minta diterangkan, bagaimana mungkin orang-orang itu tanpa melakukan perlawanan sama sekali.  Bagaimana para tahanan itu tak seorang pun yang berusaha lari?  Apakah mereka sudah benar-benar pasrah dan menyerah?  Atau karena mereka sudah tidak dikasih makan sejak pagi harinya agar tidak mempunyai kekuatan sama sekali?  Sudah sejak kapan dan akan berakhir hingga kapan pembantaian itu?

Letnan sahabatnya itu akhirnya menceritakannya dengan datar.  Katanya, pembantaian itu masih akan terus berlangsung sampai dengan kiriman tahanan dari daerah-daerah pelosok tanah air ini berhenti sama sekali.  Jadi jelasnya, benteng itu hanya untuk transit saja.  Barang siapa yang dikirim ke situ, maka vonisnya adalah masuk ke Luweng!

Lalu bagaimana mungkin luweng itu bisa menampung mereka yang akhirnya akan menampung beribu-ribu manusia?  Ternyata ceritanya adalah begini : Sungai kecil itu mengalirkan airnya masuk ke sana.  Tetapi seberapa dalamnya luweng itu, orang tidak ada yang tahu.  Sebab dilihat dari atas dengan helikopter pun yang terlihat hanyalah seperti sebuah sumur hitam saja.

Namun jangan dikira, sebab lorong di dalamnya sepanjang kira-kira 17 kilometer menuju Laut Selatan.  Orang juga tidak tahu apakah lorong itu berkelok-kelok atau lurus saja adanya.  Namun mereka yakin karena percobaan dengan membuang berkarung-karung serbuk gergajian kayu dari luweng itu akhirnya tiba juga di sebuah lubang yang ada di pantai selatan.

Hebatnya lagi, kedua mulut lubang itu menjadi semacam mulut pompa hidrolik.  Kalau lubang di pantai tertutup ombak dengan kerasnya, angin terdorong ke atas dan tiba di mulut luweng.  Sebaliknya pada saat mulut di pantai terbuka, angin berbalik keluar dari dalam luweng.  Dan siapa pun yang berada di dekatnya, langsung akan tersedot olehnya.  Itulah sebabnya tidak secuil pun daging dan tulang ditemukan di pantai, dan kalau saja mereka tiba di sana, mereka akan langsung disantap oleh ikan-ikan hiu raksasa yang menghuni di Samudra India.

Tanpa disadari, lelaki tua itu meneteskan air matanya.  Ia menyadari, barangkali sejarah memang harus demikian.  Sebab jika pada saat itu para pemberontak politik itu yang menang, tidak mustahil malahan lebih keji lagi yang dilakukan terhadap lawan politiknya.  Atau bahkan juga kepada semua manusia yang menentangnya!

Matahari sudah condong ke barat.  Ia segera bergegas kembali ke desa dimana sopirnya menunggu.

 

 

Bekasi,  Agustus 2001
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: