HAJI IMUNG


Cerpen karya : Yanusa Nugroho
Dikutip dari : Suara Pembaruan, Edisi 08/10/2003

 

“Bersyukurlah bahwa kamu masih bisa berkedip…”, begitu ucap Haji Imung sambil berjalan perlahan-lahan.  Tangannya yang selalu terlipat ke belakang mana kala berjalan itu, kian menampilkan sosoknya yang kecil mungil.  Dia berjalan meninggalkan Gani dalam kesunyian malam.

Gani mungkin tidak mengerti benar apa yang diucapkan laki-laki usia enam puluh tahunan itu, tetapi hatinya tak bisa mengelak, bahwa ada sesuatu terjadi di sana.  Pohon duku yang entah sudah ada di kampung itu sejak kapan, menemaninya dalam kesunyian.  Lampu neon penerang jalan setapak kecil ke perkampungan bergetar-getar, sekarat seperti perasaan Gani saat itu.

“Lu masang dua angka… Cuma dua angka, kalau dapet…. gileeee..” ucapan Beny Ojek masih terngiang di telinganya.  Gampang.  Tidak usah banyak berpikir.  Hanya duduk, mereka-reka angka, membeli kuponnya, menunggu pengumuman dan..

“Ada orang pinter enggak?” bisik Beny, pada suatu kali.

“Ji Imung..”

“Memang dia dukun, ya?”

“Mungkin.  Pokoknya, yang kudengar, dia pinter.  Dia juga punya jin.  Makanya kalau jalan, tangannya ke belakang… tuh, lagi gendong jinnya yang kecil…”, tutur Gani sambil sesekali mengisap rokoknya.

Sunyi lagi.  Beny terdiam lama, seolah pikirannya sedang mengunyah sesuatu.  “Dia bener-bener bisa?” sambungnya sesaat kemudian.

“Ya, saya, sih, kata orang.. belum pernah langsung..”, jawabnya tenang.

Sebetulnya dia berharap jawabannya akan membuat Beny kendur, namun tak disangkanya, jawabannya justru membuat Beny penasaran.

“Kalau gitu, lu bilang.. sama Pak haji.. kita ke rumahnya, habis Isya..”

Malam itu, sehabis Isya, Beny dan Gani sudah duduk di beranda rumah Haji Imung.  Di halaman kecil dekat beranda itu ada kolam ikan, lengkap dengan pancuran kecil yang selalu gemericik.  Beberapa tanaman jenis paku bergerombol di tepi kolam sebelah kiri.  Sekali-sekali, seekor ikan melompat menangkap nyamuk yang terbang di permukaan air.  Bunyi kecuplak yang cukup keras di keheningan malam itu, membuat Beny dan Gani beberapa kali tersentak.

“Alaikumsalaaam…”, tiba-tiba suara Haji Imung membuat mereka tersentak dari kelengangan malam.  Dengan kaus putih, bersarung putih, dan peci putihnya, Haji Imung menyalami tamu-tamunya.

Setelah Haji Imung duduk, kedua tamunya masih saja terdiam mematung.  Beberapa kali Haji Imung terkekeh, dan kedua tamunya juga tertawa kecil.

“Ada apa, sih, Gani.. Beny.. nyari saya?” tanyanya dengan suaranya yang kecil-kering namun nadanya menyejukkan itu.

“Gini, Ji.. saya mau nganterin Beny..”

“Sebetulnya, kami punya keperluan yang sama, Ji”, buru-buru Beny menimpali jawaban Gani.  Gani sempat melirik tajam ke arah Beny, namun Beny tak acuh saja.

Haji Imung tertawa kecil.  “Iya.. ada apa?”

“Gimana, ya, ngomongnya…”, ucap Gani sambil garuk-garuk kepala.

“Laaah, ngomong aja.. apa saya ada kesalahan, atau ada janji saya yang kelupaan, atau…”

“Bukan gitu, Ji..  Gini.  Saya sama Gani mau minta tolong…”, ujar Beny hati-hati sekali.

“Iya, Ji.. mau Lebaran, nih”, tambah Gani lebih hati-hati lagi.

“Oooo.. gitu aja pakai malu-malu segala..  Berapa?”

“Bbb.. bukan gitu, Ji…”, Gani segera menjawab.

“Hah?  Lantas?”

Gani mengatur sikap duduknya.  Air berkecuplak.  Gani tersentak.  Haji Imung tersenyum.

“Gini, Ji.. saya dengar dari orang-orang, kalau Haji Imung adalah orang yang berilmu..”

“Ha ha hah ilmu apa?  Kalau ilmu agama, ya, ada.. tapi masih cetek..  Bisa aja.. Lu..” Haji Imung terkekeh, lalu mengeluarkan rokoknya.

“Ah, Haji merendah..”

“Iya, Ji.. saya sama Gani mau minta tolong..”

“Hmm.. iya, masalah kalian ini apa?”

“Gini, Ji…”, Beny berhenti sesaat, Gani menunduk, “… saya mau.. minta nomor…” ujarnya lirih sekali.

Haji Imung terdiam.  Dia mengisap rokoknya nikmat, lalu mengepulkannya perlahan.  Asap melenggok di beranda, tak tersentuh angin.  Keciplak kolam terdengar.  Gemericik air menjelas, mengisi sunyi.

“Nomor? Nomor apa-an?” Haji Imung bertanya dengan serius.

“Nomor buntut, Ji?”

“Buntut? Buntut kebo?”

“Mmm.. maaf Ji, .. togel ..”

“Bisa ceritain dulu, enggak, seperti apa, sih, permainan itu?” tutur Haji Imung dengan kesabarannya yang kian memancar.

Kedua orang itu kemudian menggambarkan bagaimana permainan itu dilakukan.  Setiap hari tertentu, mereka akan membeli kupon, memasang angka dan mendengarkan berita.  Bila nomor-nomor itu keluar mereka akan mendapatkan uang, beberapa kali lipat dari taruhan yang mereka pasang.

“Asyik juga, ya?” kata Haji Imung seolah larut dalam cerita kedua tamunya.

“Iya, Ji.. temen saya pernah pasang.. dapat empat angka.. wah, dia bisa beli motor baru.. ngojek.. aman dah…”, tambah Gani mulai berani.  Beny kemudian menimpali dengan cerita yang lebih seru lagi.

“Lu, Gani.. pernah menang?”

“Pernah, Ji.. sekali..”

“Dapat berapa?”

“Yah, lima belas ribu.. lumayan, Ji.. bisa nambah uang dapur”.

“Hmm.. terus?”

“Yaa.. gitu deh”,

“Gitu, deh, bagaimana?”

“Cuma sekali itu doang, Ji.. he he he he hhe”

Haji Imung ikut terkekeh.  “Terus, hubungannya sama saya, apa?”

Keduanya kembali terdiam.

Haji Imung memandang tamu-tamunya seorang demi seorang bergantian.

“Kata orang, Haji Imung bisa menebak nomor yang bakal keluar..”

“Hah? Sakti bener..  Siapa orang yang bilang begitu?  Kalau saya bisa nebak, ngapain cuma buntutnya, nah semuanya aja saya tebak.. kaya-raya, saya..  Iya,enggak?”

Kedua tamunya hanya menunduk, tahu bahwa harapannya kandas.

“Gini..” ucap Haji Imung, seolah merasakan kekecewaan kedua tamunya, “Lu berdua butuh duit berapa?  Kalau sekadar buat bikin ketupat aja, Insya Allah saya ada”.

“Ji, maaf nih sebelumnya.. saya sendiri enggak mau ngutang atau minta-minta.. saya mau sekali ini saja usaha saya lancar, habis itu..  Tapi.. yang sekali ini, saya minta dapatnya gede”.

Haji Imung terdiam.  Dia lalu berdiri, masuk rumah.

Kedua tamunya terdiam, saling berpandangan.

“Kata Lu, dia bisa..” bisik Beny.

“Gua kan udah bilang, itu kata orang..” jawab Gani tak kalah ngototnya.

Pembicaraan terputus karena Haji Imung tiba-tiba sudah ada di beranda lagi.  Di tangannya ada sebungkus makanan ikan.  Tanpa ba – bi – bu, dijumputnya makanan ikan itu dan ditaburkannya ke kolam.  Ikan-ikan berlompatan, berebutan makanan.

“Gini.. kalau kalian masih penasaran, gua mau nolong kalian.  Tapi ada syaratnya”, ucap Haji Imung tanpa memandang kedua tamunya, dia asyik menatap ikan-ikan yang berebut makanan.

“Apa Ji?”

“Lu bakalan dapat duit seratus juta rupiah, dari gue.. malam ini juga…”, Haji Imung memandang mata tamu-tamunya, “tapi.. syaratnya berat..”

Beny dan Gani tak peduli dengan kalimat Haji Imung, yang ada di benak mereka adalah setumpuk uang berjumlah seratus juta rupiah.  Bayangan kemewahan segera silih berganti di benak mereka.  Beny sudah membayangkan duduk di kursi pengantin untuk yang ketiga kalinya; dia akan melamar anak Pak Lurah Kampung Gunung.  Gani sudah membayangkan punya angkot kreditan, dan akan jadi sopir angkot.

“Syaratnya satu.  Selama tiga hari dan tiga malam, mata lu kagak bisa berkedip”.  Kedua orang itu saling berpandangan.  Beberapa kali mata mereka berkedip-kedip.

“Mmm.. mmak.. maksudnya, Ji?” tanyaGani.

“Ya, enggak bisa kedip-kedip, kayak biasanya.  Melotot aja kayak mata ikan.. he he hhe.. mau?  Cuma tiga hari tiga malam, sudah itu normal lagi.. enteng, kan?  He he he.. bagaimana, mau?  Cuma kedip.. yaaah.. ha ha ha hha ha.. keciiill..”  Haji Imung terkekeh dan kembali menaburkan makanan ikan ke kolam.  Dia tahu persis, kedua tamunya bingung menghadap isyarat aneh yang diajukannya.

“Ss.. seratus juta, Ji?”

“Emang Haji punya uang segitu?”

“Masya allah.. masak gua bohong, sih?  Kalau gua penipu, nah buat apa kalian jauh-jauhk emari?”

“Maaf, Ji.. seratus juta, kan, banyak…”, jawab Beny hati-hati, takut Haji Imung marah.

“Perhatiin baik-baik.. apa yang gue pegang ini…”, ucap Haji Imung sambil memperlihatkan bungkusan yang sejak tadi dipegangnya.  Kedua tamunya menancapkan pandangan kebungkusan makanan ikan yang ada di tangan Haji Imung.

“Makanan ikan, Ji..” jawabGani.

“Yakin?”

Kedua tamunya mengedip-ngedipkan kedua matanya.  Di mata mereka, tampak bahwa bungkusan itu bukan bungkus makanan ikan, namun bungkusan tumpukan uang seratus ribuan.  Bergepok-gepok uang ada di tangan Haji Imung.

“Nah, gua kagak bohong, kan?  Nah, sekarang bagaimana?  Mau saya kasih duit ini, sekarang?  Tapi syaratnya, tiga hari, tiga malam enggak bisa berkedip?”

Keduanya terdiam.

“Mau nyobain, lima menit aja gak kedip, gimana rasanya?  Gani, mau?”

Gani terdiam, ragu.  Beny pun tegang.  Namun bius uang seratus juta membuat Gani menyanggupinya, toh, hanya lima menit.

“Sanggup?”

Gani mengangguk.  Lalu, mata Gani memandangi uang setumpuk itu.  Baru beberapa detik melotot, matanya sudah mulai perih.  Detik berikutnya jarum-jarum terasa menusuki seluruh bola matanya.  Beberapa detik kemudian Gani mulai merintih, tak lama meraung, matanya serasa terbakar.  Detik berikutnya Gani melolong sambil kedua tangannya mencoba menarik-narik kelopak matanya sendiri agar mau mengatup sebentar saja.

“Gimana?  Lanjut?” ujar Haji Imung sambil terkekeh.

“Am.. ampuun Ji.. ampuun.. udah.. ampun Ji..”

Sekejap kemudian mata Gani pun sanggup berkedip dan Gani mengatupkan kelopak matanya agak lama.  Tak lama kemudian Gani menangis.

“Belum semenit aja, Lu sudah enggak sanggup, gimana kalau tiga hari tiga malam?  Dan coba lihat.. apa yang gua pegang ini duit?”

Gani tak berani memandang Haji Imung.  Dia masih menangis.  Beny menunduk.  Malam mengalir.  Kecuplak air kolam masih sekali-sekali terdengar.

Malam berlalu begitu saja.  Demikian juga malam selanjutnya, hingga tujuh malam berturut-turut.  Haji Imung yang usianya sudah hampir 60 tahun itu hanya menggeleng-geleng setiap kali diingatnya peristiwa yang dialami Gani.  Dia hanya berharap bahwa Gani maupun Beny segera melupakan impiannya soal nomor buntut.

Namun, seminggu setelah kejadian malam itu, rumah Haji Imung kebanjiran tamu.  Dan seperti peristiwa yang menimpa Gani, para tamu itu melolong, meraung bagai dibakar.  Haji Imung kian sedih.  Kian hari, kian banyak orang yang meraung-raung, merintih.

Haji Imung kian merenung.

 

Pinang,982

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: