MENYIKAPI BENCANA


Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 46, 12 November 2010 M / 05 Dzuhijjah 1431 H

Sumber : http://www.ikadi.com

 

“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.  Mereka itulah yang mendapat
keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk”.
(QS. Al Baqarah [2] : 155 – 157)

Tidak hanya sekali dua bencana terjadi di negeri ini.  Mulai dari banjir bandang, semburan lumpur, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, sampai tsunami.  Semuanya silih berganti melanda negeri ini.

Mengapa bencana demi bencana senantiasa melanda?  Para ilmuwan barangkali memiliki alasan-alasan ilmiah yang bisa menjelaskan rawannya negeri kita akan bencana.  Namun apa pun itu, kita harus percaya bahwa semua bencana tersebut tidak terlepas dari kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Hanya dengan ijin Allah sajalah semua bisa terjadi.  Menyikapi terjadinya berbagai macam bencana, janganlah sekali-kali kita berburuk sangka kepada Allah.  Dia tidak akan sekali-kali berbuat zhalim kepada hamba-hamba-Nya.  Setiap yang Alla kehendaki passti penuh dengan hikmah dan kebijaksanaan.  Apalagi terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin, Allah pasti selalu memberikan yang terbaik, meski seringkali hal tersebut dianggap tidak menyenangkan.  “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al Baqarah [2] : 216)

Sebaliknya, yang harus senantiasa kita lakukan setiap kali ditimpa bencana adalah bersabar.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.  Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).  Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah [2] : 155 – 157).

Introspeksi Diri

Ketika bencana telah terjadi, salah satu hal yang harus kita lakukan adalah melakukan introspeksi diri.  Bagaimana pun juga, segala macam bencana tidak terlepas dari tingkah laku kita juga.  Dalam hal ini, kita hendaknya memahami bencana sebagai peringatan dari Allah SWT.

Karena itu, marilah kita semua tanpa kecuali menghitung diri.  Sudah seberapa taatkah kita kepada Allah?  Apakah kita selama ini telah menaati aturan-aturan Allah?  Ataukah sebaliknya kita gemar menerja larangan-larangan-Nya?

Marilah kita semua kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya.  Marilah kita sesali segala perbuatan buruk yang selama ini kita lakukan, dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi.  Jangan sampai kita malah berbuat sebaliknya, yakni melakukan kesalahan demi kesalahan tanpa henti, seolah-olah tidak peka dengan peringatan dari Allah SWT.  Kita tentunya amat menyayangkan tindakan sebagian orang yang ketika bencana menimpa atau telah menimpa, mereka justru melakukan ritual-ritual kesyirikan dengan alasan untuk menolak bala.  Padahal semestinya bencana justru menjadi peringatan dan menjadikan kita semua kembali kepada Allah.

Di samping sebagai peringatan, bencana juga hendaknya kita pahami sebagai ujian.  Sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam QS Al Baqarah [2] ayat 155 di atas, Dia memang akan menurunkan berbagai macam ujian kepada kita dalam kehidupan ini, salah satunya dalam bentuk bencana yang menyebabkan rasa takut, berkurangnya jiwa, dan sekaligus harta benda.  Dengan ujian itu, Allah hendak melihat apakah kita bisa bersabar ataukah tidak.

Waspada Istidraj

Ketika suatu bencana melanda, jangan sampai kita yang tidak terkena bencana merasa bahwa kita selamat, karena kita lebih baik daripada mereka yang dilanda bencana.  Kita harus selalu merasa khawatir kalau-kalau Allah justru memberikan istidraj kepada kita, yakni menunda siksa atas diri kita karena Allah ingin menyempurnakan siksa tersebut kelak di akhirat.  Tidakkah kita lihat betapa banyak para pelaku kemaksiatan dan kejahatan yang justru hidup dengan enak dan bergelimang kemewahan?  Itulah istidraj yang harus senantiasa kita waspadai.

Wallahu a’alam bish shawab

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: