Memasyarakatkan Open Source Melalui Warnet


Di sebuah warung internet (warnet) di pelosok Karawang, saya sempat mengalami kesulitan ketika menjalankan komputer, apalagi ketika mengakses internet. “Kok gini ya? Nah, cara chattingnya gimana? Mau buka data dari flash disknya bagaimana? Bla.. bla.. bla…” Pertanyaan itu membuat saya terpengarah. Klik sana-klik sini tetap saja bingung. Alhasil, karena masalah waktu, apalagi untuk hemat durasi rental, saya pun memutuskan tidak membuang banyak waktu untuk mempelajarinya sendiri saat itu. Segera setelah 15 menit lebih saya pun memutuskan untuk memanggil operator warnet tersebut dan bertanya tentang ‘masalah’ yang saya hadapi itu.

“Oh ini pake Linux Kang!” Ujar sang operator yang ternyata juga pemilik warnet tersebut.

Setelah mendapat keterangan diatas, serta beberapa penjelasan singkat dari sang operator, baru kemudian saya jadi mengerti kenapa saya merasa asing dengan komputer yang saya hadapi itu.  Sebagai catatan, saat itu adalah untuk pertama kalinya saya menggunakan komputer dengan Sistem Operasi Linux.  Sedangkan perihal Linuxnya sendiri, saya memang sudah lama mendengarnya. Namun, saat itu saya belum mempelajarinya lebih jauh.

Pengetahuan saya tentang linux hanya terbatas pada keterangan bahwa Linux adalah Sistem Operasi Open Source saingan Sistem Opeasi Propietary seperti misalnya produk Microsoft bernama Windows. Bedanya, jika Propietary dikomersilkan, sedangkan Open Source adalah gratis. Karena, Sistem Operasi Open Source sendiri memang dibuat untuk memudahkan dan meringankan masyarakat dalam rangka melek teknologi, dimana masyarakat bebas untuk menggunakan dan menyesuaikan dengan tanpa disulitkan dengan masalah lisensi, terutama bagi yang tidak mampu membeli Sofware Propietary yang harganya terbilang mahal untuk ukuran masyarakat seperti masyarakat Indonesia pada umumnya.

Lebih lanjut, bisa dipahami juga jika di propietary kita kenal dengan sofware legal dan ilegal alias software bajakan, maka pada Open Source (Linux) istilah itu tidak ada, karena si pembuat dan penyedia Linux memang menggratiskannya. Itulah pemahaman yang saya miliki saat itu, sebatas pemahaman tanpa praktek lebih lanjut, hinggga akhirnya membuat sang operator warnet dengan telaten membimbing saya pada teknisnya tentang bagaimana membuka data, mulai chatting dan beberapa keperluan saya saat itu. Hitung-hitung kursus singkat, pikir saya.

Setelah sekitar 2 jam menggunakan komputer itu untuk mengakses internet, sebelum meninggalkan warnet yang bersangkutan, saya sempatkan berdialog dengan sang operator atau pemilik warnet tersebut. Saya bertanya tentang kenapa warnetnya menggunakan sistem operasi yang ‘tidak lazim’ untuk ukuran warnet apalagi di Karawang dan pertanyaan seputar penggunaan Linux tersebut.

Kesimpulan yang saya dapat dari obrolan hangat dan bergizi itu adalah, ternyata penggunaan Linux di warnet tersebut dilatar belakangi tiga hal : Pertama,mengenai sistem keamanan. Sang pemilik warnet menganggap dengan Linux Ia bisa lebih menjaga keamanan komputer-komputernya yang berjumlah 8 unit itu. Lebih aman (securitynya) dari serangan virus, ini terkait dengan perawatan jelasnya. Alasan yang kedua adalah, saat itu dilakukan terkait juga dengan isu ada rajia software-sofware bajakan khususnya pada instansi atau pun badan usaha/jasa yang menggunakan sofware bajakan, terutama yang menggunakannya untuk kepentingan usaha secara terbuka. Dalam hal ini, Ia mengamankan diri dan warnetnya dari razia yang kabarnya berpotensi membuat komputer-komputernya disita. Karena, kalau pun Ia menggunakan program atau sofware propietary maka kemungkinan pun adalah yang bajakan. “Waduh.. kalau beli aslinya mah mahal bos!” Ujarnya.

Tiga alasan yang cukup rasional pikir saya saat itu. Namun, kendala yang kemudian dihadapi termasuk kendala yang dihadapi oleh saya pribadi yang saat itu tidak terbiasa menggunakan Linux, karena sejak pertama kali mengenal komputer hanya Windows yang saya tahu, maka kesulitan itu pun ternyata memang dihadapi sebagian besar para pengunjung di warnet tersebut.

Alih-alih menjaga kemanan komputer dan juga keamanan bagi si pengguna, seperti menjaga USB/Flasdisk pelanggan dari penyebaran virus di internet dan sebagainya, ketidakpadaman dan kesulitan pengoperasiannya bisa jadi malah akan menjadi beban dan hambatan tersendiri. Terlebih akan memakan durasi (waktu) penyewaan sang pelanggan, yang tadinya hanya bermaksud ngerental 1 jam, dengan ditambah sambil belajar dan adaptasi Ia harus merogoh kocek lebih dalam lagi, bisa membengkak menjadi 1,5 jam lebih.

Terkait itu, ternyata sang pemilik warnet sudah siap dengan segala konsekuensinya. “Kalau itu sih tergantung pelayanan dari kitanya aja. Kalau ada yang kesulitan, maka sedapat mungkin kita harus telaten membimbingnya,” ujarnya saat itu. Selain itu, Ia pun mengatakan bahwa jika tidak dimulai, maka sampai Firaun narik beca kembali pun Linux dan Open Source tidak akan pernah memasyarakat. Artinya, Ia siap ikut mensosialisaikan penggunaan Linux melalui warnetnya. Lama-lama juga jadi terbiasa, singkatnya.

Itulah pengalaman saya pribadi ketika menggunakan Linux di sebuah warnet saat memosting berita KarIn di awal 2009 ini. Setelah itu, sepulang dari warnet tersebut saya pun menjadi lebih tertantang untuk mempelajari sedikit demi sedikit perihal Linux dan sekelumit perihal Open Source ini sampai sekarang. Mengenai referensinya, untuk saat ini tentunya lebih mudah, karena memang sudah banyak yang membahasnya, tinggal searching di mesin pencari seperti Google maka berbagai sumber referensi bisa kita dapatkan.

Untuk di Indonesia, gerakan memasyarakatkan Linux dan Open Source ini pun sudah digalakan diawal 2000-an, dan yang terbaru adalah gawean Pusat Penelitian Informatika (P2I) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mengadakan Lomba Blog Open Source, sebuah lomba yang mengajak masyarakat khususnya para blogger untuk menulis artikel di blognya dengan tema Open Source, dalam rangka memasyarakatkan Open Source ini agar kemudian mendukung masyarakat untuk melek teknologi secara lebih nyaman, aman dan murah. Untuk itu pula, artikel atau Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009 tersebut.

Semoga Artikel singkat dari pengalaman yang saya tuangkan di Pojok Redaksi KarIn ini bermanfaat dan membuka wacana untuk Anda yang belum mengenal Linux, Open Source dan istilah-istilah seputar itu.

Masih bingung? Atau malah jadi tambah bingung? Itulah konsekuensi dari belajar, seperti halnya saya yang sempat ketika pertama kali menggunakannya. Bingung karena belum terlalu paham dan terbiasa. Dan untuk paham memang harus belajar, sedangkan belajar yang paling efektif adalah dengan mempraktekannya secara langsung. Deni Andriana [karawanginfo.com]

Sumber : http://osnec.wordpress.com/2010/11/25/memasyarakatkan-open-source-melalui-warnet/
.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: