MEMAKNAI BULAN DZULHIJJAH


Disalin dari : Buletin Jum’at AL – BINA Edisi 49, 07 Dzulhijjah 1429 H

 

Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah”.  Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”  Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari)

Sekarang bulan Dzulhijjah.  Jika bulan ini disebut, maka dalam pikiran kita spontan teringat pada dua hal : pertama, tiap minggu kondangan karena banyak yang menikah; dan kedua, nyata bareng sama tetangga sehabis motong kambing kurban.  Padahal, bulan Dzulhijjah lebih dari itu.  Secara khusus Rasulullah saw. menyebut keutamaan bulan ini, terutama untuk 10 hari pertama di awal bulan.

Dari Umar ra., bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini.  Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid”. (HR. Ahmad)

Karena itu, jika kita ingin menjadi orang yang dicintai Allah SWT, jangan sia-siakan kesempatan ini untuk taqarrub kepada Allah SWT dengan banyak-banyak melakukan ibadah.  Setidaknya ada delapan ibadah yang bisa kita lakukan, yaitu :

  1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah.  Ini adalah amalan yang paling utama di bulan Dzulhijjah.  Tidak ada haji selain di bulan Dzulhijjah.  Ganjaran bagi orang yang melaksanakan ibadah ini sangat besar di sisi Allah SWT.  Kata Nabi saw., “Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga”.

  2. Berpuasa selama 10 hari di hari-hari pertama bulan Dzulhijjah, atau pada sebagiannya, atau paling tidak sehari di hari Arafah.  Puasa juga amalan utama.  Allah SWT memilih puasa sebagai amalan hamba-Nya untuk diri-Nya sehingga Dia sendiri yang menentukan pahalanya.  Hal ini termaktub dalam sebuah hadits Qudsi. “Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya.  Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya semata-mata karena Aku”.
    Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri ra., Rasulullah saw.
    bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. (Hadits muttafaq ‘alaih).

  3. Bertakbir dan berdzikir.  Perbanyaklah takbir dan dzikir di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT., “… dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …” (QS. Al-Hajj [20] : 28).  Begitulah para ahli tafisr menafsirkan frase “pada hari-hari yang telah ditentukan” dengan “sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah”.  Karena itu, para ulama menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak dizkir pada hari-hari tersebut.  Apalagi ada hadits dari Ibnu Umar ra. yang menguatkan. Bunyinya, “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid”. (HR. Ahmad).  Diriwayatkan bahwa para tabiin pada hari-hari itu mengucapkan, “Allahu akbar, allahu akbar, laa ilaha ilallah, wallahu akbar, allahu akbar walillahil hamdu”. Artinya, “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah (sembahan) selain Allah.  Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.
    Dianjurkan mengeraskan suara saat bertakbir baik ketika di masjid, rumah, pasar, atau di jalan.  Allah berfirman, “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …” (QS. Al Baqarah [2] : 185)
    Perbanyak taubat dan meninggalkan segala bentuk maksiat dan dosa.  Maksiat adalah penyebab jauhnya hamba dari Allah SWT.  sedangkan ketaatan adalah pintu mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah SWT.

  4. Perbanyaklah amal shalih.  Bukan hanya amal-amal yang fardhu saja.  Sebab, Allah SWT. suka dan mencintai seorang hamba yang mendekatkan diri kepadanya dengan melakukan nawafil, amalan sunnah.  Kita bisa memperbanyak shalat sunnah, bersedekah, berjihad, membaca Al Qur’an, dan melakukan amar makruf nahi munkar.  Kita sangat berharap semua amalan itu bisa mendatangkan banyak pahala.  Tapi, kita lebih berharap lagi mendapat cinta dan ridha Allah SWT.

  5. Disyariatkan pula kita melakukan takbir muthlaq — yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied — dan takbir muqayyad — yaitu takbir yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjamaah. Bagi kita yang sedang tidak berhaji, takbir dimulai dari sejak Dhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

  6. Berkurban.  Bisa kita lakukan pada Hari Raya Qurban dan hari-hari Tasyriq.  Ibadah ini adalah sunnah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Muhammad saw. mengukuhkannya menjadi syariat bagi kita.  Sabda Nabi, “Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk.  Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. (Hadits muttafaq ‘alaihi)

  7. Dilarang mencabut atau memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berkurban. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Jika kamu melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”. Dalam riwayat lain, “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.
    Hal ini untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun
    hewan kurbannya.  Firman Allah, “Dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan”. (QS. Al Baqarah [2] : 196).  Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban.

  8. Melaksanakan shalat Iedul Adha dan mendengarkan khutbahnya.  Bahkan, anak-anak dan wanita-wanita yang sedang haidh pun diperintahkan Nabi saw. untuk hadir bersama jamaah shalat ied di tanah lapang untuk mendengarkan khutbah.

Wallahu a’lam bish shawab ***

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: