SEMANGAT BERKORBAN


Sumber : Buletin Jum’at AL – BINA Edisi 48, 10 Dzulhijjah 1430 H

 

Maka tatkala anak itu sampai usia sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata : Hai anakku sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu?  Ia menjawab, “Wahai Bapakku laksanakanlah apa yang diperintahkan padamu Insya Allah Bapak akan mendapatkanku
termasuk orang-orang yang sabar

Dialog sejarah peradaban di atas, antara Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail telah Allah abadikan di dalam kitab-Nya yang suci, Al Qur’an.  Sebuah keteladanan dalam ketakwaan kepada Allah SWT yang tidak dapat dibantahkan, keteladanan seorang ayah yang sabar dan seorang anak yang ikhlas dalam ketaatan.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia” (QS. Al Mumtahanah [60] : 6).  Karena ketaatan dan kesabaran keduanya, Allah SWT berkenan mengganti Ismail dengan seekor domba.  Tradisi ini terus berlanjut hingga sekarang.  Setiap tahun kita berkurba (domba, sapi, unta, dan lain-lain) dan mengabadikannya sebagai hari raya Idul Adha.  Apa hikmah bagi kita? Pada masa Nabi Ibrahim hidup, sekitar 4300 tahun lalu, menjadikan manusia sebagai sesaji adalah hal biasa.  Di Mesir Kuno, setiap tahun selalu dilaksanakan kontes kecantikan dan yang terpilih akan dijadikan persembahan kepada dewa dengan cara ditenggelamkan di Sungai Nil.  Di Mesopotamia (Irak) yang dijadikan sesajii adalah bayi.  Di Aztek, yang dijadikan sesaji adalah para pemuka agama.  Digantinya Ismail dengan seekor domba menandai lahirnya revolusi besar dalam tinta sejarah peradaban manusia, yaitu dihapuskannya pengorbanan manusia.  Manusia terlalu mahal untuk dikorbankan.

Hikmahnya adalah kita harus menghormati manusia, jangan mengorbankan manusia, melainkan membahagiakan manusia dan tolong menolong kepada sesama yang membutuhkan bantuan.

Idul Adha adalah momentum menumbuhsuburkan rasa kasih sayang di antara sesama.  Inilah pesan yang dicanangkan dua manusia agung; Ibrahim Khalilullah dan Rasulullah saw.  Idul Adha bisa dimaknai dari dua sisi.  Yaitu dari sisi ajaran yang dibawa Rasulullah saw. dan dari sisi pengalaman Nabi Ibrahim dan keluarganya.  Dalam Al Qur’an, keduanya digelari uswatun hasanah (Nabi yang menjadi teladan dalam kebaikan).  Difirmankan, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab [33] : 21)

Dilihat dari sisi Nabi Ibrahim, materinya sudah sangat jelas.  Idul Adha (Idul Qurban) adalah refleksi pengalaman Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail yang menjadi revolusioner bagi sejarah umat manusia sekaligus keteladanan dalam ketakwaan kepada Allah SWT, Yang Maha Besar.

Dilihat dari sisi ajaran Rasulullah saw., Idul Adha erat kaitannya dengan diturunkannya ayat terakhir yang berbunyi : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah [5] : 3)

Ayat ini adalah ayat Al Qur’an terakhir yang diterima Rasulullah saw.  Terdapat hal yang menarik, yakni ayat ini turun pada 9 Dzulhijjah tatkala beliau sedang wukuf di Arafah, saat menunaikan ibadah Haji Wada.  Karena Allah SWT telah mengikrarkan kesempurnaan Islam, maka kita merayakan, mensyukuri, dan memperingatinya dengan hari raya Idul Adha.

Dalam ayat ini Allah SWT “mengikrarkan” tiga hal, yaitu : 1. Menyempurnakan bangunan agama Islam; 2. Mencukupkan semua nikmat-Nya kepada Rasulullah dan umatnya; dan 3. Merelakan Islam sebagai dien (agama) terakhir dan sempurna.

     

Dalam bahasa Al Qur’an, kata akmaltu berbeda dengan kata akmamtu.  Satu kumpulan dari banyak hal yang sempurna dinamakan “kusempurnakan”.  Dengan kata lain, semua unsur di dalamnya memiliki kesempurnaan.  Tapi kalau akmamtu (Kucukupkan) bermakna kumpulan dari hal yang tidak sempurna.  Ia baru sempurna bila semuanya berkumpul menjadi satu.

Lain halnya dengan nikmat.  Sebesar apa pun nikmat di dunia sangat jarang (tidak pernah) mencapai taraf sempurna.  Semua nikmat baru dikatakan sempurna apabila dipayungi agama.

Ikrar ketiga adalah diridhainya Islam sebagai agama.  Menurut ulama tafsir, kata dien terambil dari akar yang sama dengan kata daina atau utang.  Karena kemurahan-Nya, Allah rela kita disempurnakannya ajaran Islam, dicukupkannya curahan nikmat, dan “dibebaskannya” kita dari utang.

Dengan demikian, Idul Adha menjadi momentum tepat bagi kita untuk : (1) berusaha memahami makna syukur yang hakiki; (2) mengevaluasi kualitas syukur; dan (3) menjadikan setiap aktifitas kita sebagai cerminan rasa syukur kepada Allah.

Idul Adha bisa pula dijadikan momentum untuk menumbuhkan kesabaran akan sempurnanya ajaran Islam.  Ujung dari kesabaran ini adalah lahirnya kebanggaan menjadi seorang Muslim, rela diatur hukum Islam, dan berkorban demi kejayaan Islam.

Wallahu a’lam bish shawab ***

.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: