KEMENANGAN SETELAH UJIAN


Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 40, 01 Oktober 2010 M / 22 Syawal 1431 H

.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : Kami telah beriman sedang mereka tidak diuji lagi.  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al Ankabut [29] : 2 – 3)

.

Seorang mukmin adalah orang yang paling akrab dengan ujian dan cobaan dalam kehidupannya, karena memang dengannya Allah ingin terus mengasah keimanannya sehingga benar-benar menjadi orang yang tinggi derajatnya dan pantas berada di sisi-Nya.  Dan ujian pun dijadikan Allah sebagai sarana pembuktian kepada makhluk-makhluknya terhadap kebenaran atau kebohongan keimanan seseorang.  Firman Allah SWT. : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : Kami telah beriman sedang mereka tidak diuji lagi.  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al Ankabut [29] : 2 – 3)

Tidak sedikit orang setelah mendapat ujian yang dirasakannya berat terlihat tidak siap menghadapinya, tidak siap kehilangan anggota tubuhnya, hartanya, orang-orang yang dicintainya, atau yang lainnya.  Ia tidak menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan segala sesuatunya telah dijatahkan oleh-Nya.  Sikap lemah terhadap suatu ujian dan tidak bisa menerima kenyataan justru akan menutup pikiran sehatnya, sehingga tidak jarang dari mereka terkena depresi yang berefek pada kesengsaraan dan kehancuran kehidupannya.  Depresi tidak mengenal harta kekayaan, kehormatan atau kekuasaan, ia sangat tergantung pada kondisi mental dan keimanan saat terjadi ujian tersebut.

Seorang ibu yang terkena depresi bisa melakukan aborsi sebagai cara terlepas dari masalahnya.  Ronald Reagen pernah menjadi korban depresi berat, karena pada usianya yang tujuh puluh tahun ia harus terus-menerus menghadapi masalah-masalah berat dan juga harus menjalani operasi periodik.  Dikatakan pula bahwa Napoleon Bonaparte, ketika dalam pengasingan, mati dalam keadaan depresi.

Pada saat konferensi Gangguan Mental di Chicago pada tahun 1980, pimpinan sidang menyebutkan ada 100 juta orang di dunia ini yang terkena depresi.  Sebagian besar dari mereka ternyata berasal dari negara-negara maju.  Bahkan ada studi lain yang menyebutkan bahwa angka itu mencapai 200 juta.  “Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun” (QS. At Taubah [9] : 126)

Tidak demikian dengan seorang mukmin saat mendapat suatu ujian dan cobaan.  Ia adalah orang yang tegar dan kuat terhadapnya serta senantiasa memohon pertolongan dari Allah SWT., seperti disebutkan dalam sebuah hadits : Seorang mukmin yang kuat lebih baik daripada muslim yang lemah dan setiap apa yang menimpanya adalah baik baginya.  Berupayalah terhadap apa-apa yang memberikan manfaat buatmu, mintalah tolong kepada Allah dan jika engkau ditimpa sesuatu maka janganlah engkau mengatakan seandainya aku melakukan ini tentu akan ini dan itu akan tetapi katakanlah (ini adalah) taqdir Allah.  Dan jika Dia berkehendak maka Dia akan lakukan.  Sesungguhnya seandainya itu membuka amal setan”.

Ketegaran seorang mukmin ditunjukkan dari kesabarannya terhadap ujian yang menimpanya.  Ia bukanlah orang yang menyesali diri dalam hatinya, mengeluh dengan lidahnya, ataupun mencoba mencari jalan keluar darinya dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh syariah.  Kesabaran yang hakiki bukanlah menghasilkan sikap statis dan berpangku tangan terhadap kenyataan tetapi ia harus menghasilkan sikap yang dinamis untuk terus berupaya mencari solusi yang terbaik darinya.  Mereka adalah orang-orang yang meyakini bahwa dengan terus bersabar maka pikirannya akan semakin jernih melihat suatu permasalahan dan jiwanya pun semakin kuat sehingga mampu menjalani kehidupan pasca ujian tersebut dengan lebih baik, sebagaimana sabda Rasul saw. : “Barangsiapa yang bersabar maka Allah akan memberikannya kekuatan selanjutnya untuk terus bersabar”.

Sering dikatakan, orang yang pandai bukannya dia yang meningkatkan keuntungannya, tetapi orang yang pandai adalah orang yang sanggup mengubah kekalahannya menjadi keuntungan? Firman Allah SWT. : “Karena itu, Allah menimpakan atas kamu kesedihan supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu”. (QS. Ali Imran [2] : 153)

Arti dari ayat ini adalah bahwa segala sesuatu yang telah terjadi perlu ditangisi, karena dengan melakukannya hanya akan menimbukan kecemasan, ketakutan, dan penghamburan waktu.  Ujian ataupun musibah bagi seorang mukmin bukanlah akhir dari segalanya justru ia merupakan awal dari kebaikan dan kemenangannya.

Pernah terjadi suatu pertengkaran antara dua suku di Masjid Jami’ di Kuffah.  Ketika anggota masing-masing suku itu saling mengejek satu sama lain, seorang yang berada di masjid segera pergi mencari al-Ahnaf bin Qoys yang dikenal sebagai juru damai.  Orang itu melihatnya sedang memerah susu kambingnya.  Al Ahnaf memakai pakaian yang harganya tidak lebih dari 10 dirham (kasar dan murah).  Ia tampak lusuh dan satu kakinya lebih panjang dari yang lainnya sehingga kalau berjalan tampak pincang.  Ketika ia diberitahu apa yang terjadi ternyata tidak ada perubahan sedikit pun di wajahnya dan ia pun tetap tenang, dan hanya mengatakan : “Insya Allah, segala sesuatunya akan beres”.

Ia kemudian memulai sarapan seolah-olah tak terjadi apa-apa.  Sarapan pun dengan sepotong roti kering, minyak, garam, dan segelas air.  Ia mengucapkan nama Allah dan mulai makan.  Kemudian (setelah selesai) ia memuji Allah dan berkata : “Gandum dari Irak, minyak dari Syiria, air dari Tigris, dan garam dari Merv, sungguh ini adalah anugerah yang sangat besar”, ia memakai pakaiannya dan mengambil tongkatnya dan menuju ke orang-orang.  Ketika mereka melihatnya, mata mereka terfokus kepadanya.  Ia mengucapkan kata-kata perdamaian, kata-kata yang membuat senang kedua belah pihak, dan meminta mereka untuk bubar serta kembali ke tempatnya masing-masing.

Tampak jelas dalam kisah ini, ternyata kebesaran bukan terletak pada penampilan atau pakaian dan bahwa sedikit harta bukanlah tanda kesengsaraan sebaliknya bahwa kemewahan bukanlah tanda kebahagiaan.

Dari kisah itu juga bisa kita lihat bahwa tolak ukur kemuliaan seseorang pada karakter, pengetahuan, kedermawanan, akhlak, dan amal-amalnya, yang itu ditampilkan oleh seorang Al Ahnaf bin Qoys, firman-Nya :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa” (QS. Al Hujuraat [49] : 13)

Dan semoga saudara-saudara kita, kaum muslimin yang tengah didera berbagai cobaan, baik mereka yang berada di Aceh dengan gempa dan tsunaminya, di Jakarta dengan banjir rutinnya ataupun di tempat-tempat lainnya dikuatkan kesadarannya oleh Allah SWT dan diberikan kesuksesan di dunia dan akhiratnya.

Wallahu a’alam bish shawab

.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: