MEMPERSIAPKAN ANAK YANG MENYEJUKKAN PANDANGAN


Oleh : Dr. Attabiq Luthfi, MA. Sumber : www.dakwatuna.com

Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 39, 24 September 2010 M / 15 Syawal 1431 H


“Dan orang-orang yang berdoa : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah untuk kami isteri-isteri dan anak keturunan kami yang menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqaan [25] : 74)

Imam Ibnu Katsir memahami qurratu a’yun dalam ayat ini sebagai anak keturunan yang taat dan patuh mengabdi kepada Allah.  Ibnu Abbas menjelaskan bahwa keluarga yang dikategorikan qurratu a’yun adalah mereka yang menyenangkan pandangan mata di dunia dan di akhirat karena mereka menjalankan ketaatan kepada Allah, dan memang kata Hasan Al-Bashri tidak ada yang lebih menyejukkan mata selain dari keberadaan anak keturunan yang taat
kepada Allah SWT.  Secara bahasa, anak dalam bahasa Arab lebih tepat disebut dengan istilah
At-Thifl.  Pengarang Al-Mu’jam al-Wasith mengartikan kata At-Thifi sebagai anak kecil hingga usia baligh.  Kata ini dapat dipergunakan untuk menyebut hewan atau manusia yang masih kecil dan setiap bagian kecil dari suatu benda, baik itu tunggal.

Anak pada hahekatnya adalah seorang yang berada pada suatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa seiring dengan pertambahan usia.  Dalam konteks ini, maka anak memerlukan bantuan, bimbingan, dan pengarahan dari orang dewasa (orang tua dan para pendidik).

Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang menyebut kata Ath-Thifl yang berarti anak yang masih kecil sebelum usia baligh, maka terhadap empat ayat yang menyebut kata ini secara tekstual.  Dua ayat berbicara tentang proses kejadian manusia yang berawal dari air mani, yaitu surat Al-Hajj [22] : 5 dan surah Ghafir [35] : 67.  Sedangkan kedua ayat lainnya yang menyebut kata At-Thifl terdapat dalam surah An-Nur [24] : 31 dan 59 yang menjelaskan tentang adab seorang anak di dalam rumah terhadap kedua orang tuanya.

Yang paling mendasar dalam pembahasan seputar anak tentu tentang kedudukan anak dalam perspektif Al Qur’an agar dapat dijadikan acuan oleh orang tua dan para pendidik untuk menghantarkan mereka menuju kebaikan dan memelihara serta meningkatkan potensi mereka.  Al Qur’an menggariskan bahwa anak merupakan karunia sekaligus amanah Allah SWT, sumber kebahagiaan keluarga dan penerus garis keturunan orang tuanya.  Keberadaan anak dapat menjadi : 1) Penguat iman bagi orang tuanya (QS. Ash Shaaffat [37] : 102) seperti yang tergambar dalam kisah Ibrahim ketika merasa kesulitan melakukan titah Allah untuk menyembelih Ismail, justru Ismail membantu agar ayahnya mematuhi perintah Allah SWT untuk menyembelihnya; 2) Anak bisa menjadi do’a untuk kedua orang tuanya. (QS. Al Israa’ [17] : 24); 3) Anak juga dapat menjadi penyejuk hati (qurratu a’ayun) (QS. Asy Syu’araa’ [26] : 74); 4) menjadi pendorong untuk perbuatan yang baik (QS. Maryam [19] : 44).  Akan tetapi, pada masa yang sama, anak juga dapat menjadi : 5) fitnah (QS. Al Anfaal [8] : 28); 6) bahkan anak dapat menjelma menjadi musuh bagi orang tuanya (QS. Ath Thalaaq [65] : 14).

Maka dari itu, para ulama sepakat akan pentingnya masa kanak-kanak dalam periode kehidupan manusia.  Beberapa tahun pertama pada masa kanak-kanak merupakan kesempatan yang paling tepat untuk membentuk kepribadian dan mengarahkan berbagai kecenderungan ke arah yang positif.  Karena pada periode tersebut kepribadian anak mulai terbentuk dan kecenderungan-kecenderungannya semakin tampak.  Menurut Syekh Fuhaim Musthafa dalam karyanya Manhaj al-Thifl al-Muslim : Dalil Mu’allimin wal Aba’ Ilat-Tarbiyati Abna masa kanak-kanak ini juga merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk membentuk pengendalian agama, sehingga sang anak dapat mengetahui, mana yang diharamkan oleh agama dan mana yang diperbolehkan.  Dalam hal ini, keluarga merupakan tempat pertama dan alami untuk memelihara dan menjaga hak-hak anak.  Anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang secara fisik, akal, dan jiwanya, perlu mendapatkan bimbingan yang memadai.  Di bawah bimbingan dan motifasi keluarga yang kontinu akan melahirkan anak-anak yang dikategorikan ‘qurratu a’yun’.

Untuk mewujudkan semua itu, maka sejak awal Islam telah menyoroti berbagai hal di antaranya penegasan bahwa awal pendidikan seorang anak dimulai sejak sebelum kelahirannya, yaitu sejak kedua orang tuanya memilih pasangan hidupnya.  Karena pada dasarnya anak akan tumbuh dan berkembang banyak tergantung dan terwarnai oleh karakter yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.  Di antara tujuan disyariatkan pernikahan adalah terselamatkannya keturunan dan terciptanya sebuah keluarga yang hidup secara harmonis yang dapat menumbuhkan nilai-nilai luhur dan bermartabat.  Dalam konteks ini, Al Ghazali yang kemudian dikuatkan prinsip-prinsipnya oleh Ibnu Qayyim al-Jauzyyah menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangatlah penting, oleh karena itu pelaksanaannya harus dilakukan dengan baik, dengan pembiasaan dan contoh-contoh teladan, memberikan permainan yang wajar dan
mendidik, jangan sampai memberikan permainan yang mematikan hati, merusak kecerdasan, menghindarkannya dari pergaulan yang buruk.  Pengaruh yang positif diharapkan akan menjadi kerangka dasar bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

Membangun kerangka dasar pada anak usia dini dapat diibaratkan membangun sebuah bangunan bertingkat.  Bangunan seperti itu tentu saja akan dimulai dengan membuat kerangka pondasi yang sangat kokoh yang mampu menopang bagian bangunan yang ada di atasnya.  Demikian pula anak-anak yang memiliki pondasi yang kuat dan kokoh ketika usia dini maka akan menjadi dasar dan penopang bagi perkembangan anak memasuki pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan hidupnya di tengah masyarakat.

Menurut pandangan Syekh Mansur Ali Rajab dalam karyanya Ta’ammulat fi falsafah al-Akhlaq terdapat paling tidak lima aspek yang dapat diturunkan dari seseorang kepada anaknya, yaitu : 1) Jasmaniah, seperti warna kulit, bentuk tubuh, sifat rambut, dan sebagainya; 2) Intelektualnya, seperti kecerdasan dan atau kebodohan; 3) Tingkah laku, seperti tingkah laku terpuji, tercela, lemah lembut, keras kepala, taat, durhaka; 4) Alamiyah, yaitu pewarisan internal yang dibawa sejak kelahiran tanpa pengaruh dari faktor eksternal; 5) sosiologis, yaitu pewarisan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Ibn Qayyim Al-Jauzyyah dalam salah satu karyanya yang monumental tentang pendidikan anak ‘Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud’ menegaskan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, suci, dan selamat dari penyimpangan dan menolak hal-hal buruk yang membahayakan dirinya.  Sehingga tujuan akhir dari pendidikan anak prasekolah adalah memberikan landasan iman dan mental yang kokoh dan kuat pada anak, sehingga akan hidup bahagia bukan saja di saat ia dewasa dalam kehidupannya di dunia, tetapi juga bahagia di akherat, bahkan diharapkan dapat mengikutsertakan kebahagiaan itu untuk kedua orang  tua, guru, dan mereka yang mendidiknya.

Sehingga pendidikan anak usia dini pada hahekatnya juga merupakan intervensi dini dengan memberikan rangsangan edukasi sehingga dapat menumbuhkan potensi-potensi tersembunyi (hidden potency) serta mengembangkan potensi yang tampak (actual potency) yang terdapat pada diri anak.  Upaya mengenal dan memahami berbagai ragam potensi anak usia dini merupakan persyaratan mutlak untuk dapat memberikan rangsangan edukasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan perkembangan potensi tertentu dalam diri anak.  Upaya ini dapat dilakukan dengan memahami berbagai dimensi perkembangan anak seperti bahasa, intelektual, emosi, sosial, motorik, konsep diri, minat, dan bakat.  Tujuan lain dari pemberian program simulasi edukasi adalah melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi yang dimiliki anak.  Gangguan ini dapat muncul dari dua faktor, yakni faktor internal yang terdapat dalam diri anak dan faktor eksternal yang berwujud lingkungan di sekitar anak, baik yang berwujud lingkungan fisik seperti tempat tinggal, makanan, dan alat-alat permainan ataupun lingkungan sosial seperti jumlah anak, peran ayah/ibu, peran kakek/nenek, peran pembantu, serta nilai dan normal sosial yang berlaku.

Ayat di atas yang menjadi doa sehari-hari setiap orang tua yang mendambakan hadirnya keturrunan yang qurratu a’yun, hendaknya menjadikan acuan dalam pembinaan anak, sehingga tidak lengah sesaat pun dalam upaya melakukan pengawasan, pendidikan dan pembinaan anak-anak mereka.  Itulah di antara ciri Abdurrahman yang disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya yang memiliki kepedulian besar terhadap nasib anak-anak mereka di masa yang akan datang.  Semoga akan senantiasa lahir dari rahim bangsa ini generasi yang qurratu a’yun, bukan hanya untuk kedua orang tuanya, tetapi juga masyarakatnya dan bangsanya.  Amin.

Wallahu a’alam bish shawab

.

2 Tanggapan to “MEMPERSIAPKAN ANAK YANG MENYEJUKKAN PANDANGAN”

  1. kak Zepe Says:

    hai …. salam kenal
    nama saya Zepe…
    saya ada banyak lagu ciptaan saya sendiri
    dan sudah dipakai di paud2 dan TK di seluruh Indonesia
    udah ada sekitar 40 lagu ciptaan saya…
    Lagu2nya bertemakan pendidikan, motivasi, dan inspirasi untuk anak.
    Berbahasa Inggris dan Indonesia

    blog saya juga biasa dipakai buat ajang silaturahmi guru2 paud
    dan TK…di seluruh Indonesia…
    lagu bisa didapatkan di:
    http://www.lagu2anak.blogspot.com
    ,m


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: