PISAU KARTON


Dari Kumpulan Cerpen “Keberanian Manusia” karya Motinggo Busye

.

Aku membuka dompetku, masih ada uang tiga rupiah untuk becak pulang.  Itu adalah uangku yang terakhir dan sampai akhir bulan aku takkan punya uang lagi.  Tapi aku tak pernah cemas.

Aku memang tak pernah cemas dalam soal uang, seperti aku tak pernah cemas akan jatuh sakit.  Aku merasa sedikit mujur karena untuk dua-duanya itu aku takkan jadi sekarat.  Aku tiba-tiba ingat ibuku, yang fotonya ada di balik kaca plastik dalam dompetku.

Biasanya, kalau aku ingat ibu, terasa ada sesuatu yang menggelepar dalam dadaku, karena aku tahu bahwa aku adalah anaknya, karena aku tahu aku tak sempat berbakti kepadanya seperti layaknya anak-anak terbaik dan ibu-ibu di dunia ini.  Buatku ibu adalah kenang-kenangan yang menggelepar, sebab ia merupakan masa lampau yang hidup tanggung-tanggung dalam angan-anganku, karena aku cuma bisa sedikit sekali untuk mengingat wajahnya, kata-katanya yang lembut, dan kesabarannya yang besar.  Suatu saat aku merasa goyah bila aku dihinggapi rasa sentimentil, sebab tiba-tiba merasa tidak akan punya lagi seseorang tempat aku membagi-bagi keindahan hidup ketika aku sedang bahagia dan menceritakan duka cita, ketika aku sedang dihantam kesedihan.  Waktu itu aku merasa seperti kanak-kanak yang manja, kanak-kanak yang telah berusia seperempat abad yang menangis, biar pun aku sadar juga bahwa air mataku sudah kering untuk semuanya itu.

Kuangkat kepalaku, kulihat mukaku sendiri di kaca.  Tapi yang dalam kaca itu bukanlah wajahku.  Wajah itu adalah wajah seorang jejaka tua berumur kira-kira tiga puluh lima tahun dengan uban-uban di atas telinganya.  Jejaka itu selama ini sudah amat cemas menghadapi hidup dan terutama wanita.  Tapi kemudian ia datang ke rumah seorang gadis yang sudah jadi perawan tua pula dan ingin meminang gadis itu.  Tapi mereka bertengkar.  Mereka bertengkar bukan dalam hal pertunangan atau perkawinan.

Mereka bertengkar pada soal-soal kecil yang tak pantas dipertengkarkan, sehingga hampir saja lamarannya dikembalikan.  Namun untuk suatu sukses tak penting pada cara memulainya, tapi bagaimana cara mendapatkannya kemudian.  Kemudian ternyata lamarannya diterima oleh calon mertua dan gadis itu, dan kemudian diciumnya tangan perawan tua itu berkali-kali.

Aku mendengar kembali bagaimana sambutan orang ramai bersorak-sorak atas kemenangan jaka tua itu.  Mereka adalah penonton-penonton suatu kehidupan.

Kini seharusnya aku melihat di kaca itu wajah berseri-seri dan jaka tua itu sebab lamarannya telah diterima.  Tapi tidaklah demikian, sebab wajahnya murung.

Kuhapus wajahku dengan handuk.  Aku pergi mencuci muka dan rambutku dan kembali ke kaca. Kini yang kelihatan di kaca itu bukan wajah jejaka tua itu tapi wajahku sendiri yang baru berusia mendekati dua puluh empat tahun.  Dan tiba-tiba, dari sudut kaca itu kelihatan pintu kamar terbuka.  Dua orang berdiri di pintu.

“He, kukira tak ada orang lagi di kamar rias ini”, kata yang perempuan.

“Lagi apa kau?” tanya yang lelaki.

“Engkau tampan”, pikirku.  “Engkau lelaki tampan yang menjadi impian tiap-tiap wanita”.  Melewati kaca besar di hadapanku aku menyalam.  Yang tampan mengangguk senyum dan ketika senyum ia semakin tampan.  Kukira ia mirip Glenn Ford kalau tersenyum, dengan gigi yang tak ditunjukkannya itu.  Dan yang di sebelahnya juga tersenyum.  Wajahnya tidak mirip siapa-siapa.

Wajahnya cuma satu itu di dunia ini.  Setengah jam sebelum itu ia menjadi seorang perawan tua yang dilamar oleh jejaka tua.

Mereka masih berdiri di pintu.

“Mari pulang bersama-sama”.

“Mengapa kau masih di situ?  Kau sakit?” Gadis itu masuk.  Ia membawa bungkusan.

“Kami membawa oleh-oleh pisang goreng untuk mama.  Biar mama senang, sehabis aku main sandiwara ada oleh-oleh pembuka pintu”.

Lalu yang lelaki, yang tampan, berkata, “Kau mau pisang goreng?”

“Terima kasih”.

Mereka menjadi kaku dan kulihat sekilas di kaca yang lelaki memberi isyarat agar ke luar dan yang gadis menerima isyarat itu setelah menepuk punggungku.  Di luar kudengar suara mereka, barangkali dia sakit.

Lalu kuingat pisang goreng itu.  Kenapa tidak kuterima?  Aku paling suka pada pisang goreng, dan sewaktu latihan-latihan aku minta pada sutradara agar makanan dalam istirahat latihan dibelikan pisang goreng.  Biasanya aku berlatih agak malas tanpa pisang goreng.

Lalu kuingat lagi pisang goreng itu.  Tapi kini pisang goreng itu bukan sebagai suatu jenis makanan kesukaanku dan enak dimakan.  Aku ingat perkataan gadis itu, “Pisang goreng itu sebagai pembuka pintu sehabis main sandiwara”.

Ingat pada pisang goreng, aku ingat kembali pada ibuku.  Aku ingat bagaimana aku mengintip lewat lubang kunci ibuku tertidur dengan kepala di atas meja menantikan kami pulang.  Ayah menjentik bahuku tanda aku boleh mengetuk pintu.  Lalu kuketuk pintu.

“Ma? Ma? Mam?” teriakku kecil.  Lalu kuintip lagi lewat lubang kunci.  Ibu sudah berdiri dan membetulkan rambutnya.

Aku menoleh kepada ayah dan menunjukkan jempol jariku tanda keadaan tidak berbahaya.  Ayah selalu memperingatkan, kalau wajah ibu cemberut aku harus menambahkan sebuah kalimat lagi.

“Aku membawa pisang goreng mam!”

Pintu pun terbuka dan kuberikan bungkusan pisang goreng.

Biasanya, ayah tidak berkata suatu apa lalu terus ke kamar mandi untuk mencuci muka, membersihkan sisa-sisa coretan di mukanya.

Waktu ayah di kamar mandi, biasanya ibu bertanya, “Bagaimana main papa tadi?”  Aku biasanya berteriak girang, “Tentu, tentu hebat.  Penonton-penonton menjawer sapu tangan dan duit!”

Tapi malam aku pulang itu ibu tak bertanya.  Namun aku tetap menceritakan permainan ayah sebagai si Momba yang kejam adalah baik dan penonton-penonton bertepuk riuh dan menjawerkan sapu tangan-sapu tangan dan duit dan orang-orang melihat-lihat kepadaku.

“Mam, orang-orang ada yang tahu aku ini anaknya papa!  Mereka memegang-megang rambutku dan aku marah-marah seperti Momba!”  Aku berharap ibu tertawa.  Tapi ibu tidak tertawa mendengar ceritaku dan aku menunjukkan pisau besar dari karton yang berbacah-bacah darah gincu.

“Mereka itu semua tolol-tolol, Ma.  Mereka menjerit-jerit.  Perempuan-perempuan menjerit-jerit dan menangis ketika papa menikamkan pisau ini ke perut Maharani yang bunting itu.  Perempuan-perempuan menangis-nangis melihat papa mengeluarkan orok yang berdarah-darah dari perut Maharani yang bunting itu.  Tapi aku ketawa-tawa, Mam.  Penonton-penonton itu bodoh-bodoh, ya Mam?  Ya, Mam?”

Ibuku ketawa.  Sangat mahal terasa ketawa itu.  Aku melihat ayah muncul masih membersihkan mukanya dengan handuk dan menyeret aku cepat-cepat ke kamar.

Ayah berbisik, “Ibumu kenapa merengut?”

“Ibu ketawa.  Bukan merengut, kok”, kataku.

Lalu aku ke luar kamar lagi sebab kamarku berada di sebelah kamar mereka.  Kulihat pisang goreng yang kami beli tadinya belum disentuh ibu.  Ibu hanya duduk di meja.  Dari kamarku kuintip ibu sedang duduk saja.  Kemudian kudengar ibu memanggil nama ayah dan ayah keluar dan ayah duduk dan mereka berkata pelan-pelan dan tidak kudengar percakapan mereka dan bila pun kudengar aku tak mengerti.

Malam itu aku susah untuk tidur.  Barangkali mereka bertengkar.  Barangkali kami pulang terlalu larut dan ibu bosan dengan pisang goreng.  Barangkali ibu marah-marah pada ayah.  Tapi ibu tak pernah marah pada ayah dan mereka tidak pernah berkelahi seperti tetangga-tetangga kami.  Waktu itu aku teringat pada si Bakar yang selalu menyebut namanya dengan “Bakau” karena tidak bisa menyebutkan bunyi “r”.  Aku ingat bagaimana siang harinya aku dan Bakar menyelusuri kota kami.  Di depan gedung komidi tertulis besar-besar huruf- huruf MAHARANI dan tertulis nama ayahku.  Di dekat pojok Bank Escompto ada lagi didirikan papan besar dengan huruf itu juga dan tertulis juga nama ayahku.

Aku berkata bahwa warna hijau pada poster itu akulah yang mencatnya, disuruh ayah.  Dan aku juga berkata pada Bakar, huruf A dari nama ayahku itu aku yang mencatnya.

Kami pergi lagi ke dekat lapangan sepakbola dan poster sebuah lagi ada di sana dan aku tak berani mengatakan apa-apa.  Sebab sekali aku pernah berbohong bahwa poster itu sebagian besar aku yang membuatnya.  Bohongku ketahuan dan aku terus saja mengaku bahwa memang aku berbohong.  Aku ingat lagi bagaimana aku berdiri sore-sore di depan gedung komidi yang terletak di jantung kotaku, seakan-akan menyuruh-nyuruh agar orang membeli karcis dan seakan-akan hendak menyatakan bahwa ayahkulah yang main sebagai Momba yang mengerikan dan akan kukatakan bahwa ayahku pemain baik.

Bila layar terbuka dan penyanyi-penyanyi menyanyi aku menjadi gelisah.  Aku katakan pada orang di sebelahku, bahwa sehabis nyanyi “Hampir Malam Di Jogya”, itu tandanya sandiwara akan mulai.

Sandiwara dimulai benar-benar setelah lagu “Hampir Malam Di Jogya” berakhir.  Aku tidak ingat lagi bagaimana cerita sandiwara itu.  Yang kuingat adalah ayahku bermain sebagai Momba yang kejam yang membunuh Maharani yang cantik.  Ayah mencabut pisaunya.  Perempuan-perempuan menggumam ngeri dan aku berbisik memberitahu, “Itu bukan pisau betul-betulan.  Itu cuma karton!”  Perempuan itu marah-marah.  Aku berdiri melihat ke belakang dan seakan-akan mengatakan itu pada penonton di belakang dan akan mengatakan juga, bahwa yang memegang pisau karton itu adalah ayahku.  Pisau karton itu tiba-tiba menggelegar sebab tangan ayahku menggigil.  Dan ayahku berteriak dengan suara seperti hantu kubur, “Mahaaaaaraniii!” Penonton- penonton ngeri dan gedung komidi menggumamkan suara penonton dan aku berdiri lagi dan akan berteriak, kamu tolol semua.

Ayahku pura-pura marah itu!  Ayahku berteriak lagi, “Mahaaaaaraniiii!” dan kemudian tertawa besar menggetar, “Ha-ha-ha-ha-ha!” dan ayah berteriak, “Maharani” lagi dan aku membalikkan tubuhku ke arah penonton belakang lagi dan akan menenteramkan hati mereka yang ngeri dan menyatakan bahwa ayahku pura-pura dan ayahku itu adalah ayahku!

Ayahku dengan rambut kusut masai macam hantu kemudian akan menikamkan pisau karton itu ke perut Maharani yang bunting.  Kemudian Maharani menjerit keras-keras dan perempuan di sebelahku menutup mukanya dan aku berbisik, “Jangan takut, perempuan itu cuma pura-pura”.  Tapi perempuan di sebelahku tetap menutup mukanya.

Kulihat pisau karton itu seakan-akan menembus ke perut Maharani dan ayahku tertawa keras-keras lagi ha-ha-ha, dan kemudian, ayah mengeluarkan orok dari perut Maharani yang bergelimang darah.  Aku akan mengatakan sesuatu sekarang.  Aku berdiri menghadap ke belakang.  Aku akan mengatakan pada penonton-penonton yang ketakutan dan menangis-nangis itu, bahwa orok itu bukanlah orok betul-betulan.  Itu adalah popi-popi si Aci.  Si Aci adalah adikku.  Itu bukan orok, itu popi dan popi bukan orok.  Kamu semuanya tolol-tolol.

“Aduh, seremnya”, kata seorang perempuan tua di belakangku.

“Tidak serem”, kataku membantah.

“Serem.  Anak kecil sialan!”

“Itu bohong-bohongan saja!” kataku.

“Lihat darahnya!” kata perempuan tua itu.

“Itu bukan darah betul-betulan”, debatku.  “Itu gincu saja.  Itu gincu!”

Perempuan tua itu berdiri dan memegang leherku.  Aku dimaki-makinya dalam bahasa Lampung totok.  Aku duduk sekarang.

Aku jengkel dan ingin mengumumkan lewat mikropon itu rasanya bahwa kalian itu bodoh-bodoh semua.  Biasanya di sekolah kuceritakan semua cerita bohong itu kepada kawan-kawan sekelasku, atau kuceritakan di rumah pada adikku yang kecil, tentang popinya yang menjelma jadi orok, kepada ibuku yang sudah bosan, kepada siapa saja yang mau mendengar ceritaku.

Malam ini aku teringat lagi pada ibuku, terutama ibuku.  Aku ingat sejak malam beliau tak bergembira itu, ayah tak pernah main sandiwara lagi dan asyik dengan permainan brigde.

Aku berdiri dan kulihat lagi wajahku di kaca.  Jauh lain dari ia yang dulu, penuh naf’su dan keberanian hidup.  Aku ke luar dari kamar rias.  Sepi gedung pertunjukan.  Penjaga gedung sedang menyapu.  Aku keluar gedung.  Sepi jalan raya.  Aku berjalan menyelusuri Malioboro.  Aku teringat pisau karton itu.  Hanya pisau dari karton untuk menyatakan peristiwa pura-pura saja.

Tapi mungkin bagi ibuku dulu pisau karton itu adalah pisau yang sebenarnya buat beliau, aku tidak tahu benar.  Aku waktu itu masih terlalu kanak-kanak untuk mengetahui kesedihan ibuku, kesedihan banyak orang.  Aku waktu berjalan itu tidak peduli lagi apakah mereka tahu atau akan tahu, bahwa akulah yang bermain sebagai jejaka tua dalam cerita Anton Chekov yang barusan beberapa jam lalu kuperankan.

Aku lalu ingat pada sebuah cerita pendek Anton Chekov tentang seorang suami yang kematian istrinya, yang memuji-muji kejujuran istrinya sebagai perempuan setia, tapi yang semasa hidupnya disebarkannya berita bahwa istrinya main mata dengan kepala polisi di kota itu.  Benih berita itu disebarkan si suami supaya orang-orang tidak mengganggu istrinya yang cantik dan orang takut mengganggu bukan sebab dia, tapi sebab orang-orang itu tentu akan takut pada kepala polisi itu.

Kubuka pintu kamar tempat aku memondok.  Tidak ada seorang menunggu di kamar.  Ada sebuah patung seorang tua yang bongkok di atas mejaku.  Ia memegang tongkat.  Patung itu kubeli di Bali dengan harga murah sekali, — setahun yang lalu.  Di belakang patung itu ada kertas-kertas bekasan beberapa cerita pendekku yang tak jadi.  Di belakang ada buku-buku pocket kumpulan cerita pendek atau novel atau roman dari pengarang-pengarang besar.  Mereka banyak menceritakan tentang perempuan, banyak sekali.

Ketika kutaruhkan diriku di tempat tidur, tiba-tiba aku merasakan seakan-akan aku telah punya istri yang tertidur di sebelahku.

Seakan-akan kudengar kata-kata, “Betapa pun, jagalah kesehatan engkau”.

Aku tidak malu, bahwa memang aku pernah punya angan-angan demikian.


TAMAT
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: