AGAR AMAL TIDAK SIA-SIA


 Disalin dari : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun V/17 September 1431 H / 2010 M

 

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, juga taatlah kalian kepada Rasul-Nya, dan janganlah kalian mensia-siakan (pahala) amal kalian(QS Muhammad [47] : 33) 

Memang Ramadhan dalam konteks waktu dan salah satu dari bulan Allah telah berlalu meninggalkan kita.  Namun semangat dan nilai Ramadhan sepatutnya tetap hadir menyertai keseharian kita.  Ramadhan bukan “satu-satunya” bulan untuk beramal dan bertaqarub kepada Allah.  Ramadha hanya memontum untuk meningkatkan dan memaksimalkan kebaikan kita sebagai bekal menghadapi sebelas bulan berikutnya.  Untuk itu, Ramadhan akan senantiasa hadir menyambangi kita pada setiap tahunnya.  Alangkah rugi dan pelitnya seseorang yang hanya mau bersemangat beribadah dan beramal shalih hanya di bulan tertentu.  Demikian juga tidaklah baik seseorang yang hanya mampu beribadah dengan baik dan maksimal di tempat tertentu yang mengandung nilai pahala lebih, seperti di Mekkah misalnya ketika menunaikan ibadah umrah atau haji, namun setelah pulang ke tanah air, kelesuan beribadah kembali terjadi dimana-mana.

Ayat ini oleh sebagian mufassir dijadikan dasar akan hilangnya pahala kebaikan yang berhasil dilakukan oleh seseorang jika setelah kebaikan itu ia kembali terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan, atau jika ia tidak mampu mempertahankan kebaikan tersebut di waktu berikutnya.  Ayat ini juga secara korelatif memiliki hubungan dan keterkaitan yang erat dengan ayat sebelumnya : “Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun.  Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka”. (QS. Muhammad [47] : 32)

Konteks kedua ayat tersebut intinya berbicara tentang perilaku yang dapat menyia-nyiakan amal kebaikan.  Perbedaannya, pada ayat 32 ini ancaman Allah ditujukan kepada mereka yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan memusuhi Rasulullah saw., sehingga pada ayat 33, Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar tidak menyia-nyiakan amal ketaatan mereka dengan apapun bentuknya seperti yang diancamkan oleh Allah kepada golongan yang ingkar sebelum mereka.  Di sini bentuk kasih sayang Allah terhadap kekasih-Nya dari orang-orang beriman sangat kentara agar mereka tetap taat kepada-Nya kapanpun dan dimanapun, tanpa ada batasan waktu dan tempat, apalagi alasan sempat dan tidak sempat.

Ayat ketiga yang berbicara tentang perilaku yang dapat menyia-nyiakan amal baik seseorang adalah Surah Al Hujurat [49] : 2 yang bermaksud :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”. (QS. Al hujurat [49] : 2)

Adab kepada Rasulullah saw. dalam berbicara yang disebutkan oleh ayat ini langsung diperintahkan oleh Allah SWT. yang ditujukan secara langsung juga kepada orang yang beriman, karena pada hakikatnya taat kepada Rasulullah adalah taat kepada Allah, “Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.  Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmua untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS. An Nisa’ [4] : 80)

Terdapat banyak pendapat para ulama tentang sikap dan perilaku yang mengakibatkan terhapusnya amal baik seseorang.  Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi misalnya menyebutkan bahwa menyia-nyiakan amal adalah dengan melakukan kaba’ir (dosa-dosa besar).

Imam Qatadah berpendapat bahwa amal kebaikan akan sia-sia apabila setelah itu diiringi dengan kembali melakukan dosa dan kemaksiatan.  Sedang Ibnu Abbas berpandangan bahwa amal kebaikan itu dikhawatirkan akan hapus pahalanya jika disertai dengan riya’ dan ‘ujub (berbangga diri).

Oleh karena itu, seorang muslim “yang cerdas” adalah seorang yang meneruskan musim ketaatan pasca Ramadhan.  Demikian pula, sejatinya orang yang telah mengukir prestasi dengan beramal dan menjalankan ketaatan yang maksimal di bulan Ramadhan, sangat disayangkan jika setelah melewatinya kembali masuk dalam kelompok pelaku maksiat.  Sebagaimana orang-orang yang sudah berhasil merasakan lezatnya ketaatan, indahnya ibadah, sangat disayangkan jika harus kalah dan kembali pada kesengsaraan karena berlumuran dosa dan kemaksiatan.  Padahal di antara tanda diterimanya suatu amal ibadah seseorang adalah jika dia dapat konsisten dan lebih banyak lagi melakukan amal tanpa melihat waktu atau bulan tertentu dan tempat tertentu yang memiliki keutamaan.  Dan itulah makna hakiki dari firman Allah SWT. :

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. (QS. Al Hijr [15] : 99)

Wallah a’lam bi ash shawab

 .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: