BERDEKAT-DEKATLAH DENGAN AL QUR’AN


Disalin dari : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun V/30 Juli 1431 H / 2010 M

.
Orang yang dalam dadanya tidak ada sedikit pun dari Al Qur’an, ibarat rumah yang bobrok
[HR. At-Tirmidzi]

Maha Bijaksana Allah SWT yang menciptakan kehidupan dengan segala kelengkapannya.  Laut yang luas dengan segala kandungannya.  Langit yang biru dengan gemerlap hiasan bintang-bintangnya.  Dan kehidupan manusia dengan kelengkapan aturan dan rambu-rambunya.

Berdekat-dekatlah dengan Al Qur’an, hati akan memperoleh kesegaran.  Hati sebenarnya mirip dengan tanaman.  Ia bisa segar, layu, dan kering.  Karena itu, hati butuh sesuatu yang bisa menyuburkan : siraman air yang menyejukkan, kehangatan matahari yang menguatkan, dan tanah gembur yang banyak makanan.

Untuk hati, siraman air adalah cahaya Al Qur’an, kehangatan matahari adalah nasihat, dan tanah gembur merupakan lingkungan yang baik.  Hati yang selalu dengan Al Qur’an bagaikan tanaman yang tumbuh di sekitar mata air nan jernih.  Ia akan tumbuh subur dan kokoh.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, dilingkupi pada diri mereka rahmat, dilingkari para malaikat, dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka pada makhluk yang ada di dekat-Nya”. (HR. Muslim)

Berdekat-dekatlah dengan Al Qur’an, pandangan akan menemukan kejernihan.  Secanggih apa pun sebuah gagasan, pemikiran; selama tidak bersandarkak pada Al Qur’an, selama tidak dibimbing Al Qur’an, hanya akan berkutat pada persoalan teknis.  Bukan sesuatu yang ideal.  Hanya akan berkutat pada materi dan materi.

Itulah yang diraih peradaban Barat saat ini.  Sekilas kehidupan masyarakatnya seperti makmur sejahtera, padahal nilai-nilai sosial di sana sudah luntur.  Idealita hidup menjadi begitu dangkal.  Nilai hidup dan kemanusiaan menjadi tidak dihargai.

Begitu pula ketika umat Islam berjarak dengan Al Qur’an.  Semakin jauh, pola pikir akan terjebak pada persoalan materi.  Masalah yang muncul tidak pernah terselesaikan.  Karena gagasan tidak mampu menyentuh persoalan inti, cuma berkutat pada kulit.

Krisi bangsa ini ada pada sisi moral.  Dan itu ada dalam jiwa manusia. Upaya perubahan tidak akan punya arti jika tanpa ada pembenahan pada jiwa manusia.  Allah berdirman, “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada jiwa mereka sendiri…” [QS. Ar Ra’du : 11].

Berdekat-dekatlah dengan Al Qur’an akan menyebarkan jiwa.  Segala syahwat buruk yang melahirkan emosi jahat bisa terkikis.  Pandangan pun akan menjadi jernih.  Maha Suci Allah dalam firman-Nya, “Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang zalim selain kerugian” [QS. Al Is’ra : 82]

Berdekat-dekatlah dengan Al Qur’an, langkah akan mendapat bimbingan.  Siapa pun kita, tetap tidak bisa keluar dari sifat sebagai manusia.  Kadang melangkah dengan semestinya, kadang juga tersasar.  Inilah di antara kelemahan manusia yang tidak bisa menentukan dengan kemampuan dirinya : mana jalan yang benar dan mana yang tidak.  Ia butuh bimbingan.

Hati yang segar dan pemikiran yang jernih akan menggiring langkah ke jalan yang lurus.  Khusus mereka yang selalu dekat dengan Al Qur’an, jalan kehidupan seperti dilengkapi rambu-rambu.  Begitu jelas.

Kalaupun ia tersesat karena sifat manusianya, akan ada rasa tidak nyaman.  Firasat imannya seperti memberi sinyal.  Bisa dalam bentuk kegelisahan, keraguan, dan sebagainya.  Ia tidak lagi butuh teguran apalagi hukuman.  Cukup dengan isyarat dari Allah SWT kesadaran pun kembali segar.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikanmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu.  Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [QS. Al Hadiid : 28]

Berdekat-dekatlah dengan Al Qur’an, kita tidak akan pernah sendirian.  Keimanan dalam hati seseorang bisa terang, bisa juga redup.  Ketika redup itulah, seorang mukmin seperti dalam kesendirian.  Ada ketakutan, putus asa, ketidakmampuan, dan sejenisnya.  Dunia seperti hutan lebat tanpa seorang pun di sana, kecuali dia seorang.  Ia sangat butuh teman.

Seorang mukmin yang membaca Al Qur’an, ia seperti sedang berdialog dengan seorang teman sejati.  Yang siap menunjukkan yang salah dan yang benar.  Ia menuntus sang teman kepada jalan yang baik, penuh kebahagiaan, dan keselamatan.

Rasulullah saw. mengatakan, “Siapa yang ingin berdialog dengan Rabbnya, maka hendaklah dia membaca Al Qur’an”. [HR. Adailami dan Al Baihaqi].

Kini semua pilihan terhampar.  Petunjuk dan rambu-rambu pun sudah diberikan.  Tinggal kita yang harus menentukan : memilih jalan bersama Al Qur’an atau tidak.  Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “…maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan baransiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…” [QS. Al Kahfi : 29].

Wallah a’lam bi ash shawab

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: