MUDIK OH MUDIK…


Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 38, 17 September 2010 M / 08 Syawal 1431 H

 .

“Barangsiapa yang diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia adalah orang yang sukses (beruntung)”.  (QS. Ali Imran : 185)

Jelang lebaran atau pasca lebaran, kita menyaksikan adanya kebiasaan dari masyarakat kita untuk mudik, alias pulang kampung.  Ada yang naik mobil pribadi, angkutan bis, kapal laut, pesawat, dan ada juga yang pakai sepeda motor.  Hiruk-pikuk mudik itu sangat terasa, bahkan di media massa elektronik sering menjadi sebuah acara trend dengan tajuk “mudik lebaran”.  Sehingga kesannya adalah lebaran ya pulang kampung.

Adakah yang perlu dipertanyakan dari kebiasaan mudik?  Jawabannya masih beragam, bisa bermakna ibadah dan kewajiban, namun bisa juga bermakna maksiat dan larangan, lho?

Bermakna ibadah jika niatnya untuk silaturahmi dan dilaksanakan dengan cara yang baik serta tidak melanggar kewajiban.  Seperti tetap melaksanakan shalat wajib misalnya.  Karena banyak sekali saudara kita sesama muslim yang ketika mudik, tidak melaksanakan kewajiban shalat, atau paling tidak, tidak kelihatan shalat di saat perjalanan.  Mudik yang seperti inilah yang bermakna maksiat dan melanggar perintah.  Padahal dalam mudik ada dispensasi untuk men-jama’ dan qashar shalat menjadi dua rakaat, dan tentu tidak boleh meninggalkan kewajiban shalat, apapun kondisinya, bahkan ketika harus shalat dalam kendaraan.

Persiapan pulang kampung, luar biasa rumit.  Bagi yang bawa kendaraan sendiri, jauh-jauh hari kendaraan harus diservice dan boleh jadi semua komponennya harus dicek satu per satu, tentu dengan biaya yang tidak sedikit.  Bagi yang naik kendaraan umu, ternyata tarif angkutan umum naik jadi-jadian sangat mahal.  Belum lagi untuk kebutuhan makan, minum, hadiah untuk keluarga, dan yang lainnya.  Membutuhkan banyak biaya.  Ini tidak bisa dipungkiri.

Gegap gempita mudik juga bisa kita lihat dari panjangnya para pengguna motor, yang harus dikawal oleh polisi untuk keamanan dan antisipasi macet.  Sirine raider yang mengawal rombongan pengguna motor itu meraung-raungm hampir di sepanjang waktu dan perjalanan, karena begitu banyaknya pengguna motor yang mudik.  Gegap gempita mudik.

Lalu apa yang perlu kita maknai dari mudik ini?  Ya kalau ternyata mudik saja begitu besar persiapannya dan begitu banyak biaya yang dikorbankan, bagaimana dengan mudik yang sejati, pulang kampung yang hakiki?  Ya, pulang kampung akhirat, begitu bahasa Al Qur’an menggunakannya.  Kembali kepada Allah SWT. pemilik hidup dan mati, penentu ujung kehidupan.

Pulang kampung akhirat mestinya lebih mendapatkan keseriusan bagi kita semua yang masih hidup, karena kita semua pasti akan mendapatkan gilirannya : “Kullu nafsi daziqatul maut, setiap yang bernafas pasti akan merasakan kematian”.

Imam Ali karramallahu wajhah ketika ditanya tentang definisi taqwa — dan taqwa merupakan terminal anadhan yang telah kita lewati — beliau menjawab lima hal, salah satunya adalah : “Isti’dad liyaumir rahil, yaitu mempersiapkan diri untuk perjalanan jauh tanpa ujung”.  Negeri akhirat adalah negeri tanpa berkesudahan, tempat kekal abadi, imma fi na’imil jannah au fi jahimin naar, menikmati surga atau sengsara di neraka selama-lamanya.  Wal
iyzdubillah.

Rasulullah saw. bersabda menggambarkan orang yang mampu menggunakan potensi akalnya dengan sebenarnya dan dialah orang yang sukses :

“Al kayyisu man dana nafsahu wa ‘amila lima ma’dal maut, Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan bekerja atau beramal untuk masa sesudah kematian”.

Orang sukses kalau barometernya dunia sangatlah relatif, tergantung sudut pandang masing-masing.  Ada yang bilang orang sukses itu ketika banyak duit, atau ketika sedang berkuasa, atau memiliki jabatan yang tinggi, titel pendidikan yang panjang, banyak pengikut, dan seterusnya, tergantung siapa yang menjawabnya.  Semua relatif dan sementara.  Padahal itu semua akan berakhir bersamaan binasanya usia manusia, atau hancurnya dunia.  Namun sukses yang sebenarnya adalah manakala ia mampu selamat di kampung akhirat, yang abadi.  Sehingga orang yang sukses itu adalah sebagaimana Allah SWT dalam firmannya :

“Barangsiapa yang diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh ia orang yang sukses lagi beruntung”

Apa yang perlu dipersiapkan bagi orang yang pasti manemui ajalnya?  Adalah dengan banyak-banyak melaksanakan prestasi ibadah, berkorban jiwa dan harta untuk kepentingan agama dan menolong sesama, melaksanakan sebanyak mungkin kebajikan, kebaikan, amal sholeh, dan ketaatan.  Allah SWTberfirman : “Barangsiapa yang menghendaki berjumpa dengan Allah, maka hendaknya ia beramal shaleh dan tidak menyekutukan Tuhannya dalam melaksanakan peribadatannya”.

Wallahu a’alam bish shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: