ZAKAT FITHRI


Sumber : Buletin Jum’at AL-ISTIQOMAH, 3 September 2010 M / 24 Ramadhan 1431 H

.

Bismillah…

Ikhwani fiddin akramallahu jami’an

Setelah kita menjalankan ibadah puasa, maka syariat yang selanjutnya sebagai rangkaian dari kita melaksanakan puasa ramadhan adalah kita mengeluarkan zakat fithr atau shodaqatun fithri, disebut demikian karena dikeluarkan setelah kaum muslimin berbuka di akhir bulan ramadhan sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam hadits Ibnu Abbas riwayat Imam Abu Daud dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Sunan Abu Daud, : “Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang-orang yang berpuasa dari kata-kata kotor dan perbuatan sia-sia dan sebagai pemberian makanan bagi orang miskin”.

Masyarakat menyebutnya juga sebagai zakat fitrah (zakat jiwa) diambil dari kata fitrah, yaitu asal usul penciptaan manusia, sehingga wajib bagi setiap jiwa. (Fathul Baari).

Hukum zakat fithri adalah wajib menurut pendapat mayoritas ulama di antara mereka Abul Aliyah, Atho’, Ibnu Siriin, sebagaimana lafadz hadits “faradho” yakni kataba, kutiba (diwajibkan).  Hadits Ibnu Umar ra. : “Rasulullah saw. memfardhukan (mewajibkan) zakat fithri satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum kepada budak, orang merdeka, laki-laki dan perempuan, kecil maupun besar dari kaum muslimin”. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).  Ukuran 1 sho’ sama dengan 1 mud atau ukuran dua telapak tangan orang dewasa atau 2,5 kg.

SIAPAKAH YANG WAJIB MENUNAIKANNYA?

Dari hadits di atas Rasulullah telah mewajibkan kepada setiap kaum muslimin baik itu seorang budak, merdeka, laki-laki atau perempuan, kecil atau besar.  Adapun janin tidalah termasuk dalam
orang-orang yang ditetapkan, bahkan Ibnul Mundzir menukilkan ijma (kesepakatan ulama) tidak diwajibkannya zakat fithr untuk seorang janin.  Akan tetapi apabila seorang ibu melahirkan sebelum matahari terbenam pada akhir (tanggal 29) Ramadhan maka bayi yang dilahirkannya terkena kewajiban untuk dikeluarkan zakatnya.

Anak kecil yang masih dinafkahi oleh orang tuanya, maka orang tuanya atau walinya yang berkewajiban untuk mengeluarkan zakatnya.  Untuk seorang budak (hamba sahaya), maka kewajiban tuannya untuk mengeluarkan zakatnya.

Adapun orang kafir tidak dipersyaratkan untuk terkena kewajiban zakat, akan tetapi tidaklah mereka terlepas dari hukuman.

BAGAIMANA DENGAN ORANG YANG TIDAK MAMPU?

Imam As Syaukani menjelaskan, “Barangsiapa yang tidak mendapatkan sisa dari makanan pokonya untuk malam hari raya dan siangnya, maka tidak diwajibkan membayar fitrah.  Apabila ia memiliki sisa dari makanan pokok hari itu, ia harus mengeluarkannya bila sisa itu mencapai ukurannya (zakat fitrah)”. Ad-Darari, 1/365, Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/553, lihat pula Ftawa Al Lajnah Ad-Daimah, 9/369)

DALAM BENTUK APAKAH ZAKAT FITHR ITU DIKELUARKAN

Hal ini dijelaskan dalam hadits yang lalu.  Dan lebih jelas lagi dengan riwayat berikut :

“Dari Abu Sa’id ra, ia berkata : “Kami memberikan zakat fitrah di zaman Nabi sebanyak 1 sha’ dari makanan, 1 sha’ kurma, 1 sha’ gandum, ataupun 1 shga’ kismis (anggur kering)'”. (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat No. 1508 dan 1506, dengan Bab Zakat Fitrah 1 sha’ dengan makanan.  Diriwayatkan juga oleh Muslim No. 2280)

Kata makanan maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri baik berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya.  Yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Sa’id yang lain.

“Ia mengatakan : ‘Kami mengeluarkannya (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah saw. pada hari Idul Fithri’.  Abu Sa’id mengatakan lagi : ‘Dan makanan kami saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, dan kurma’.” (Shahih HR. Bukhari, Kitabuz Zakat, Bab Shadawah Qablal Id, Al-Fath, 3/375 no. 1510).

Di sisi lain, zakat fitrah bertujuan untuk menyenangkan para fakir miskin.  Sehingga seandainya diberi sesuatu yang bukan dari makanan pokoknya maka tujuan itu menjadi kurang tepat sasaran.

Inilah pendapat yang kuat yang dipilih orang mayoritas para ulama.  Di antaranya, Malik (At-Tamhid, 4/138), Asy-Syafi’i dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ihmad, Ibnu Taimiyyah (Majmu’ Fatawa, 25/69), Ibnul Mundzir (Al-Fath, 3/373), Ibnul Qayyim (I’lamul Muwaqqi’in, 2/21, 3/23, Taqrib li Fiqhi Ibnil Qayyim, hal. 234), Ibnu Baz dan fatwa Al Lajnah ad Da’imah (9/365, Fatawa Ramadhan, 2/914).  Juga ada pendapat lain yaitu zakat fitrah diwujudkan hanya dalam bentuk makanan yang disebutkan dalam hadits Nabi.  Ini adalah salah satu  pendapat Al Imam Ahmad.  Namun pendapat ini lemah. (Majmu’ Fatawa, 25/68)

BOLEHKAH MENGELUARKANNYA DALAM BENTUK UANG?

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini.  Pendapat yang kuat adalah “Tidak boleh mengeluarkan dalam bentuk uang.  Ini adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Dawud.  Alasannya, syariat telah menyebutkan apa yang mesti dikeluarkan, sehingga tidak boleh menyelisihinya.  Zakat sendiri juga tidak lepas dari nilai ibadah, maka yang seperti ini bentuknya harus mengikuti perintah Allah SWT.  Selain itu, jika dengan uang maka akan membuka peluang untuk menentukan sendiri harganya.  Sehingga menjadi lebih selamat jika menyelaraskan dengan apa yang disebut hadits.  An-Nawawi mengatakan : “Ucapan-ucapan Asy-Syafi’i sepakat bahwa tidak boleh mengeluarkan zakat dengan nilainya (uang)”.  (Al-Majmu’, 5/401).  Abu Dawud mengatakan : “Aku mendengar Al-Ahmad ditanya : “Bolehkah saya memberi uang dirham — yakni dalam zakat fitrah?’  Beliau menjawab : ‘Saya khawatir tidak sah, menyelisihi Sunnah Rasulullah”.”  Ibnu Qudamah mengatakan : “Yang tampak dari madzhab Ahmad bahwa tidak boleh mengeluarkan uang pada zakat”. (Al-Mughni, 4/295).  Pendapat lain pula yang dipilih oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan (lihat Fatawa Ramadhan, 2/918-928).

WAKTU MENGELUARKANNYA

Menurut sebagian ulama bahwa jatuhnya kewajiban fitrah itu dengan selesainya bulan Ramadhan.  Namun Nabi saw. menerangkan bahwa waktu pengeluaran zakat fitrah itu sebelum shalat sebagaimana dalam hadits yang lalu.

“Dan Nabi memerintahkan agar dilaksanakan sebelum orang-orang keluar menuju shalat”.

Dengan demikian, zakat tersebut harus tersalurkan kepada yang berhak sebelum shalat.  Sehingga maksud dari zakat fitrah tersebut terwujud, yaitu untuk mencukupi mereka di hari itu.

Namun demikian, syariat memberikan kelonggaran kepada kita dalam penunaian zakat, dimana pelaksanaannya kepada amil zakat dapat dimajukan 2 atau 3 hari sebelum id berdasarkan riwayat berikut :

“Dulu Abdullah bin Umar memberikan zakat fitrah kepada yang menerimanya.  Dan dahhulu mereka menunaikannya 1 atau 2 hari sebelum hari id”. (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat, Bab 77 no. 1511 Al-Fath, 3/375).

Dalam riwayat Malik dari Nafi’ :

“Bahwasanya Abdullah bin Umar menyerahkan zakat fitrahnya kepada petugas yang zakat dikumpulkan kepadanya 2 atau 3 hari sebelum Idul Fitri”. (Al-Muwathtaa’ Kitabuz Zakat, Bab Waqtu Irsal Zakatil Fithri, 1/285.  Lihat pula Al-Irwa’, no. 846).

Sehingga tidak boleh mendahulukan lebih cepat dari itu, walaupun ada juga yang berpendapat itu boleh, karena demikianlah praktek para shahabat.

KEPADA SIAPA ZAKAT FITHRI DIBERIKAN?

Dari Ibnu Abbas ia mengatakan : “Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin”.

Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syaukani dalam bukunya As-Sailul Jarrar dan di zaman ini Asy-Syaikh Al-Albani, dan fatwakan Asy-Syaikh Ibnu Baz,Ibnu Utsaimin,
dan lain-lain.

Ibnul Qayyim mengatakan : “Di antara petunjuk beliau saw., zakat ini dikhususkan bagi orang-orang miskin dan tidak membagikannya kepada 8 golongan.  Beliau tidak pula memerintahkan untuk serta tidak seorang pun dari kalangan shahabat yang melakukannya.  Demikian pula orang-orang yang setelah mereka”. (Zadul Ma’ad, 2/21, lihat pula Majmu’ Fatawa. 25/75, Tamamul Minnah, hal 387, As-Sailul Jarrar, 2/86, Fatawa Ramadhan, 2/936).

DEFINISI FAKIR DAN MISKIN

Ulama telah mendefinisikan kriteria orang-orang disebut fakir dan miskin, sebagaimana Allah telah membedakan antara orang-orang fakir dan miskin di dalam firman-Nya “lil fuqaraa wal masakiin” (untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin).

Pendapat Imam Syafi’i dan jumhur ulama fakir lebih membutuhkan daripada orang miskin.  Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya (341) : “Fakir adalah orang yang tidak punya apa-apa atau punya sedikit kecukupan tapi kurang dari setengahnya.  Sedangkan miskin adalah yang mendapatkan setengah kecukupan atau lebih tapi tidak memadai”.  Contoh : Orang yang apabila kebutuhannya dalam sehari 10 ribu akan tetapi dia hanya mampu memenuhinya hanya 3 atau 4 ribu, maka dia fakir, kalau dia mampu memenuhi 7 atau 8 ribu maka dia tergolong miskin.

Terkadang seorang miskin mempunyai harta akan tetapi harta itu bukanlah barang yang mewah yang dia gunakan untuk bekerja atau mencari nafkah.  Sebagaimana disebutkan Allah dalam Surah Al Kahfi : 79 : “Adapun perahu itu kepunyaan orang miskin yang dipakai untuk bekerja di laut”.

BERAPAKAH YANG DIBERIKAN KEPADA MEREKA?

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan (hal. 341) : “Maka mereka diberi seukuran yang membuat hilangnya kefakiran dan kemiskinan mereka”.  Maka diupayakan jangan sampai setiap orang miskin diberi kurang dari ukuran fitrah itu sendiri.

Wallahu a’lam bish shawab ***

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: