PEPES IKAN TONGKOL


Karya : Amalia
Dikutip dari : UMMI, No. 4/XVI Agustus – September 2004 M / 1425 H.

.

Kakiku sudah terasa amat sangat pegal.  Ujung-ujung jari kakiku terasa panas.  Jalan yang harus kutempuh mungkin masih lima kilometer lagi.  Tapi rasanya kaki ini sudah tidak sanggup lagi.  Bila sepasang sepatu bututku ini bisa bicara, tentulah dia lebih memilih kolong tempat tidurku daripada kupakai lagi besok pagi.

Matahari kini tepat di atas kepalaku.  Panasnya sungguh menyengat sampai terasa menembus kerongkonganku yang semakin terasa kering.  Perutku yang mulai melilit terasa semakin melengkapi deritaku hari ini.

Aku menoleh ke belakang, siapa tahu ada salah seorang penduduk desaku yang baru pulang dari kota, jadi bisa menumpang.  Tapi nihil.  Jalan tanah yang diapit sawah di sebelah kanan dan kirinya ini begitu lengang.  Para petani di sawah pun mungkin tengah istirahat di dangaunya masing-masing, menikmati kiriman makan siang dari keluarganya.  Jadi, dua hal yang amat kubutuhkan saat ini, tidak mungkin aku dapatkan.  Sedikit makanan pengganjal perut dan tumpangan menuju rumah.

Aku berhenti di bawah pohon akasia yang daunnya tidak begitu lebat.  Walaupun panas masih terasa di kepalaku, setidaknya aku bisa merasakan sedikit hembusan angin dan tegukan air ludahku.  Dan kedua kakiku bisa beristirahat.  Aku termenung.  Kalau saja aku tidak tergiur dengan es campur di pasar tadi, pasti sekarang aku sudah duduk manis di depan meja makan bersama istri dan mertuaku, menghadapi sepiring nasi yang masih mengepulkan asap, segelas air putih, dan seperti biasa, pepes ikan tongkol.

Kalau saja sebelumnya aku bertanya dulu harga es campurnya sebelum memesan, pastilah masih ada sisa uang untuk naik angkutan, paling tidak separuh perjalanan dari kecamatan ke desa.  Tapi kini aku hanya bisa mendengus dan memaki kebodohanku dalam hati.  Dan akhirnya, kalau saja aku tidak begitu ingin makan pepes tongkol, tentu aku tidak akan sampai ke kecamatan!

Ingatan akan pepes tongkol itu membuatku kembali menggerakkan kakiku untuk melangkah menyusuri jalan, menunju ke rumahku, tepatnya rumah mertuaku.  Lima kilometer sesungguhnya tidak jauh lagi.  dan aku kini harus mendapatkan pepes tongkol itu!

Setiap kali makan, di rumah selalu tersedia sebungkus pepes ikan tongkol.  Terbungkus rapi dengan daun pisang bersemat lidi di kedua ujungnya.  Aku heran, pada hari pertama sejak aku resmi menjadi menantu satu-satunya dan siap hidup menumpang di rumah mertuaku, beliau sudah mengetahui hidangan kesukaanku.  Pepes ikan tongkol dengan nasi yang masih mengepul dan segelas air putih.  Dan setiap kali tanganku hendak mencuil pepes ikan itu sedikit saja, selalu ibu mertuaku mendahuluiku dengan kata-kata yang seminggu ini sudah aku hafal di luar kepala, “Nak… ambil bumbunya saja ya, ikannya nanti untuk Bapak”.

Dan aku hanya menurut saja, sambil menelan ludah.  Kasihan bapak mertuaku.  Memang beliau yang menafkahi keluarga ini dengan bekerja di bengkel sepeda milik Haji Hamid.  Dan sebagai menantu yang masih menganggur, aku harus menahan diri, cukup makan dengan sejumput bumbu pepes ikan tongkol diaduk dengan nasi yang masih mengepul.

Mulanya aku maklum, karena kulihat istri dan ibu mertuaku pun melakukan hal yang sama, setiap hari selama seminggu ini.  Namun akhirnya aku sudah tidak tahan lagi.  Sudah cukup bagiku makan berlauk bumbu pepes tongkol saja.  Kata Nurmi istriku, kalau saja aku bekerja, aku tentu bisa makan pepes tongkol yang sebenarnya, bukan bumbunya saja.  Paling tidak di rumah ini ada dua bungkus pepes ikan tongkol.  Satu untukku dan satu untuk bapak mertuaku.

Memang, keluarga Nurmi sangat menjunjung tinggi kehormatan seorang lelaki yang bekerja.  Dia akan selalu dilayani dan dicukupi kebutuhannya serta disediakan semua keinginannya, agar dapat bekerja dengan hati tenang sehingga dapat pula memperoleh rezeki yang halal.  Sebab, bila kebutuhan mendasar ini tidak terpenuhi tentu timbullah nafsu jahat yang akan mendorongnya mendapatkan rezeki yang tidak halal.

Aku manggut-manggut saja mendengar peraturan itu.  Dan aku tidak heran mengetahui keluarga ini lebih mengutamakan makanan halal daripada makanan yang enak.  Aku tahu, bapak dan ibu Nurmi adalah orang tua yang taat beribadah dan berakhlak baik dengan kehidupan yang samat sederhana.  Bahkan mereka bersedia menjadikanku sebagai menantunya dengan alasan aku pandai mengaji dan sering menjadi imam di masjid desa, walaupun aku menganggur.

Tetapi sesungguhnya aku tahu alasan mereka yang lebih mulia lagi.  Karena aku seorang yatim piatu.  Bapakku sudah meningga sejak aku masih bayi dan ibuku baru saja meninggal dua minggu yang lalu karena sakit.  Rumah dan barang-barang peninggalan ibuku sudah kujual untuk menutupi biaya pengobatan ibu.  Dan kemudian aku tinggal di masjid, hidup dari belas kasihan orang-orang desa.  Selang tiga hari kemudian, ayah Nurmi memintaku menjadi menantunya.

Ah, sebenarnya aku memang terlalu banyak menuntut.  Bukankah seharusnya aku mensyukuri keadaan ini?  Bahkan seharusnya membalas budi baik kedua mertuaku, karena memberiku tempat berteduh, memberiku makan, dan menyerahkan putri semata wayangnya untuk menjadi milikku.   Jarang ada orang tua yang mau menikahkan anaknya dengan seorang pengangguran.

Duhai Nurmi, maafkan soal tuntutanku akan pepes ikan tongkol tadi pagi.  Aku memintamu untuk menyisihkan sebagian pepes ikan tongkol itu untukku, karena hari ini aku aku akan mendapatkan pekerjaan di kecamatan yang ternyata sudah terisi.  Bahkan uang dua ribu rupiah yang kupinjam dari ibu mertuaku pun tidak dapat kukembalikan.

Aku tidak tahu, apakah aku harus mempercepat langkahku untuk pepes ikan tongkol itu, atau melangkah gontai karena putus asa.

Akhirnya aku memasuki desaku saat matahari mulai tergelincir ke barat.  Aku tidak tahu jam berapa, yang jelas aku masih mendapatkan waktu shalat zhuhur.  Jalan yang kulalui melewati bengkel tempat bapak mertuaku bekerja.  Aku melihat beliau sedang asyik menambal ban sepeda yang bocor.  Tangannya yang kurus dan keriput tampak terampil memukul-mukulkan palu pada bagian ban yang sudah ditambalnya.  Kuamati pakaian yang selalu sama setiap hari, semakin lusuh dan semakin bertambah sobekan ataupun lubangnya.  Dia memang lebih pantas mendapatkan pepes ikan tongkol itu daripada aku.  Walaupun aku masih mudah dan kuat, tapi di desa ini tidak ada yang mau memberiku pekerjaan.

Hari ini aku makan dengan bumbu pepes ikan tongkol.

***

Bapak mertuaku sakit.  Sejak semalam, aku mendengar batuknya yang tidak kunjung berhenti.  Kata Nurmi, Bapak tidak bisa masuk kerja hari ini… itu berarti tidak ada uang belanja untuk besok!

“Biar aku saja yang menggantikan Bapak”, ucapku dengan rasa penuh tanggung jawab pada keluarga ini.  Bapak dan ibu mertuaku serta istriku memandangiku dengan raut wajah yang sukar kujelaskan.  Seperti kurang percaya akan ucapanku juga sedikit gembira dengan adanya sedikit harapan untuk besok pagi.  Akhirnya, walau agak berat, bapak mertuaku mengangguk perlahan.  Aku tahu dia sedikit meragukan kemampuanku.  Mungkin dalam benaknya, aku hanya bisa ngaji dan adzan.  Nurmi juga sedikit khawatir saat mengantarku pergi.

Ternyata, kekhawatiran Nurmi terbukti.  Haji Hamid memanggilku dengan raut muka masam.

“Kamu bisa kerja apa tidak sih?  Masa dua orang langgananku kembali lagi, gara-gara ban sepeda mereka yang kamu tambal tadi, kempes lagi.  Bisa rugi aku kalau kamu kerja di sini.  Mendingan mertuamu.  Biar tua dan lambat kerjanya, tapi langgananku selalu puas.  Nih, bayaranmu hari ini.  Seharusnya aku potong karena kerugian tadi.  Tapi aku kasihan sama mertuamu itu”.

Aku menerima uang pemberian Haji Hamid.  Satu, dua, tiga.  Tiga ribu rupiah?  Aku menelan ludah.  Tiga ribu rupiah untuk sepuluh sepeda yang kutambal bannya dan bekerja seharian?  Sambil melangkah gontai, aku pulang.

Cukupkah uang ini untuk belanja besok?  Pantas hanya bapak mertuaku yang layak mendapatkan pepes ikan tongkol itu.  Aku jadi malu pada diriku sendiri, yang selalu mengagungkan pepes ikan tongkol dalam benakku, dan menggantungkan harap akan nikmat rasanya.  Padahal ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan dalam keluarga ini.  Bapak mertuaku yang sudah tua.  Mungkin alasan lain beliau menjadikanku menantu adalah untuk meneruskan langkahnya, menafkahi
keluarga ini.

Namun tiba-tiba rasa malu tadi menguap bersama kepulan nasi hangat, sebungkus pepes ikan tongkol dan segelas air putih yang tersaji di depan hidungku.  Hari ini aku berhak mendapatkan pepes ikan tongkol!  Berhak menikmati empuknya daging makhluk laut itu.  Karena aku sudah menyerahkan tiga ribu rupiah hasil keringatku hari ini, pada ibu mertuaku.

“Nak… ikannya untuk Bapak, ya…”

Aku tertawa dalam hati, ibu mertuaku terlambat mengucapkan kata-kata saktinya itu.  Aku sudah memindahkan pepes ikan tongkol itu di atas piringku setelah membersihkan bumbunya.  Dan aku tidak merasa bersalah dengan air mukanya yang berubah, karena toh aku sudah berniat menyisihkan separuh ikan tongkol ini untuk bapak mertuaku.

“Mas…” Nurmi memandangiku, mungkin kecewa dengan ketidakpatuhanku pada ibunya.

“Tenang Nurmi, aku akan memotong ikan ini jadi dua.  Untukku dan Bapak.  Aku… hhh… hhh… hekk… kenapa ikan tongkol ini keras sekali, ya?”

Aku berusaha memotong ikan itu menjadi dua.  Tapi keras sekali.  Sungguh aneh, ada ikan sekeras ini.  Akhirnya kukeluarkan sisa tenagaku hari ini dan… klotak!  Ikan tongkol itu meloncat ke atas meja.  Aku tertegun.

“Nak… maafkan ibu”.

Kulihat Ibu dan Nurmi menunduk dalam.  Hening.  Suara batuk bapak mertuaku terdengar sayup-sayup.  Aku tidak mengerti…

“Sebenarnya… pepes ikan tongkol itu memang dari kayu, Nak!  Maafkan Ibu…”

Aku hanya bisa memandang raut muka ibu mertuaku yang tampak mendung.  Aku teringat akan kisah seorang ibu yang memasak batu untuk anak-anaknya di jaman Khalifah Umar bin Khattab.  Bukankah pepes kayu ini lebih baik dari batu?

Malam ini, Nurmi membeberkan kisah hidupnya, bahwa dia sudah makan pepes kayu itu sejak kecil, tepatnya bumbu pepes kayu.  Bapak selalu makan belakangan demi menghidupkan kisah ibu soal pepes ikan tongkol itu.  Dan Nurmi pun baru mengetahui isi sebenarnya pepes itu dengan kejadian hampir sama dengan pengalamanku, yaitu saat kayu itu akhirnya tidak tahan lagi untuk dipepes terus.

Aku merasa terpukul dan hatiku nyeri.  Namun kuakui hidupku selanjutnya menjadi lebih bermakna, karena orang-orang terkasih yang ada di sekelilingku, tidak akan kubiarkan makan pepes ikan tongkol itu lagi.

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: