LAILATUL QADAR DAN I’TIKAF


Sumber : Shohih Fiqih Sunnah II
Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 36, 03 September 2010 M / 24 Ramadhan 1431 H

.

“Sesungguhnya kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.  Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”. (QS. Ad Dukhan [44] : 3 – 4)

Para pembaca yang semoga dimudahkan Allah untuk melakukan ketaatan.  Perlu diketahui bahwa sepertiga terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang melimpah.  Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.  Oleh karena itu, suri tauladan kita — Nabi Muhammad saw. — dahulu bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut dengan berbagai amalan melebihi waktu-waktu lainnya.  Sebagaimana istri beliau, Ummul Mu’minin Aisyah ra. berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya”. (HR. Muslim)

Maka perhatikanlah apa yang dilakukan suri tauladan kita!  Lihatlah Nabi saw. bukanlah malah mengisi hari-hari terakhir Ramadhan dengan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan untuk persiapan lebaran (hari raya).  Yang beliau lakukan adalah bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah seperti sholat, membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah, dan lain sebagainya.  Renungkanlah hal ini!

KEUTAMAAN LAILATUL QADAR

Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya.  Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan.  Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.  Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”. (QS. Ad Dukhan [44] : 3 – 4).

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul Qadar sebagaimana ditafsirkan pada Surat Al Qadar.  Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan”. (QS. Al Qadar [97] : 1).

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya :

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.  Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.  Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al Qdara [97] : 3 – 5).

KAPAN MALAM LAILATUL QADAR TERJADI?

Terjadinya lailatul qadar di malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabdi Nabi saw. :

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan Ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadist dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw. bersabda :

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa”. (HR. Muslim).

Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluj tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab ra.  Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun.  Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala.  Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw. :

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa”.
(HR. Bukhari).

Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas.  Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya.  Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak.  Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini.  Amin.

DO’A DI MALAM LAILATUL QADAR

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada malam lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita — Nabi Muhammad saw. — sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah.  Beliau ra berkata :

“Katakanlah padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar.  Apa yang aku katakan di dalamnya?”  Beliau menjawab, “Katakanlah : ‘Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fuanni’ (artinya : ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku)”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

TANDA MALAM LAILATUL QADAR

  1. Udara dan angin sekitar terasa tenang.  Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda : “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan”. (HR. Ath Thoyalisi)
  2. Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.
  3. Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
  4. Matahari akan terbit pada pagi hari dalam keadaan jernih, tidak ada sinar.

Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana sehingga matahari itu naik”. (HR. Muslim)

I’TIKAF DAN PENSYARI’ATANNYA

Lalu apa yang dimaksud dengan i’tikaf?  Dalam kitab Lisanul Arab, i’tikaf bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu.  Sehingga orang yang mengharuskan dirinya untuk berdiam di masjid dan mengerjakan ibadah di dalamnya disebut  mu’takifun atau ‘akifun. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/150)

Dan paling utama adalah beri’tikaf pada malam hari terakhir di bulan Ramadhan.  Aisyah ra. mengatakan bahwa Nabi saw. biasa beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah ‘azza wa jalla mewafatkan beliau. (HR. Bukhari & Muslim).  Nabi saw. juga pernah beri’tikaf di 10 hari terakhir dari bulan Syawal sebagai qadha’ karena tidak beri’tikaf di bulan Ramadhan (HR. Bukhari & Muslim).

Dalam sepuluh hari terakhir ini, kaum Muslimin dianjurkan (disunnahkan) untuk melakukan i’tikaf.  Sebagaimana Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah saw. biasa beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama 10 hari dan pada akhir hayat, beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari. (HR. Bukhari).

Wallahu a’alam bish shawab

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: