SAMBAL JENGGOT


Sumber : UMMI, No. 10/XV April 2004 M / 1425 H.

Karya : Ina Achmar

.

Besok, sepupu-sepupu Rana akan berlibur di desa.  Liburan kemarin, Rana berlibur di rumah mereka di Jakarta.  Mengunjungi Taman Mini, Ancol, Dunia Fantasi, dan lain sebagainya.  Sekarang giliran para sepupu itu yang akan menghabiskan masa liburan mereka di desa Rana, di lereng Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Rana sudah menyiapkan semuanya serapi-rapinya.  Kamar untuk tidur sudah disiapkan, para sepupunya itu pasti akan nyaman tidur di dalamnya.  Bukan itu saja, bahkan Rana sudah menyiapkan rencana kegiatan mereka selama dua minggu.  Hari pertama, mereka istirahat saja di rumah pohon di belakang rumah.

Hari kedua mereka akan menemani Pak Karta, asisten Bapak, memanen kayu manis di kebun dekat hutan.  Pasti pengalaman baru bagi anak-anak kota itu.  Hari ketiga mereka akan memancing udang di danau kecil di seberang hutan.  Sebelumnya mereka akan main perahu dari pohon pisang.  Setelah lelah main perahu mereka akan mengangkat besek-besek yang dijadikan penangkap udang dari dalam air.  Para sepupunya pasti akan terkejut melihat betapa mudahnya menangkap udang.

Hari keempat, kelima, semua sudah terencana rapi.  Desa Rana memang tidak memiliki taman-taman hiburan seperti Jakarta, tapi di desa Rana, semua tempat boleh untuk bermain anak-anak.  Tanpa takut ditabrak, tanpa takut dimarahi petugas apa pun, dan yang pasti tanpa bayar.

Namun, ada satu hal yang masih mengganjal Rana, yaitu soal makanan.  Rana tahu, para sepupunya itu susah sekali makan.  Mereka hanya suka ayam goreng tepung, nugget, sosis, bakso, burger, dan sejenisnya.  Enak juga sih, Rana juga suka.  Tapi kalau terus-terus begitu, gizinya tentu tidak baik.  Itu yang dikatakan ibu.

Masalahnya, di desa Rana yang terpencil itu, tidak ada makanan seperti itu.  Kalau sekali-sekali mau makan ayam goreng, Ibu akan menyembelih ayam untuk dimasak di hari istimewa.  Selama ini keluarga Rana lebih banyak makan sayur yang tinggal ambil saja dari kebun.  Lauk-pauknya tempe atau tahu yang diantar penjualnya setiap pagi.  Kadang-kadang ikan di kolam samping diambil.  Begitu-begitu saja, tapi karena ibu pintar mengolahnya, semuanya terasa enak saja bagi Rana sekeluarga.  Tapi apa para sepupunya itu juga akan beranggapan sama?  Rana ragu.

“Kalau besok Farid, Faris, dan Fathya ke sini mereka makan apa, Bu?” tanya Rana malam itu.

“Ya makan seperti yang biasa kita makan”.  Jawab Ibu ringan.

“Apa mereka mau makanan kampung, Bu?  Lauk mereka di sana kan enak-enak terus”.

“Rana, makanan yang lezat dan enak itu bukannya berasal dari bahan mahal.  Tapi bahan baku makanan lezat itu, rasa lapar”.

Rana mengerutkan kening.  Ibu aneh ya?  Mana ada makanan yang bahan bakunya rasa lapar?

“Maksud ibu begini.  Kalau misalnya Rana disuruh makan makanan yang terbuat dari bahan-bahan mahal tapi saat itu Rana sedang tidak lapar.  Rasanya seperti apa?  Lalu bandingkan dengan saat Rana hanya makan dengan tempe, lalap, dan sambal, tapi saat itu Rana sedang lapar betul.  Lebih enak yang mana?”

Lebih enak yang kedua?  Pikir Rana.

“Rana masih ingat hadits yang menyuruh kita makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang?  Saat lapar makanan akan terasa lebih nikmat.  Kenikmatannya semakin berkurang seiring dengan hilangnya rasa lapar kita.  Kita lebih mensyukuri makanan kita, rezeki kita”.

Rana mengangguk-angguk.

***

Jam delapan pagi, para sepupu Rana datang ditemani Pakdhe Budi, kakak sulung Bapak.  Mereka tampak menggigil, desa Rana memang dingin.

“Kita ke dapur saja yuk?  Sarapa”.  Ajak Rana pada para sepupunya.

Tanpa menunggu ditawari lagi.  Sepupu-sepupu Rana berlarian menuju dapur.  Perjalanan yang jauh memang membuat perut mereka lapar.

“Ini ada sambal jenggot”.  Tunjuk Rana pada salah satu makanan.

“Apaan tuh?  Sambal jenggeot?  Jenggot siapa yang disambal?   Jenggot orang apa jenggot kambing?” tanya Farid.

“Fathya nggak mau ah.  Jijik.  Fathya mau ini saja”.  Fathya meraih sebuah kerupuk.

“Sambal jenggot itu cuma namanya saja.  Bukan dibuat dari jenggot beneran.  Warnanya saja yang mirip jenggota kakek-kakek.  Coba deh.  Enak kok”.  Tawar Rana.

Faris mengamati sambal di cobek yang tampak menggoda selera itu.  Dicoleknya sedikit, dibawanya ke mulut.

“Wah enak. Rasanya nggak kayak jenggot kok.  Enak bener”.  Faris menyendok sambal ke piringnya.

“Ih…, memangnya mas Faris pernah makan jenggot beneran?”  Fathya protes.  Semuanya tertawa mendengar percakapan itu.

Dengan sepotong tempe dan lalap sayuran Faris memakan sambal itu dengan penuh kenikmatan. Melihat itu, Farid ikut mencolek.

“Eh iya, enak.  Dari kelapa ya, Ran?”

“Iya.  Kelapa dikupas, trus dibakar di atas bara api, diparut, trus diaduk dengan sambal.  Karena sebagian terbakar makanya warnanya seperti uban”

Fathya mencolek sambal, lalu…

“Wow…!  Enak betul”.  Serunya riang.  Mereka pun makan dengan lahapnya.

Diam-diam Rana melirik ke arah Ibunya.  Ibu mengacungkan jempol ke arahnya.  Dengan cepat Rana membalas dengan dua jempol.  Ternyata benar, tidak perlu mahal untuk merasakan betapa nikmatnya makanan.  (Ina Achmar).

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: