ORANG PUASA SELALU MEMBUAT SEJARAH


Sumber : Buletin Jum’at AL – BINA, 12 Ramadhan 1429 H

.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kami berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kami agar kamu bertakwa”  (QS. Al Baqarah : 183)

Puasa mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah makhluk sejarah yang berparan aktif dalam pembentukan sejarah kehidupan manusia.  Manusia bukanlah sosok yang tiba-tiba datang dari langit yang kemudian datang ke bumi atau sosok yang datang dari suatu tempat yang tidak diketahui latar belakangnya sehingga kita tak perlu peduli tentang apa yang akan diperbuatnya di masa mendatang, dan bukan pula sosok yang kemudian tanpa jati diri dan dicitrakan dengan mengidentikkan umat Islam adalah teroris sebagaimana yang dituduhkan saat ini.

Semua tuduhan negatif itu mungkin bisa terjadi kalau umat Islam itu tidak memiliki latar belakang sejarah yang jelas.  Umat Islam adalah ummat yang memiliki jati diri dan sejarah yang jelas.  Makanya seseorang itu tidak bisa dikaitkan secara langsung dengan Islam seandainya perilakunya sangat jauh atau tidak sesuai dengan perilaku standar sejarah ummat Islam di masa lalu.

Dalam QS. Al Baqarah ayat 183 – 184 Allah SWT berfirman bahwa pewajiban adanya puasa di Bulan Ramadhan ini adalah kewajiban yang telah terjadi sebelum ada.  Anda bisa bermakna dua, pertama anda bermakna masyarakat Rasulullah SAW yang dahulu mendapatkan wakyu Allah SWT saat itu, dan kedua bermakna umat-umat beragama sebelum datangnya Islam, ada agama Yahudi, ada agama Nasrani, yakni agama Yahudi dan Nasrani yang benar mengenal persyariatan puasa, meskipun bentuknya berbeda dengan pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan.  Tapi secara prinsip syariat puasa telah diperintahkan oleh Allah SWT.

Ini juga yang mengaitkan bahwa sesungguhnya agama Islam bukanlah agama yang ingin tampil asal beda, tapi agam Islam adalah agama yang siap melanjutkan hal-hal yang positif yang ada pada ajaran-ajaran agama Samawi yang sebelumnya ada.  Karenanya Islam juga melanjutkan agenda Allah yang besar seperti prinsip tauhid (keesaan Allah).  Karenanya Islam juga mengakui ajaran kenabian seperti dalam ajaran agama samawi lainnya.  Islam juga mengakui adanya ajaran kitab suci, Islam juga mengajarkan tentang pentingnya ahlaq, dan lain-lain.  Yang jelas Islam ini bukanlah agama yang jadi-jadian dan tidak jelas jati diri dan latar belakang sejarahnya.  Atau agama yang asal beda.  Tapi Islam adalah agama yang melanjutkan ajaran-ajaran yang positif yang telah dibawa oleh agama samawi sebelum Islam, yang termasuk di dalamnya adalah ibadah saum di bulan Ramadhan.

Jadi jika minqoblikum di sini diartikan sebagai umat Nabi Muhammad, maka umat Nabi Muhammad (umat Islam) ini adalah yang melanjutkan peran sejarah yang dahulu pernah dilakukan oleh umat sebelum Islam dengan adanya perbaikan-perbaikan karena sudah adanya perubahan-perubahan dari agama tauhid yang dahulu dibawa oleh Nabi Ibrahim AS, Musa AS, dan Isa AS.  Al Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim itu bukanlah seorang yang beragama Yahudi, beragama Nasrani bukan pula orang yang musyrik tapi dia adalah seorang muslim yang muslim, yang hanif, yang lurus.  Begitu juga dengan Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS.

Minqoblikum juga bisa berarti kita sekarang ini, saya dan anda semuanya.  Kita telah diwajibkan Allah berpuasa sebagaimana generasi-generasi sebelum kita.  Ayah kita, kakek kita, buyut kita, dan seterusnya.  Maknanya adalah bahwa dinamika tradisi berpuasa melanjutkan peran sejarah itu telah dilakukan oleh mereka-mereka yang hidup sebelum kita sampai kepada Nabi Muhammad SAW.  Apakah yang mereka lakukan?  Dalam konteks perjalanan sejarah mereka tidak pernah menjadikan puasa ini sebagai bulan untuk bermalas-malasan.  Sebab sejarah tidak bisa dibuat dengan bermalas-malasan.  Kalaupun ada adalah sejarah kaum pemalas.

Tidak ada penemuan-penemuan, tidak akan ada produk-produk, tidak ada bisnis yang unggul yang muncul dari para pemalas.  Kita semua akan sukses bisnis, sukses kerja karena oleh mereka yang menghargai waktu, menghargai profesionalitas, menghargai jati diri, mereka yang bekerja secara efektif dan efisien, dan dia memahami bahwa dia bisa menyumbangkan dan menghasilkan sesuatu.  Itulah karakter yang dilakukan oleh orang-orang yang berpuasa dan bisa membentuk sejarah.

Kemalasan bukanlah karakter yang dimiliki oleh generasi Rasulullah dan para sahabat yang telah berhasil menoreh sejarah yang gilang-gemilang.  Puasa Rasulullah dan para sahabat adalah puasa yang senantiasa diisi oleh pelaksanaan amal sholeh yang berlipat ganda.  Rasulullah dikenal sebagai tokoh yang serba positif, serba simpatik, serba proaktif kepada hal-hal yang membawa kepada kebaikan dan berusaha kuat kepada kebaikan dan berusaha kuat menghalau segala kenegatifan.

Hal ini bisa terlihat dari kesigapan Rasulullah dalam menghadapi rongrongan kafir Quraisy yang terkenal dengan Perang Badar.  Dalam Perang Badar ini terdapat dua peristiwa penting, pertama terjadinya Alfurkon yakni membedakan mana orang yang komitmen dengan kebenaran dan mana orang yang masih komitmen dengan kedzaliman.  Dalam jihad di Badar terlihat jelas mana orang yang komitmen kepada Islam dan mana orang yang memusuhi Islam termasuk kaum munafik yang menjadi musuh dalam selimut.

Yang terpenting dari peristiwa Badar ini memunculkan sebuah ungkapan yang dalam ilmu hadist masih dipertanyakan keabsahannya, sekalipun dalam tingkat makna tidak salah.  “Kita baru saja pulang dari jihad kecil (Perang Badar) menuju jihad yang paling besar yakni jihad melawan hawa nafsu”.  Tidak mungkin ungkapan ini muncul dari para pemalas, karena pemalas mendewakan hawa nafsunya.

Puasa bukanlah hanya sekedar memindahkan waktu makan saja, atau bukan juga kegiatan rutinitas tahunan, tapi puasa ini diharapkan bisa memunculkan kesadaran jati diri bahwa masing-masing diri kita bisa membuat sejarah baru.  Makanya ketika seseorang telah benar-benar mampu melawan hawa nafsunya maka ia akan mampu meninggalkan kemalasan, dan menghilangkan sifat rakus dalam dirinya dan mampu meninggalkan sifat korupsi yang membuat negeri ini semakin carut marut.  Maka ketika semua ini sifat negatif bisa dihilangkan dengan mengendalikan hawa nafsunya maka pada hakekatnya dia sedang membangun fondasi yang kokoh untuk membuat babak sejarah baru peradaban manusia.

Maka ketika seseorang sedang melakukan puasa di bulan Ramadhan ini berarti dia sedang melakukan jihad besar yakni sedang melawan hawa nafsunya.  Jangan sampai kata jihad ini diidentikkan dengan sesuatu yang menyeramkan saja.  Yang berkembang sekarang seolah-olah jihad itu identik dengan pedang yang terhunus yang menyeramkan.  Kita sebagai makhluk sejarah dimulai oleh ucapan Rasulullah dengan ungkapan kita sesungguhnya sedang melakukan jihad akbar yakni memerangi hawa nafsu.  Makanya orang yang sedang berpuasa pada hakekatnya sedang menyambungkan hubungan dengan dzat Yang Maha Agung, Maha Kaya, Maha Sempurna, dan begitu juga ketika seseorang sedang mengumbar hawa nafsunya pada hakekatnya dia sedang menyambungkan hubungan dengan Syaithan yang serba rendah, serba lemah, dan serba hina dina.  Inilah dua kondisi hubungan yang kontradiktif dan membawa kepada dua konsekuensi yang berbeda.  Orang yang berhubungan dengan yang baik dia akan kecipratan kebaikan dan orang yang berhubungan dengan orang yang jelek dia juga akan kecipratan kejelekannya.

Bila jihad besar melawan hawa nafsu ini bisa dilakukan maka insya Allah akan terbentuklah sejarah peradaban baru membentuk masyarakat madani yang diidam-idamkan.

Kedua, kesadaran untuk membuat sejarah peradaban baru ini juga akan muncul selain dengan jihadun nafs adalah melalui seperti dalam teologi tugas manusia.  Menyimpulkan bahwa sesungguhnya tugas utama manusia itu ada tiga, pertama merealisasikan ubudiyah kepada Allah SWT sehingga hubungan kita sangat dekat dan menjauhi dari godaan syaithan, kedua memakmurkan kehidupan (imaroh), ketiga memunculkan regenerasi bagi umat yang baru (khilafah fil ardi).

Pemahaman sejarah seperti ini akan membawa kita pada kesadaran bahwa apa yang kita lakukan saat ini adalah akan sangat bermanfaat bagi generasi yang akan datang.  Apa yang kita produksi pada hari ini seharusnya sesuatu yang berdampak positif pada generasi mendatang.  Kalau dahulu Rasulullah SAW dengan aktifitas berislamnya telah mampu memunculkan sebuah karsa dan karya yang luar biasa hebat, ketika beliau telah mampu membebaskan Ka’bah dari belenggu dan lingkaran-lingkaran berhala yang sangat banyak dan terjadi pada bulan Ramadhan pula, sehingga saat kita semua shalat menghadap kiblat/ka’bah yang telah terbebas dari patung itu, sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada generasi berikutnya.  Kita bisa membayangkan ketika rasul gagal membebaskan Ka’bah dari berhal-berhala itu, bagaimana kita bisa menimbulkan ketauhidan yang benar-benar kalau shalat saja kita menghadap kiblat yang dipenuhi kemusyrikan.

Setelah berhasil membersihkan Ka’bah dari berhala, rasul kemudian tidak mengubahnya dari bentuk yang berkaitan dengan kehidupan sosial pada masa itu, kemudian ia berkata kepada Aisyah : Kalaulah bangsamu bukan bangsa yang terlepas dari hubungan kejahiliyahan maka Ka’bah ini pasti akan aku ubah secara total dan akan aku kembalikan kepada aslinya seperti saat pertama dibangun oleh Nabi Ibrahim AS.  Hal tersebut dilakukan oleh Rasulullah SAW karena mempertimbangkan sosiologi masyarakat Mekkah saat itu.

Karenanya dalam upaya memunculkan sejarah baru memahami sosiologi masyarakat kita adalah merupakan sebuah hal yang niscaya.  Kita tidak bisa membayangkan apabila kita berusaha memunculkan sejarah baru dalam kehidupan ini, ingin memakmurkan dunia ini, kemudian kita melepaskan diri dari faktor sosial kita, itu merupakan hal yang tidak mungkin.  Upaya kita untuk menyadari bahwa kita punya tugas sejarah bisa dilakukan melalui peran individual kita dengan memunculkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan, dan bermanfaat bagi generasi mendatang.  Dan itu semua adalah faktor sosial.

Makanya kita khawatir di era reformasi ini, yang sebagian pejabatnya mengatakan tak usah pusing-pusinglah tambah utang saja dan ngutang terus, khan yang bayar nanti bukan kita tapi adalah generasi mendatang.  Itulah pikiran destruktif yang bisa membebani dan menghancurkan generasi mendatang.

Seharusnya negara ini yang kaya raya ini harus sejahtera bukan malahan seperti tikus yang mati di lumbung padi.  Seharusnya kita berpikir seperti negara Sudan, meskipun negaranya diembargo, tapi dia mampu bangkit dan hidup mandiri dan rakyatnya lebih sejahtera.

Puasa adalah training langsung dari Allah SWT untuk mempersiapkan orang-orang yang akan membuat sejarah baru kehidupan.  Berulang kali kita melakukan saum Ramadhan, maka mudah-mudahan pada tahun ini kita bisa memaksimalkan peran sejarah ini.

Wallahu a’lam bish shawab ***

.

2 Tanggapan to “ORANG PUASA SELALU MEMBUAT SEJARAH”

  1. fikri thalib Says:

    SUBHANALLAH
    artikelnya suangaaat BERRRMANFAT
    semoooga semangat FASTABIKUL KHAERAT nya
    tetap terjaga ………..dan
    dapat joint proggram dgn KAPCIFARM.
    08161800566


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: