MEMINTAL BENANG PAKAIAN TAQWA DI RAMADHAN


Disalin dari : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun V/13 Agustus 1431 H / 2010 M

.

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.  Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.  Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” [QS. Al-A’raaf : 26]

Secara umum ayat ini menjelaskan tentang fungsi esensial dari pakaian yang diwajibkan oleh Allah SWT terhadap seluruh Bani Adam, yaitu untuk menutup aurat yang menjadi pembeda antara manuasia dengan binatang sehingga disimpulkan oleh Al-Qurthubi bahwa ayat ini sekaligus merupakan perintah dan kewajiban untuk berpakaian yang menutup aurat.  Selanjutnya melalui ayat ini juga Allah menetapkan pakaian taqwa yang merupakan sebaik-baik pakaian yang dikenakan oleh hamba-Nya.  ‘Pakaian taqwa’ yang dimaksud oleh ayat ini menurut para ulama tafsir seperti yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitab ‘Tafsir Al Qur’an Al-‘Azim’ di antaranya seperti yang disepakati oleh Qatadah, Zaid bin Ali, dan Suddi bahwa yang dimaksud adalah keimanan.  Sedang Al-Aufi memahaminya sebagai amal shalih.  Manakala Urwah bin Zubair mendefinisikan pakaian taqwa adalah rasa takut kepada Allah SWT.  Berbeda dengan Ikrimah yang mehamami bahwa pakaian taqwa adalah pakaian yang dikenakan oleh orang-orang bertaqwa di syurga kelak.  Seluruh makna-makna di atas ini saling berdekatan dan tidak bertentang yang intinya pakaian yang mencerminkan keimanan, keshalihan, dan rasa takut kepada Allah SWT sesuai dengan makna taqwa itu sendiri.

Dalam konteks Ramadhan, penggalan akhir ayat puasa, ‘agar kalian bertaqwa’ merupakan harapan sekaligus jaminan Allah akan hadirnya pakaian taqwa seorang berima pasca Ramadhan.  Jika diilustrasikan dapatlah dikatakan bahwa selama satu bulan penuh seorang yang beriman ibarat sedang menenun pakaian taqwa dengan benang-bebang amaliah ibadah bulan Ramadhan.  Sehingga dapat dikatakan bahwa iman seseorang masih dalam kondisi telanjang sebelum diberi pakaian, dan pakaian iman tersebut adalah taqwa.

Sebagai contoh misalnya bahan atau benang pakaian taqwa yang bernama ‘imsak (menahan diri)’ dari segala tindakan yang bertentangan dengan ketentuan agama akan melahirkan sikap pengendalian diri, kejujuran, dan anti konsumerisme sehingga pada gilirannya akan memunculkan gaya hidup sederhana seorang yang beriman.  Bukankah pengendalian diri, kejujuran, kedisiplinan, serta
kesahajaan merupakan ujian seorang yang beriman selama ber-Ramadhan yang hasilnya akan diumumkan tepat pada tanggal 1 Syawal; apakah sifat dan sikap tersebut masih dominan atau kembali menjadi pribadi yang selalu dikalahkan oleh nafsu dan syahwat.

Kondisi lapar dan dahaga dalam waktu yang relatif lama dengan segala konsekuensinya akan melahirkan rasa kepedulian sosial yang tinggi.  Demikian juga, seorang muslim tetap memiliki semangat untuk melakukan aktifitas sehari-hari dalam kondisi lapar dan haus merupakan simbol akan etos kerja dan daya tahan seorang muslim terhadap seluruh godan kehidupan.

Ibadah sholat tarawih dan ibadah-ibadah yang hadir di bulan Ramadhan akan meningkatkan keimanan dan ketauhidan seseorang terhadap Allah.  Bahwa seluruh amal ibadah tersebut ia lakukan semata-mata dengan semangat ‘imanan wahtisaban’.  Sahur dan berbuka puasa bersama yang kerap dilakukan bersama keluarga dan saudara sesama muslim merupakan simbol dari kasih sayang dan keharmonisan ukhuwah di antara sesama orang beriman yang pada hakikatnya merupakan buah dari keimanan mereka.

Demikian benang-benang yang dirajut selama bulan puasa untuk menghasilkan pakaian taqwa, pakaian yang harus dikenakan oleh setiap orang beriman dimana pun dan kapan pun mereka berada.  Jangan sampai kita merusak atau merobek pakaian taqwa yang kita tenun tersebut pasca Ramadhan, seperti yang diilustrasikan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya : “Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang mengurai kembali benang yang sudah dipintalnya dengan kuat menjadi cerai berai” (QS. An-Nahl : 92).  Wanita dalam ayat ini digambarkan oleh Imam Al-Qurthubi sebagai wanita jahil yang bernama Rithah binti Amru bin Ka’ab yang identik dengan mereka yang merusak kembali kebaikan yang telah dengan susah payah diperjuangkan setahap demi setahap.  Sungguh perbuatan yang sangat bertentangan dengan nilai Ramadhan yang seharusnya tetap mempertahankan dan memelihara pakaian yang indah tersebut setelah berakhirnya Ramadhan.

Masih tersisa beberapa hari ke depan sampai pada malam puncaknya yang bernama ‘lailatul Qadar’ yang merupakan cermin dari puncak prestasi yang dapat ditorehkan oleh seorang yang beriman di hadapan Allah SWT.  Ia rela mengalokasikan  segenap waktu, harta, dan jiwanya untuk mendapatkan keutamaan malam tersebut dengan memaksimalkan potensi ubudiyah yang dimilikinya..

Wallah a’lam bi ash shawab

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: