LELAKI SHALEH UNTUK GADIS YANG SHALEHA


Disalin dari  : UMMI, No. 11/XVIII Maret 2007 M / 1428 H.

.

Di suatu masa tinggallah seorang hakim bijaksana yang kaya raya bernama Nuh bin Maryam.  Selain memiliki keshalehan sifat dan perilaku, Nuh bin Maryam juga memiliki keluarga yang sakinah, terpelihara dari fitnah dan perbuatan maksiat.  Istri dan anak gadisnya terkenal pula akan kebaikan hati, keluhuran budi serta ketakwaan mereka kepada Allah SWT.

Karena akhlak mulia, perilaku terpuji dan kekayaan keluarga ini begitu menonjol, banyak laki-laki mengajukan diri untuk menjadi menantu sang hakim.  Namun Nuh bin Maryam menolak mereka, meskipun beberapa di antara mereka adalah kaum bangsawan, kaum hartawan, atau bahkan gabungan keduanya.

Nuh bin Maryam tak mau menikahkan anaknya dengan laki-laki sembarangan.  Ia ingin laki-laki pilihanlah yang menjadi suami anak gadisnya, yaitu lelaki yang shaleh, beriman, dan bertakwa kepada Allah SWT., sehingga anak gadisnya beserta keluarganya kelak bisa mendapat keberkahan baik di dunia maupun di akhirat.

Sementara itu, Nuh bin Maryam memiliki seorang pekerja laki-laki bernama Mubarok.  Tugas utama Mubarok adalah mengelola dan menjaga kebun-kebun yang dimilikinya.  Hingga saat itu, pekerjaan Mubarok memang menunjukkan hasil yang baik.  Kebun-kebun kurma, anggur, dan buah-buahan lain milik Nuh bin Maryam tampak subur dan selalu menghasilkan panen yang berlimpah.

“Ambilkan yang lain Mubarok”, perintah Nuh lagi.

Mubarok pun mengambil serenceng anggur lagi.  Sayang, lagi-lagi anggur itu tidak enak dimakan, agak pahit rasanya.  Nuh menjadi keheranan dibuatnya.

“Ya ampun Mubarok, sedemikian banyak buah di kebunku, kenapa engkau ambilkan yang masam dan pahit begini.  Mengapa tidak kau pilihkan dulu yang manis sebelum membawakannya kemari?” tanya Nuh bin Maryam.

“Maaf Tuan, tetapi saya tidak mampu membedakan mana buah yang manis, mana yang getir, dan mana yang masam”, jawab Mubarok.

“Subhanallah, bukankah engkau sudah lama menjadi pengelola dan penjaga kebunku?  Bagaimana mungkin engkau tidak tahu mana pokok buah yang menghasilkan buah yang manis dan mana yang tidak?” Nuh berkata lagi.

“Tetapi Tuan, saya memang tidak pernah mencicipi buah-buahan di kebun”, sahut Mubarok.

“Kenapa begitu?” ucap Nuh semakin heran.

“Karena demi Allah, bukankah Tuan hanya meminta saya menjaga dan mengelola kebun Tuan dan tidak meminta saya untuk memakan buah-buahan di dalamnya?  Maka saya lakukan tugas itu tanpa pernah berpikir untuk mengkhianati amanah yang diberikan kepada saya”, tegas Mubarok dengan sungguh-sungguh.

Nuh bin Maryam tertegun mendengar ucapan pekerja laki-lakinya itu.  Dia juga begitu kagum mendengar kejujuran dan keshalehan perilakunya.  Dimana lagi bisa ditemui
orang yang begitu amanah dan takut pada dosa kecuali pada diri orang-orang yang bertaqwa?

Tiba-tiba saja Nuh teringat pada anak gadisnya dan sebuah pikiran pun terlintas dalam benaknya; bagaimana kalau ia nikahkan Mubarok dengan anak gadisnya?  Maka Nuh pun pulang dan membicarakan hal tersebut pada istrinya.  Istrinya pun setuju asalkan anak gadis mereka menyetujuinya.

Ketika Nuh bertanya seraya menjelaskan pada anak gadisnya perihal perilaku pekerja mereka yang bernama Mubarok, sang anak gadis pun menjawab bahwa ia tentu saja bersedia menikah dengan seseorang yang  telah diketahui baik akhlaknya dan shaleh
perilakunya.

Begitulah akhirnya anak gadis Nuh bin Maryam kemudian dinikahkan dengan pekerja kebun mereka, Mubarok.  Dan ternyata pilihan ini terbukti merupakan pilihan yang tepat.  Keluarga Mubarok hidup dalam bingkai keshalehan dan ketaqwaan.  Mereka kaya namun dermawan.  Mereka berilmu dan rajin mengamalkan ilmunya.  Mereka banyak bersyukur atas segala nikmat dan selalu bersabar setiap kali mendapat musibah.  Dan dari penikahan ini kemudian lahir seorang anak laki-laki yang dinamai Abdullah bin Mubarok, seorang laki-laki yang di kemudian hari menjadi seorang ulama besar yang terkenal karena ketaqwaan, keilmuan, dan kedermawanannya.

Sungguh beruntung kehidupan keluarga Mubarok.  Mereka benar-benar mendapat berkah Allah dan hidup berbahagia hingga akhir hayat mereka. (Zirlyfera Jamil).

.

Ditulis dalam KUMPULAN CERITA. Tag: . 1 Comment »

Satu Tanggapan to “LELAKI SHALEH UNTUK GADIS YANG SHALEHA”

  1. P4ngeran Mud4 Says:

    begitu indah hidup ini bagaikan syurga di dunia dan smpai akherat menjadi keluarga sakinah muwaddah waramah amin yarabbalalmin mdh2an kita semua dijadikan keluarga sakinah muwaddah waramah amin . . . . . . .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: